Thursday, March 6, 2014

Jika Aku Mereka Giveaway

a Rafflecopter giveaway

Giveaway dimulai 6 Maret 2014 pukul 12.00 siang




Hai semua, Fenny dan Gagasmedia punya 2 eksemplar buku Jika Aku Mereka gratis, lho!

Jika Aku Mereka adalah kumpulan cerpen yang diterbikan oleh Gagasmedia, bersama Yayasan Mitra Netra dan Majalah Diffa. Kumcer ini berisi 12 cerita inspiratif tentang hubungan kita dengan orang-orang disabilitas. Saya juga turut ikut menyumbang sebuah cerita ke dalamnya, yang merupakan cerita nyata.

Kurangnya bacaan tentang disabilitas di masyarakat sering membuat kita salah paham dengan para penyandang disabilitas. Kumcer ini menyediakan cerita-cerita yang bukan hanya mengharukan, tapi juga mengubah pandangan dan prasangka kita....

Jadi kalau kamu sudah tidak sabar untuk membaca kumcer ini, langsung saja ya jawab pertanyaan di bawah ini dan isi Rafflecopter di atas:


Coba ceritakan pengalamanmu / pendapatmu yang berkaitan dengan dunia disabilitas!

Untuk memperbanyak kesempatan menang, kamu bisa promosi di Twitter. Kamu juga bisa menambahkan Jika Aku Mereka pada kolom 'wishlist' atau 'to-read' kamu di Goodreads. Namun, opsi-opsi ini tidak diharuskan.

Giveaway ini akan berakhir pada tanggal 13 Maret 2013, pada pukul 12.00 siang. Pemenang akan dihubungi lewat e-mail, jadi jangan lupa cantumkan alamat yang benar, ya. Alamat pemenang ditunggu dalam waktu 2x24 jam, jika tidak ada jawaban maka pemenang lain akan ditentukan. Hadiah pemenang akan dikirim oleh Gagasmedia.

Semoga beruntung! :)

15 comments:

Asy-syifaa Halimatu Sadiah said...

Aku sih belum terlalu punya banyak cerita tentang orang-orang disabilitas. Tapi, kali ini ada satu cerita yang paling berkesan menurutku. Aku kenal Kak Yuna, namanya Qurrata Ayuna Adrianus. Dia adalah penyandang disabilitas, kakinya lumpuh akibat bencana alam gempa yang menimpa Padang beberapa tahun yang lalu.

Kak Yuna adalah peserta program pertukaran pelajar ke luar negeri yang sekarang ini sedang berada di USA yang masih menjalani programnya sebagai YES 2013-2014. Bagiku, walau belum mengenalnya secara jauh, Kak Yuna adalah sosok yang istimewa. Dia cantik, dia hebat, dia pintar, dan dia luar biasa, dengan kekurangan fisiknya dia tetap berani mengikuti program ini. Aku terharu sama cerita Kak Yuna yang menginspirasi, walaupun dengan keterbatasannya yang ada, dia nggak putus asa untuk mencapai cita-citanya.

Cerita selengkapnya bisa Kak Fenny baca harapanku yang menginginkan buku Jika Aku Mereka dan juga sedikit cerita tentang Kak Yuna di blogku, bit.ly/WWke7. Semoga menginspirasi dan aku beruntung untuk mendapat buku ini, ingin sekali menceritakan kisah yang ada pada buku ini pada Kak Yuna sekembalinya ia ke Indonesia :)

Terimakasih atas kesempatannya :)

@asysyifaahs

dianmayy said...

Pernah baca buku berjudul I Can(not) Hear karya Feby Indirani. Bercerita tentang seorang ibu yang mempunyai anak penyandang tunarungu. Beliau berjuang mati-matian untuk kesembuhan si anak. Mengunjungi dokter dalam negeri sampai harus ke luar negeri. Benarlah adanya kasih ibu sepanjang masa. So heart-warming yet inspiring.

Amanda Martadinata said...

