Monday, November 23, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kelima belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!



.memori kelima belas

Saat aku kelas 3 SMU, ada puluhan anak pindahan yang datang. Secara teknis mereka bukan anak sekolah lain — cabang tempat Rein bersekolah sedang direnovasi. Ada sekitar 50 murid pengungsi yang kemudian berbagi ruang kelas denganku, dan Rein adalah salah satunya. Tidak ada satu pun dari teman main Rein yang ikut pindah, membuatku berpikir mungkin Rein bersedia diungsikan karena keberadaan Aksa.

Hubungan mereka begitu tenang dan nyaman, rasanya tidak pernah ada pertengkaran yang kudengar. Ketika Rein dan Ditya penuh dengan gejolak, hubungan Rein dan Aksa terasa datar. Aku sempat mempertanyakan apakah itu berarti buruk, hingga aku sadar Rein dan Aksa sering tersenyum kecil pada satu sama lain ketika mereka pikir tidak ada orang lain yang melihat.

Mereka begitu lama menyimpan perasaan itu di dalam diri mereka sendiri, hingga mereka begitu berhati-hati. Menjaga hubungan itu seperti porselen yang mudah retak.



Rein mulai mengikuti bimbingan belajar di dekat sekolah setiap Senin-Kamis. Aksa memiliki jadwal lain di hari yang sama  — ia mengikuti olimpiade sains, dan mendapatkan pelajaran khusus tambahan dari Pak Ludo. Aku menawarkan untuk menemani Rein berjalan, karena sudah beberapa kali aku mendengar tentang kejadian pencopetan di sekitar sekolah kami.

Rein tidak menolak sama sekali, tetapi dia selalu mentraktirku memakan mie bakso kesukaannya, yang dijual di gerobak di depan tempat bimbelnya. Dia selalu memaksaku, berkata kalau ia benci diperhatikan semua orang karena makan sendiri. Aku tahu sebenarnya Rein melakukan itu karena ingin berterima kasih padaku, jadi aku tidak pernah menolaknya.

“Gue harus pulang,” katamu suatu Senin sore, dari dalam mobil, dengan kaca jendela yang terbuka. “Ikut mobil gue aja ke tempat bimbel lo, Rein.”

Rein dan aku berdiri di samping mobilmu, tampak berpikir. Kau tidak pernah mau berjalan bersama kami, tapi kau selalu rajin menawarkan tumpangan mobil ke sana. Bertanya apakah kau mau makan bakso bersama kami adalah sia-sia, jadi kami tidak pernah repot-repot menanyakannya.

Aku dan Rein menatap cahaya sore yang kekuningan. Pohon di depan sekolah kami meranggaskan bunga-bunga kecil berwarna kuning, yang kini sudah memenuhi tanah di bawah kami. Pemandangan itu, diiringi dengan kicauan burung dan deru mobil yang sesekali lewat, terasa begitu indah.
Rein membuka pintu mobilmu, berkacak pinggang ketika ia berkata, “Jalan sama kita, deh, sekali-kali!”

Kau mengerucutkan bibirmu sejenak, tampak berpikir.

“Cuacanya bagus banget,” kataku, setuju dengan Rein.

“Dengan tampak galak gue, nggak bakal ada yang berani malak lo, oke?” kata Rein lagi. “Dan tenang aja, gue nggak akan traktir lo bakso urat. Gue tahu lo benci bakso urat. Atau semua bakso secara umum.”

Kau masih berpikir lagi, ketika kemudian aku berkata, “Sekali-kali, Ed.”

Kau berhenti berpikir dan memberikan cengiran tipis. Setelah meminta supirmu untuk menunggu di tempat bimbel, kau turun dari mobil, dompetmu diselipkan di kantung celanamu. Lalu kau meraih tanganku dan mulai berjalan beriringan.

Aku rasa hatiku berhenti untuk beberapa saat, tapi aku susah payah untuk menyembunyikannya. Kau mengayunnya ringan, beriringan dengan langkah kaki kita, seakan ada ritme lagu pelan yang kita ikut.

“Lo, Rein, harus kasih gue kado ulang tahun yang bagus,” katamu dengan cengiran yang belum hilang. “Bayaran gue jadi bodyguard tambahan lo — walaupun sebenernya lo nggak butuh bodyguard gue rasa.”

