Monday, October 5, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kedelapan

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori kedelapan

Kelas satu diakhiri dengan kau yang mendapatkan deretan nilai yang memuaskan pada mata pelajaran yang tadinya hampir membuatmu tinggal kelas. Delapan koma lima untuk Matematika, delapan untuk Fisika, delapan koma dua untuk Geografi, dan tujuh koma delapan untuk Akuntansi.

Pada Kimia kau mendapatkan lima koma sembilan, angka yang sebenarnya lumayan baik jika mengingat bagaimana kau menolak sama sekali untuk mempelajari apapun tentang Kimia. Bahasa Inggris-mu mendapat nilai sembilan koma delapan, nyaris sempurna, nilai paling tinggi satu angkatan.

Setelah pembagian rapor, kau mentraktir Aksa, aku, dan Ditya makan di Peinture. Secara resmi grup studi mingguan kita berakhir hari itu. Ben menyapa kedatangan kita dengan sebuah lambaian, sementara inderanya yang lain fokus pada lukisan yang ia kerjakan. Ditya mengelitiki tubuh Ben hingga ia menyerah dan bergabung bersama, dan kita semua tertawa hingga petang.

“Lo seseneng itu dapet nilai bagus?” tanyaku bercanda, menyikutmu di tengah-tengah semua canda itu.

“Lo nggak lihat tadi Pak Ludo hampir nangis bangga? Delapan koma dua untuk Geografi!” tanya Ed balik, tertawa. “Gue seneng bukan cuma gara-gara nilai bagus. Gue seneng karena banyak hal bagus yang terjadi setelah ada lo.”

“Hal bagus?”

Kau tersenyum kali itu. “Tadinya gue kira SMU bakal ngebosenin. Ada hal buruk waktu kenaikan ke SMU, dan tadinya gue nggak nyangka ada orang kayak lo... yang bikin segalanya jadi lumayan menarik.”

Aku begitu terkesima aku tidak bisa menjawab apa-apa. Aku bahkan lupa hal buruk yang dikatakannya pasti berkaitan dengan kepergian Vivi.

Hari itu berakhir dengan kau mengantarku pulang ke rumah, tapi kali itu kau tidak langsung pergi. 

Ada lampu jalan yang baru dipasang di depan gang tempat rumahku tinggal. Kau memandangi pekarangan dan tampak depan kediamanku dalam diam untuk sejenak. Mungkin itu adalah pertama kalinya kau benar-benar turun dari mobil, dan memperhatikan seperti apa tempat tinggalku. Aku bisa menebak kalau kau terkejut; dan aku takut sekali kau mengatakan sesuatu yang menyakitkan tentang rumahku ini.

Setelah beberapa saat berlalu dan kau tidak kunjung masuk kembali ke mobil, aku pun bertanya lamat-lamat, “Em... mau masuk?”

Kau mengangguk. Tidak lama kemudian, kau duduk di sofa ruang tamuku, terlihat begitu kontras dengan sekitarmu. Kau terlihat salah tempat. Aku tidak bisa memandang pemandangan itu terlalu lama, jadi aku berkata, “G-gue ambilin lo minum bentar. Lo tunggu ya.”

Kau tidak menjawab, dan masih memperhatikan rumahku. Ada bekas air yang meresap dari langit-langit yang bocor di bagian ujung, membuat cat dindingku luntur. Ada bekas potongan kaki kursi yang termakan rayap — aku tidak mampu membeli yang baru, jadi aku berusaha untuk menempelkannya kembali dengan tape lebar.

Aku merasa sangat malu hingga aku ingin menangis. Sejak kapan aku merasa begitu rendah diri karena aku menyukaimu? Sejak kapan aku kehilangan semua harga diri yang membuatku melemparimu sepatu berlumpur pertama kali kita bertemu? Sekarang aku tidak lagi bangga menjadi orang miskin yang bermartabat; aku hanya ingin menjadi kaya dan pantas untukmu.

