Monday, August 24, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori pertama


Halo semua, lama tidak bersua. Fenny berbicara di sini. 

Naskah yang ini adalah gubahan dari Raindrops (mungkin yang dulu rajin mengunjungi sini tahu tentang cerita satu itu). Hari ini saya melihat isi memori komputer dan menemukannya. Saya berpikir, kenapa membiarkannya berlumut seperti ini?

Jadi di sini saya melepas naskah ini ke dunia, walaupun tahu dengan yakin saya akan mengundang kemarahan banyak orang yang membacanya sampai selesai. Naskah ini, harus saya tegaskan dari awal, ditulis dengan sepenuhnya keegoisan saya. Naskah ini tidak mengikuti premis pembuka-masalah-penyelesaian seperti yang 'seharusnya', tetapi bagi saya naskah ini sudah selesai.

Potongan hidup sulit ketika menulis naskah ini juga sama-sama sudah saya tinggalkan.

Selamat menikmati.

***


Aku telah memutuskan kalau untuk melepaskanmu, 
yang aku butuhkan adalah berhenti berusaha melupakanmu. 

Sebaliknya, aku akan mengingat segala tentangmu, 
dari awal hingga kita berpisah jalan. 


***
.memori pertama

Kau melewati masa-masa orientasi SMU berbeda dengan murid lain. Salah satu dari teman sekelompokmu adalah ketua OSIS, dan tentu saja kau diberikan keringanan. Tidak seperti murid kelas satu lain yang dijemur di bawah terik matahari dan diperintah untuk mengikat rumput liar dengan karet rambut, kau duduk santai di kantin.

Kau bermain dalam satu kelompok yang telah kau kenal sejak kalian kecil. Orang bilang ketiga keluarga kalian bersahabat, tapi aku juga tahu kalian tinggal berdekatan. Saat itu aku merasa kalian begitu jauh, hingga rasanya aneh sekali ketika tahu bertahun-tahun kemudian, aku menjadi bagian dari kelompok itu.


Si ketua OSIS temanmu— yang saat itu lebih terlihat seperti Raja Setan bagiku — selalu memisahkanku dari murid lain karena tampangku terlihat acuh tak acuh. Atau mungkin ada sesuatu hal dari diriku yang membuatnya sangat gatal menjahiliku tanpa alasan yang jelas. Dia bahkan menjadikanku babu sehari ketika murid lain sudah diperbolehkan pulang.

Matahari telah terbenam, dan aku kemudian menjadi murid kelas satu terakhir yang tersisa di sekolah. Bahkan anggota OSIS pun sudah banyak yang pergi. Si Raja Setan terus mengerjaiku, memintaku untuk menyanyikan tiga puluh lagu nasional di tengah-tengah lapangan sepak bola.

Saat itulah untuk pertama kalinya, aku benar-benar melihatmu. Datang menghampiri lapangan voli dengan es krim di tangan kananmu. Tangan kirimu masuk ke dalam kantung celana SMU-mu yang masih baru, lalu kau menatapku.

Hanya sepersekian detik, sebelum kau membuang muka.

“Ditya,” katamu pada si Raja Setan. “Balik, yok, gue laper. Ben traktir kita di Peinture hari ini. Si Aksa malah udah di mobil nungguin lo.”

Aku tahu Ditya sebenarnya tidak mau, mungkin belum puas mengerjaiku, tapi entah mengapa ia menuruti kata-katamu. Siapapun selalu begitu, bahkan diriku. Walaupun aku benci dengan gayamu yang arogan, tapi tidak bisa dipungkiri aku merasa lega karena penderitaan hari itu telah berakhir.

Tapi aku salah. Kau berbalik ke arah Ditya kemudian berkata, “Dia itu yang anak beasiswa, kan? Si anak beasiswa?”

Aku masih berdiri tegap di sana, berusaha untuk menelan semuanya bulat-bulat. Kalian kemudian mengataiku, bertanya-tanya apa pekerjaan orang tuaku hingga aku harus mendapatkan tunjangan keuangan, dan betapa usangnya sepatu yang saat itu aku kenakan.

Ditya menyuruhku membuka sepatuku agar mereka dapat melihat seberapa menganga solnya, dan aku menurutinya. Aku telah berhasil melewati satu minggu orientasi dengan menahan emosiku dalam-dalam, dan hari itu adalah hari yang terakhir. Kenapa aku harus mengacaukan semuanya hanya karena Ditya dan kau memintaku untuk membuka sepatu?

Aku melepasnya dalam diam, dan aku melihatmu menendang sebelah sepatuku dengan asal, menjauh 
dariku. Hujan kemudian mulai turun rintik-rintik, dan aku berusaha untuk tidak melihat apapun selain kakiku. Sebelah sepatuku yang tersisa masih tergeletak di hadapanku, perlahan-lahan turun ke dalam lumpur yang semakin basah.

Ditya kemudian menyuruhku untuk mengambil sepatuku yang kau tendang kembali. Sambil merangkak.