“Dan lo sebaliknya — magnet copet. Anak SMU mana yang pake Vacheron Constantin ke sekolah? Lo nggak waras,” kata Rein bercanda, yang ditanggapi hanya dengan tawa kecil darimu. Rein kini berjalan mundur, agar wajahnya dapat berhadapan dengan milik kita. Dia bertanya lagi dengan penasaran, “Tapi emangnya apa, sih, yang seorang Edmund Chandrasaputra mau buat ulang tahun? Gue yakin Shiva pun bingung mau beliin apa buat lo.”

Kau tertawa. “Ya, gue nggak butuh apa-apa. Gue udah punya segalanya,” katamu, mengangkat tanganku yang digenggam olehmu, memperlihatkannya pada Rein. Rein hanya memutar bola mata dan berpura-pura muntah, tapi kemudian dia juga tertawa.

Sejujurnya aku belum berpikir sejauh itu tentang ulang tahunmu. Ketika beberapa hari yang lalu kau berkata kalau kau akan merayakan ulang tahun terakhirmu di Indonesia sebelum berangkat ke Perancis, aku hanya berpikir bagaimana aku telah melewatkan ulang tahun-ulang tahunmu sebelumnya tanpa kesan yang mendalam. Ketika kini kau semakin penting untukku, rasanya begitu banyak hal yang dengan sia-sia kulewatkan. Seharusnya aku menikmati setiap detik yang kulewatkan bersamamu, seperti saat ini.

Rasaku padamu begitu meluap-luap hingga rasanya aku tidak bisa bernapas. Mungkinkah kebahagiaan bisa semenyesakkan itu? Aku ingin memelukmu sepanjang waktunya, hingga rasanya tidak ada lagi hal di dunia ini yang lebih penting daripada itu.

Tampaknya perasaan itu begitu kentara bagi seluruh dunia. Setelah menyerukan pesanan (yang terkadang dipesan lewat BBM oleh Rein yang memiliki kontak Mang Bakso itu), aku dan Rein duduk berdampingan.

“Tahu nggak,” kata Rein menumpukan kakinya pada kaki yang lain. Dia terlhat bersemangat dan bercahaya ketika ia berkata, “Gue rasa lo udah ngubah Ed.”

 Aku menoleh ke arah Rein, berkata, “Oya? Gue sering ngerasa kalau banyak dalam diri dia yang nggak bisa gue ubah. Tapi gue berusaha terima itu, sih.”

“Ya, itu juga, sih,” kata Rein mengiyakan. “Tapi gue kan sekelas sama dia, dan gue tahu gimana dia waktu SMP dulu, jadi gue bisa lihat. Waktu kelas dua SMP, gue dan dia pergi latihan teater bareng sama lima belas orang lain di kelas. Ada anak yang namanya Darian yang ulang tahun waktu itu, dan dia traktir satu grup kita makan bakso sepulang latihan. Tapi dia nggak ngajak Ed.

“Gue tentu nemenin Ed pergi, karena gue tahu dia ngerasa kesel — Darian lumayan deket sama dia. Kita bahkan sempet beliin Darian hadiah. Sebelum gue dan Ed pergi dari tempat latihan, kita denger Darian dan anak grup lain ngomongin Ed. Tentang gimana dia nggak pernah bisa fit in, tentang gimana dia selalu sok pangeran.

“Gue inget kata-kata Darian waktu itu, “Gue nggak bisa traktir dia di resto mahal, dan gue yakin dia bakal ngeremehin gue karena itu. Gue cuma temenan sama dia karena dia selalu traktir gue makan siang sebelum latihan. Gue muak ngelihat gaya dia yang selalu belagak kayak semua orang lebih rendah daripada dia.”

“Dia ngomong begitu?” tanyaku, berpikir dalam hati mungkin sebenarnya kata-kata Darian juga ada benarnya. Bagi orang yang belum mengenalmu dengan baik, kau terkesan sombong. Aku pun merasa seperti itu ketika pertama kali mengenalmu.