Sekitar dua tahun yang lalu, aku dapat kabar kalau tetangga nenekku di Blitar sana mengalami musibah. Beliau dan cucunya hanyut di sungai saat akan menyebrang. Cucunya selamat, tapi beliau ditemukan sudah tidak bernyawa.

Dari musibah tersebut, kemudian cerita soal keseharian beliau dengan cucunya menyebar. Tetangga yang rumahnya paling dekat dengan beliau menceritakan hal-hal buruk yang beliau alami semenjak kehilangan pendengarannya.

Ternyata, cucu yang selama ini dirawat beliau hanya cucu tiri. Bukan cucu kandungnya. Sejak si cucu ditinggal pergi oleh orang tuanya, beliaulah yang merawat. Namun, si cucu seringkali berbuat tidak sopan baik tindakan maupun ucapan karena kesal dengan beliau yang tidak bisa mendengar.

Kejadian yang paling parah adalah saat suatu hari, seperti biasanya, beliau bangun sangat pagi untuk menyiapkan air hangat untuk mandi si cucu. Beliau berteriak memanggil si cucu karena takut air mandinya keburu dingin. Saat si cucu akhirnya datang, si cucu malah menyiramkan air hangat itu ke beliau karena kesal diteriaki terus.

Aku nggak tau apa penyebab hilangnya pendengaran beliau. Yang jelas, sebelumnya beliau masih bisa mendengar :(

Aku sangat sedih mendengar perlakuan buruk si cucu pada beliau. Mungkin, berhadapan dengan penyandang tuna rungu memang menuntut kesabaran dan perhatian lebih, tetapi bukan berarti itu dijadikan alasan untuk berbuat buruk pada mereka.

Dian S. Putu Amijaya said...

DIsabilitas, mengingatkanku pada sesosok pria tua yang tak ingin kalah dengan ke adaan. Aku nggak tahu namanya, tapi aku sering bertemu dia.
Meski dia duduk di kursi roda, dia tak lantas diam di rumah dan mendendam pada nasib.
Dengan kursi roda yang di depannya di pasang seperti kayuhan pada sepeda, dia menjalankan kursi rodanya kemanapun dia mau.
Tapi, sekarang udah jarang ketemu beliau.
Yang kedua, aku kenal seorang laki-laki (juga). Dia pandai memperbaiki elektronik apa aja. Dia juga tak mau kalah pada nasibnya. Dia menjadi orang yang lebih sukses dari pada orang normal dengan kemampuan itu. Bahkan, meski dia disabilitas, dia bisa mempekerjakan beberapa orang, bahkan mengajari mereka elektro. Wao...keadaan hanya sebuah hadiah, bukan halangan untuk putus asa, kan?

Tammy Rahmasari said...

Aku memiliki satu teman yang menyandang disabilitas. Kakinya lumpuh sejak lahir jadi ia tidak bisa berjalan normal seperti yang lainnya.

Tapi yang saya kagumi darinya, ia selalu bersemangat dan memandang segala sesuatunya dengan positif, jarang mengeluh, dan selalu bersyukur walaupun ia tidak sempurna. Hal itu yang membuatnya menjadi inspirasi saya dan orang-orang di sekitarnya.

tertersiester said...

