Saturday, June 22, 2013

[Novel Review] Ulysses Moore #1: Pintu Waktu


Judul: Ulysses Moore: Pintu Waktu
Seri: Ulysses Moore #1
Pengarang: Pierdomenico Baccalario
Ilustrator: Iacopo Bruno
Penerbit: Erlangga for Kids
Tanggal Terbit: Edisi Terjemahan September 2006, original 2004
ISBN: 01-42-020-0

Jason dan Julia, sepasang anak kembar berumur 11 tahun, baru saja pindah dari London ke sebuah rumah besar yang ada di pesisir Inggris. Rumah baru mereka dipenuhi dengan terowongan-terowongan yang simpang siur dan perabotan-perabotan aneh dari segala penjuru dunia. Semuanya itu membuat mereka tidak sabar untuk segera menjelajahinya dan mengetahui semua rahasianya. 

Tak lama berada di rumah itu, Jason, Julia, dan teman mereka Rick, menemukan sebuah pintu misterius di balik sebuah lemari tua. Tapi, tidak ada satu pun kunci di rumah itu yang bisa membukanya. Ada apakah sebenarnya di balik pintu tersebut? Dan kenapa sepertinya ada orang lain yang sudah berusaha untuk membukanya tapi tak berhasil? Jason, Julia, dan Rick bertekad untuk memecahkan misteri ini, apa pun risikonya....

--------------------
Jadi, menurut Fenny....


Uh-oh, I know I’m a sucker for this kind of books.

Adventure, magic, and curious children. Makanya, seri-seri favorit saya seringkali berputar pada tema itu. A Series of Unfortunate Events dan The Mysterious Benedict Society contohnya. Yang kali ini saya ingin bahas adalah Ulysses Moore: Pintu Waktu. Sebagai orang yang dangkal, saya menikmati menggenggam hardcover yang bagus dengan ilustrasi-ilustrasi menarik yang menghiasi halaman-halamannya. Cetakan tulisannya pun tidak terlalu kecil hingga saya harus memicingkan mata membaca. Saya tidak perlu pikir panjang untuk langsung membeli (padahal, biasanya untuk buku begini saya lebih senang membaca versi terjemahan Inggris). Ada gambar kunci dan roda-roda gerigi --- nuansa steampunk --- and voila, I’m sold.


Lalu saya mulai membaca. Dibanding seri SoUE, Ulysses Moore lebih mirip… Lima Sekawan. And that’s a good thing, karena Lima Sekawan adalah seri Enid Blyton yang paling saya suka! Jika diminus kejutan magis yang nanti menanti, sebenarnya cerita ini tidak tergolongkan sebagai fantasi. Kebanyakan adalah kisah si kembar Julia dan Jason Covenant, ditambah sahabat mereka Rick Banner, melewati satu demi satu teka-teki. Tentu saja ada sosok lain yang membimbing mereka melewati semua teka-teki itu, yakni Ulysses Moore sendiri.

Semuanya berawal dari kepindahan keluarga Covenant ke Argo Manor, rumah milik mendiang Ulysses Moore (that is, kalau Ulysses Moore benar-benar sudah mati). Orang tua Julia dan Jason pergi untuk mengurusi kepindahan mereka selama beberapa hari, jadi anak-anak ditinggal bersama pelayan tua yang misterius, Nestor. Ngomong-ngomong, kenapa ya setiap butler namanya selalu Nelson, atau Sebastian?

Anyway, satu seri kejadian kemudian mengantar mereka pada perkamen-perkamen yang ditulis dengan bahasa-bahasa rahasia. Buku ini memuat pantun-pantun teka-teki, yang untungnya dituliskan juga dalam Bahasa Inggris, karena sejujurnya terjemahannya tidak masuk akal. Dan seperti kisah petualangan anak-anak yang baik, buku ini juga memuat sesi berjalan dalam gelap, bersepeda menaiki bukit, dan kunci-kunci rahasia. Di akhir, mereka akan  menemukan kejutan, dan serangkaian kejadian yang membuat saya agak menganga. Ternyata ini memang buku fantasi, dan berlanjut dengan sekuel.

Kalau kekuatan aSoUE adalah plot, kekuatan Lima Sekawan dan The Mysterious Benedict Society adalah tokoh, saya harus bilang penokohan Ulysses Moore juga mengesankan. Saya benar-benar suka dengan ketiga tokoh utamanya. Sempat di seri The Name of This Book is Secret, penokohan itu diusahakan maksimal, tapi tidak…enchanting. Tapi Julia Covenant, Jason Covenant, dan Rick Banner benar-benar lucu dan menyenangkan untuk dibaca. Rick yang realistis dan pemimpin, Jason yang pemimpi dan selalu percaya, dan Julia! Tokoh favorit saya, anak perempuan yang mulutnya selalu melontarkan lelucon-lelucon sarkastis ala gadis kota yang selalu membuat saya terpingkal-pingkal. Rasanya refreshing melihat tokoh yang suka nge-mall, suka kehidupan urban, dalam petualangan yang mengharuskan dia masuk ke lorong-lorong lembab yang kotor dan gelap.

Pengarang buku ini, Pierdomenico Baccalario, saya tebak adalah seorang Italia. Latar belakang Ulysses Moore adalah Kilmore Cove, dan keluarga Covenant adalah keluarga pindahan dari London. Jadi, kisah ini terjadi di Inggris. Saya rasa hal ini sangat menarik, karena seri lain yang saya sempat baca, The Worlds of Chrestomanci: The Magicians of Caprona, berlatar belakang di Italia imajiner padahal ditulis oleh Diana Wynne Jones, seorang Inggris. Tapi mereka berdua berhasil dalam eksekusi penulisannya, jadi saya juga tidak akan banyak omong.




Ilustrator Ulysses Moore juga seorang Italia, Iacopo Bruno. Gambarnya benar-benar bikin tambah semangat membaca. Saya bersyukur Erlangga Kids tidak menghilangkan semua ilustrasi itu atau menggantinya dengan buatan lokal. BANZAI! Gaya-gaya sketchyilustratornya menambah feel cerita. Hanya saja di tengah ada ilustrasi kunci yang sama sekali tidak mirip dengan keseluruhan ilustrasi lainnya. Tampak seperti gambar kunci yang di Photoshop. Ini tambahan dari Erlangga Kids-nya sendiri, atau memang sang ilustrator yang keseleo?

Saya tidak bisa meletakkan buku ini ketika saya membaca. Ulysses Moore mungkin akan menjadi seri favorit saya berikutnya, dan tentu saja itu tergantung dari buku-buku selanjutnya yang saya baca. Erlangga Kids sudah menerjemahkan hingga buku kelima, sedangkan saya lihat dalam bahasa aslinya, Ulysses Moore sudah ada hingga buku kedua belas. Entah apakah Erlangga Kids akan menerjemahkan semuanya, tapi saya benar-benar berharap begitu. Rasanya aneh juga, kan, kalau tiba-tiba di tengah saya harus membeli versi terjemahan Inggrisnya.

Jadi, please please please, terjemahin sampai akhir, ya?

Side note: coba kunjungi website Ulysses Moore Indonesia, deh. Well-made banget. *tanda-tanda mulai nge-fans*

Rating:  

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...