Monday, September 14, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kelima

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!

.memori kelima

Pada suatu hari Minggu aku janji bertemu denganmu, Aksa, dan Ditya di Peinture. Kau menyebutnya grup studi, dan itu untuk pertama kalinya siapapun di muka bumi melihat kau bersemangat tentang pelajaran. Aku merasa kau sangat imut seperti itu, tapi sampai mati aku takkan mengakuinya.

Yang perlu dipertanyakan adalah keberadaan Ditya dalam grup studi. Dia pemegang nilai tertinggi di angkatannya, jadi jelas dia tidak memerlukan bimbingan belajar. Sebagai anak kelas tiga, ia sedang sibuk menyiapkan berbagai persiapan UAS dan UAN, juga tes masuk ke dalam universitas. Kalau dia berada di grup studi sebagai pengajar tambahan untukmu, aku takkan protes, tapi aku merasa hal semacam itu tidak mungkin diharapkan dari Ditya.


Aku tidak tahu terlalu banyak tentang Ditya. Pembawaan mudah panas dan kata-katanya yang kasar membuatnya terlihat jauh lebih muda daripada umurnya yang sebenarnya. Tapi aku percaya Ditya adalah orang baik setelah aku tahu watakmu yang sebenarnya. Jika kau dan Aksa yang selalu bersamanya sebenarnya orang baik, tentunya Ditya juga begitu, bukan?

Sesampainya di Peinture aku sadar kalau Ditya di sana hanya untuk memandangi seorang blasteran di Peinture yang bertampang sangat galak. Di tengah-tengah studi grup, Ditya menarik blasteran itu ke teras luar dan mereka mulai berdebat tentang sesuatu di sana.

 Pernah ada rumor miring tentang kebiasaan Ditya berganti-ganti pacar. Terakhir aku dengar, ia sempat berpacaran dengan blasteran lain anak kelas dua. Murid perempuan setengah Belanda itu menangis sejadi-jadinya ketika Ditya memutuskan hubungan mereka tepat seminggu sebelum pesta sweet seventeen-nya.

Seusai grup studi itu, kau menawarkan untuk mengantarkanku pulang. Entah apa yang membuatku menyetujuimu. Mungkin karena semakin aku mengenalmu, aku tahu jauh dalam hatimu kau adalah orang yang lembut.

Setelah keluar dari Peinture, kita berjalan bersama di pinggiran trotoar, menuju ke tempat parkir. Tiba-tiba saja kau menarikku ke samping. Kau kemudian berkata kalau seharusnya aku selalu berjalan di dalam. Aku urung bertanya kenapa ketika kau menerawang ke arah mobil yang baru lewat dengan kecepatan tinggi di samping kita. Kemudian aku sadar... kau, untuk pertama kalinya, baru saja berusaha melindungiku.

“Lo kan cewek, harusnya lebih hati-hati, dong,” katamu menggerutu, lalu memakaikan jaketmu padaku. Hujan memang telah rintik-rintik turun, dan satu lagi gestur yang membuatku berdebar.
Aku masih agak di awang-awang ketika aku memanjat naik ke dalam mobilmu. Tidak butuh waktu lama hingga aku bertanya tentang Ditya, lebih karena aku tidak ingin ada kesunyian di antara kita.

“Ditya?” kau mengulang pertanyaanku. Kau lalu mengerti, “Oh, soal yang tadi. Itu Reina, adik Ben. Ditya cuma mau macarin blasteran gara-gara dia masih suka sama Rein. Dulu mereka sempet pacaran, tapi Ditya diputusin. Terakhir dia kan sama... siapa itu namanya... anak kelas dua pokoknya.”

“Sharon, kan?” aku bertanya, merasa ganjil karena aku tahu namanya dan kau yang teman dekat Ditya malah tidak. Kau mengangkat bahu, berkata kalau Ditya tidak pernah mengenalkan pacar-pacarnya padamu, Aksa, atau Ben. Aku bertanya lagi, “Kenapa Rein mutusin Ditya?”