Pengalaman saya bertemu dengan orang-orang yang begitu spesial ini yaitu pada saat saya sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan saya di 'Rahmat' Wildlife Museum and Gallery Medan. Ketika itu saya sedang menjaga pos Indonesian Species, African Zone dan juga Koleksi Hewan-hewan unik (berkepala dua, berhidung tapir, dsb)saat 5 tamu datang berkunjung ke lantai 2.Ke-limanya tersenyum melihat saya, namun ada 2 diantaranya yang tidak henti-hentinya memandangku sambil tersenyum. Yang satu terlihat seumuran saya dan yang lainnya seumuran anak baru masuk SMA. Awalnya sedikit aneh dan risih tapi akhirnya saya mencoba untuk bersikap biasa, menyambut pengunjung dan memperkenalkan hewan-hewan yg sudah diawetkan pada mereka. Hingga satu hal yang saya sadari, bahwa keduanya sulit sekali berkomunikasi, bahwa keduanya hanya mampu memandang lebih lama tanpa dapat mencerna dengan jelas hewan-hewan yang saya maksud. Akhirnya saya sadar, saya sedang menyambut tamu istimewa. Saya pun tidak lagi merasa aneh, malah ditiap saat mereka tersenyum, saya balas tersenyum. Entah kenapa saya merasa senyuman itu adalah bentuk ungkapan terima kasih mereka untuk setiap penjelasan dari saya.
Diakhir penjelasan saya pendamping keduanya akhirnya memperkenalkan saya pada mereka, menjelaskan mereka dari sekolah mana sampai ketiganya mengisyaratkan mereka untuk mengerjakan tugas yang sebelumnya telah diberikan sesaat sebelum memasuki museum. Saat itu saya merasa bahagia karena sebelumnya belum pernah sedekat ini dengan orang-orang spesial ini. Para penderita Autis.
Kesulitan berkomunikasi dan menulis adalah hal yang menyulitkan bagi adik-adik ini. Hingga mengharuskan mereka menggunakan Tablet sebagai alat bantu dan juga alat untuk mengenal pelafalan. Tidak ada rasa jenuh, malas, histeris maupun amukan dari mereka seperti yang orang-orang sering khawatirkan. Yang saya lihat justru bagaimana orang-orang yang begitu bersemangat,antusias.
Mereka hanya mau dimengerti, dan mungkin pengertian yang kita berikan cenderung berbeda dengan yang mereka inginkan.
Setiap orang pasti berbeda. Hanya perbedaan itu saja yang beragam-ragam jenisnya. Jika selama ini perbedaan bukanlah suatu permasalahan, saya rasa mereka yang memang secara kasat mata berbeda ini pantas mendapatkan apresiasi yang sama dari setiap orang berbeda lainnya.

Sekian cerita dari saya,

Ester Marina
@tertersiester

Dyah Muawiyah said...

Aku punya adik sepupu penyandang disabilitas, tunarungu dan tunawicara. Aslinya adikku ini baik-baik aja, tapi karena keteledoran perawatnya, akhirnya dia jadi seperti ini.

Adikku itu anaknya ceria. Meskipun tidak bisa mendengar dan berbicara, dia sering memperhatikan teman-temannya bermain. Kalo dia udah ngerasa "cocok" sama permainannya, dia bakalan nimbrung pengen ikutan main.

Tapi biasanya teman-temannya menolaknya. Tidak secara terang-terangan, tapi kelihatan dari ekspresi wajahnya. Dan adikku termasuk orang yang peka, dia sadar kalo teman-temannya tidak mau main bersamanya. Pelampiasannya? Dengan marah-marah ke temannya.

Adikku itu bukan anak yang pemarah, tapi dia cuma pengen diterima. Dia bisa paham kalo kita tidak mengerti bahasa isyaratanya, bahkan saya pernah diajari bahasa isyarat olehnya.

Yang dia inginkan hanyalah di terima dan diperlakukan layaknya orang normal. Dia nggak mau masuk SLB, maunya di sekolah biasa.

Ketika teman-temannya bersikap "jahat", dia bakalan marah-marah bahkan sampai berlaku kasar. Tapi ketika teman-teman atau orang lain bisa menerimanya, dia bakalan berubah menjadi anak yang manis sekali :")

ila aulia rahmah. said...

Kak, aku ikutan ya :)

Aku punya sahabat, nah adiknya yang paling kecil namanya Dimas menyandang disabilitas dari lahir (sekarang umurnya 10 tahun). Enggak bisa denger dan enggak lancar ngomong :(
Kalo ngomong yang keluar bukan kata/kalimat jelas tapi yang keluar kayak teriakan. Tapi entah kenapa aku ngerti apa yang Dimas omongin dan Dimas maksud. Aku biasa komunikasi sama Dimas pake isyarat tangan. Dan untuk nyebut orang-orang disekitarnya dia punya bahasa isyarat sendiri. Contohnya karena ayahnya berkumis, Dimas mengisyaratkannya dengan naruh jari telunjuknya membentuk kumis diantara bibir dan hidungnya. Dan kalo aku, karena rambut aku sering diikat Dimas mengisyaratkanku dengan mengepalkan tangannya terus ditaruh di belakang kepalanya :D

