Monday, November 30, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori keenam belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori keenam belas

“Denger,” katamu di telepon sore itu di hari Minggu. “Gue nggak tahu apa yang terjadi, tapi lo nggak bisa ngehindarin gue terus-terusan. Apa sih yang Leon bilang sampe lo jadi begini? Sampe lo nggak mau ngeluangin sedikit waktu aja buat gue?”

Aku menelan ludah. “Gue sebenernya udah mau ngomong ke elo kok....”

“Kapan? Lo selalu kabur dari gue setiap kali gue tanya kenapa, kan?” katamu.

Aku terdiam. Apa yang Ben katakan tempo hari membuat sebuah dilema di dalam diriku. Walaupun harapan seperti itu bukan tidak mungkin, tapi memintanya darimu terasa egois. Ditambah lagi, mengatakan kalau aku tidak mendapatkan beasiswa itu akan mengundang ekspresi menyakitkan darimu yang tidak ingin kulihat.

Ben belum memberitahumu, dan aku tahu Ben berpikir aku-lah yang seharusnya memberi kabar itu. Kau takkan senang jika sadar aku pergi dan mengadu pada Ben terlebih dahulu, dibanding mendiskusikannya denganmu.

Aku berbisik, “Sorry.”



 “Jadi gue sekarang lagi ngasih lo kesempatan untuk bener-bener bilang sorry,” katamu. “Lo temenin gue Minggu malem ini, sekali aja. Cuma undangan kecil.”

Justru itulah kenapa aku begitu segan untuk menerima ajakanmu. Seberapapun aku tahu kau benci menghadapi acara keluarga semacam itu, aku tidak merasa aku ada pada tempatnya untuk menemanimu.

“Nyokap gue pengen ketemu lo,” katamu akhirnya setelah berpikir beberapa lama. “Sebenernya dia yang nyuruh gue ajak lo ke undangan ini. Dia pingin lihat lo. Gue tentu aja nggak pernah banyak omong, tapi Elli....”

“Nyokap lo pingin ketemu gue?”

Kau mendesah, tapi aku bisa mendengar kau juga sedang tersenyum. “Ya, dia dan bokap gue seneng banget, soalnya lo bikin gue setuju pergi ke Perancis. Udah dari dulu mereka maksa gue, tapi gue nggak pernah mau. Anggap aja satu permintaan dari gue. Nanti lagi lo bisa minta hal lain dari gue, supaya impas. Lo bisa dapetin hati Elli, orang yang paling sulit di keluarga gue, jadi gue nggak akan khawatir soal nyokap gue.”

Maka malam itu di tengah keheningan dan suara krik krik serangga malam, aku melihat mobilmu menepi di depan pagar rumahku. Kau membawakan sebuah kotak berisi gaun hitam pinjaman dari Rein, dan berkata kalau walaupun kau tidak terlalu peduli dengan bagaimana aku berpakaian, ibumu tidak berpikir hal yang sama. Mendengar itu membuat tanganku berkeringat, tapi aku tidak protes.
Eyang sedang pergi ke tempat Pak Gianyar hari itu, bermain catur hingga agak larut seperti yang biasa mereka lakukan setiap Minggu malam. Aku sudah bersusah payah meraih tapi usahaku sia-sia untuk menarik seleting belakang gaun itu.

“Ed,” kataku keluar dari kamar, membuatmu yang sedang terduduk di sofa mendongak dari ponselmu. Aku berkata lagi, “Mm... bisa bantu gue?”

Aku berbalik dan menyeka rambutku, menunjuk bagian belakang seleting yang hanya terpaut sekitar sejengkal sebelum sepenuhnya tertutup. Untuk sejenak kau tidak menjawab dan aku bermaksud untuk berbalik lagi memanggilmu, tapi kemudian aku mendengarmu bangkit dan berjalan ke arahku.
Tiba-tiba saja apa yang sedang terjadi membuat wajahku memerah. Aku malu dan marah pada diriku sendiri. Apa yang sedang kulakukan, mengenakan baju Rein, menyamar agar aku dapat masuk ke dalam duniamu? Sebagai apa aku harus memperkenalkan diriku pada ibumu? Mengapa aku menyembunyikan hal yang begitu penting darimu, ketika kau sangat berhak mengetahuinya?

Kau menyeleting gaunku dan memutar badanku di dalam tanganmu. Aku menatap matamu, dan saat itulah, aku tahu kenapa aku begitu takut. Di dalam genggamanmu, aku sadar suatu hari semua itu akan berakhir, dan yang tersisa dariku hanyalah sebuah kepura-puraan.

Aku menggeleng, “Nggak bisa. Gue nggak bisa pergi. G-gue....”

