Monday, August 24, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kedua

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!
.memori kedua
Aku memiliki sebuah buku binder dengan bagian tengah yang bisa dibuka. Kertas bisa dicabut atau ditambahkan ke dalamnya sesuai kebutuhanku. Sampul depannya bergambar menara Eiffel kesukaanku. Aku mendapatkannya dari Eyang pada ulang tahunku yang kelima belas. 
Aku tahu aku pada akhirnya akan menjadi seorang sarjana teknik, karena itulah satu-satunya cara agar aku mendapatkan gaji yang cukup untuk membiayai diriku sekaligus Eyang. Tapi bahkan pada saat SMU aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, kalau aku terlalu banyak menghabiskan waktu di dalam dunia yang aku ciptakan sendiri. Aku suka menulis.

Binder itu saat SMU berisi segalanya yang pernah muncul di pikiranku. Cerita pendek, cerita bersambung, potongan novel yang tidak pernah selesai, bahkan puisi dan pantun. Aku juga menulis potongan-potongan perasaanku di dalamnya, jadi bisa dibilang binder itu setengah buku harian. Mungkin itu terdengar kuno bagi anak SMU di abad ke-21, tapi hobiku itu tidak mengganggu orang lain, tidak sama dengan asap rokok yang diisap Ditya setiap jam istirahat di bagian belakang kantin.
Tentu saja aku tahu tentang rokok Ditya tanpa usaha berarti. Tidak seperti rata-rata anak perempuan kelas satu lainnya, aku tidak tertarik sama sekali menjadi stalker Ditya. Sekali Raja Setan tetap Raja Setan. Aku hanya pergi ke bagian belakang sana agar dapat memakan bekal rotiku dengan tenang, tapi siapa sangka aku malah disambut asap rokok.
Kau ada di sana berdua dengan Ditya, tapi tidak merokok. Aku melihat Ditya menawarkannya padamu, tapi kau menggeleng, berkata sesuatu dalam bahasa Inggris yang tidak terdengar olehku. Aku ingin beranjak dari TKP sebelum Ditya menyadari keberadaanku, tapi aku terlambat.
Ditya melesat ke arahku dan mengambil binder yang menjadi hartaku. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi, jelas gatal sekali ingin menggangguku, dan di belakangnya kau tertawa terbahak-bahak melihat wajahku yang panik.
“Kalau nggak mau diusilin, jangan ganggu orang, dong!” kata Ditya, lalu membuang dan menginjak rokoknya hingga padam. “Sekarang lo udah lihat rahasia gue, jadi sori, harus ada yang ditumbalin.”
Ditya melempar binder itu padamu, lalu berkacak pinggang. Ditya melihat tanganku yang terkepal karena kesal. Di belakang, kau memberikan cengiran sinis itu lagi. Kalian tahu betul aku tidak mungkin berani melakukan kekerasan fisik.
Ada dua hal umum yang dilarang keras di sekolah ini, yang dapat berujung dengan hukuman lembar merah. Yang pertama telah dilakukan Ditya. Hal yang kedua adalah menyetir ke sekolah, karena jika larangan seperti itu tidak diberlakukan, seluruh murid sekolah ini akan membawa mobil satu orang satu dan sekolah ini akan tenggelam di dalam lautan mobil. 
Ada satu hal yang dilarang sangat keras di sekolah ini, yang melakukannya akan mendapatkan lembar hitam dan segera dikeluarkan tanpa basa basi. Kekerasan fisik — yang melakukan akan segera dikeluarkan, tidak peduli provokasi semacam apa yang dilakukan si korban.
Kekerasan fisik memang dilarang, tapi adu mulut tidak. Aku dan Ditya kemudian menghabiskan masa istirahat kami dengan adu mulut, dan semakin aku bertengkar dengannya, aku semakin merasa Ditya sama sekali tidak terdengar seperti anak kelas tiga apalagi ketua OSIS. Dia adalah Raja Setan paling kekanak-kanakan yang pernah aku tahu, dan provokasinya membuatku membalas kata-katanya seperti anak TK.
Di belakang kami, kau membaca isi binderku. Wajahmu datar, terkadang dihiasi cengiran, dan tiba-tiba saja tidak pernah meresap pada diriku lebih daripada saat itu:  kau sedang meremehkan tulisanku, potongan hatiku yang aku curahkan ke dalam binder itu. Aku seketika terdiam ketika aku menyadari itu, dan meninggakan Ditya yang masih mengejek dan berkata bentuk kepalaku mirip Squidward dalam Spongebob Squarepants.
Mereka bilang Ditya adalah orang yang paling sombong dan seenaknya, tapi aku merasa arogansimu melebihi siapapun juga. Kau menertawai ambisiku, dan rasa sakitnya jauh berkali-kali lipat dibandingkan mendengar Ditya mengejekku mirip dengan segala tokoh kartun yang ia tahu.
Binder itu kembali padaku keesokan harinya. Kalau biasanya kau menghindariku di kelas, pagi itu kau duduk terbalik di kursi depan mejaku. Kepalamu beristirahat di atas sandaran kursi, dan matamu yang dalam berlipat menatapku dengan cengiran.
“Putri Beku,” katamu. 
