Monday, June 24, 2013

[Novel Review] Chrestomanci #1 - Charmed Life by Diana Wynne Jones




Judul: The Worlds of Chrestomanci - Charmed Life (Eric Chant dan Korek Api Bertuah)

Pengarang: Diana Wynne Jones 
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Yohanna Yuni
Tanggal Terbit: Maret 2009 (original 1977)
ISBN: 9792244360
ISBN13: 9789792244366


Selamat Datang di Dunia-Dunia Chrestomanci, tempat sihir menjadi sesuatu yang seumum matematika - dan dua kali lebih merepotkan jika berada di tangan yang salah!


Semua orang mengatakan Gwendolen Chant adalah penyihir berbakat yang memiliki kekuatan menakjub-kan. Jadi gadis cilik itu tidak merasa heran ketika Chrestomanci mengajaknya tinggal di kastilnya untuk dididik bersama anak-anaknya sendiri. Gwendolen berangkat dengan antusias, yakin bahwa cita-citanya menjadi penyihir besar akan segera tercapai. Tapi adiknya, Eric (biasa dipanggil Cat) tidak begitu bersemangat, karena ia sama sekali tidak berbakat sihir.

Ternyata, hidup bersama Chrestomanci dan keluarganya tidak seperti yang dibayangkan Gwendolen maupun Cat. Bukannya dikembangkan bakat sihirnya, Gwendolen malah tidak diizinkan melakukan sihir sama sekali! Gwendolen berang dan sengaja unjuk kekuatan, sampai-sampai adiknya nyaris tewas gara-gara korek api bertuah!



----------------------------------------

Rating:  

Jadi, menurut Fenny....


Ini bukan pertama kalinya saya membaca buku dari Diana Wynne Jones. Sebelumnya, saya juga membaca buku dari seri yang sama, berjudul The Magicians of Caprona. Saya menyebutkan tentang buku ini dalam post saya yang lalu, dan ya, dalam buku itu, diambil setting di Italia. Tapi dalam Charmed Life, semua kejadiannya terjadi di Inggris.

Saya tidak akan mengomentari banyak tentang sampul dan keseluruhan jenis cetakan buku terjemahan yang saya baca. Bagi saya, untuk kisah yang bisa memikat hingga orang dewasa, segalanya dibuat jadi terlalu kekanak-kanakan. Tagline yang disediakan oleh GPU menyebutkan bawa seri Chrestomanci ini adalah seri yang menginspirasi J.K. Rowling untuk membuat Harry Potter. Kalau dalam The Magicians of Caprona saya tidak melihat koneksi yang terlalu dalam, ini jelas berbeda soal dengan Charmed Life. Saya hampir yakin penggambaran muggle yang takut menyebut nama Voldemort di Harry Potter ada kaitannya dengan Charmed Life. Di Charmed Life, sang Chrestomanci juga akan langsung datang dan merasakan kalau ada orang yang menyebut namanya.



Versi sampul Charmed Life yang saya suka.


Saya tidak tertarik menuliskan semua penjabaran hubungan antara Chrestomanci dan Harry Potter, jadi langsung saja saya akan ceritakan tentang Charmed Life sendiri. Tolong, seseorang kasih tahu saya kenapa terjemahan judulnya harus jadi 'Eric Chant dan Korek Api Bertuah'? Saya tidak mengerti. Memang, korek api bertuah itu adalah benda penting dalam cerita ini, tapi tidak sepenting itu juga. Saya kira akan ada adegan  lebih banyak di mana Eric menggunakan korek api ini. Mungkin akan seperti di Stardust-nya Neil Gaiman, yang tokohnya menggunakan korek api untuk berpindah tempat. Atau apalah. Tapi korek api di sini ujung-ujungnya hanya simbolis saja. Mungkin malah lebih cocok kalau judulnya menjadi 'Eric Chant dan kakaknya yang Psikopat.'

Kakak Eric, Gwendolen, adalah gadis badung biasa yang melakukan kejahatan-kejahatan remeh. Itulah yang awalnya saya pikir. Tapi seiring berjalannya cerita, ini bukan sibling rivalry biasa, tapi kriminalitas. Gwendolen ingin menguasai dunia. *menggunakan nada dramatis untuk kalimat terakhir yang baru saja saya tulis* Dan tahu nggak, apa yang lebih membuat saya lebih kesal dan sebal daripada Gwendolen?

