Tuesday, March 4, 2014

[Cerpen] Shisam dan Hoyaa

Ditulis sebagai bentuk partisipasi Lomba Cerbul Februari 2014 Kastil Fantasi.
Juga adalah semacam background story untuk novel yang sedang saya tulis, Permata Gurun.
Selamat membaca :)





Diperkirakan terjadi sekitar tahun 90 S.L
Ibukota Kadaar, Kerajaan Mirgaan



Tidak satu pun dari kedua belas kakak Shisam Ultaar yang ingat apa yang terjadi pada mereka di Kota Tua. Mereka pulang dengan tangan kosong, juga memori yang terhapus bersih. Shisam sendiri yakin kalau semua kakaknya hanya pura-pura, agar Shisam sama-sama gagal. Pasalnya, jika Shisam berhasil, takhta Kerajaan Mirgaan berikutnya akan menjadi milik pangeran bungsu itu.

Sebenarnya ujian yang diberikan Cenayang Kerajaan sendiri terdengar mudah. Para pangeran hanya perlu keluar dari pusat kota, menyebrang tidak jauh, dan masuk ke Kota Tua. Semuanya masih di dalam wilayah Kadaar. Mereka perlu mencari sebuah cawan di antara puing-puing istana lama. Cawan Hitam yang tersembunyi di sana berkhasiat menyembuhkan segala penyakit. Cenayang itu menjelaskan  tentang cawan itu dengan potongan bait yang diambil dari Lagu Ultaar yang rahasia:

Cawan Hitam Mirgaan
dari Permata Gurun pahatan
sebesar dua kepalan tangan

Tuangkan sari dahan Karlaan,
tambahkan lima petik kelopak Faan,
dicampur sejumput bubuk hujan
saat purnama, mati, atau paruh bulan

Yang jatuh ditaikkan
yang pingsan dibangkitkan
yang sakit disembuhkan
namun yang mati tetap di Khayangan

Setelah Shisam mengerti, Cenayang memberitahunya hal lain. Kelemahannya, cawan tersebut hanya dapat dipakai tiga kali saja, masing-masing pada bulang purnama, bulan mati, dan paruh bulan. Namun konon, dulu mendiang ayahandanya menemukan cara agar khasiat cawan itu dapat dipakai berulang kali.

Masalahnya, tidak ada orang yang bisa mendekati puing-puing istana Kota Tua. Mereka bilang ada Hoyaa — djinn penjaga — yang dikabarkan tinggal di sana. Kedua belas kakak Shisam juga membenarkan hal itu. Mereka berkata pastilah Hoyaa yang menghapus ingatan mereka dan mencegah mereka mengambil Cawan Hitam. 

Kedua belas kakaknya yang kesal karena gagal kini sedang ribut mempertanyakan keahlian Cenayang. Mereka menuduh Cenayang tidak seharusnya menyimpang dari tradisi. Perihal penerus takhta seharusnya diselesaikan dengan adu bela diri seperti yang biasa dilakukan.

Cenayang Kerajaan tidak goyah dari pendapatnya kalau yang mendapatkan takhta haruslah orang yang menemukan Cawan Hitam itu. Ia berkata itu adalah perintah dari roh mendiang ayahanda Shisam. Cenayang Kerajaan menyanyikan Lagu Ultaar, menggunakan kekuatan mistik lagu tersebut untuk memanggil ayahandanya. Kemudian mereka berbincang-bincang perihal penerus takhta.

Shisam sendiri ingin turut ikut ke dalam perbincangan roh itu. Bukan untuk membuktikan kalau Cenayang berbohong, tapi karena ia masih penasaran seperti apa rupa ayahandanya dulu.

Ketika istana lama mereka terlalap api dan ayahandanya meninggal, Shisam baru berumur satu tahun lewat satu bulan. Selama perjalanan Shisam memikirkan tentang ayahandanya yang terkenal sebagai raja yang tertutup. Shisam juga ingin menjadi raja, hanya karena ia ingin menjadi seperti ayahandanya. Ia cukup yakin kalau ayahandanya sebenarnya adalah raja yang bijaksana.

Cenayang Kerajaan menolak permintaan kedua belas pangeran untuk mengubah tantangan yang diberikan. Cenayang Kerajaan bahkan berkata, kalau Shisam pulang dengan tangan kosong, maka sayembara lain akan dilakukan, terbuka untuk semua pemuda keturunan Mirgaan. Pemenangnya adalah yang bisa mendapatkan Cawan Hitam itu.

