Monday, September 7, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori keempat

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!
.memori keempat

Kita bertiga sedang duduk bersama di suatu jam istirahat untuk mengejar ketinggalan tugas kelompok Kimia. Karena memberikan nol besar untuk kontribusi, dan aku sempat meledak kesal ketika kau menolak untuk mengerjakan apapun.

“Nggak bisa gitu, dong!” kataku. “Masa gue dan Aksa yang harus kerjain kerjaan bertiga? Terus, lo belajar dari mana?”


Aksa sibuk menenangkanku dan berkata kalau itu tidak apa-apa. Aku mulai curiga di sana kalau selama ini kau dan Aksa berteman dengan situasi simbiosis parasitisme. Kaulah parasitnya.

Pada akhirnya Aksa berhasil menenangkanku dan berkata kalau ia tidak keberatan mengerjakan tugas bagianmu. Kau hanya manyun kemudian keluar dari kelas dengan kedua tangan di dalam kantung celanamu. Kau membolos kelas lagi.

“Kalau kayak gitu terus, dia nggak bakal naik kelas!” kataku pada Aksa. Tidak banyak yang bisa membuatku berapi-api, tapi kau adalah salah satunya. Sikapmu selalu berhasil membuatku kehilangan kesabaranku.

Aksa tertawa dan menenangkanku. Aku tiba-tiba saja merasa dia benar-benar seperti malaikat. Jika ada sepasang sayap putih yang muncul di punggungnya saat itu maka aku takkan kaget.

“Ed nggak suka ngitung. Dia lumayan jago hapalan, tapi dia rasanya cuma suka bahasa.”

Aku tidak perlu diberi tahu tentang itu. Selain pelajaran bahasa — Indonesia, Inggris, Mandarin, dan Sunda — nilaimu semua selalu di bawah enam. Aku menahan emosiku dan berusaha berkonsentrasi mengerjakan bagian tugasmu. Tentu saja aku tidak bisa membiarkan Aksa mengerjakannya untukmu. Siapa yang tahu sudah berapa kali dia melakukan itu? Atau dicontek olehmu?

“Ditya yang sering nyontek, dia sih nggak,” kata Aksa masih saja membelamu. 

“Beneran deh, Sa, kenapa sih lo nggak sebel sama dia?” kataku. Walaupun aku mengerti kau dan Aksa adalah teman lama, tapi aku tetap tidak mengerti. “Lo kan bisa temenan sama siapa aja yang lo mau. Akuin, deh, dia bukan orang yang populer. Dia itu....”

 “Sinis? Sarkastis? Kalau ngomong nyakitin?” lanjut Aksa tersenyum. “Tapi lo juga tahu, itu luarnya doang, kan? Dia selalu ngomong hal yang nggak sinkron sama hatinya. Sebenernya niatnya baik, dan lo tahu kenapa dia cocok sama Ditya? Mereka sama-sama kayak anak kecil. Nggak jujur, tapi sebenernya tulus.”

Aku tidak bisa menyangkal apa-apa. 

“Sori,” kataku mendesah, menjadi merasa tidak enak pada Aksa. Aku masih tidak setuju dengan perilakumu pada Aksa, tapi aku juga tidak sampai hati terus melawan Aksa. “Gue udah ngomong yang jelek-jelek tentang sobat lo.”

Aksa menggeleng, lalu menepuk pundakku. Gestur kecil itu membuat hatiku menghangat, karena aku merasa memiliki teman. Aksa kemudian berkata, membuat hatiku berubah lagi menjadi tidak keruan, “Bukan ngejelek-jelekin, kok. Lo malah khawatir soal dia. Kalau nggak, mana mungkin lo takut dia nggak naik kelas, kan?”

Ada kesadaran yang meresap ke dalam diriku. Aku mengkhawatirkanmu?

Aku menolak untuk mempercayai kata-kata Aksa. Aku tidak rela. Pada jam istirahat, aku menyusulmu ke pelataran kantin sekolah dan menemukanmu berbaring di salah satu kursi kantin. Ada es lilin yang setengah mencair di tanganmu. Aku siap menegurmu ketika aku sadar kau sedang tertidur.

Aku mengambil selangkah lebih dekat dan kau terbangun. Kau mengusap matamu, kemudian mendongak ke arahku. Pelajaran berikutnya adalah pelajaran olahraga.

“Lo jangan kayak gitu sama Aksa,” kataku. “Nggak adil kalau dia harus ngelakuin hal-hal kayak gitu buat lo, tahu.”

“Gue nggak pernah maksa dia,” katamu mengangkat bahu. “Dia sendiri, kok, yang rela ngerjain tugas gue kalau kita sekelompok. Atau kasih salinan PR buat gue. Atau ngajarin gue kalau menjelang ujian. Dia mungkin emang bakatnya jadi guru.”