TEBAK.

Eric Chant sendiri! Dia adalah tokoh utama yang sangat, amat, menyebalkan.

Jangan salah. Eric Chant sama sekali berbeda dengan kakaknya. Kenyataannya, dia adalah kebalikan penuh dari Gwendolen yang jahat. Eric penakut, tidak percaya diri, dan selalu mengekor kakak perempuannya ke mana-mana. Dia memilik hati yang terlalu baik, dan hal ini yang membuat saya sangat gemas. Setelah semua yang dilakukan kakaknya, dia masih begitu sayang dengan Gwendolen, merindukan kehadiran kakaknya itu. Seriously, Eric Chant? Masalahnya, spoiler alert, pada banyak poin dalam Charmed Life, Gwendolen berusaha membunuh Eric! Gwendolen jelas tidak peduli sama sekali dengan adiknya itu.

Di luar karakter Gwendolen dan Eric yang sukses membuat saya sebal, karakter-karakter lain dalam novel ini sebenarnya sangat menarik. Bahkan karakter-karakter sampingannya diberikan sifat menarik masing-masing. Juga ada tokoh-tokoh yang abu-abu, seperti Mrs. Sharp, penjaga Eric dan Gwendolen yang tamak dan serakah, tapi juga kesepian. Euphemia, pelayannya yang mukanya seperti katak dan pernah juga disihir betulan menjadi katak, yang memiliki hubungan benci-sayang dengan Gwendolen dan Eric. Roger dan Julia, anak dari Chrestomanci yang gemuk dan sebenarnya berhati baik, tapi juga badung dan sering terlibat pertengkaran yang berakhir dengan botol-botol marmalade yang berterbangan.

Chrestomanci sendiri, sebagai pusat dari kisah ini, adalah satu-satunya tokoh yang paling sering digambarkan fashion-nya. Hampir setiap kemunculannya di Charmed Life diikuti dengan deskripsi pakaian yang ia pakai. Bukannya saya protes, tapi saya harus mengakui hal ini agak mencolok. Tapi walaupun begitu, Chrestomanci juga tokoh yang tidak kalah menarik. Di tengah semua keagungan dan kesempurnaan yang digambarkan, di akhir Charmed Life ditunjukkan kalau dia juga adalah penyihir yang memiliki kelemahan yang sangat besar.

Yang paling membuat saya betah membaca seri ini tentunya adalah gaya bercerita Diana Wynne Jones yang lucu. Buku ini penuh dengan kelakar, baik diselipkan di dalam percakapan-percakapan atau dalam bentukan keadaan itu sendiri yang lucu. Banyak juga dialog pintar yang patut dikenang, seperti:

“Then watch out. I warn you!" 

"That is very considerate of you," said Chrestomanci. "I like to be warned.” 

Hal lain yang amat sangat menarik dari seri Chrestomanci ini adalah sudut pandang Diana Wynne Jones tentang sihir. Kalau dalam The Magicians of Caprona, orang menyihir dengan menyanyi, di Charmed Life diceritakan setiap orang memiliki metode menyihir sendiri. Ada yang dengan membuat simpul pada sapu tangan, dengan merajut, dengan membuat adonan kue, dan sebagainya. Kreatif sekali.

All in all, ini adalah buku lain yang tidak mengecewakan saya dari seri Chrestomanci. Saya tidak yakin saya lebih suka buku ini atau The Magicians of Caprona. Buku berikutnya dalam seri ini yang menunggu untuk saya baca adalah The Lives of Christopher Chant, bersetting 25 tahun sebelum Charmed Life, menceritakan tentang masa kanak-kanak Chrestomanci sendiri.

Kalau kamu seperti saya, suka terjemahan yang kental, sihir, dan lelucon-lelucon khas Eropa, buku ini patut dibaca.

3 comments:

-Indah- said...

Sukaa ama buku ini :D kayanya sih pemilihan judul terjemahannya itu biar terdengar mirips2 ma Harry Potter :))

Salam kenal yaa ;)

Fenny Wong said...

Iya kayaknya, supaya ada bertuahnya juga hahahah.. Salam kenal balik Indah ^^

Unknown said...

Mau doonk , saya baca yang korek api bertuuah dan jadi tertarik mengkoleksi buku ini.
Kalau di jual reply coment saya ya. uhuhu

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...