Monday, September 28, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori ketujuh

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori ketujuh

Hampir setengah tahun aku melewati jam istirahat dan akhir pekan bersama kalian, tapi sebenarnya sebanyak apa aku tahu tentangmu?

menjelang ulangan umum kenaikan kelas satu, kau dipanggil oleh Pak Ludo ke kantor guru sepulang sekolah. Kau diharuskan untuk menjalani hukuman membersihkan WC selama dua minggu, dua jam sepulang sekolah. Ditya mendapatkan hukuman yang serupa selama empat minggu. Pak Ludo tidak menghiraukan rengekan Ditya yang berkata kalau ia tidak punya waktu untuk hukuman semacam itu ketika ia seharusnya belajar untuk UAS.

Semua adalah karena Ditya menjahili seorang anak kelas satu bernama Topan, dengan menusuk-nusukan jangka ke bagian belakang punggungnya. Ada titik-titik merah karena jangka itu, tapi Topan yang gemuk sebenarnya tidak merasakan kesakitan berarti. Dia malah tidak menyadari apa yang Ditya lakukan, dan hanya bingung kenapa Ditya terus mengekornya. Kau hanya melipat tangan dan terkekeh terhibur di samping, seperti yang biasanya terjadi kalau Ditya sedang mengerjai seseorang.

Guntur yang memiliki dendam tersendiri padamu (karena insiden 1-on-1 basket dalam rangka membela Aksa) dan pada Ditya (Guntur gagal mendapatkan posisi kapten tim basket yang diwariskan Ditya pada anggota lain), dia sengaja berteriak keras ketika Pak Ludo lewat, “TOP! PUNGGUNG LO KENAPA MERAH-MERAH?”

Insiden itu membuat kalian dihukum untuk membereskan perpustakaan selama satu minggu penuh. Suatu siang, muak membereskan perpustakaan, Ditya mengusulkan untuk mengganti nada dering. 

Suster Gabriel yang digosipkan telah berumur sembilan puluh dan ada sejak sekolah masih zaman Belanda saat itu bertugas menjaga perpustakaan. Ketika Ben mengirimkan pesan singkat masal untuk mengajak minum kopi sore di Peinture, yang berbunyi adalah nada panggilan Power Rangers.

Kau dan Ditya segera berdiri, meninggalkan semua buku yang kalian pegang. Ditya bahkan berkata lantang, “Baik Kapten, kami siap berangkat!” Lalu kemudian kau dan Ditya berlari pergi, kabur dari hukuman itu. Suster Gabriel dilaporkan hampir terkena serangan jantung.

Dan begitulah bagaimana kalian mendapatkan upgrade hukuman menjadi membersihkan WC, sekaligus menjadi legenda lain di SMU kita. Itu juga bagaimana aku mulai menghabiskan jam-jam pulang sekolahku dengan Aksa.

Untuk mengirit uang ongkos angkutan, aku kini berlangganan ojek. Namun ojek itu datang secara rutin pada jam tiga siang; sementara kelas terkadang selesai dari setengah dua. Aksa tidak pernah mempertanyakan itu; tidak seperti kau yang mungkin akan terang-terangan berkata kalau kau terkejut sejauh apa orang miskin menghemat.

Aksa sering berkata kalau aku tidak perlu menghiraukan komentar semacam itu darimu. Keluargamu memang tidak mengizinkanmu untuk mengerti hal-hal semacam itu — bagaimana bisa jika kau diantar-jemput mobil Jerman ke mana pun kau pergi?

“Tapi lo ngerti,” kataku pada Aksa. “Lo ngerti, padahal lo juga kan anak orang kaya. Kenapa Ed nggak bisa?”

“Bukan nggak bisa. Sebelum sama lo, dia nggak pernah berteman dengan orang lain selain keluargaku dan keluarga Ben,” kata Aksa. “Salahnya, kita bertiga nggak pernah ngajak dia untuk keluar dari ‘dunia’ dia. Mungkin itu juga kenapa dia ngerasa lo sangat menarik.”

“Dia hanya berteman dengan gue karena dia tertarik dengan tulisan-tulisan gue,” kataku. “Dia suka bahasa, dan dia penasaran dengan isi binder gue. Itu aja.”

“Siapa bilang?” kata Aksa tersenyum, mendengar penyangkalanku yang setengah hati. “Dia bilang setelah pertama kali baca binder lo, kalau dia penasaran sama lo. Kenapa cewek dengan keberanian sebesar lo, bisa punya mimpi yang cuma setinggi langit-langit? Dia pikir dia bisa bikin lo ngelihat, kalau dunia itu masih ngasih banyak kesempatan. Dia pikir dia bisa bikin lo ngelihat dunianya.”