Eyang berada di kamar, lampunya sudah dimatikan. Ia terbatuk hebat beberapa saat kemudian, yang aku yakin mengejutkanmu. Aku menutup mata rapat-rapat, menahan semua emosi yang bergejolak dalam diriku. Aku takkan membiarkan diriku dari malu pada keadaan Eyang yang sering sakit. Apa saja, tapi tidak itu. Lalu, aku menyuguhkan segelas teh panas untukmu.

Kau sedang membaca sesuatu, dan aku sadar itu adalah naskah novel tulis tangan yang baru aku selesaikan beberapa saat yang lalu. Ketika pembagian rapor aku tidak sempat membawanya ke sekolah, jadi kau belum tahu tentang itu.

“Loh, naskahnya udah jadi, Shi?” tanyamu, menjunjung naskah itu di tanganmu. “Lo udah kirim copy-nya?”

Lalu aku sadar apa yang sedang kau bicarakan. Aksa sempat melihat sebuah pengumuman lomba novel pada koran yang dibacanya di Peinture. “Nggak, gue nggak ikut lombanya.”

“Nggak ikut lombanya?” tanyamu. “Kenapa?”

“Soalnya gue nggak ada waktu untuk ngetik naskah itu pakai komputer, sementara deadline-nya tinggal seminggu. Laptop gue dikasih Pak Gianyar udah lama, dan kadang-kadang suka nggak jalan. Dan lagian, gue mau fokus sama sekolah. Lo tahu kan, gue masuk IPA, dan...,” kataku memulai, lalu mengatakan berbagai alasan lainnya kenapa aku tidak ingin repot-repot mempermalukan diriku mengirimkan naskah itu ke lomba lalu kalah.

“Kalau soal komputer, gue bisa pinjemin punya gue besok, apa susahnya? Kalau pun nanti diterbitin, lo sendiri yang bilang kalau penerbit-penerbit gitu biasanya udah punya editor yang bisa bantu ngerevisi naskah, jadi apa repotnya?” tanyamu, masih kukuh.

“P-pokoknya gue nggak mau kirim,” kataku, mengambil kembali naskahku dari tanganmu. “Lo nggak akan ngerti kenapa.”

Kau mengernyitkan keningmu, lalu melipat tangan di depan dadamu. “Lo tahu apa yang gue nggak ngerti? Lo yang selalu nyerah sebelum coba. Lo nggak sadar kalau lo tuh sebenernya bener-bener berbaka—”

“Gue nggak tahan denger lo yang selalu ngedorong gue untuk ngejar mimpi gue, yang gue tahu nggak dalam jangkauan!” kataku, pada akhirnya mengatakan apa yang kurasakan. “Apa lo pernah ngerasain gimana rasanya makan ubi rebus selama tiga hari penuh? Gimana takutnya gue waktu Eyang sakit dan persediaan obat abis? Gimana malunya waktu ditanya sama temen-temen kelas, kenapa gue nggak mau ikut kembaran jaket anak-anak cewek? Nggak, kan? Kenapa? Soalnya dari dulu, lo selalu dapet apa yang lo mau.”

Kau sontak terdiam, wajahmu benar-benar terkejut dan terpukul. Aku tahu aku mungkin sudah melewati batas.

Kalimat yang kemudian kau suarakan pelan dan lamat-lamat, “Gue pikir lo berbakat. Dan karena keadaan lo kayak gini sekarang, malah seharusnya lo berusaha lebih keras daripada orang lain untuk dapetin apa yang lo mau. Soalnya lo bisa... sukses dalam bidang yang lo suka. Gue nggak komentar apa-apa waktu lo bilang lo tetep mau masuk IPA kelas dua nanti, karena lo bakal masuk Teknik Kimia kan? Gue cuma minta lo kirim naskah ini ke lomba, apa itu bener-bener bikin lo semarah ini?”