“Sekarang lo bisa bilang dia arogan, soalnya dia emang jadi arogan setelah kejadian itu,” kata Rein. “Dia nggak mau kerja kelompok kecuali sama temen deket, dia nggak mau temenan sama orang di luar... yah, kita. Dia nggak suka susah — lo lihat sendiri gimana dia ragu-ragu buat turun mobilnya barusan. Tapi dulu dia nggak begitu, dan rasanya Darian nggak adil dengan ngecap dia kayak gitu.”

“Dan dia jadi mikir kalau semua orang yang lebih miskin dari dia pingin ngambil keuntungan dari dia,” kataku, mengerti. “Dia jadi pahit.”

Rein mengangguk. “Tapi sekarang dia jadi lebih baik, kok. Gue udah bilang, belum? Dia sekarang sering ngobrol sama temen sekelompok Ekonomi-nya di kelas. Kita harus bikin bisnis kecil gitu, yang bakal kita jadiin tugas akhir kelas 3 ini. Dia lumayan deket sama Leon.”

“Leon?” tanyaku lagi. “Leon yang rambutnya rancung-rancung? Leon murid sekolah cabang yang ikut ngungsi?”

“Yep,” kata Rein, menerima mangkuk baksonya. “Leon yang main sepakbola, nakal tapi dengan nilai yang bagus. Leon anak beasiswa, tapi selain kenyataan itu, dia itu kloning Ditya — alasan utama kenapa gue ngehindarin dia. Nggak perlu banyak mikir kenapa Ed dan Leon cocok.”

Rein tertawa, tapi aku terdiam. Itu adalah pertama kalinya aku mendengar Rein berbicara tentang Ditya lagi setelah kecelakaan Aksa. Rein menyadari arti tatapanku, dan tanpa berhenti menyendok kuah mie baksonya, dia berkata, “Ditya dan gue nggak apa-apa, kok. Dia nggak sadar ini, tapi dia nggak pernah bener-bener sayang gue. Dia cuma pingin sesuatu yang dimiliki Aksa. Dia iri sama Aksa. Dua kakak-adik bego itu saling iri satu sama lain.”

“Rein...,” aku mendesah. Aku belum pernah menanyakan itu, tapi aku tidak bisa menghentikan kata-kata itu keluar dari bibirku, “Lo nggak apa-apa?”

Pertanyaan semacam itu tidak pernah menyenangkan untuk didengar: jawaban yang didapat darinya tidak pernah jujur.

“Kalau setiap hari kayak gini, dengan Aksa di samping gue, gue bakal nggak apa-apa,” kata Rein. “Lo mungkin pikir karena gue pacaran sama Ditya nggak dengan perasaan yang sepenuhnya, jadi bakal gampang ngakhirinnya. Apalagi kita putus karena dia selingkuh, harusnya gampang benci sama dia. Tapi waktu suatu hubungan berakhir, yang lo inget cuma saat lo ketawa sama dia. Yang indah-indah aja. Gue cuma bersyukur kita semua masih teman. Gue bersyukur ada Aksa di samping gue sepanjang waktunya.”

Rein kemudian meringsut, dan aku merangkul bahunya. Gestur yang tidak pernah kulakukan, tapi aku merasa Rein begitu membutuhkannya saat itu. Dia membiarkanku menenangkannya, membuatku merasa kalau dia benar-benar adalah temanku yang sedang meminta sedikit pertolongan.

Ketika sebuah hubungan berakhir, betapapun pahitnya itu, pasti meninggalkan bekas pada hati seseorang. Rein melewatkan bertahun-tahun dengan Ditya, pasti banyak rasa yang tertinggal. Seperti rasa bersalah. Rasa kesal. Rasa penyesalan.

Aku tahu apa yang Rein pikirkan: betapa baiknya kalau sedari awal dia langsung berpacaran dengan Aksa, orang yang benar-benar disukainya, daripada harus melewatkan menyiksa dan disiksa Ditya selama bertahun-tahun itu.

Tapi tidak ada satu pun dari hal itu yang bisa diubah, karena segalanya telah terjadi. Aku mengambil mangkuk bakso dari tangan Rein, meletakkannya di samping. Aku bermaksud untuk menenangkannya, ketika aku melihat Aksa berdiri di samping kami.

Aku meninggalkan mereka berdua yang kemudian berpelukan, kemudian aku merasakan gravitasi dari kata-kata Rein: ia beruntung memiliki Aksa di sampingnya.

