Tuesday, September 1, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori ketiga

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!
.memori ketiga

SMU adalah kerajaan tidak kasat mata dengan kasta yang terbagi dengan kejam. 

Ditya adalah Raja Setan bodoh yang membiarkan rakyatnya malnutrisi (sejalan dengan keadaan OSIS dan event sekolah yang terbengkalai di bawah kepemimpinannya). 

Aksa adalah pendeta keliling yang menyejukkan hati para penderita kusta (tanpa bantuannya aku yakin banyak sekali orang yang gagal pada ulangan Matematika lalu). 

Dan kau, kau adalah pangeran asing yang sedang memperhatikan negara tetanggamu yang hampir hancur (sesuai dengan pandangan sinismu yang secara berkala kau lontarkan untuk membuat orang merasa direndahkan).

Aku hanyalah rakyat jelata yang mendapatkan lebih banyak pekerjaan dan tekanan daripada yang bisa aku tanggung, tapi aku memilih untuk lebih banyak diam. Kecuali ketika ada sesuatu yang benar-benar menginjak harga diriku seperti pada hari terakhir MOS itu, tentunya. Tapi pada umumnya aku menjaga jarak dengan semua orang. Kurasa itu adalah hal yang terbaik.


Ralat, kalau aku pikir lagi, aku adalah rakyat jelata yang telah menjalani urbanisasi ke kerajaan ini. Sebelumnya di SLTP aku merasa jauh lebih bahagia, di dalam ‘desa kecil’ dengan penduduk yang ramah. Murid-murid SLTP-ku bukan anak yang bisa mengenakan tas bermerk untuk pergi ke sekolah, atau pulang-pergi diantar mobil mewah.

Tapi kurasa jika aku ingin kembali ke desa itu lagi sekalipun, aku sudah tidak bisa. Aku ingat sesaat setelah aku mengatakan tentang kepindahanku ke SMU kita, teman-temanku memberikanku pandangan cemas dan kasihan.

Mereka bilang, di SMU elit ini, kalau seseorang tidak menaiki mobil Eropa ke sekolah, mereka akan digunjingkan selama satu tahun ajaran pertama. Kalau seseorang tidak merayakan pesta ulang tahun secara besar-besaran, maka mereka akan dikucilkan. Tentu saja sebenarnya itu terlalu berlebihan, tapi itulah yang orang luar lihat tentang SMU ini. Kerajaan berkasta ini.

Mungkin sesaknya berada di lingkungan itu membuat pertemuanku dengan Ben terasa lebih istimewa.

Pak Gianyar yang menjemputku karena hari itu aku pulang malam setelah sebuah acara ekstrakulikuler. Pak Gianyar berkata ia merasa cemas denganku, dan tentunya Eyang tidak memungkinkan untuk menjemputku jauh-jauh ke sekolah, maka Pak Gianyar sendiri yang datang. Tentu saja itu adalah sebuah gestur yang sangat mengharukan bagiku, karena setelah bertahun-tahun terlewati Pak Gianyar telah tumbuh menjadi lebih dari sekedar tetangga. Dia mengkhawatirkanku.

Rasa haru itu tumbuh dan memenuhi dadaku, membuatku setengah fokus. Ketika Pak Gianyar berkata kalau ia ingin berhenti sejenak di kafe tempat ia bekerja, mengambil barang yang tertinggal, aku hanya mengiyakan tanpa sadar kalau kau berada di dalam kafe yang sama. Tentu saja Ditya dan Aksa berada di sampingmu, dan kalian sedang bercanda dengan laki-laki yang beberapa tahun lebih tua dari Ditya.

Itu adalah pertama kalinya aku melihat Ben, pemilik dari Peinture — kafe dengan konsep artistik. Ada ruangan di mana para pengunjung dapat melukis di atas kanvas-kanvas kecil yang telah disediakan. Setiap tiga kali dalam seminggu, ada demo melukis yang dilakukan guru-guru lukis lokal. Peinture telah membuka empat cabang dalam waktu singkat ia didirikan.

“Putri Beku!” sapamu, membuat yang lain sontak menoleh ke arahku. Ditya melontarkan ejekan yang kuartikan sebagai salam. Aksa hanya memandangiku dalam diam, lalu menawarkan tempat duduknya untukku. Di depan Ben yang baru saat itu kenal, tiba-tiba saja adegan itu membuatku sadar: aku telah mulai berteman dengan kalian.