Aku mencengkeram tangan di samping tubuhku. Berbakat? Aku ingat raut meremehkanmu ketika kau membaca binderku di belakang kantin hari itu, di tengah-tengah asap rokok Ditya.

Sebenarnya, aku tahu apa yang benar-benar membuatku marah. Di luar jam sekolah, di luar seragam dan segala pretensi kesetaraan, aku tiba-tiba sadar betapa berbedanya kita.

Dan mungkin ada hal lain lagi. Perbedaan kita membuatku berpikir betapa cocoknya mantan kekasihmu dengan dirimu, jika dibandingkan dengan diriku. Apa setelah ia kembali liburan ini, kalian akan bersama lagi? Kenapa kau masih tidak mengatakan apa-apa padaku, padahal besok liburan sudah dimulai?

Saat itu aku mengutuk diriku sendiri, oh Tuhan, aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu, dan itu tidak boleh terjadi.

 Eyang terbatuk lagi, dan kini aku bangkit, siap berjalan ke arah kamar Eyang. Ponselmu berdering, dan aku berhenti sejenak sebelum berkata, “Makasih antaran pulangnya. Mendingan lo angkat, mungkin itu panggilan dari luar negeri.”

Lalu aku masuk ke kamar Eyang.

Untuk pertama kalinya sejak lama sekali aku bertindak sekanak-kanakan itu. Aku menyesali segala yang terjadi pada pertengkaran pertama kita itu, hingga aku tidak menyadari kalau kau membawa naskah novelku pulang denganmu. Persetan, kupikir saat itu. Sebenarnya untuk apa aku menyelesaikan naskah itu? Bukankah sedari awal naskah itu hanya untuk membuatmu tersenyum, karena aku suka melihatmu gembira setiap kau membacanya?

Satu minggu kemudian kau tidak menanyai kabarku sama sekali. Kau menghilang dari muka bumi dan aku tentu tahu apa yang sedang mengisi waktumu. Aksa sempat mengirimkan pesan padaku — menanyakan kabarku, bertanya apa aku bersedia pergi ke Bali mulai lusa, selama beberapa hari ke depan. Vivi dan Rein juga ikut serta, dia bilang, jadi aku takkan jadi perempuan sendiri.

Aku mengabaikan pesan itu, dan perasaanku agak tidak enak pada Aksa. Tapi aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya, dan setelah apa yang terjadi antara diriku dan dirimu waktu itu, aku tiba-tiba merasa mungkin sudah waktunya aku perlahan-lahan menjauh dari kalian. Aku ingin mencari teman yang lebih dari duniaku. Mungkin Topan bisa membantu. Aku pernah melihatnya naik angkot suatu hari sepulang sekolah.

Lagipula, resolusi untuk menjauhi kalian tampaknya takkan berjalan terlalu sulit. Kelas dua SMU aku masuk IPA dan kau IPS, takkan terlalu sulit menghindarimu. Aksa sama-sama IPA, tapi kurasa dia akan mengerti.

Hari itu dengan resolusi memulai hidup baru tanpamu aku pergi ke tempat kursus Gervais. Aku mengisi formulir pendaftaran kursus, dan ketika aku berkata Bertrand Gervais yang merekomendasikan aku, si resepsionis memandangiku dengan sebal, lalu berkata kalau aku tidak perlu membayar uang pendaftaran atau kursus. Ben tidak berbohong soal kursus gratis. Si resepsionis memberikan salinan bukti pembayaran, dan berkata kalau pelunasan sudah ditanggungkan ke tempat kursus.

Aku sekali lagi adalah anak beasiswa.

Ben muncul di pekarangan tempat kursus ketika aku beranjak pulang. Dia mengenakan jaket kulit dan helm, dan seketika aku tahu Harley-Davidson yang diparkir tidak jauh dari sana adalah miliknya.

