Monday, December 7, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori ketujuh belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori ketujuh belas

Aku berbohong padamu, berkata kalau pengumuman beasiswa diundur hingga satu bulan ke depan. Kau tidak tampak curiga, kemungkinan besar karena kau sendiri pun disibukkan hal-hal lain untuk memperhatikan hal semacam itu. Kau hanya berkata kalau aku sudah memiliki tanggal keberangkatan yang pasti, kau akan membelikan tiket agar kita dapat berangkat bersama.

Kau tidak terlalu banyak menyinggungnya lagi setelahnya. Secara umum suasana hatimu tampak lebih riang daripada biasanya setelah pesta itu, dan aku tahu kenapa. Kau merasa kalau ibumu menyukaiku, dan alasannya pasti karena insiden pembalut itu.

Kelas tiga mendekati akhir, dan kau terlalu terdistraksi untuk memikirkan tentang hal itu lebih lanjut. Semua murid senior dipaksa untuk terdistraksi, karena rentetan simulasi UAN dan UAS memenuhi hampir setiap hari. Alih-alih belajar di kelas, kami lebih sering dipindah ke aula, dipaksa untuk duduk di atas kursi keras selama berjam-jam, disodori soal-soal yang difotokopi di atas kertas buram.

Ada sekolah lain dengan reputasi serupa yang selama ini menjadi rival sekolah kami. Tahun lalu ada murid dari sana yang membeli bocoran kunci jawaban UAN. Dia mencatatnya pada batang sebuah pensil, dalam bentuk titik-titik warna-warni. Kode yang hanya dia yang mengerti: merah untuk A, kuning untuk B, hijau untuk C, dan biru untuk D.



Jika dilihat sekilas, pensil itu terlihat seperti dihiasi polkadot warna-warni yang tidak mencurigakan. Dia tentu saja berhasil menyelundupkannya ke dalam tempat ujian. Bangga dengan kepintarannya menyembunyikan kunci jawaban tepat di bawah hidung pengawas, murid itu menyalin kunci tersebut telak-telak, selesai dalam lima menit pertama. Dia bahkan tidak memeriksa ulang jawabannya, sebelum membaringkan kepala di atas meja, tidur sepanjang sisa waktu ujian.

Nilai yang ia dapat tidak berbeda jauh dengan orang yang menjawab dengan menghitung kancing. Dia tidak lulus, dan rekor sekian tahun tanpa murid gagal lulus pun berhenti sampai di sana. Guru di sekolah kami menceritakan hal itu begitu sering hingga kami hapal setiap detailnya.

Sekolah kami memiliki rekor serupa, dan berusaha mati-matian agar tidak terjadi hal yang sama. Para guru juga memberikan soal yang sebenarnya tidak masuk akal untuk dikerjakan, karena standarnya jauh melebihi apa yang diberikan pada UAN.

Karena semua ini, kita jarang berkumpul lagi untuk sementara waktu. Hari ini adalah pengecualian. Ben dan aku bertemu di Peinture untuk memperkenalkanku pada seorang wanita sekitar umur 40-an yang mencari guru privat bahasa Perancis. Dia ditugaskan untuk bekerja ke sana selama dua tahun, dan bermaksud menggunakan tiga bulan terakhirnya di Bandung untuk memperlancar bahasa Prancisnya. Dia tidak bisa kursus di tempat Ben karena jadwalnya yang tidak fleksibel.

Wanita itu pergi dari Peinture tampak puas, ketika aku memperlihatkan sertifikasi bahasaku yang terakhir kudapat. Minggu berikutnya aku akan datang ke rumahnya untuk kursus kami yang pertama.
Ben juga berjanji memberikanku pekerjaan paruh waktu di tempat kursus kalau aku lulus ujian DELF C1 pada kuartal ujian mendatang. Mendapatkan sertifikasi tersebut tentu saja tidak mudah — level seperti itu adalah level yang dibutuhkan seorang pengajar. Namun baik aku dan Ben tahu kalau aku mampu, dan aku perlu pekerjaan itu.