Saat itu aku tidak mengerti dari mana kau mendapatkan panggilan semacam itu untukku. Namun semakin jauh mengenalmu, aku tahu kau memutuskan panggilan itu untukku karena hatiku memang telah beku. Kau mengerti itu dari hal-hal yang kutulis. Dibandingkan kau yang hidup dengan segala warna dan kemudahan yang disuguhkan ke hadapanmu, aku hidup dengan mengetahui orang miskin tidak memiliki pilihan.
Aku menggigit segala rasa malu dan sakit yang muncul ketika aku menerima binderku kembali. Pandanganmu telah berubah setelah kau membaca seisi binderku. Aku melihat ada titik perasaan yang begitu aku benci, muncul dalam pandangan itu.
Sampai mati pun aku takkan mengakui titik perasaan itu adalah rasa kasihan. Aku lebih ingin melihatnya sebagai rasa penasaran. Karena pada akhirnya kau melihat betapa berbedanya diriku. Mungkin bahkan, itu adalah untuk pertama kalinya kau sadar ada orang lain yang seberbeda itu dari dirimu. Di antara kau, Ditya, Aksa, dan Ben, sebelumnya kau pikir tidak ada jenis orang yang lain.
Lalu muncul aku, memperlihatkan dunia yang sama sekali berbeda padamu.
Setidaknya itulah yang kau jelaskan padaku bertahun-tahun kemudian. 
Aku selalu datang ke sekolah paling pagi dibanding murid-murid yang lain, karena tetanggaku Pak Gianyar mengantarku sejalan dengan kepergiannya ke pasar, berbelanja untuk bahan warungnya. Kau adalah orang yang paling sulit bangun pagi dan bahkan di kelas pun berkali-kali kapur para guru melayang ke kepalamu karena kau tertidur di kelas. Tapi, sejak kau membaca binderku, aku merasa kau perlahan-lahan berubah.
Suatu pagi ketika aku melihat kau datang hanya sekitar lima menit setelah kedatanganku di sekolah, aku terkejut. Ditambah lagi ketika kau duduk di hadapanku, mengambil binderku dari meja, lalu mulai membaca seakan itu adalah buku teks Sejarahmu.
Awalnya aku membiarkanmu karena toh kau memang sudah pernah membacanya. Mencari gara-gara lanjutan denganmu tidak tampak seperti langkah yang cerdas. Tapi lama-lama aku menulis dengan pikiran kalau kau akan membacanya beberapa hari kemudian, karena kau rutin melakukannya. Duduk di hadapanku, membaca binderku, hingga bel tanda masuk berbunyi.
Aku tidak tahu apakah kau merasakannya, tapi sejak aku tahu ada orang lain yang akan membaca binder itu, aku mulai menulis tentang mimpi. Tentang hal-hal yang kuinginkan, tentang hal-hal yang tidak pernah kucapai. Mungkin sebagian dari diriku berharap ada orang yang menyadari tentang mimpi-mimpiku itu.
Tidak, pastinya kau merasakannya. Karena perlahan-lahan, kaulah orang yang membantuku mewujudkan mimpi-mimpi itu, dengan caramu sendiri. Pertama kali kau melakukannya adalah ketika kau berkata, “Kenapa lo nggak jadi penulis aja? Penulis novel yang utuh, gitu, maksud gue. Bukan yang potong-potong nggak jelas kayak gini.”
“Buat nyetak, nerbitin, dan ngedistribusiin buku butuh modal besar, dan sori kalau gue bukan anak orang kaya kayak lo,” kataku. “Gue nggak bisa jadi penulis novel.”
“Lo tahu dari mana kalau lo bahkan belom nyoba langkah pertamanya, nulis novelnya itu sendiri?” tanyamu. “Lo bahkan belum punya naskah yang selesai.”
Kalimatmu terdengar menyakitkan, seperti kalimat-kalimat lain yang pernah kudengar keluar dari mulutmu. Aku menyambar kembali binderku dari tanganmu hari itu, lalu memasukkannya ke dalam tas. Kau tidak sempat berkata apa-apa lagi karena kemudian bel berdering.
Sekembalinya aku ke rumah, aku memikirkan kata-katamu. Untuk pertama kalinya, ide untuk menjadi penulis menjadi nyata bagiku. Semua yang aku ucapkan padamu hanyalah untuk mengelak dari mengejar mimpi yang sebenarnya memang kuinginkan. Kenapa aku melakukannya?
Malam itu aku menyadari kalau menerbitkan sebuah buku ternyata dapat dibantu lewat sebuah badan penerbit, sehingga aku tidak perlu mengeluarkan modal mencetak, menerbitkan, atau mendistribusikan buku. Malam itu juga aku untuk pertama kalinya membuka laptop usang yang dihibahkan oleh Pak Gianyar, dan menulis naskah novel pertamaku.
Kupikir, aku memang akan menjadi Sarjana Teknik di masa depan. Tapi saat itu aku masih SMU, dan mungkin aku diperbolehkan untuk diam-diam mengejar mimpi semuku walau hanya sebentar.


2 comments:

Anonymous said...

Yeeyy,, akhirnya ada update-an dari sini. aku seneng banget, apalagi sesuatu yang berkaitan sama cerita Raindrops. aku suka banget sama ceritanya. (yaahh,, walaupun udah rada lupa sama cerita Raindrops. Abis udah lama banget sih. hehehe) Aku harap cerita ini bakal jebol di toko buku secepatnya. :)
Semangat terus ya kakak.. aku tunggu banget kelanjutan ceritanya.

Cut Lilizrusnata said...

AKhirnya kak Fenny update blog lagi :*

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...