Aku tidak membalas ejekan Ditya. Sebaliknya, aku diam seribu kata melihat Ben di hadapanku, bertanya dengan senyuman di antara asap rokok, “Jadi dia, si Putri Beku pelempar sepatu berlumpur, yang suka kalian ceritain?”

Aku dan Ben berkenalan dengan sebuah jabat tangan. Formal dan sopan, berbeda dengan perkenalanku dengan yang lain. Tangan kami bersambut tepat di depan wajahmu. Aku merasa grogi, mungkin karena diperlakukan seperti lady setelah begitu lama diinjak-injak dengan ejekan kasar Ditya dan komentar sinismu di sekolah.

Tiga hari setelahnya, kau membaca binderku di jam istirahat siang. Aku memakan bekalku sambil memperhatikanmu membaca, seperti yang setiap kali kulakukan. Kau berkata setelah selesai membaca, dengan nada suara yang agak berbeda, “Lo sadar nggak sih, karakter utama lo... pangeran ini... mirip siapa?”

“Siapa?” tanyaku, meniru gaya acuh tak acuhmu.

“Ben,” katamu. “Mirip Ben.”

“Nggak, kok,” aku menggeleng. “Masa?”

Kamu tidak menjawab, hanya mengerutkan keningmu, seperti setiap ketika kau kesal. Aku belum mengerti kebiasaanmu saat itu, jadi kupikir kau hanya sedang berpikir keras.

Kau tidak perlu repot-repot menyebutkan kalau pangeran di dalam ceritaku juga memiliki rambut panjang sebahu yang diikat asal ke belakang, dengan rokok tipis menempel di antara bibirnya, persis seperti Ben yang kulihat di Peinture malam itu. Kau tahu betul apa yang sedang terjadi pada diriku: aku memikirkan Ben sejak pertemuan pertama kami. Aku bahkan mungkin naksir Ben.

Ada gejolak lain yang timbul di dalam hatiku ketika aku tahu apa yang kau tahu. Gejolak kuat yang hampir tidak tertahan, berbeda dengan yang kurasakan ketika bertemu Ben. Gejolak yang membuatku ingin sekali merebut binder itu dari tanganmu dan menenangkanmu, tapi aku tidak tahu kenapa itu.

Aku mengabaikan gejolak itu dan berjalan ke meja Aksa. Kami kemudian menyelesaikan tugas kelompok Kimia kami bersama-sama. Sejak kau rutin membaca binderku di pagi hari atau di jam istirahat, Aksa yang menganggur sering mengajakku berbicara, hingga bahkan kami cukup dekat untuk memutuskan berkelompok bersama untuk sebuah tugas. Tentu saja aku tidak menolak, toh Aksa adalah salah satu anak terpintar di angkatan kita.

Aku tidak terlalu tahu apa yang aku bicarakan dengan Aksa kemudian. Aku cukup yakin dia menyesal mengajakku menjadi teman sekelompoknya karena aku bahkan salah menyebutkan isi Tabel Periodik. Tentu saja, aku sedang susah payah menyembunyikan kenyataan kalau aku sedang memperhatikanmu. Untuk pertama kalinya, kau menuliskan sesuatu di dalam binderku, bukan hanya membacanya.

Kau tidak mencoret apapun yang telah kutulis, tapi kau membuat cerita baru tepat di bawahnya. 

Cerita yang ini adalah tentang pangeran cool yang suka sekali makan makanan manis, terutama es krim seasalt caramel. Ia sering dimarahi penasehat kerajaan bernama Monsieur Ludo dan nilainya selalu hancur karena dia bermain PSP setiap hari. Cerita pendek dengan EYD kacau itu putus tengah jalan seakan kau sudah bingung bagaimana menyelesaikannya, tapi kau menggambar karikatur kecil yang terlihat seperti orat-oret tidak beraturan. Namun aku dapat melihatnya, rambut pangeran yang ini rancung-rancung, dan ada sebuah coretan jelas di bagian pipi kanan.

Aku membaca semua yang kautulis di tengah-tengah pelajaran Pak Ludo. Kau memperhatikan aku membaca, karena buktinya ketika aku menoleh ke arahmu, kau sedang menatapku. Walaupun hanya sejurus kemudian kau dilempari kapur lain oleh Pak Ludo, kau masih sempat memberikanku sebuah cengiran pendek.


Saat itulah untuk pertama kalinya aku merasa kau manis. Pangeran sinis pecinta gula... dengan lesung pipit yang dalam di sebelah kanan.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...