“Kadang-kadang gue bingung gimana caranya lo bisa ngerjain semua itu dalam waktu yang bersamaan,” kata Ben, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan alis terangkat. “UAS, DELF,....”

“Dan fantasi.”

Kami berbalik untuk mendapati Aksa datang dengan smartphone di tangan. Dia melambai kemudian duduk pada kursi di samping kami. Ben masih mengangkat alisnya penuh tanya ketika Aksa menjawab, “Fantasi. Shiva ngarang cerita fantasi mingguan di app yang gue buat. Ben, lo harus lihat sebagian komentar-komentarnya. Très incroyables.”

“Wow,” Ben menurunkan alisnya dan tersenyum. Aku mengeluarkan smartphone serupa dari kantungku, memperlihatkannya pada Ben, mengedikkan bahu, lalu mengantunginya lagi. Ben berkata pada Aksa, “Lo tahu, pertama Ed yang mau belajar ke Perancis, sekarang lo bikin app dan ngomong ungkapan dalam le français. Dan kalau itu nggak cukup bikin gue kaget, sekarang gue dikasih tahu kalau Shiva selebriti dunia maya?”

“Selebriti dunia maya!” aku mengulang dalam protes.

“Tapi, lo pernah baca komentar-komentarnya?” Ben berbalik tanya padaku. “Mereka bilang apa?”

Aku mengangkat bahu. Rein selalu membacakan pujian-pujian yang ada di sana padaku sembari bercanda, membuatku malu. Ditya selalu membacakan ejekan (yang masuk akal dan yang tidak masuk akal) untuk membuatku kesal dan menggangguku secara umum. Aksa selalu memberi tahuku poin-poin dalam kritikan pembaca yang menurutnya ada benarnya. Sedangkan kau, kau membaca tulisanku tanpa banyak pendapat, seperti yang selalu kau lakukan dari dulu. Kau lebih suka menyimpan semuanya untuk dirimu sendiri, membohongi diri kalau sekarang tulisanku bukan lagi eksklusif dalam binder untukmu, tetapi terpajang di internet untuk seluruh dunia.

“Wow,” kata Ben kedua kalinya hari itu, sembari mengeluarkan sebatang rokok dari kantungnya, mengepitnya di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. “Sekarang gue kaget lagi, karena ternyata selama ini yang nggak tahu cuma gue!”

“Kalau yang gue bawa,” Aksa berkata, mengeluarkan beberapa kertas HVS yang sedari tadi tergulung di tangannya. “Yang ini, belum ada yang tahu. Sebenernya gue harusnya ngomong dari awal dia e-mail, tapi gue mau mastiin dulu sebelum gue kasih tahu lo. Gue tahu lo pasti sibuk dengan Perancis, dan pra-UAS, jadi gue....”

Aku merasa ganjalan di hatiku karena aku pun belum memberi tahu Aksa tentang beasiswa itu, tapi aku tetap mengambil kertas yang disodorkannya. Aku membaca dari halaman pertama, kemudian sadar kalau itu adalah korespondensi antara Aksa dan seorang editor. Editor yang tertarik menerbitkan naskahku.

Yang pertama kusadari adalah, Aksa dan editor itu telah berhubungan untuk waktu yang cukup lama. Awalnya ia menawarkan untuk membeli lepas naskah online-ku itu dan menerbitkannya sebagai novel. Ia juga menyebutkan jumlah yang pihaknya berani bayar untuk itu. Aksa menolak tawaran tersebut.

Aku mendongak, tapi Aksa segera mengerti. Dia berkata, “Nilai naskah lo jauh lebih daripada itu. Gue tolak karena gue tahu dia pingin banget naskah lo, dan dia pasti bakal nawarin harga yang lebih bagus. Dan gue bener, terutama karena setiap harinya hit count ke naskah lo semakin banyak. Lagian, mereka mampu untuk bayar lebih.”

Aksa benar. Dibandingkan menawarkan untuk membeli lepas naskah itu, dia kini menawarkan kontrak dengan sistem royalti. Aku akan mendapatkan sekian persen dari setiap buku yang terjual — dan aku tidak perlu mengeluarkan modal sepeser pun untuk itu. Rincian kontraknya diselipkan di dalam sebuah attachment yang juga dicetak oleh Aksa. Aku membacanya dengan tidak percaya.