Shisam akhirnya berangkat di tengah perseteruan itu. Dia tidak terlalu takut dengan Hoyaa. Awalnya ia kira Hoyaa bisa mengambil tumbal dan menjadikannya sebagai djinn. Hoyaa selalu mencari tumbal agar mereka dapat naik ke Khayangan. Mereka juga dapat naik ke Khayangan jika tujuan hidup terdalam mereka terpenuhi. Kebanyakan Hoyaa mencari tumbal daripada berusaha memenuhi tujuan, karena itu adalah jalan yang lebih mudah untuk ditempuh.

Akhirnya Shisam pun berangkat. Ia membawa kantung minuman, belati, beserta mental yang siap menghadapi apa saja. Ia bertekad untuk berhasil. Cenayang Kerajaan tampak khawatir ketika melihat Shisam pergi. Ia berkata Shisam baru berumur 13 tahun, terlalu, terlalu belia. Padahal Shisam sendiri merasa keberaniannya tidak kalah dengan milik kakak-kakaknya.

“Sebenarnya ini baru boleh hamba berikan ketika Pangeran cukup umur,” ia berkata. “Tapi Pangeran membutuhkannya. Lagu ini memiliki kekuatan mistik, seperti yang sudah sering hamba katakan. Bait tentang Cawan Hitam diambil dari lagu ini.” Ia lalu mengajarkan Shisam bagaimana menyanyikan Lagu Ultaar secara lengkap. Setelah Shisam hapal, ia pun segera berangkat.

Di batas luar Kota Tua, Shisam mendengar alunan. Rendah, seperti gumaman, tapi bermelodi. Kota Kadaar dikelilingi pasir gurun, jadi Shisam berpikir mungkin itu hanya suara pasir. Desirnya memang sering menimbulkan alunan nada.

Tapi semakin ia dekat ke puing-puing istana, alunan itu terdengar semakin jelas. Tidak mungkin pasir menghasilkan suara semacam itu. Semakin Shisam mendengarkannya, ia semakin yakin ia pernah mendengar alunan itu sebelumnya.

Alunan kini terdengar hampir seperti suara kecapi. Langkah Shisam semakin lama semakin berat. Hanya beberapa meter di hadapannya, ada pilar yang menjulang miring. Bangunan istana yang kini hitam legam dan hanya berdiri sebagian terlihat dari balik kelopak mata Shisam yang berat. Semakin ia berkonsentrasi pada alunan itu, ia semakin mengantuk.

Tubuhnya mati rasa, tapi ia memaksakan untuk masuk ke dalam puing-puing bangunan utama. Semakin Shisam berjalan ke dalam, ia semakin terkesima. Segalanya masih begitu indah, dengan warna-warna yang terang dan ukiran yang sama sekali tidak bercacat. Pembaringan yang ada di ujung ruangan dilapisi sutra, begitu mengundang Shisam untuk terlelap di atasnya. Shisam tidak bisa menghentikan hasratnya yang memintanya untuk naik ke atas pembaringan itu.

Ada perasaan aneh yang berkata, jika ia tertidur begitu saja, ia mungkin akan kembali pada Cenayang Kerajaan tanpa ingatan apa-apa.... Atau bahkan jangan-jangan ia tidak akan bangun lagi.... Ia  tiba-tiba merasa ketakutan... Lalu di ambang akhir kesadarannya, ia menyanyikan Lagu Ultaar.

Perlahan-lahan kesadarannya kembali. Rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya, tapi, tidak hilang. Pembaringan yang Shisam tiduri hanyalah sebuah batu besar dengan ujung-ujung yang meruncing. Di sekelilingnya ada tengkorak-tengkorak, yang nasibnya tidak seberuntung Shisam yang tahu Lagu Ultaar.

Shisam terperanjat, bukan hanya karena pemandangan penuh tengkorak. Di hadapannya ada bayangan, yang lama-lama menjadi padat pada bagian atas, tapi kakinya tetap terlihat seperti embun. Shisam siap menarik belati dengan tangannya yang bergetar hebat, berusaha untuk tidak berteriak ketakutan.

Namun ia urung melakukannya. Yang menatap ke arahnya adalah Hoyaa... jelmaan ayahandanya.
Shisam bangkit, terpana. Hoyaa itu lalu berkata menyambut, “Anakku yang ketiga belas, Shisam. Setelah kedua belas kakakmu, aku sudah berpikir kau akan datang. Jika kau tidak menyanyikan Lagu Ultaar seperti barusan, maka aku kira kau juga salah satu dari perompak-perompak yang berusaha mencuri harta kerajaan kita.” Ia menunjuk ke arah tumpukan tengkorak.