Aku terdiam. Aku dan Aksa kini sedang duduk di tangga kantin yang menghadap ke lapangan sepak bola. Baru kali ini aku dan Aksa duduk sedekat itu, karena biasanya ada kau di antara kami, memegang sebatang es krim. Dari pinggir, Aksa terlihat mirip dengan kakaknya. Mungkin karena ada lekukan pada batang hidung Aksa serupa dengan yang dimiliki Ditya.

Mungkin nada suara Aksa yang teduh yang membuatku berani menyuarakan yang selama ini kusimpan dalam hati. “Aksa, kenapa lo mau-mau aja jadiin gue... ehm.... temen belajar kalian?”

“Maksud lo, jadiin lo temen kita?” Aksa mengoreksi dengan senyum hangat, mengatakan pertanyaanku yang sebenarnya.

Aku mengangguk kecil. “Kayak yang lo bilang, gue beda dari kalian. Dan kalian... kayaknya udah kenal lama. Gue ngerasa kayak orang luar kadang-kadang. Nggak pada tempatnya.”

Angin yang sepoi-sepoi menghembus ke arah kami, beserta teriakan-teriakan samar dari para murid yang sedang bermain bola, membuatku merasa tenang ketika bertanya. Ada beban berat yang sedang kulepaskan saat itu, dan rasanya hal seperti ini hanya mampu aku katakan pada Aksa.

Aku lega karena Aksa tidak menghakimiku dari apa yang kukatakan. Dia berkata, menenangkan, “Tapi gue juga juga baru deket sama yang lain kelas 3 SMP lalu, kok. Cuma beda beberapa bulan dari lo.”

Tapi itu tidak mungkin. Jelas-jelas Ditya pernah mengatakan padaku, kalau keluarga kalian berteman sejak kalian masih mengenakan popok, dan Ben masih bermain mobil-mobilan.

Aksa berhenti sejenak untuk menyapa Topan yang melewati kita. Topan membalas sapaan itu, membuatku terkejut. Setahuku Topan yang pendiam hanya menyapa orang yang benar-benar temannya.

Apa benar, sebelum kelas 3 SMP, Aksa berada di lingkaran yang berbeda? Kasta kerajaan yang berbeda, bersama dengan Topan?

“Ibu kami sahabat. Sejak pertama ketemu, Ditya dan Ed cocok,”  kata Aksa. “Ditya dalang segala kenakalan, tapi dia pintar. Jenis pintar yang tidak harus banyak belajar, nggak kayak gue yang harus mati-matian meres otak. Semua orang suka dia. Dia pinter ngomong, nakal, tapi menyenangkan. Ed gampang bosan, jadi dia selalu senang kalau ada Ditya.

“Lalu Ditya naksir adik Ben. Kalau bukan karena itu, Ditya nggak mau gaul sama Ben yang tadinya dia sebut oom-oom — padahal mereka cuma beda lima tahun. Rein benci banget sama Ditya waktu kecil, mau nggak mau Ditya harus minta tolong Ben.”

Aku tertawa di akhir penjelasannya, tapi kemudian terdiam lagi ketika melihat senyum tipis pada wajah Aksa. Aku tidak mempunyai sanak saudara, jadi aku tidak mengerti Aksa sepenuhnya. Tapi sedikit-banyak aku mengerti bagaimana Aksa melihat Ditya sebagai sosok ‘sempurna’ yang tidak bisa ia kalahkan. Mungkin itu yang membuat sifat Aksa lebih pendiam daripada yang lain.

Ia kagum pada kakaknya, sekaligus merasa selama ini ia hidup di bawah bayang-bayangnya.

“Kelas tiga SMP ada anak-anak di kompleks yang suka gangguin kalau Rein lagi keluar main sepeda,” kata Aksa lagi. “Gue bela Rein mati-matian padahal gue nggak bisa berantem. Gue babak belur, kayaknya setengah mati beneran waktu itu. Ditya yang akhirnya jadi pahlawan hari itu — untuk Rein tentunya, bukan untuk gue.

“Beberapa hari setelah itu anak-anak itu gantian gangguin gue. Mereka hajar gue parah banget, dan saat itu... yang nolongin gue itu Ed. Nggak jauh beda dengan gimana dia nolongin gue pas 1-on-1 sama Guntur waktu itu,” kata Aksa. “Padahal Ed juga nggak jago berantem. Dia juga babak belur parah. Malamnya Ed bilang ke gue jangan sok jadi pahlawan. Kata-katanya pedes, tapi waktu itu gue udah ngerti Ed sebenernya cuma khawatir.”

 “Abis itu jadinya lo deket sama Ed, lalu sama Ditya, dan Ben?”

“Abis itu Ditya dan Rein jadian,” kata Aksa, memandang pohon di seberang kami. “Selama ini Ditya pikir Rein naksir gue, makanya dia nggak pernah ajak gue ke dalem lingkaran mereka. Setelah dia dapetin Rein, dia tenang, dan pada akhirnya nerima gue.”