Ia memiliki cinta sejatinya kini, dan segalanya menjadi sepadan.

Untuk begitu lama setelahnya aku memikirkan percakapanku dengan Rein. Yang pertama, tentang berubah karena orang yang disayang. Yang kedua, tentang sakitnya melepaskan sebuah hubungan yang telah melekat di dalam hidupmu begitu erat.

Yang kedua terasa begitu dekat denganku ketika aku pulang dan mendapati Eyang terbatuk lebih parah daripada biasanya. Aku membawa Eyang ke dokter internis hari itu, dan mendapati kalau Eyang mengidap bronchitis.

Eyang masih sempat bercanda di jalan pulang, tapi hari itu kami pulang ke rumah tanpa membeli obat antibiotik yang diharuskan dokter. Aku hanya melipat wajahku sepanjang waktunya, berpikir keras mencari jalan keluar dari situasi itu. Kami hanya membeli obat batuk biasa, yang aku tahu takkan bisa menyembuhkan Eyang.

Kau sudah mendengar suara batuk Eyang lewat telepon, dan tidak percaya kalau segalanya baik-baik saja. Atau kau mungkin mendengar kegagapanku dan menyimpulkan ada sesuatu yang telah terjadi. Aku berusaha mengalihkan perhatianmu dengan berkata, “Gue mau kerja paruh waktu. Menurut lo Ben bisa bantu gue carikan pekerjaan? S-sekarang gue udah punya B2 DELF, mungkin dia bisa terima gue jadi pengajar lepasan di tempat kursus....”

“Lo nggak pernah berpikir, mungkin gue bisa bantu lo?” tanyamu di ujung sambungan telepon. Tentu saja iya, tapi aku tidak terlalu menyukai ide itu. Kau berkata, “Gue tahu pasti ada sesuatu, kenapa lo nggak kasih tahu gue ada apa?”

Aku memberitahumu tentang situasi Eyang, dan walaupun aku juga sadar apa artinya itu. Keesokan paginya kau datang dengan alasan menjemputku ke sekolah, tapi aku tahu betul sebenarnya itu adalah untuk memberikanku sebuah amplop berisi uang. Aku mengulang-ulang dalam hati kalau uang itu untuk Eyang, tapi aku tetap mendorong balik amplop itu kepadamu, “G-gue nggak bisa terima ini dari lo.... Lo tahu, gue—”

“Gue ulang tahun hari ini, inget?” katamu, mengangkat alis. “Ini perintah.”

Akhirnya aku menerimanya, mengucapkan terima kasih, tanpa dapat melihat matamu lurus-lurus. Kekhawatiranku tentang segala situasi ini membuatku lupa sama sekali kalau hari itu adalah ulang tahunmu. Itu menambah tumpukan rasa bersalahku.

Sepulang sekolah itu kita semua bermaksud untuk merayakan hari ulang tahunmu di Peinture. Aku menyusul ke sana setelah membawakan pulang obat untuk Eyang. Sesampainya aku di sana, Rein sedang meyakinkanmu kalau mengundang Leon ke Peinture bersama hari itu bukan hal yang buruk. Deadline tugas Ekonomi dipercepat, dan kau dan Leon perlu menyelesaikan segalanya hari ini.

“Gue nggak bisa bikin tugasnya hari ini,” katamu pada Rein. “Sekarang gue sama kalian, dan nanti malem gue sama keluarga gue.”

“Makanya gue bilang, kalau kalian bikin di sini pun nggak apa-apa,” kata Rein. “Lagipula, ada Shiva sama Aksa dan gue yang bisa bantuin supaya tugas lo cepet beres.”

“Ada gue juga!” kata Ditya mengangkat jari telunjuknya, tangannya yang lain menggenggam erat bir yang sedang ia minum. Rein memutar bola matanya, ketika kemudian Ditya protes, “Hei Rein, gue mantan ketua OSIS, inget? Oh dan kalau lo belum puas dengan pestanya, kita bisa lanjut ke Loupin abis lo beres sama bonyok lo. Gue bisa buka meja VIP, dan boom!”

Kali ini Aksa yang memutar bola mata, mengingat bencana apa yang terakhir terjadi di Loupin. Ben mengambil bir dari tangan Ditya dan berkomentar, “Nggak ada Loupin untuk hari ini, dan nggak ada alkohol di Peinture — ini tempat artistik, bukan diskotik.”