“Oh!” Ben membuka helmnya, lalu menatap terkejut ke arahku. “Gue pikir lo nggak tertarik untuk kursus, soalnya lo nggak datang daftar setelah gue kasih selebarannya.”

 “Nggak, kok. Gue tertarik, cuma kemarin tunggu liburan sekolah mulai aja,” kataku tersenyum. “Ben, soal uang kursusnya....”

Ben mengangkat tangan, lalu berkata, “Kalau lo mau bales, gimana kalau lo traktir gue kopi?”

Ben menunjuk kafe yang terletak di dalam pekarangan tempat kursus. Dua americano yang kemudian kami minum benar-benar lezat, tidak kalah dengan yang disuguhkan di Peinture. Ben berkata kalau barista di tempat kursus dulunya memang bekerja di Peinture.

“Tapi Fendi minta dipindahtugasin ke sini, soalnya lebih deket sama rumahnya,” kata Ben. Dia mengangkat tangannya untuk menyapa Fendi, seorang pria di balik meja kasir yang mengenakan jaket kulit hitam. Fendi membalas sapaan itu dengan sama cool-nya. Ben menyalakan rokoknya ketika ia berkata sambil mengedikkan kepala ke arah Fendi, “Sekarang dia tahu lo kenal gue. Jangan takut kelaparan kalau lo lagi kursus, tinggal ke sini aja, Fendi pasti kasih lo gratisan.”

Aku tertawa seraya menyeruput kopiku. “Lo bakal bangkrut cepet kalau lo bisnis kayak gini terus, Ben.”

“Nggak usah khawatir, nggak ke semua orang, kok,” Ben mengetuk puntung rokoknya ke atas asbak, sambil tersenyum. “Jadi kenapa lo bisa mutusin ikut kursus? Ed udah kasih persetujuan?”

“Kenapa gue harus persetujuan dia untuk ikut kursus?” tanyaku agak tersinggung. Ben tidak menjawab, hanya tersenyum penuh arti sambil mengangkat alisnya tinggi. Aku mendesah, “Oke. Gue nggak kontak sama dia sejak kenaikan kelas. Jadi, gue nggak denger pendapat dia apa. Kalaupun gue tahu pendapat dia apa, gue nggak ngerasa itu bakal jadi pertimbangan gue.”

Ben masih tersenyum, dan kali ini alisnya lebih tinggi lagi.

“Ben,” aku memangku dagu pada kedua tanganku. “Lo mau gue ngomong apa lagi?”

“Nggak tahu. Mungkin semacam pengakuan kalau lo takut ngomong ke Ed tentang kursus,” kini Ben mengangkat bahu, lalu meminum kopinya. “Abisnya udah pengetahuan umum kalau di balik topeng cuek dan sinisnya, Ed itu posesif. Dia nggak suka lo berhubungan sama gue?”

Aku termangu sejenak. Dalam satu tarikan napas Ben mengatakan dua hal: bahwa ia mungkin menganggap ‘seperti sekarang ini’ adalah sesuatu yang patut ditakuti. Dan bahwa kau, si Pangeran Tidak Acuh, merasa posesif terhadapku.

Keduanya adalah hal absurd yang segera aku hapus dari pikiranku.

Lalu aku melihatnya, Ben yang melepaskan ikatan kuncir kudanya, meletakkan rokoknya di atas asbak, lalu mengikat rambutnya lagi dengan asal. Dia terlihat begitu santai dan dewasa, begitu mudah untuk diajak bicara, hingga aku akhirnya berkata, “Lagipula nggak apa-apa kan kalau gue nggak kasih tahu dia soal sesuatu. Dia juga nggak pernah kasih tahu gue soal Vivi?”

Kini Ben tertawa. “Akhirnya ngomong juga deh.”

Lalu aku menghabiskan sore itu untuk bercakap-cakap dengan Ben. Sama seperti aku menceritakan tentang kekhawatiranku tentang biaya kuliah, obrolan kami mengalir, bahkan ke tempat yang tidak ingin aku bicarakan: kamu.