“Gue udah research. Mungkin lo nggak terlalu familiar dengan nama penerbitnya, tapi mereka itu anak perusahaan baru dari grup Gitiamedia yang udah terkenal. Lo tahu, yang cetak koran Gitiapress. Terpercaya, kok,” kata Aksa, mengisi kesunyian yang disebabkan oleh keterkejutanku. “Tapi ada masalah kecil....”

Ben menoleh pada Aksa penuh tanya.

“Ya, bukan masalah juga sih,” Aksa berkata lagi, “Lo mau ke Lyon, kan? Mereka tadinya pingin bikin beberapa acara promosi untuk novel lo, cuman lo udah nggak di Indonesia, ya, Agustus nanti itu? Tahu nggak sih, mereka itu suka banget sama tulisan lo, bahkan nawarin lo untuk jadi penulis lepas mingguan di kolom Gitiapress hari Minggu. Gue bilang, lo bakal sibuk di Perancis—”

Aku tidak menjawab Aksa karena pada akhirnya emosi berhasil memenangkan aku. Aku menaruh kertas-kertas berisi e-mail itu di atas meja, berdiri. Tangan kiriku merangkul Ben dan tangan kananku pada Aksa, dan aku memeluk mereka erat-erat hingga mereka dipaksa untuk berdiri juga dari kursi-kursi mereka. “Gue jadi penulis! Penulis!”

Di dalam pelukanku Ben mengacak rambutku dan berkata, “Félicitation.”

Aksa bertanya lagi bagaimana ia harus menjawab pihak penerbit tentang promotional tour dan pekerjaan yang mereka tawarkan. Aku berkata tanpa berpikir kalau aku akan mengambil dua-duanya, dan itu bukan masalah untukku. Aksa bermaksud untuk bertanya lagi, tapi dia berhenti untuk beberapa saat. Dia memperhatikan aku, dan saat itu juga dia mengerti kalau aku tidak akan pernah pergi ke Perancis. Namun, dia tidak berkata apa-apa lagi dan mengiyakan segalanya. Sementara aku memperhatikan dia pergi, aku sadar kalau Aksa pasti bertanya-tanya apakah kau tahu tentang aku yang batal pergi ke Perancis.

Aku telah menunda memberitahumu tentang aku yang tidak mendapat beasiswa. Tapi kemudian kabar baru dari Aksa ini datang, dan kupikir, mungkin kabar ini dapat menjadi semacam penghiburan untukmu, “Gue nggak dapat beasiswa itu, tapi jangan kasihanin gue, karena gue juga punya sesuatu untuk gue kerjain di Bandung.”

Mungkin dengan begitu kau dapat pergi meninggalkanku tanpa harus mengasihaniku atau khawatir akan diriku. Karena aku akan baik-baik saja.

Tapi semua itu hanya ada di dalam benakku. Aku tidak benar-benar tahu apa yang akan kukatakan, tapi yang kutahu, print out e-mail yang kukepit pada lenganku memberikanku kekuatan untuk memberitahumu tentang kegagalanku mendapat beasiswa. Aku merasa, walaupun hanya sedikit saja, mendapatkan harga diriku kembali.

Jadi sore itu, dengan resolusi untuk tidak menunda-nunda lagi, aku bertanya di mana kau berada dan pergi menemuimu. Kau berada di rumah, berkata kalau orang tuamu sedang pergi keluar kota dan kau diminta untuk menjaga rumah. Aku bertanya apakah aku boleh singgah sebentar, dan kau berkata dengan agak bingung, tentu saja.

Aku mungkin menutup sambungan telepon terlalu cepat, karena aku tidak mendengarmu berkata kalau kau punya tamu. Ketika aku datang, ada Vivi yang duduk di ruang tamumu, menyisip teh pada cangkirnya sambil bercakap-cakap santai denganmu. Aku bahkan tidak tahu tentang kepulangannya ke Indonesia, dan sebelum aku sempat dipenuhi emosi ataupun cemburu, aku sadar kalau gestur di antara kalian bersahabat, tapi tidak mesra.