“’Diskotik’? Kata zaman apaan, tuh? Oom Ben, lo umur berapa, sih? Kenapa nggak sekalian ‘ajojing’ aja, biar lebih kuno lagi?” Ditya tertawa. Sementara Ben membela pilihan katanya yang ia bilang ‘retro’, kau tampak berpikir mungkin kata-kata temanmu ada benarnya. Maka kau pun menelepon Leon dan memintanya menyusul ke Peinture.

Sementara menunggu Leon datang, Ben berkata mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk memberikan kado terlebih dahulu. Kau menolak untuk membukanya di sana saat itu (alasannya jelas tertulis pada wajahmu yang memerah), jadi semuanya disimpan ke mobilmu untuk dibuka di rumah. Aku membantu membawakannya ke mobil, ketika kau bertanya apa isi kado dariku.

“Jam tangan,” kataku jujur, kemudian bercanda. “Bukan yang semacam Vacheron Constantin, tapi semacam yang masuk akal dipakai anak SMU.”

 “Lo pilih sendiri? Atau pilih sama Rein? Akhir-akhir ini kalian ke mana-mana bareng terus. Lo bahkan bisa ngomong Vacheron Constantin dengan lancar, pasti gara-gara dia.”

“Gue beli kado ini jauh sebelum Rein ngungsi ke sekolah kita,” jawabku jujur. “Gue pakai uang dari hadiah lomba nulis yang waktu itu. Gue nggak pernah minta maaf atau ngomong terima kasih ke elo soal lomba itu....”

Kau melambaikan tanganmu, seakan berkata aku tidak perlu melanjutkan kata-kataku. Kau sudah mengerti apa yang ingin kukatakan. Kau berkata lagi, “Asal lo jangan berhenti nulis. Lo masih nulis?”

 “Aksa lagi buatin gue website kecil. Nantinya gue bisa pajang tulisan-tulisan gue di sana,” kataku, mengangguk. “Kenapa lo suka sama tulisan gue?”

“Soalnya gue bisa tahu elo yang sebenernya dari tulisan lo,” katamu. “Lo lagi nulis apa sekarang? Kok, nggak pernah kasih lihat gue lagi?”

“Tentang jatuh cinta,” kataku, dan itu cukup untuk membuatmu bungkam. Mungkin karena kau tidak tahu harus menjawab apa, atau karena kemudian kita mendengar Leon dan lima orang lain datang berjalan kaki. Mereka berangkulan, berjalan sambil tertawa-tawa, dan Leon berhenti ketika melihatku dan kau sedang bersandar pada mobilmu. Dia mengucap selamat ulang tahun sebelum melewati kami dan masuk ke dalam Peinture.

Ide yang diawali dengan maksud baik dari Rein berubah menjadi bencana; karena Leon hanya ada di sana untuk bersenang-senang dengan kelima temannya. Tidak ada tugas Ekonomi yang diselesaikannya hari itu — ia hanya menyelesaikan lima gelas Drink of the Day dan dua porsi croque monsieur. Teman-temannya yang sama sekali tidak pernah aku lihat sebelumnya mengabiskan porsi yang kurang lebih sama.

Rein tampak sangat tidak enak hati dengan perubahan suasana itu, tapi dia, sepertiku, tidak tahu Leon yang sebenarnya seperti apa. Ia hanya berniat untuk mengubah imejmu yang eksklusif dengan mengundang seorang teman ‘luar’ ke dalam. Tampaknya kau juga tidak tahu Leon yang sebenarnya, karena kau tampak terkejut (dan sangat kesal, aku tidak tahu berapa banyak kerutan yang ada pada dahimu saat itu) dengan perilaku Leon. Rein berusaha menghiburmu dengan membuatkan tugas Ekonomimu, dan Aksa membantu Rein tanpa banyak omong.

Aku tahu Ditya bisa meledak setiap saat, dan aku tidak menginginkannya — tidak pada hari ulang tahunmu, tidak di Peinture. Ketika Leon bertanya apakah ia dan teman-temannya dapat duduk terpisah di satu meja, dan berkata kalau teman-temannya dapat memesan apa saja yang mereka mau kalau masih merasa lapar, aku berdiri dari tempat dudukku.