Shisam berjalan mendekat, tidak peduli kalau ia sedang menghadapi Hoyaa. Ia bingung sekali ketika ia bertanya, “Ayahanda... kenapa.... A-aku tahu. Ketika Kota Tua terbakar, Ayahanda meminta Hoyaa lain untuk menyelamatkan kami bertiga belas, dan sebagai gantinya Ayahanda dijadikan tumbal?”

Ayahandanya tampak berpikir sejenak. Ia lalu berkata, “Kamu orang yang pertama berpikir seperti itu, Shisam. Tidak, tapi bukan itu yang terjadi. Tapi bukankah kau ingin takhta yang tidak berhasil didapatkan kakak-kakakmu? Apa kau tidak ingin tahu caranya mendapatkan Cawan Hitam? Karena cawan itu ada padaku.”

“Tapi... Ayahanda, kenapa Ayahanda bisa menjadi Hoyaa? Bukankah menjadi Hoyaa adalah karena Ayahanda menjadi tumbal untuk Hoyaa sebelumnya? Apa yang terjadi?” Shisam tidak ingin pergi begitu saja dengan Cawan Hitam. Ia ingin tahu yang sebenarnya. Ia juga kemudian bertanya, “Apa yang dilakukan kedua belas kakakku, hingga mereka tidak pantas mendapatkan Cawan Hitam dari Ayahanda?”

“Mereka membuktikan kalau mereka tidak memiliki hati yang cukup murni untuk menjadi Raja Mirgaan,” kata ayahandanya. “Namun aku telah lelah menguji. Kau adalah anak bungsuku, anak yang paling kusayang. Aku akan memberikan Cawan Hitam ini padamu.”

“Mengapa aku tidak perlu diuji?” tanya Shisam. “Aku tidak ingin keluar dari sini begitu saja tanpa tahu apa yang terjadi pada Ayahanda. Bukankah Ayahanda tidak bisa tenang dan naik ke Khayangan selama Ayahanda menjadi Hoyaa?”

“Aku tidak bisa membayangkan Mirgaan diperintah oleh orang yang bukan darah dagingku, padahal aku punya tiga belas anak laki-laki. Aku akan memberikanmu Cawan Hitam jika kau memintanya.”
“Bagaimana aku bisa menjadi raja dengan tenang jika Ayahanda terperangkap menjadi Hoyaa selamanya? Aku ingin menyelamatkan Ayahanda.”

“Tiga kali kau menolakku, Shisam,” kali ini ayahandanya tertegun sedikit lebih lama. “Baiklah, aku akan menceritakan apa yang sebenanrya terjadi. Setelah itu, kau bisa memilih. Apakah kau ingin menyelamatkan aku dari kutukan Hoyaa, atau apakah kau ingin mengambil Cawan Hitam ini.

"Kau mungkin pernah mendengar, pada masa pemerintahanku, ketika aku masih muda dan baru menikah, Mirgaan pernah terkena wabah penyakit Guaam. Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut, dan Cenayang Kerajaan berkata aku dapat memanjatkan doa pada Khayangan dan menyanyikan Lagu Ultaar.

"Aku melakukan keduanya tapi tidak ada yang terjadi. Hingga aku bertemu cenayang lain di tengah gurun, dan ia memberitahuku kekuatan lain yang dimiliki Lagu Ultaar. Aku bisa memanggil Hoyaa dari Panas Bumi. Jika yang di Atas tidak membantumu, satu-satunya cara adalah untuk mencari ke Bawah. Aku melakukan semuanya dalam diam, bahkan ibumu pun tidak tahu tentang hal ini.

"Hoyaa yang kupanggil memiliki kekuatan yang luar biasa. Perjanjian tiga garis darah pun dibuat di antara kami. Ia akan membantuku mengenyahkan penyakit Guaam, dan aku... harus memberikannya tumbal. Hoyaa itu meminta anak lelaki bungsuku. Tidak lama kemudian ibumu hamil, dan aku segera tahu yang ada di dalam perut ibumu adalah anak lelaki.

"Hoyaa memberikan aku sebongkah permata carnelian hitam yang kemudian dipahat menjadi cawan sesuai perintahnya. Namun Cawan Hitam hanya dapat digunakan hingga tiga kali.