Aku belum menampakkan diri ketika aku mendengar kalian bercakap-cakap. Aku berpikir mungkin aku dapat berdiri di sana beberapa menit lebih lama, untuk mendengar apa yang sebenarnya kalian bicarakan. Aku memiliki firasat kuat kalau itu adalah tentangku. Kalian bercakap-cakap dalam bahasa Perancis, tapi aku mengerti dengan jelas setiap katanya.

“Jadi kamu nggak mau pergi ke Paris sama aku, tapi sekarang kamu mau sama dia?” Vivi berkata dengan bercanda. “Dengar nggak omongan kamu sebelum ini? Kamu baru ngomongin rencana ekspansi untuk perusahaan ayahmu nantinya! Apa kamu masih Edmund? Ed yang dulu bahkan nggak tahu alamat kantor ayahmu?”

Kau tertawa. “Yah, aku sudah tua sekarang!” katamu. “Dan lagi, aku belum pernah kayak gini. Secinta ini.”

 “Cinta?” Vivi mengulang, tersenyum penuh keingintahuan.

Ya. Jenis cinta yang bikin aku ingin untuk memperbaiki diri dan hidup dengan benar, karena itu yang bisa membuat dia bahagia.”

Kata-kata semacam itu meresap dalam hatiku begitu jauh, dan untuk pertama kalinya aku sadar sejauh apa perasaanmu padaku.

Aku muncul bertepatan ketika Vivi bangkit untuk pergi, raut wajahnya menunjukkan dia sedang berpikir keras akan sesuatu. Mungkin terkena dampak yang besar karena kata-katamu barusan. Vivi hanya mengangguk kecil padaku, tersenyum, sebelum kemudian menghilang ke pintu utama.

Sebelum kau sempat menyambutku dengan gembira, memintaku untuk belajar bersama, atau menyantap makan malam di sana, aku memotong perkataanmu dengan pemberitahuan yang seharusnya kukatakan sejak dulu. Aku tidak mendapat beasiswa itu.

“Tapi itu nggak mungkin,” katamu, terpaku. “Lo udah belajar keras! Ada dua puluh bursa yang dikeluarin tahun ini. Dari tahun ke tahun yang dapat selalu kurang daripada itu, karena mereka nggak lulus persyaratan DELF. Tapi lo lulus, dan nilai lo bagus!”

“Tapi gue nggak dapet, Ed, dan lo harus terima itu,” kataku, menyentuh lenganmu. “Gue akan tetep di Bandung dan lo bakal tetep pergi.”

“Kenapa lo bisa begitu yakin soal itu?” tanyamu, nada suaramu seketika berubah menjadi penuh tekanan. “Karena lo tahu orang tua gue bakal maksa gue pergi apapun yang terjadi? Atau karena lo pikir, gue nggak sesayang itu sama lo sampai gue rela tinggal di Bandung?”

Aku menggeleng. Kau masih menatapku, mungkin bertanya-tanya akan pembawaanku yang tenang. Aku sendiri merasa aku takkan mungkin bisa setenang sekarang, kalau saja aku tidak mendengar perkataanmu pada Vivi barusan.

Kau berkata, demi aku, kau akan hidup dengan benar. Mengejar masa depanmu. Jika kau benar-benar mencintaiku seperti yang kaubilang, kau akan tetap pergi ke Perancis.

Kau tidak bisa membalas kata-kataku itu, karena kau tahu aku benar.

“Tapi gimana dengan kita?” kau bertanya.

“Kita akan baik-baik saja,” jawabku.

Tapi hanya kata-kata yang bertukar. Kau tidak mengulurkan tangan untuk menyentuhku, tidak juga sebaliknya. Seakan-akan kita tahu jika saat itu kita melakukannya, kita takkan mampu untuk berpisah.

Ada sakit hati yang terpancar di dalam pandangan matamu.


Sakit karena baik aku dan kau tahu kalau hubungan jarak jauh tidak mungkin di antara kita. Seperti itu, malam itu berakhir dengan sebuah sentuhan pada lenganku, kau yang dengan suara rendah memintaku untuk pulang.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...