“Nggak tahu juga, Rein bilang dia jijik sama Ditya yang masih main sama cewek lain padahal udah pacaran. Padahal semua orang yang udah lama kenal Ditya pasti tahu dia begitu karena kurang perhatian dari Rein.”

Ada kekesalan yang menumpuk di dalam hatiku ketika aku mendengar perkataanmu, dan melihat sikapmu ketika mengatakannya.

“Kasihan sama Rein, kasihan juga sama cewek-cewek yang diputusin Ditya,” kataku menahan emosi.

Kau tampaknya tidak menangkap emosiku kali itu, mungkin karena kau sedang fokus menatap jalan di hadapanmu, yang kini kabur di antara hujan. Kau berkata, “Nggak usah kasihan... Rein yang mutusin, kan? Toh cewek-cewek yang Ditya biasa mainin biasanya cewek ‘bekas pakai’, jadi lo juga nggak usah kasihan sama mereka.”

Aku menatap lama ke arahmu. Wiper diatur menjadi lebih cepat bersamaan dengan aku bertanya, “Jadi dia putusin Sharon soalnya Sharon pernah tidur sama cowok lain?”

“Biasanya begitu, tapi kalau soal Sharon, justru karena Ditya udah tidur sama Sharon,” katamu. “Ditya nggak mau lama-lama dengan yang bekas pakai, apalagi yang sekali-pakai-buang.”

“Berhenti,” kataku tajam. Kau tidak menghiraukan perkataanku, atau bahkan mungkin kau berpikir kau salah dengar. Aku mengulangi permintaanku hingga tiga kali, mengancam membuka pintu ketika mobil sedang bergerak, hingga pada akhirnya kau menurutiku. Mobilmu menepi di trotoar yang ternaungi pohon. Hujan bertambah deras, tapi aku tidak peduli.

Ketika laki-laki bebas tidur dengan siapa saja, kami dituntut untuk menjaga keperawanan? Ditya lumrah saja meninggalkan Sharon setelah menidurinya, tapi Rein dianggap aneh karena tidak mau menerima Ditya yang selingkuh?

Kau berkata kemudian, dengan datar dan sedikit kebingungan, “Emang begitu di antara perempuan dan laki-laki.”

Ada begitu banyak emosi yang menumpuk ketika aku berjalan menembus hujan. Aku mendengarmu memanggilku dari belakang, tapi aku tidak peduli.

Bagimu, perempuan adalah spesies yang harus dilindungi.... Tapi ada konsekuensi dari pendapat itu. Kau juga berpikir kalau perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Lebih lemah, dan dapat diperlakukan lebih seenaknya.

Ada sebuah angkutan hijau berhenti tidak jauh dari tempatku, dan aku memasukkan tubuhku yang basah kuyup ke dalamnya tanpa memperhatikan jurusan apa yang akan angkutan itu tuju.

Aku merasa saat itu, tidak adil.

Dua minggu kemudian aku mendapat kabar kalau untuk mendapatkan Rein kembali, Ditya memutuskan hubungan dengan semua perempuan lainnya. Kontak di dalam BBM-nya kini telah bersih dari perempuan (hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi), dan dia berjanji ia hanya akan setia pada Rein. Ditya mengundangku ikut serta pada pesta jadiannya di Peinture. Kenyataan itu terdengar agak janggal tapi aku toh tetap pergi ke pesta itu.

Di tengah pesta itu, aku bertanya pada Ditya kenapa tidak dari dulu dia melakukan hal ini. Janji untuk monogami. Ditya kemudian menjawab ia baru benar-benar memikirkannya sejak kau mengusulkannya. Ditya juga berkata kalau perubahan cara pikirmu itu mungkin adalah karenaku.


Aku tidak tahu harus berkata apa.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...