"Aku murka mendengarnya. Aku kira cawan itu dapat dipakai berkali-kali untuk seluruh kerajaan. Hal semacam itu begitu licik untuk dilakukan oleh Hoyaa. Ia berkelit dengan berkata kalau perjanjian di antara mereka hanyalah untuk saling ‘membantu’. Aku pun mencari cara untuk keluar dari perjanjian. Setelah ibumu melahirkan kakakmu yang pertama, aku mengulur waktu. Tidak lama kemudian, ibumu hamil lagi.

"‘Kau bilang kau menginginkan anak lelaki bungsuku,” kataku pada Hoyaa itu. ‘Istriku sedang hamil anak lelaki berikutnya. Kau dapat mengambilnya ketika ia telah lahir. Jangan ambil anak sulungku, karena aku memerlukan penerus untuk kerajaan.’

"Hoyaa itu mengiyakan dan memberikan janjinya untuk tidak mengambil kakak sulungmu.

"Lalu kakakmu yang kedua lahir. Aku lega ternyata dia benar-benar laki-laki. Tapi aku juga sedih karena ia begitu tampan, membuatku tidak tega untuk memberikannya sebagai tumbal pada Hoyaa. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana bayi yang lucu itu akan hidup selebihnya sebagai Hoyaa yang gentayangan mencari tumbal. Aku mengulur waktu lagi, dan tidak lama kemudian ibumu hamil kembali.

"Maka aku pun berkata pada Hoyaa itu, ‘Istriku sedang hamil anak lelaki berikutnya. Ambil saja anak ketigaku, aku memerlukan anak keduaku untuk meneruskan takhta jika terjadi sesuatu pada anak sulungku. Dalam hidupku, aku harus memastikan takhta Mirgaan dipegang oleh orang yang berhak dan pantas.”

"Begitu seterusnya hingga kau dikandung. Hoyaa itu sudah kehilangan kesabaran. Aku pun sudah ketakutan, karena semakin hari aku semakin mencintai kalian. Aku mulai menyesali keputusanku memanggil Hoyaa itu. Namun kemudian keajaiban datang, dan aku berhasil menemukan cara agar Cawan Hitam itu tidak hanya bisa dipakai tiga kali.

"Keberhasilanku menyembuhkan Mirgaan membuat Hoyaa itu bertambah marah. Ia merasa kalau ia belum terbayar, padahal aku sudah mendapatkan semua keuntungannya. Ibumu meninggal ketika melahirkanmu, menjadikan kau anak yang terakhir.... Aku menunda hingga bulan ketiga belas, tapi lalu Hoyaa itu tidak mau menunggu lagi. Ia membakar kotaku, istanaku....

"Karena janji-janjinya untuk tidak membunuh kedua belas kakakmu, mereka aman dari lalapan api Hoyaa. Tapi kau tidak begitu. Aku pada akhirnya berkata, lebih baik Hoyaa itu mengambilku sebagai tumbal, agar ia berjanji juga untuk tidak melukaimu.

"Kini aku menjadi Hoyaa di sini menggantikan dirinya. Seperti yang kau tahu, Hoyaa baru dapat naik ke Khayangan setelah tujuannya terpenuhi, atau setelah ia mendapatkan tumbal.”

Shisam sedari tadi mendengarkan dalam diam. Ia percaya sepenuhnya dengan semua kata-kata ayahandanya itu. Ia menitikkan air mata, sesuatu yang seharusnya tabu untuk pangeran. Tapi ia tetap terharu dengan apa yang ayahnya telah lakukan untuknya, walaupun memanggil Hoyaa lain dari Panas Bumi sebenarnya adalah kesalahannya sendiri di awal.

Pada awal cerita, ayahandanya berkata Shisam akan boleh memilih antara Cawan Hitam dan menyelamatkan ayahandanya. Tapi ia tidak menunggu Shisam memilih. Ia mengeluarkan Cawan Hitam dari udara, terselimutkan oleh kabut, yang lama-lama menghilang.

Mengambang di tangan ayahandanya, sebuah cawan yang terpahat indah muncul. Warnanya hitam legam, dan ada kilat yang belum pernah Shisam lihat dari permukaan benda lain. Perasaannya ketika melihat cawan itu begitu campur aduk.

Shisam menerima Cawan Hitam dan termenung memandangnya. Ia menatap ayahandanya lagi, yang menatap balik padanya, seakan menunggu ia mengatakan sesuatu. 