Tiba-tiba Peinture jadi hening. Mungkin semua orang sedang menunggu aksi semacam melempar sepatu berlumpur yang kulakukan saat MOS dulu (mungkin kali ini melempar cat minyak atau café au lait panas). Sebenarnya aku hanya ingin berkata kalau apa yang sedang ia lakukan itu tidak benar sama sekali, tapi sebelum apapun sempat keluar dari bibirku, Ben mendahuluiku.

“Leon?” kata Ben, mengabaikan kenyataan kalau dia sama sekali tidak pernah berkenalan dengannya. “Bisa kita ngomong di luar?”

Leon menatapku Ben sejenak sebelum ia berkata pada teman-temannya, mengajak mereka untuk pergi. Tampaknya bahkan sebelum Ben berkata apa-apa, mereka sudah mengerti. Atau mungkin mereka hanya pergi karena kini mereka telah merasa terlalu kenyang, dan tidak ada di antara mereka yang memiliki kartu remi.

Sementara mereka keluar, aku mendapati diriku mengikuti mereka, merasa kalau segalanya tidak adil kalau mereka pergi begitu saja. Ben mengikutiku, dan kami berdiri di ambang teras ketika Ben berkata pada Leon kalau mulai saat ini kejadian seperti ini tidak boleh terulang kembali.

Leon berbalik, memandang Ben dengan delik, lalu melirik ke arahku yang berdiri di samping Ben.

“Kenapa? Satu lintah udah terlalu banyak untuk kalian?”

Leon kemudian meninggalkanku yang terpaku mendengar kata-kata itu.

Tiga hari kemudian di suatu sore, aku dan Ben lagi-lagi duduk berhadapan di kafe tempat kursus, dengan kopi buatan Fendi di antara kami. Ben tahu ada banyak hal yang memenuhi pikiranku sejak kejadian dengan Leon itu, dan dia menungguku dengan alis terangkat.

“Lo tahu, Shi, kalau lo mau ngomong sesuatu, gue siap denger apa aja,” katanya. “Tapi gue nggak bisa kasih kerjaan paruh waktu semacam jadi guru pengganti. Lo harus punya sertifikat C1 DELF untuk itu, dan kita berdua tahu lo cuma punya B2 sekarang.”

“Gue bisa belajar buat C1, tes DELF selanjutnya itu Juni nanti, kan? Untuk sementara waktu gue...,” tapi tanpaku menyelesaikan kalimatku sekalipun, aku tahu Ben tidak setuju dengan ideku itu.

“Ini tentang Leon?”

Aku menggeleng. Ben jelas tidak percaya pada gesturku itu. Dia berkata lagi, “Denger gue... kalau lo nggak usah khawatir tentang apa yang Leon bilang. Lo nggak pernah manfaatin kita kayak Leon manfaatin Ed hari itu—”

“Gue pernah!” potongku. “Gue pernah. Ben, gue bisa bantu di perpustakaan sini... atau bantuin di bagian administrasi... atau gue bisa jadi waitress di sini bantuin Fendi. Gue cuma butuh kerjaan.”

“Untuk ngebalikin duit obat yang dikasih Ed?” tanya Ben. “Gue tahu tentang itu dari Ed, dan gue setuju seratus persen kalau lo boleh ambil uang itu tanpa ngerasa kayak ‘lintah’. Eyang lo butuh duit itu, Shi. Ed mau bantu, dan lo nggak seharusnya ngerasa nggak enak tentang itu.”

Aku terdiam. Ada selembar amplop lain yang sedari tadi diam di dalam tasku, menghantuiku di setiap jawabanku pada Ben. Keheninganku membuat Ben berkata, “Lo bukan orang pertama yang datengin gue untuk pekerjaan, karena alasan yang sama,” Ben mengedikkan kepalanya ke arah Fendi. “Lo kira kenapa awalnya gue bisa tawarin dia kerjaan di sini? Lo dan Ed sekarang mirip banget dengan dia dan Elli dulu.”

“Ben...,” aku meraih tasku.