Kau mengangkat tanganmu, angin dari pintu depan yang terbuka menghembus dan membuat beberapa helai rambut jatuh ke atas wajahku. Kau menyekanya, kemudian menangkupkan jemarimu pada pipiku. Kau mendekat, membuatku terdorong pelan, sebelum kemudian punggungku menyentuh dinding dingin di belakang.

Yang kemudian kuingat hanya lesung pipitmu yang terbentuk, bulu matamu yang panjang, dan aroma cologne yang kukenal. Aku menutup mataku, dan untuk sejenak, aku menikmati adiksi yang mungkin perlahan-lahan akan membunuhku. Kamu.

“Lo punya syal, kan?” katamu. “Bakal dingin.”

Aku mengambil syal hitam milikku, yang mendapatkan anggukan setuju darimu. Kau berkata sulaman di ujungnya terlihat cocok dengan gaun pinjaman itu, kemudian kita pun berangkat.
Pesta yang kemudian kita kunjungi persis seperti yang ada di dalam bayanganku. Bunga-bunga impor di setiap sudut, dekorasi mewah bernuansa pastel. Orang-orang yang mengenalmu, dan yang bertanya tentangku. Kau bercanda tentang identitasku kadang-kadang, tapi sepanjang waktunya, kau membiarkan tanganmu terus melingkari pinggangku.

Ibumu yang datang terlambat bersama teman arisannya, ia juga menanyakan hal yang sama. Kau berkata, suaramu lebih tenang daripada apa yang kubayangkan. Kau memperkenalkanku sebagai kekasihmu.

Ibumu adalah wanita yang terlihat jauh lebih muda daripada yang sebenarnya, dan kau berkata itu berkat dokter di Singapura yang dikunjunginya setiap beberapa bulan sekali. Fitur wajahnya mirip dengan Elli, dan itu berarti ia juga sangat mirip denganmu. Figurnya yang langsing dibalut gaun putih gading yang pas badan. Ibumu memiliki sesuatu yang membuat orang berpikir, aku tidak ingin bermasalah dengannya.

Kau bilang orang tuamu menyukaiku karena aku adalah alasanmu setuju pergi ke Paris. Tapi ketika aku bertemu dengan ibumu kini, aku bisa menebak kalau ia tidak puas dengan apa yang dia lihat. Mungkin dia membayangkan seseorang serupa Elli, atau Vivi, tapi yang dia dapat adalah aku. Elegansi palsu di dalam gaun pinjaman.

Ibumu mulai sesekali memasukkan pertanyaan tentangnya. Kau menyadarinya dan berusaha menyetirnya keluar dari hal itu, mengingatkan ibumu kalau kau tidak pernah mengenalku, kau akan pergi ke universitas yang sama dengan Ditya.

“Ditya!” ulang ibumu tidak senang. “Selalu Aditya. Kamu tahu, menurut Mama, karena kamu terlalu banyak main sama dia, makanya kamu jadi nggak tertarik pada apapun yang berguna. Tante Seruni bilang Aksa masuk rumah sakit terakhir kali itu karena kakaknya, kan?”

Percakapan kemudian beralih ke dalam perdebatan bagaimana Ditya adalah pengaruh kurang baik dalam hidupmu, dan kalau saja ibumu bukan adalah teman baik Seruni Harsaya, maka pertemanan mereka sudah lama berakhir. Ibumu akan memastikannya begitu, ia bilang. Kau hanya mengangkat bahu, menanggapinya seperti angin lewat.

Jelas bagiku saat itu kalau ibumu hanya seperti kebanyakan ibu lainnya, perhatian dan protektif terhadap anaknya. Kau adalah anak laki-lakinya satu-satunya, dan aku mengerti itu. Jadi ketika ibumu mulai menanyakan lagi hal yang menyelidik tentangku, aku tidak ambil hati.

“...jadi kamu tinggal berdua sama kakek kamu sekarang?”

Aku mengangguk.

“Kakek kamu usaha di mana?” tanya ibumu, lalu berpikir sejenak. “Bandung kecil, semua orang kenal satu sama lain, siapa tahu Tante kenal.”

Kau tidak berusaha untuk menutupi atau menyela pertanyaan itu. Kau membiarkanku menjawab dengan jujur, walaupun itu berarti membiarkanku menerima tatapan agak aneh dari ibumu.
Ibumu tampak berpikir sejenak sebelum berkata lagi, “Tapi kamu pintar, kan? Kata Ed kamu dapat beasiswa ke Lyon.”

Pintar menjadi sebuah ‘tapi’. Tidak menarik, miskin, yatim piatu, ‘tapi’ pintar. Dan saat itu aku bahkan tidak pintar. Aku tidak mendapatkan beasiswa itu, dan kata-kata itu hinggap di ujung lidahku. Aku tidak bisa mengatakannya. Mengatakannya akan menelanjangiku dari bahkan ‘pintar’ sekalipun. Aku akan menjadi ‘bukan apa-apa’.