“Kalau aku tidak mengambilnya, kurasa Cenayang Kerajaan memiliki cara lain untuk menentukan penerus takhta berikutnya yang layak,” kata Shisam. Ia meletakkan Cawan Hitam itu ke atas batu di sampingnya. “Tapi jika aku tidak menyelamatkan Ayahanda, mungkin tidak akan ada orang lain lagi yang bisa.”

“Kau adalah alasan kenapa aku berada di sini,” kata ayahandanya. “Aku tidak bisa membiarkanmu menggantikanku....”

“Tiga belas tahun adalah waktu yang sudah cukup untuk mengecap dunia ini,” kata Shisam. “Aku berterima kasih atas kehidupan yang Ayahanda berikan.”

Mereka lalu berpandangan lama. Ayahandanya tampaknya merasakan keteguhan hati Shisam. Shisam bertanya-tanya apakah menjadi tumbal akan merasa sakit, tapi yang kemudian ayahandanya lakukan hanyalah menyanyi. Lagu Ultaar.

Lalu perlahan-lahan sekeliling Shisam dipenuhi kabut yang lama-lama menjadi tebal. Sosok ayahandanya di depan matanya perlahan-lahan menghilang. Ada senyum yang menyapu wajah ayahandanya itu. Senyum begitu tulus dan gembira, sebelum sosoknya menghilang menjadi serpihan debu cahaya. Jika senyum itu adalah hadiah yang Shisam terima... mungkin menjadi Hoyaa yang gentayangan pun sepadan....






Shisam terbangun di tempat yang berwarna kemerahan. Ada ukiran-ukiran berwarna hijau, biru tua, dan ungu, semua bercampur dengan indah. Ia kemudian sadar ia sedang menatap langit-langit kamar tidurnya.

Shisam terduduk di atas pembaringan. Tangannya meraba-raba kakinya. Keduanya masih padat di sana, belum membuatnya melayang-layang seperti Hoyaa. Ia tiba-tiba panik. Apakah ayahandanya mengurungkan niat, dan malah mengembalikan Shisam ke istana?

Cenayang Kerajaan masuk ke kamar Shisam setelah mengetuk dan dipersilakan. Shisam bangkit, lalu mengenakan jubah kerajaan baru yang digantung di samping tempat tidurnya. Sepanjang waktunya, matanya tertumbuk pada Cawan Hitam yang digenggam Cenayang.

Cenayang tersenyum senang melihat Shisam yang sudah sadar. “Pangeran berhasil mendapatkan Cawan Hitam!”

Shisam meraba cawan itu. Ia sama sekali tidak ingat bagaimana ia pulang, atau apa yang terjadi, setelah ia dikelilingi kabut. Ia lalu mendongak dan bertanya pada Cenayang, “Cenayang Kerajaan, bukankah kau bisa bercakap-cakap dengan roh Ayahanda? Apakah ia masih menjadi Hoyaa di sana, dan mengembalikan aku ke sini dengan Cawan Hitam? Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.”

Melihat kekhawatiran Shisam, Cenayang terlihat bertambah gembira. “Tidak. Mendiang Baginda sudah naik ke Khayangan. Sebagai Hoyaa, dia sudah mencapai tujuannya yang terdalam. Sedari hidup, tujuannya tetap sama: memastikan takhta Mirgaan dipegang oleh orang yang berhak dan pantas.

"Ia telah menemukannya dalam diri anaknya yang ketiga belas, yang menolak tawaran cobaannya hingga tiga kali. Yang mementingkan orang lain daripada diri sendiri. Yang berjiwa besar dan jauh dari egois. Hamba hanya membantunya untuk menemukan penerus takhta tersebut.”

Shisam tidak percaya kalau Cenayang sedang berkata tentang dirinya. Ia lalu menerima Cawan Hitam
yang diberikan oleh Cenayang. Menggenggamnya, Shisam berjalan ke arah pintu balkon. 

“Selamat, Baginda,” kata Cenayang, lalu membukakan pintu tersebut.

Di dalam jubah kerajaannya yang baru, Raja Shisam melangkah keluar. Di tangannya ada Cawan Hitam pusaka kerajaan, di bawahnya ada kumpulan rakyat Mirgaan yang dicintainya, mengelu-elukan namanya. Shisam mengangkat cawan itu dan mendongak ke atas.

Pada salah satu sudut Khayangan, ia harap ayahandanya juga sedang memperhatikannya.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...