Ada sedikit nyeri di ulu hatiku ketika aku melihat pandangan menerawang Aksa. Tidak butuh orang yang jenius untuk tahu sebenarnya seperti apa perasaannya pada Rein. Tangannya terkepal di samping badannya, dan aku tidak tahu harus berbuat apa.

Apa selama ini Aksa menyimpan perasaan sedalam itu? Kenapa aku, yang mengaku-ngaku telah menjadi bagian dari kalian, tidak menyadarinya? Sebanyak apa yang kalian pendam dalam hati dan tidak kalian keluarkan, padahal pada permukaannya kita adalah ‘teman’?

Tiba-tiba saja aku merasa harus memberi tahu Aksa sesuatu. Kalau aku tidak mengatakannya, aku measa sedang menyembunyikan sesuatu dari pertemanan yang sedang tumbuh saat itu.

“Aksa,” kataku, menoleh ke arah Aksa. “Sa, Ben tawarin gue kursus bahasa Perancis di tempat punya keluarga dia, gratis. Katanya kalau gue belajar giat, gue mungkin bisa dapat beasiswa ke Perancis. Menurut lo, apa gue iyain aja, ya?”

Aksa mengangguk tanpa berpikir panjang. “Bukannya beasiswa adalah apa yang lo mau? Makanya lo rajin ikut olimpiade?” Selain paling lembut, Aksa adalah orang yang paling perhatian dibanding yang lain.

Aku mengangguk, tapi masih ragu-ragu. Aksa tampaknya menangkap gestur itu karena ia bertanya lagi, “Emang ada apa?”

“Nggak tahu, gue cuma... nggak nyaman kasih tahu soal ini ke Ed, nggak tahu kenapa. Mungkin karena gue agak ngerasa dia nggak suka gue gaul sama Ben. Apa menurut lo nggak apa-apa kalau gue nggak bilang soal kursus ini ke dia? Seenggaknya nggak sekarang, soalnya gue juga belum mastiin mau atau nggak.”

“Jadi, lo nggak pengen kasih tahu dia. Tapi di sisi lain lo ngerasa bersalah nggak kasih tahu dia?” tanya Aksa. “Dan lo pengen gue bilang kalau itu nggak apa-apa?”

“Ya, tapi dia juga pasti ada, kan, hal yang berusaha dia sembunyiin dari gue? Kenapa gue nggak bisa ngelakuin hal yang sama?” tanyaku agak defensif. Tapi kemudian aku terdiam sejenak. “Apa ada sesuatu yang dia sembunyiin dari gue?”

Aksa terdiam dan menatapku, tampak berpikir. Jam tiga segera mendekat, dan dari kejauhan aku mendengar suara motor yang sudah familiar. Ojekku telah datang, terlambat sekitar satu setengah jam daripada jemputan orang lain.

“Menurut gue kalau lo emang beneran kursus di tempat Ben, mendingan lo ngomong ke Ed, daripada si cemburuan itu entar malah salah paham,” kata Aksa akhirnya. “Soalnya Ed rasanya nggak berencana untuk ngerahasiain apa-apa dari lo. Bahkan, dia bilang ke gue, liburan kenaikan kelas nanti dia pingin kenalin Vivi ke elo. Dia nggak pernah kenalin Vivi ke siapa pun, jadi harusnya dia bener-bener pingin lo untuk tahu segalanya tentang dia.”

Bagian ‘cemburuan’ dan ‘salah paham’ walaupun rasanya konteksnya sama sekali tidak cocok dengan keadaan aku dan kamu, tapi aku tidak mengoreksi Aksa.

“Vivi?”

“Adik Ben yang lain, kakak Rein. Namanya Vivienne,” kata Aksa. “Lo bukan dari SMP sini, sih, jadi lo nggak tahu.... Vivi dan Ed sempet pacaran, sebelum Vivi pergi ke Paris untuk kuliah fashion pas kita masuk SMU. Dia lebih tua tiga tahun. Karena dia juga Ed tambah deket sama Ben dulu.”

Seperti itulah aku sadar kau memang punya mantan kekasih. Aku seharusnya tahu tentang hal ini, tapi tetap saja sepanjang jalan di ojek aku tidak bisa berhenti memikirkannya.

Vivi, seperti apa dia? Melihat Ben dan Rein yang menawan, pastinya dia juga serupa. Kenapa kalian putus, apa semata-mata karena jarak atau karena perbedaan umur? Apa kalian masih mengontak satu sama lain? Lebih penting lagi, kenapa aku memikirkan segalanya tentang ini dengan begitu berlebihan? Toh ia hanya mantan pacarmu?

Lalu aku sadar aku mulai jatuh cinta padamu. Aku juga sadar jawaban dari pertanyaanku: sebanyak apa aku tahu tentangmu?


Sedikit. Sedikit sekali.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...