Melihatku yang terdiam, kau berkata, “Ma, aku kan udah bilang Shiva belum dapat pengumumannnya.”

 Ibumu tampak berpikir sejenak, kemudian melemparkan pandangan tajam padamu seraya berkata, “Tapi kamu pasti pergi — Mama dan Papa sudah siapkan semuanya untuk kamu. Walaupun Mama tahu kenapa alasan sebenarnya kamu jadi setuju untuk pergi, tapi kita semua tahu kamu butuh pendidikan itu. Shiva juga pasti setuju.”

Aku mengangguk dan berkata kalau itu benar. Sementara ibumu kemudian berjalan menjauh ke sisi lain ruangan untuk menyapa kenalannya, kau memandangku untuk beberapa saat. Aku untuk pertama kali membalas tatapan itu. Sebuah hubungan seharusnya membawa kemajuan untuk pribadi masing-masing.

Kau adalah orang yang berkata kalau aku bisa menjadi penulis kalau aku mau; orang yang memaksaku mengirimkan naskah pertamaku ke lomba. Aku adalah orang yang membuatmu mengikuti grup studi setiap minggu selama kelas 1 SMA. Kenapa harus berhenti sekarang? Kenapa jika Perancis menjanjikan pendidikan yang nomor satu untukmu, aku bisa-bisanya berharap kau akan tinggal di Bandung bersamaku, hanya karena aku tidak mendapatkan beasiswa itu?

Saat itulah aku memutuskan kalau kau tetap harus pergi, walaupun aku tidak. Ben bilang kau akan rela tinggal di Bandung untukku — toh kau tidak terlalu peduli tentang pendidikan. Namun aku rasa jika kau melakukan itu untukku, kita tidak akan sama lagi. Dibanding membuat satu sama lain menjadi lebih baik, aku akan menarikmu ke bawah dari masa depan tinggi yang bisa kau raih. Aku akan menjadi penghambatmu, dan aku tidak ingin itu.

Aku pamit sebentar ke kamar kecil hotel dan beristirahat sejenak di atas sofa di dalamnya. Aku menatap kamar kecil yang mewah itu, lalu berdiri untuk memperhatikan pantulan wajahku pada salah satu cerminnya.

Pintu kamar kecil itu terbuka ketika aku mencuci tangan, dan ibumu masuk ke dalamnya. Ia hanya melempar pandangan singkat padaku, memberikan anggukan tidak kasat mata, sebelum masuk ke salah satu bilik. Aku tahu aku seharusnya segera pergi dari sana, tapi itu tidak terasa benar. Jadi, aku menunggu.

Beberapa saat berlalu, sebelum pintu bilik itu terbuka kembali. Ibumu tampak tidak terkejut ketika melihatku masih berdiri di sana, tapi ia terlihat khawatir. Seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan padaku. Setelah beberapa saat berlalu tanpa dia berkata apa-apa, aku memulai duluan, bertanya apakah ada yang bisa kubantu.

“Shiva, kan?” tanyanya, keningnya berkerut, dan seketika aku terpikir dirimu. Ibumu berkata lagi, “Kamu punya pembalut?”

Aku berusaha agar tidak terpaku terlalu lama, karena aku sadar betapa memalukannya bagi ibumu jika aku tetap berada di sana dan menganga. Aku menggeleng, tapi kemudian aku melepaskan satu-satunya hal yang tidak kupinjam hari itu. Aku mengusulkan agar ibumu melingkarkan syalku di sekeliling pinggulnya. Ibumu mengucapkan terima kasih, tampak begitu malu tentang apa yang baru saja terjadi, dan ingin buru-buru keluar dari sana.

Aku menghentikannya walaupun ia telah berbalik. “Tante.”

Ibumu berbalik menatapku, menunggu apa yang ingin kukatakan, walaupun masih terlihat tidak sabar.

“Tante, saya tidak dapat beasiswanya,” kataku. Ibumu membuka mulutnya, seperti bermaksud mengatakan sesuatu, tapi kemudian aku berkata lagi cepat, “Ed belum tahu. Saya setuju dengan Tante, dia harus tetap pergi ke sana, demi kebaikan dia juga. S-saya... saya tidak akan menahan Ed di sini hanya karena saya di sini.”

Ibumu tampak terpana untuk sesaat. Dia kemudian berpikir sejenak, sebelum kemudian tersenyum. Hangat, bukan sekedar basa-basi. Aku kemudian tahu kalau dia memiliki dua lesung pipit, satu di masing-masing pipi.


“Terima kasih, Shiva.”

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...