Mungkin karena masih kecil dan lebih susah dibimbing daripada kita ya normal, Dimas jadi lebih gampang emosi. Tapi kalo kamu kenal deket sama Dimas, kamu bakal tau kok kalo sebenernya dia baik :)
Contohnya aja setiap aku ketemu Dimas, Dimas selalu nyapa dengan panggilan khasnya ke aku :)
Dimas juga sering nawarin aku buat mbonceng sepedanya setiap lihat aku jalan pulang sekolah :)
dan masih banyak lainnya :)

Sering kasihan juga sama Dimas gara-gara orang manggilnya bukan "Dimas" tapi "Si bisu" atau sebutan-sebutan jelek lainnya :(
Terus miris juga kalo lihat dia "enggak diinginkan" sama temen-temennya :(
Padahal dia cuma pengin dianggep normal dan dianggep ada :(
Tapi disetiap kekurangan pasti ada kelebihan. Contohnya aja karena dia enggak bisa denger dan enggak lancar ngomong, jadi Dimas enggak bisa denger dan niru omongan-omongan jelek disekitarnya :)
Aku juga salut sama dia :)
Walapun masih kecil, Dimas punya semangat buat terus latihan ngomong dan latihan membaca gerak bibir lawan bicaranya :)

avia said...

27Semasa kecil pernah minta orang tua untuk merayakan ulang tahun bersama orang - orang disabilitas agar aku bisa berbagi kebahagiaan bersama mereka. Akhirnya diijinin. Dan rasanya merayakan hari ulang tahun bersama mereka itu luar biasa sekali. Aku merasa berhasil membuat mereka senang di hari istimewaku. Dan aku berharap ulang tahunku yang ke-17 nanti dapat dirayakan bersama mereka lagi.

Alfindy Agyputri said...

Ikutan ya kak :D

Aku gak tau ini disabilitas atau bukan... Kakak sepupuku, berhenti sekolah sejak kelas 5 SD, karena dia gak bisa keep up. Dia sekarang udah umur 30 tahun, tapi tingkah lakunya seperti anak kecil. Bisa dibilang, dia anak kecil yang terperangkap di tubuh orang dewasa. Kasihan lihatnya. Seumur hidup ditanggu orangtuanya, terus kerjanya cuma di rumah bantu-bantu mamanya. Belum lagi penyakit gondok dan diabetesnya. Sempet jadi kurus banget. Terus harus bisa suntik diri sendiri karena obatnya berupa suntikan. Aku gak bisa kunjungi sering-sering lagi, karena beda kota. Tapi dulu pas kecil, aku sempet tinggal di kota yang sama, dan sering main sama dia. Karena dia kekanakan, jadi cocok deh sama aku yang dulu masih kelas 3 SD. Sekarang tiap berkunjung, aku masih sering main sama dia, walaupun aku udah 17 (aku kadang juga kekanakan sih).

Aku berharap dia cepat sehat deh. Pernah jatuh koma sampai empat hari. Aku sampai ketakutan sendiri. Sekarang sudah siuman, sih, tapi belum sembuh total. Kadang, aku berharap, kisah kakak sepupuku ini seperti di novel-novel, bakal ada prince charming yang 'menyelamatkan'-nya, and they live happily ever after. Amin!

Makasih kak :3

email: alfindy.agyputri@gmail.com :D

Anis Antika said...

Kalau pengalaman secara langsung sih nggak ada kayaknya. Hanya saja, aku pernah melihat di acara sebuah stasiun televisi swasta, yang mengangkat tema disabilitas. Waktu itu ada Christian Husen Sitompul. Yup. Dia adalah anak dari pengacara sekaligus selebritis Ruhut Sitompul.