Aku telah berlutut di atas rumput yang basah ketika kau bersin. Lalu di antara bersin itu kau berkata, “Ternyata emang orang miskin; disuruh apa juga mau. Nggak tahu deh kalau ada duit di depan mata, disuruh buka paha juga mau, kali.”

Dan pada saat itulah aku bangkit, mengambil sebelah sepatuku yang ada di hadapanku, lalu melemparnya tepat pada mukamu.

Aku berjalan cepat meninggalkan lapangan dengan kaki yang hanya terbalut kaus kaki. Kedua tanganku terkepal di pinggir tubuhku. Aku melewati gerbang depan sekolah, melihat Aksa yang bersandar pada sebuah sedan hitam milik keluargamu. Aku mengabaikan tatapan bingungnya dan terus berjalan melewatinya.

Aku naik ke dalam angkutan petang itu dengan satu keyakinan dalam diriku. Walaupun aku miskin, bukan berarti aku akan melakukan apa saja demi uang. Aku akan membuktikan kalau kau salah. Tentu saja, sembari berdoa agar aku lulus MOS (toh aku melemparnya padamu, bukan pada Ditya yang adalah pengawas MOS-ku) dan tidak usah mengulang satu minggu penuh siksaan itu.

Tidak perlu waktu lama hingga aku tahu kalau Ditya dan Aksa sebenarnya adalah kakak adik — dengan nama lengkap yang ternyata mirip, Aditya dan Adiaksa Harsaya. Semua orang membicarakan mereka di sekolah. Alasan utamanya adalah karena mereka sama sekali tidak mirip; bukan hanya dari fisik tapi juga dari sifat. Satu kesamaan mereka hanyalah otak mereka yang encer. Juga nilai mereka yang cemerlang. Bagian yang terakhir itu sepertinya tidak berlaku untukmu, walau kau adalah teman dekat mereka dan otakmu encer, nilaimu sama sekali tidak cemerlang. Belajar bukan hobimu, kau selalu bilang dulu.

Saat itu hari pertama masuk SMU selepas orientasi, dan wali kelas kita, guru Bahasa Indonesia, Pak Ludo, menunjukku menjadi ketua kelas. Tentu saja aku sebagai anak beasiswa tidak bisa menolak permintaan semacam itu. Posisi itu kemudian membawa setumpuk tanggung jawab yang harus aku emban, salah satunya adalah mengambilkan tugas untuk dikerjakan saat pelajaran kosong.

Maka tanpa mempedulikan keluhan semua anak kelas, aku beranjak dari tempat dudukku dan pergi ke ruang guru untuk mengambil tugas. Guru Seni kami absen pada pelajaran pertama yang dia ajar, dan aku mulai bertanya-tanya apakah benar sekolah yang aku masuki adalah sekolah yang paling elit di kota ini.

Pertanyaan beberapa murid tentang keberadaanmu terjawab ketika aku berjalan di lorong siang itu. Kau ada di depan ruang guru, berdiri dengan posisi yang sangat janggal. Satu kaki ditumpu di atas kaki yang lain, kedua tanganmu menggenggam cuping telingamu. Posisi itu tampaknya hanya akan kau tahan hingga Pak Ludo berbalik, masuk kembali ke ruang guru.

Tampaknya aku betul; ini memang sekolah yang bagus. Kau bisa melarikan diri dari tanggung jawabmu saat MOS, karena Ditya adalah temanmu. Tapi pada keseharian, kau tetap mendapatkan hukuman yang sama dengan murid lain yang terlambat. Pak Ludo memastikan itu terjadi.

Kau harus menahan posisi hukumanmu lebih lama karena Pak Ludo menyadari kedatanganku. Dia memberikanku setumpuk tugas untuk dibagikan, kemudian dia menggiringku ke hadapanmu. Aku berusaha untuk tidak mengingat pemandangan di mana wajahmu penuh lumpur dari sepatuku.

“Contoh dong ketua kelasmu!” kata Pak Ludo membuatku ingin sekali kabur dari sana saat itu juga. Pak Ludo kemudian mendesah ketika melihatmu mengangkat bahu sambil nyengir sinis. Ia membiarkanku kembali ke kelas, dan Pak Ludo sendiri kembali ke ruang guru.

Hanya beberapa detik setelah Pak Ludo berbalik, kau bersiap untuk berlari pergi.

“HEI!”

Pak Ludo dan kau kemudian berkejar-kejaran keliling sekolah, dengan rotan di tangan wali kelasku itu. Pemandangan hari pertama masuk SMU itu menjadi legendaris, dan hampir semua anak menyaksikannya lewat jendela kelas masing-masing.

Ketika pada akhirnya Pak Ludo menangkapmu, kau tertawa. Saat melihat senyummu itulah aku menyadari, mungkin kau bukan orang yang sombong dan arogan.


Kau hanya anak orang kaya yang sangat bodoh.

1 comment:

Elkilani Kurnia said...

haha kamu adalah orang kaya yang bodoh hahah... kamu

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...