“Denger gue, Shi,” Ben berkata lagi, “Hubungan kalian berdua itu nggak akan gampang, tapi gue tahu lo — rajin, tulus, dan nggak macem-macem — gue rasa kalau lo berhenti ngehargain diri lo kurang daripada apa yang seharusnya, segalanya nggak bakal kerasa susah. Kita nggak bisa milih di keluarga macam apa kita dilahirin, dan sepanjang yang gue lihat, lo berusaha dengan sekuat tenaga buat ngubah apa yang bisa lo ubah. Lo bisa ngomong sama Ed....”

Aku tidak bisa menahan diriku lagi. Aku menarik amplop itu dari tasku, menaruhnya di atas meja, lalu mendorongnya ke arah Ben. Dia tampak bingung ketika melihatnya, dan aku berkata, “B-buka aja. Lo bakal ngerti kenapa gue sekarang mohon lo untuk kasih gue kerjaan. Kenapa gue nggak bisa ngomong sama Ed beberapa hari ini.”

“Lo harus tahu tingkah laku lo itu bakal bikin Ed dapet keriput dini,” Ben menunjuk ke arah kening, lalu meniru kerutan yang biasa kaubuat ketika kau merasa terganggu. Melihatku yang tidak tertawa, Ben menyerah dan meraih amplop yang kuberikan.

Aku tidak bisa memperlihatkan isinya pada siapapun ketika surat itu datang tiga hari yang lalu, tepat sehari setelah ulang tahunmu. Isinya benar-benar tidak terasa nyata.

Sejak kau menggenggam tanganku pada jalan dari sekolah ke tempat bimbel Rein, aku sering memikirkanmu. Lebih sering daripada sebelumnya. Memikirkan hal-hal yang sebelumnya tidak berani kubayangkan. Memikirkan tentang masa depan, tentang Perancis — lebih dari sekedar karena negara itu akan memberikanku pendidikan yang membuat duniamu lebih dekat. Pendidikan yang akan membuatmu lebih terjamah olehku.

Perancis adalah negara di mana kau menjanjikan sekeping masa depan denganku. Sepenggal petualangan yang akan kita lalui bersama. Tempat kursus keluarga Ben bukan hanya mengajarkanku bahasa, tapi memperkenalkan budaya. Tidak butuh waktu lama hingga aku membayangkan kota-kota Perancis yang dibagi berdasarkan blok yang memutar. Orang-orangnya yang mengendarai sepeda sewaan. Memakan croissant dan kopi kesukaan bangsa itu di sebuah kafe pinggir jalan, sembari bercakap-cakap dengan orang lain. Mengunjungi banyak notre dames dan menikmati keindahannya. Semua itu akan kulalui denganmu, dengan harapan lewat sana aku mendekati duniamu perlahan-lahan.

Untuk sesaat aku pikir masa depan akan berlaku baik terhadap kita.

Ben membaca surat di dalam amplop itu dan raut wajahnya berubah. Aku mulai terisak, pertama kali sejak lama sekali. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku membiarkan diriku nampak selemah itu di depan orang lain, tapi aku melepaskan bebanku di hadapan Ben. Hal itu terasa memalukan selepas bulir air mataku yang ketiga jatuh ke atas meja, dan aku pun berdiri dan berbalik.

Ben ikut bangkit dan membisikkan banyak kata-kata menenangkan untukku dalam bahasa Perancis. Ia terlihat kalut, dan itulah kapan bahasa ibunya muncul. “Shiva, kau bisa mencoba beasiswa lain.”

Aku menggeleng. Menyeka pipiku yang basah. “S-surat itu dan kata-kata Leon tempo hari....”

“Membuatmu menyerah?” kata Ben. Dia kemudian mendesah, dan berbicara dengan normal lagi, “Ini bukan akhir, Shi. Lo cuma perlu percaya itu, dan lo bisa bangkit lagi. Lo kehilangan beasiswa, tapi lo nggak kehilangan Ed.”

Aku mendongak menatap Ben. Beberapa saat lamanya aku mencoba mencerna kalimat terakhirnya, kemudian aku mengerti. “Ed nggak mau LD, jadi dia setuju untuk ke Perancis sama gue. L-lo... lo bener-bener pikir dia bakal....”


“Kalau dia bersedia pergi ke Perancis untuk lo, kenapa nggak sebaliknya? Tinggal di Bandung untuk lo?”

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...