Christian adalah seorang penyandang tunagrahita. Walaupun dia berkekurangan, tapi dia memiliki prestasi yang sangat membanggakan. Dia mengharumkan nama Indonesia di dunia dengan meraih medali emas cabang renang dalam Olimpiade Tunagrahita di Athena, Yunani.

Ada lagi Oscar Pistorius. Dia adalah seorang pelari. Impian terbesarnya adalah bertanding lari dengan orang normal. Dan akhirnya, berkat usaha kerasnya, impiannya itu terwujud dalam ajang Olimpiade. Bahkan dia menang atas orang-orang normal. Ada satu kalimat Oscar yang sangat saya suka. Dia mengatakan, “Bukan kecacatan yang membuat kita cacat, tetapi, kemampuan kitalah yang membuat kita mampu.”

Satu lagi, ini tentang kisah cinta yang sangat mengharukan. Aku tahunya juga dari sebuah acara di stasiun televisi swasta. Yaitu kisah cinta Mbak Putri Herlina. Dia adalah seorang wanita yang memiliki kekurangan, maaf, dia tidak memiliki dua tangan. Jadi dia melakukan segala aktifitasnya dengan menggunakan kedua kaki. Baik makan, minum, menulis, mencuci piring, sikat gigi, segalanya dia lakukan dengan kedua kakinya. Suatu saat ada seorang laki-laki bernama Reza Somantri yang datang untuk melamarnya. Dia mencintai dan mau menerima segala kekurangan Mbak Lina. Mbak Lina akhirnya menerima lamaran Mas Reza. Karena menurutnya, Mas Reza adalah sosok sederhana yang bisa melihat kesempurnaan Mbak Lina yang sebenarnya. Dan akhirnya mereka pun menikah.

Tiga kisah diatas itulah yang bisa membuatku menitikkan air mata karena terharu. Kesimpulannya, kalau mereka yang memiliki ‘kekurangan’ saja mau berusaha untuk berprestasi, mau bekerja untuk mendapatkan uang, selalu optimis kalau ada seorang sempurna yang akan menerima kekurangannya, kenapa kita yang ‘sempurna’ bisanya hanya mengeluh dan MEMINTA saja? Apa nggak malu dengan mereka?

Ayolah. Sekarang bukan saatnya untuk mengeluh, meminta dan menyalahkan orang lain atas kemiskinan yang kita derita. Sekarang saatnya kita menjadi manusia yang sesungguhnya. Selama kita mau berusaha, saya yakin impian kita akan terwujud. Apapun itu.

Nama : Anis Antika
Twitter : @AntikaAnis
Email : anis_antika@yahoo.com

Dwi Puspita Nurmalinda said...

Nama : Dwi Puspita Nurmalinda
Email :dwipita@yahoo.co.id

Aku selalu punya teman penyandang disabilitas,,,mereka lebih baik dari teman yang normal,,,karena apa???karena penderita disabilitas selalu memaknai hidupnya yg kekurangan,,,dia selalu bersyukur melihat kawannya yang normal,,,dia lebih menghargai dan mempunyai kasih sayang yang lebih tinggi. Dia selalu bersyukur atas apa-apa yg diberikan Tuhan untuknya,,,tidak seperti manusia normal pada umumnya yang selalu banyak tingkah,,,mereka lebih dari kita,,,

itulah disabilitas,,
Teruntuk temanku yang jauh diujung kebahagian sana #RIPVio

Sukses untuk GA nya...
Salam hangat dari Surabaya ^_^

hesty arnize said...

Nama :hesty Arnize
twitter : @siiqebo
email :h.arnize@gmail.com

di dekat rumahku ada seorang disabilitas yang hanya mempunyai kaki. laki-laki itu kesehariannya bekerja dijalanan atau di pasar untuk menjadi kuli panggul toko-toko tertentu. pernah suatu kali aku melihat dia menolong seorang menyebrang jalan, mungkin karena bajunya lusuh, ia dikira tukang minta2. ia disodorkan uang oleh org yg ia bantu sebrangi. dgn sopan ia tersenyum dan menolak uang itu dan segera pergi. sungguh sesuatu yg aneh bagi saya. dia berpakaian lusuh dan tidak bersndal serta disabilitas, namun tetap tegar untuk tidak meminta-minta. satu hal yg akan jd kenangan saya seumur hidup :)

Mita Oktavia said...

