Monday, September 21, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori keenam

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori keenam

Eyang selalu meyakinkan aku kalau jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap intelejensi seseorang. Ia percaya aku bisa lulus kuliah dengan summa cumlaude di kemudian hari. Dia mungkin terkadang lupa, kalau bahkan untuk membayar biaya makan saja kita kesulitan, apalagi membayar uang kuliah. 

Tapi aku tidak mengingatkannya.

SMU tempat aku bersekolah ternyata memiliki rakyat jelata sepertiku. Aku tidak melihatnya dengan jelas ketika aku pertama masuk, tapi perlahan-lahan aku mengenali mereka. Orang yang hanya ingin melewati hari dengan tenang. Yang makan di rumah sebelum pergi ke mall untuk kumpul-kumpul kelas, untuk mengirit uang jajan. Yang hampir setiap bulan memohon-mohon Tata Usaha untuk menunda tenggat masa pembayaran iuran. Yang berusaha mengikuti lomba dan olimpiade, dengan harapan ditawari kesempatan kuliah gratis.

Ketika anak-anak lain bingung mobil jenis apa yang harus mereka beli atau pesta ulang tahun macam apa yang harus mereka adakan, aku susah payah berusaha ikut berbagai macam olimpiade. Menjelang tengah semester kelas satu aku masih belum lolos satu pun babak penyisihan. Aku begitu kesal dengan kenyataan itu, kecewa pada diriku sendiri. Aku bahkan tidak bisa mengungkapkannya pada Eyang, karena aku tahu dia juga punya masalah sendiri.

Aku tidak merasa aku bisa mengatakan tentang kekhawatiranku tentang kuliah padamu. Rasanya kau hanya akan mengabaikan hal seperti itu, karena toh kuliah masih jauh.

Minggu pagi itu aku ke Peinture lagi untuk grup studi yang kedua. Kau dan Aksa belum datang, karena aku memang lebih cepat sekitar setengah jam. Ada secangkir kopi susu yang disuguhkan kepadaku. Aku mendongak cepat ke atas, bermaksud untuk berkata minuman itu bukan pesananku.

Namun yang menyambutku adalah wajah Ben yang tersenyum tipis, lengkap dengan rokok yang terselip di antara bibirnya. Ben tidak ada di tempat selama beberapa kali aku ke Peinture, jadi aku agak terkejut.

“Shivara, kan?” tanya Ben memastikan namaku, lalu satu tangannya bersandar pada sandaran kursi. 

“Yang lain mana?”

Aku hanya menggeleng, yakin tampangku tampak agak bodoh. Pembawaan Ben yang dewasa dengan rambutnya yang diikat kuda acak-acakan ke belakang membuatku agak sesak napas. Dia melepas celemek Peinture yang dia kenakan, memperlihatkan kaus hijau tua tipis dan celana jins hitam. Ada beberapa tetes cat minyak yang tampaknya tidak bisa hilang dari celemeknya.

“Lagi bengongin apa?” tanya Ben, yang tampaknya menanya-nanyaiku karena Peinture masih kosong. “Lagi mikirin Ed?”

Aku terkejut dengan tuduhan itu, dan kali ini menyangkal dengan tegas. Kemudian entah apa yang merasukiku hingga aku dengan tergagap berkata pada Ben kalau yang kukhawatirkan adalah kalau aku tidak bisa melanjutkan kuliah. Aku telah berusaha mengikuti banyak lomba dan olimpiade, tapi aku selalu kalah. Di akhir penjelasanku, aku mengutuk diriku sendiri karena telah meracau tidak jelas.

Tapi Ben tidak tampak bingung apalagi memandangku aneh. Dia tampak berpikir sebentar, mematikan rokoknya ke asbak di antara kami, lalu memintaku untuk menunggu sebentar. “Minum dulu aja, gue ambil sesuatu di belakang.”

“Ah,” kataku menyadari keberadaan minuman gratis itu. “Terima kasih kopi susunya, um... Kak Bertrand.”

Café au lait spesial Peinture,” kata Ben tersenyum. “Panggil aja Ben.”

Ben kembali dengan sebuah selebaran tempat kursus milik keluarganya yang didukung kedutaan Perancis. Ayah Ben adalah orang Perancis asli, tapi Ben lebih mirip ibunya. Rein terlihat lebih blasteran karena memiliki lebih banyak fitur-fitur ayahnya. Mereka dapat bercakap-cakap dalam bahasa Perancis dengan sempurna, dan Ben menjelaskan dia sering absen di Peinture karena terkadang membantu mengisi kekurangan pengajar di tempat kursus ayahnya.

Aku memang tertarik dengan Perancis, mungkin karena hal remeh seperti binderku yang bersampul Eiffel. Aku sering menuliskan kosa kata Perancis yang tertangkap telingaku, seperti ecoutéz (yang juga adalah nama band) atau baguette (roti keras kesukaan Aksa) atau chatte (hewan peliharaan berupa kucing betina yang ingin sekali aku miliki) . Tapi aku tidak pernah menyangka kalau aku akan mendapatkan kesempatan untuk kursus secara serius.

Ben bilang, pemerintah Perancis sering memberikan beasiswa gratis plus uang saku. Ada banyak kesempatan untuk mendapatkan beasiswa itu — terakhir ada dua puluh bursa yang ditawarkan tapi hanya dua yang diberikan. Bukan karena banyak orang yang gugur dalam ujian, tapi karena ketidakadaan peserta.

Jika aku serius belajar bahasa dan melewati ujian DELF dengan nilai yang baik, sangat mungkin aku mendapatkan beasiswa ke Perancis. Apalagi secara akademis, aku adalah penerima beasiswa pada salah satu SMU yang bergengsi.

Aku hanya termangu mendengar penjelasan Ben. Di akhir, dia menyulut sebatang rokok lainnya dan berkata kalau aku dapat memikirkannya dengan tenang. “Gue nggak jamin lo bakal dapat beasiswa, tentunya. Tapi kalau cuma soal kursus, lo boleh ikut gratis. Toh bokap gue awalnya ngebuat tempat kursus itu untuk berbagi tentang budaya Perancis.”

“Gratis!” aku mengulang penawaran Ben dengan kaget.

Kau, Aksa, dan Ditya kemudian datang, dan aku memasukkan selebaran yang diberikan Ben ke dalam tas. Entah mengapa aku tidak terlalu ingin membicarakan tentang hal itu padamu. Ben seakan tahu akan hal itu, dan dia hanya menyapa kalian sebelum mengalihkan pembicaraan.

Hari itu adalah untuk pertama kalinya aku merasa berada di dalam kelompok kalian. Sungguh aneh, 
kau, aku, Ben, Aksa, Ditya, dan Ben, semua duduk mengitari satu meja. Kita bercanda bersama di sana hingga larut, hingga Peinture ditutup untuk umum.


Ketika kau mengantarkanku pulang, di mobil kau bertanya apa yang kubicarakan dengan Ben sebelum kalian datang. Aku tidak tahu kenapa aku berbohong, tapi kali itu adalah pertama kalinya aku menyembunyikan sesuatu darimu.

1 comment:

Maria Rosari said...

Wah,,, makin penasaran sama "kamu".
Lanjut kak.. Semangat yaa..

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...