Ben tidak terlalu banyak berkata-kata, tapi dia tampak menikmati curhatku. Saat itu juga begitu, dan di akhir dia memberikan sebuah solusi untuk mengikuti kursus Perancis. Kali kedua itu di akhir perbincangan kami, dia juga memberikan solusi lain yang sangat sederhana.

“Ya udah, karena lo udah muak sama Ed, gimana kalau gue antar pulang?” kata Ben lagi, menyerahkan helmnya padaku. “Anggap aja bagian dari resolusi baru.”

Dan aku menyetujuinya.

Aku sempat berkata di tengah percakapan kami di kafe tempat kursus, kalau Eyang sering tidur siang pada sore hari. Di depan gang tempatku tinggal, Ben mematikan mesinnya. Matahari menjelang terbenam, aku mengepit helmku, berjalan di samping Ben yang mendorong motornya ke arah rumahku. Ben mengusulkan ini agar suara deru mesin motormu tidak mengganggu tidur Eyang. 

Kupikir saat itu Ben benar-benar orang kaya yang sangat mudah diajak bergaul.

Ada nyeri di hatiku yang mengingat bagaimana kau mendengar suara batuk Eyang malam itu, tapi aku cepat-cepat menghapusnya. Hari ini adalah hari resolusi baru. Setelah sekian lama mendekam di rumah, pada akhirnya hari itu aku merasa segar. Mungkin segalanya benar-benar bisa berjalan lancar.

Lalu aku melihatnya, sedan hitammu yang memakan tiga per empat jalan gang depan rumahku. Aku mendekat dengan kaku. Kami berjalan cukup dekat dengan rumahku dan mobilmu, hingga aku mendengar suara tawa.

Kau sedang duduk lesehan di teras, di atas alas beranyam. Sebuah papan catur usang pemberian Pak Gianyar berada di antara kau dan Eyang, dan kalian sedang menikmati pertandingan catur yang entah kesekian sore itu.

Ada hangat yang menyeruak dari hatiku ke seluruh ujung jemariku. Resolusiku hanya bertahan beberapa jam lamanya, dan kini aku sudah ingin mengembalikan helmku pada Ben, dan berjalan ke arahmu. Tapi aku tidak melakukannya. Aku tetap berada di balik pagar, mendengar suara tawamu yang senada dengan milik Eyang. Untuk sesaat itu aku merasa kau dekat dengan duniaku, dan aku sangat terharu.

Ben tidak merasakan semua gejolak emosi yang kurasakan. Ia berjalan ke arah pagarku yang tidak tertutup tanaman, lalu mengangkat tangan menyapamu, lalu membungkuk sopan pada Eyang.

Kau dan Eyang sontak berhenti bermain. Eyang berkata tentang bagaimana ia kaget tapi senang pada akhirnya aku membawa teman ke rumah; tentang betapa jagonya kau bermain catur dan betapa tampannya Ben; sekaligus bertanya dari mana aku sedari siang, karena kau sudah menungguku lama sekali.

Aku tidak sempat malu pada kecerewetan Eyang yang pastinya mengejutkan Ben. “Mungkin lain kali saya ikutan main caturnya, Pak. Saya cuma antar Shiva pulang aja hari ini,” kata Ben, lalu melambai, “Gue pulang dulu, ya.”

Aku mengangguk ketika Ben melambai pergi. Kau membalas sapaan Ben dengan lambaian lain. Mata kita bertemu untuk sejenak, sebelum kemudian kau memperhatikan bidak caturmu lagi.

“Kurang lama deh lo nge-date-nya,” katamu ringan ketika aku masuk melewati pagar, dengan nada acuh tak acuh yang biasa kaugunakan. “Wah, coba kalau lo pulang lebih telat lagi, mungkin gue udah bisa skak-mat si Opa, nih.”