“Atau lebih tepatnya pengurus TK, soalnya lo persis balita,” kataku mendesis. “Sebenernya, lo ngelihat Aksa itu temen lo bukan, sih? Atau cuma salah satu orang yang bisa lo manfaatin?”

Kernyitan di dahimu bertambah dalam, tapi kau tidak berkata apa-apa dan pergi. Murid-murid lain telah berkumpul di lapangan olahraga, dan jika aku tidak berlari aku mungkin akan telat.

Hari itu adalah pertandingan basket kelas. Semua murid laki-laki di kelas bergantian bertanding satu sama lain, sementara para murid perempuan belajar bagaimana cara lay-up. Namun murid perempuan berakhir menontoni para murid laki-laki yang sedang bertanding.

Giliran Aksa telah datang dua kali, dan ia telah menolaknya setiap kali. Rumor yang beredar Aksa tidak bisa berlari karena luka permanen di pergelangan kakinya. Rumor itu benar, karena Aksa mengatakan alasan yang sama ketika Guntur mengejeknya ‘lemah’. Ia terlihat begitu sabar hingga aku benar-benar ingin membelanya dan melawan Guntur. Tapi aku merasa Aksa dapat mengendalikan situasi dan aku tidak ingin membuatnya harga dirinya sebagai laki-laki malu.

Guntur tidak menyerah walaupun Aksa telah dengan sabar berkata kalau ia tidak diperbolehkan berlari. Untuk ketiga kalinya dia berkata lagi kalau Aksa seharusnya ikut bertanding, dan kali ini murid laki-laki lain ikut membeo. Kebanyakan dari mereka kesal karena perempuan yang mereka taksir kebanyakan naksir Aksa.

“Heh, udah deh nggak usah banyak bacot. Lewatin gue dulu, baru lo boleh ngomongin Aksa!” 
Seketika semuanya terdiam. Kau melepas jaket olahragamu dengan satu hentakan, melepas baju olahragamu yang sudah bersimbah keringat, lalu berjalan ke depan Guntur, menantangnya 1-on-1.
Guntur berbadan besar, tingginya mencapai hampir 190cm. Tubuhnya berotot dan kokoh, hasil dari latihan basket dan taekwondo rutin. Ia berjaga di bawah ring sebagai center terkasar yang pernah ada dalam sejarah perbasketan. 

Kau bukan anggota tim basket, tubuhmu juga tidak setinggi dan sekokoh Ditya. Tidak butuh waktu lama hingga kau tersikut dan terjatuh ke tanah, pipimu tergores sebuah batu yang tajam. Tapi kau bangkit lagi hingga kau dan Guntur selesai. Kau kalah dan babak belur, tapi perhatian semua orang teralihkan dari Aksa. Guntur tidak sempat berkata apa-apa lagi pada Aksa hingga bel berbunyi. Ia hanya kemudian sempat mencemoohmu dan mengataimu ‘omong besar’. Aku merasakan kebanggaan yang luar biasa padamu saat itu.

Aku berdua denganmu sore harinya di ruang UKS yang terbengkalai tanpa sokongan dana dari OSIS. Dengan kotak P3K yang permukaannya sudah berdebu di atas pangkuan, aku mengoleskan antiseptik pada lukamu. 

Aku mengucap maaf padamu. Aku kemudian mengerti kau memang peduli pada Aksa... dengan caramu sendiri.

“Tapi lo tetep harus belajar, tahu,” kataku masih belum berubah pendapat. “Jangan andalin Aksa doang.”

Di akhir permintaan maafku, kau masih mengernyitkan kening. Aku pikir kau masih kesal dengan sikap Guntur selama pertandingan tadi, tapi kemudian aku sadar apa yang sebenarnya kau khawatirkan.

“Sebenernya ada apa sih antara lo dan Aksa? Dulu Ben, sekarang Aksa.”

Kau cemburu pada Aksa? Pertanyaan itu muncul di benakku untuk sepersekian detik, tapi tentu saja aku tidak ingin tahu apa jawabannya. Keberadaanku di UKS saat itu pun bukan karena aku mengkhawatirkanmu, tapi karena aku merasa bersalah atas tuduhanku padamu.

Wajahku memerah mendengar nama Ben, dan kau sontak berdiri. Kapas antiseptik yang tadi kugenggam jatuh ke lantai UKS. Aku menghentikanmu dengan tawaran yang kemudian aku sesali selama berbulan-bulan ke depan, “Ed, kalau gue yang ajarin, lo mau belajar?”

Kau berbalik terkejut.


Aku menelan ludah ketika aku bertanya lagi, “Kalau gue bilang lo boleh tanya apapun tentang pelajaran ke gue, lo bakal nyoba berusaha, nggak?”

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...