Aku punya om penyandang disabilitas, Dia susah banget jalan, kakinya bengkok gitu kalo jalan jadi harus nyeret dengan berat kakinya sendiri. Kadang kasian juga liatnya. Walaupun gitu, dia nggak minder atau gimana malahan dia bisa naik sepeda kayak orang yang normal, jago main alat musik bahkan waktu SMA dulu punya band, dan sekarang berhasil merintis bisnis rental play station, warnet kecil-kecilan, warung kecil-kecilan dan juga jualan pulsa di rumah. Kebetulan tinggalnya masih sama nenek dan kakekku. Dia udah berkeluarga dan punya satu anak. Alhamdulillah anaknya normal, malah lincah banget anaknya tuh. Yang bikin aku kagum sama om ku adalah dia itu kalau diliat dari kaca mata orang kebanyakan kan bisa dibilang kurang sempurna, tapi dia gak pernah malu. Dia malah bener-bener bisa pede dan jadi dirinya sendiri apa adanya. Bisa survive sendiri dan mikir 'gue gak mau nyusahin orang lain'. Terus yang kerennya lagi, dia punya temen banyak pergaulannya juga luas. Orang lain bahkan nggak ilfeel apa gimana malah pada seneng berteman sama dia. Aku bilang gini bukan karena dia om ku sendiri, tapi aku bener-bener kagum sama dia bahkan aku yang bisa dibilang sempurna secara fisik selalu ngerasa minder karena ada yang kurang atau gimana, tapi dia enggak. Aku banyak belajar dari dia tentang segala hal :))

Rissya Mutya Prima said...

Nama : Rissya Mutya Prima
Twitter : @RMP2982
E-mail : rissyamutyaprima@gmail.com

Disabilitas, aku sering menjumpai orang disabilitas disekitar lingkunganku banyak orang yang mengira dan berpikir bahwa orang disabilitas itu harus dijauhi namun banyak juga yang berpikir bahwa kita harus "mengasihani" menurutku mereka yang seperti itu yang patut dikasihani. Mereka yang tidak mengerti caranya berbag, tak mengerti caranya bersyukur, dan cara hidup yang tak terlalu menggantungkan diri dengan orang lain. Orang disabilitas banyak yang mampu menginspirasi orang lain, membukrikan bahwa dirinya bisa meraih hal yang orang bilang hanya mampu dilakukan oleh orang yang fisiknya sempurna saja. banyak tokoh disabilitas yang telah dikenal banyak orang dengan caranya sendiri membangkitkan jiwa-jiwa terpuruk kaum disabilitas dan menggantinya dengan semangat berjuang tanpa batas dan penuh cita. Tetapi citra kaum disabilitas yang baik itu, cukup tidak berimbang dengan pandangan orang tentang kaum disabilitas yang memanfaatkan kekurangannya dengan meminta minta, bahkan ada pula oknum yang berpura-pura menjadi kaum disabilitas untuk memperoleh keuntungan lebih dengan meminta-minta. Cukup miris, namun ini kenyataannya.

Aku pernah diceritakan sepupuku disuatu siang ada seseorang yang bejualan balon, saat ditanya harganya berapa ia memberikan sebuah kertas bertuliskan harga balon tersebut. Akhirnya sepupuku mengira ia adalah seorang disabilitas tuna wicara. Seminggu kemudian, ia tak sengaja melihat sosok itu dipinggir jalan dengan kaki pincang dan berbicara pada orang yang berlalu lalang meminta belas kasih. Orang itu bisa berbicara, dan dengan trik yang lain ia membuat orang-orang iba. Sungguh menghina kaum disabilitas, tak selamanya kaum disabilitas bisa mendapat cap buruk karena sesungguhnya mereka adalah sosok yang menginspirasi.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...