“Kenapa lo ke sini?”

Eyang segera bangkit dan menegurku, “Shi, kok gitu sih ke Ed? Jangan gitu dong, dia udah nungguin dari siang, lho. Shiva ke mana, tadi? Iya juga, ya, Ed pasti haus. Opa ambilin minum dulu ya! Ed mau apa? Teh aja deh ya, enak banget teh buatan Opa. Ed harus coba. Jangan pergi dulu, mau Shiva ngomong apa juga. Kita main satu ronde lagi. Oke?”

Kau mengangguk sambil tertawa. Tampaknya Eyang memang membuatmu merasa terhibur. Ekspresimu melunak untuk sejenak, lalu kau terdiam. Kau kemudian berkata, “Kakek lo lucu banget. Gue nggak nyangka ternyata Putri Beku punya kakek secerewet Opa. Dia agak mirip Ditya. Pasti waktu muda dia gaul, deh. Gue suka.”

Aku tidak menyebutkan kalau Eyang pastinya juga suka sekali dengan dirimu, karena Eyang membiarkanmu memanggilnya ‘Opa’. Biasanya ia menolak apapun selain ‘Pak Krishna’ dari orang selain aku. Bahkan Resti, anak Pak Gianyar, juga memanggilnya seperti itu.

Aku juga tidak menyebutkan bagaimana terganggunya diriku membayangkan Eyang mirip dengan Ditya.

“Kasihan juga Eyang lo, sakit di rumah, tapi lo sibuk pacaran. Gue nggak tahu kalau lo deket sama Ben, sampai dia mau kasih tebengan ke elo di Harley-nya. Bahkan gue aja ragu Rein pernah nebeng sama dia atau ga.”

“Abisnya udah pengetahuan umum kalau di balik topeng cuek dan sinisnya, Ed itu posesif.”

Kata-kata Ben mengiang di telingaku. Nadamu tajam dan menyakitkan, tapi aku tak membiarkannya menyakitiku.

“So what?” tanyaku balik. “It’s okay, right? He’s cool and I like him. Lo juga seneng-seneng sama Vivi beberapa hari ini, kan? Gue denger dari Aksa dia lagi balik dari Perancis.

Ekspresi acuh-tak-acuhmu hancur sedikit. Kau terkejut, tapi lalu terdiam. Ada kegeraman ketika kau mengangkat naskah yang sedari tadi tergeletak di sampingmu, di atas tikar. Naskah novel tulis tangan milikku. Kau mengembalikannya.

“Gue sebenernya awalnya ke sini mau balikin ini sama lo,” katamu. “Tapi karena Opa gue jadi keasikan main catur. Lo jangan pikir gue nunggu lo,  soalnya gue sama sekali nggak bakal ngelakuin hal kayak gitu. Nggak untuk lo — lo cuma seorang Shiva.”

Kau berdiri, naskahku di tangan, lalu kau meletakkannya di atas meja di pojok. Kau mengucap pamit pada Eyang yang keluar dengan segelas teh panas di tangan. Tanpa lagi menatap mataku, kau mengendarai sedanmu pergi dari rumahku.

Setelah kau pergi aku mendengar dari Eyang kalau kau juga datang membawakan sup ayam dan vitamin herbal, karena kau mendengar Eyang terbatuk parah malam terakhir kau berkunjung.

Sup ayam darimu kami santap malam itu. Rasanya meresap ke tenggorokanku. Dibanding membuat 
badanku menghangat, sup itu membuat mataku terasa terbakar.


Kalimat terakhirmu terasa begitu menyakitkan, rasanya itu adalah rekor baru.

1 comment:

Elkilani Kurnia said...

Kadang memang begitu, hubungan yang telah lama dibina itu malahan kaya porselen yang sangat rapuh, sekalinya pecah susah buat dikembalikan jadi seperti sedia kala

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...