Sunday, June 9, 2013

[Cerpen] Putri Awan dan Putra Bintang



Menjulang di sisi Putri Awan, dua jarum rajut berdiri melebihi tinggi tubuh gadis itu. Ia menoleh ke arah kiri, melihat Kaisar Fajar yang belum juga muncul. Bagi Putri Awan, hari ini adalah alasan mengapa ia selalu merajut awan sepanjang hari, sepanjang tahun.

Ia tahu ia masih harus menunggu jam-jam terlewati hingga malam tiba, jadi Putri Awan terduduk lagi di sisi daratan awan. Dengan jarum rajutnya, dia mengambil awan yang terombang-ambing angin, lalu menyambungnya dengan daratan yang ia pijak. Ia takkan berhenti hingga mencapai Kerajaan Rembulan.

Putri Awan mendongak, melihat kerlip cahaya di tengah gelap dini hari. Terang, mati. Terang, mati. Banyak sekali. Seperti dirinya, Putra Bintang juga sedang bekerja, menjaring bintang-bintang. Cahayanya akan ia simpan di dalam botol-botol kaca, yang kemudian digunakan Kerajaan Rembulan untuk bersinar setiap malam.



Memikirkannya saja membuat Putri Awan bertambah rindu. Setiap kali itu terjadi, Putri Awan akan menambah kecepatannya merajut. Kerlip bintang menjadi acuannya. Ia selalu berpikir, jika kecepatan ini dipertahankan, daratan awannya akan segera mencapai Putra Bintang. Mereka kemudian akan bertemu, lalu turun ke bumi untuk hidup bersama.

Putri Awan bukan berkhayal. Hal itu bahkan pernah terjadi, walau tidak untuk waktu yang lama. Raja Embun segera menangkapnya dan memisahkan mereka. Raja Embun berteriak marah saat itu, membawa Putri Awan mendongak untuk melihat keadaan Kerajaan Embun tanpa kehadiran Putri Awan. Seiring hari berlalu, daratan Kerajaan Embun menjadi sempit dan kecil, berkurang bersama turunnya hujan. Jika Putri Awan tidak kembali, maka Kerajaan Embun akan musnah.

Sama seperti Putri Awan, kehilangan Putra Bintang membawa dampak besar. Kerajaan Rembulan tidak bisa bersinar lagi setiap malam, karena penangkap cahaya mereka sibuk berpacaran di bumi. Maka seperti itu, mereka ditakdirkan untuk terpisahkan. Dipaksa untuk menyerah pada takdir, melepaskan kasih.

Tapi tidak memupus harapan. Buktinya, Putri Awan terus merajut. Putra Bintang terus bersinar. Mereka selalu bermimpi untuk bertemu, bahkan jika hanya satu hari dalam satu tahun.

Malam ini adalah malam ketujuh dari ketujuh. Ada festival burung kertas yang diadakan di Balai Langit. Semua pergi ke sana, termasuk Raja Embun. Hanya saat itulah, Raja Embun akan lalai membentuk pelangi. Selama ini, pelangi itulah yang memupus awan-awan rajutan Putri Awan, menghalanginya mencapai Putra Bintang.

Putri Awan pernah ke festival burung kertas, jauh sebelum dia bertemu dengan Putra Bintang. Ada banyak sekali jenis burung yang dipamerkan di sana, tapi paling banyak adalah burung gagak. Putri Awan tidak merasa festival itu menyenangkan, karena dia pikir akan banyak burung phoenix kertas atau setidaknya bangau kertas. Raja Embun tidak berpikiran sama, karena ia tidak pernah melewatkan satu festival pun. Kabarnya, hanya dalam festival itu Raja Embun bisa bertemu dengan Ratu Rembulan. Mereka akan membuat partisi dari kertas-kertas, menghalangi pandangan Kaisar Fajar, suami Ratu Rembulan.

Ah, tapi itu tidak penting. Putri Awan terus merajut. Yang penting adalah, festival itu berjalan lancar. Tidak ada hujan. Dua tahun lalu hujan turun saat festival berlangsung, dan hasilnya adalah bencana. Putri Awan tidak bisa menyelesaikan rajutan awan-awan terakhir, karena tidak bisa melihat kerlip bintang yang tertutup mendung.

Tahun lalu terjadi hal yang lebih parah: hujan turun pada malam yang cerah. Awan rajutan Putri Awan sudah mencapai Kerajaan Rembulan, Putri Awan berlari menghampiri Putra Bintang. Tapi kemudian, Raja Embun melihatnya. Ia sedang kesal karena partisi bangau buatannya menjadi hidup dan terbang pergi setelah terkena tetes hujan. Lalu karenanya, ia bertengkar dengan Kaisar Fajar. Raja Embun yang sedang tidak gembira pun membuat pelangi yang memotong awan rajutan Putri Awan.

Putri Awan benar-benar hancur, karena di hadapannya ia bisa melihat Putra Bintang memanggil-manggil namanya, tangan mereka hampir menyentuh satu sama lain, tapi tidak bisa saling meraih.

Ah, Putri Awan terus melamun. Melamun hingga Kaisar Fajar muncul, berlari tinggi ke atas, lalu turun lagi ke bawah. Sejauh ini, cuaca cerah. Putri Awan bahkan bisa bersenandung sementara ia merajut. Sedikit lagi, sedikit lagi. Dia bisa melihat orang-orang berseru riuh di festival burung kertas, tidak jauh di belakangnya.

Kerlip bintang bertambah terang. Sudah hampir waktunya, ia mencapai Kerajaan Rembulan. Sudah lewat tiga tahun dari mereka terakhir bertemu, karena hujan pada dua tahun terakhir. Apa Putra Bintang juga merindukannya?

Memikirkan takdir mereka berdua yang sungguh tragis membuat Putri Awan menangis sambil merajut. Mengapa mereka tidak bisa seperti penghuni langit lain, hidup bahagia saling mencintai, bersama-sama? Mengapa mereka harus dipisah, berkorban untuk tempat tinggal mereka?

Air mata Putri Awan menetes. Satu, dua tetes. Lalu begitu banyak, hingga rambutnya basah, gaunnya menempel pada kulitnya. Itu bukan air mata. Ia menoleh ke atas.

Tahun ini, hujan lagi.

Putri Awan sedih sekali. Dia membiarkan jarum rajutnya tergeletak di sampingnya. Memeluk lututnya, Putri Awan meratapi nasibnya. Jika ini terus terjadi untuk ratusan tahun mendatang, apa ia masih bisa hidup? Orang lain bersama-sama sepanjang tahun, tapi kenapa dunia tidak memberikan satu hari saja untuk mereka?

Bangau-bangau memenuhi garis pandangan. Partisi Raja Embun tampaknya juga terkena tetesan air hujan. Tahun lalu, mereka berhasil menyelamatkan banyak burung kertas. Tapi kali ini, karena hujan lebih deras, hampir semuanya menjadi hidup dan beterbangan. Banyak sekali gagak, berkuak-kuak, melayang ke arah Putri Awan.

Masih ada kerlip di balik tetes hujan. Gagak-gagak itu semua menuju ke satu arah. Putri Awan berdiri dan tertegun. Burung-burung itu semua bergerak menuju cahaya yang selalu ia dambakan.

Maka Putri Awan melepaskan segalanya, membiarkan dirinya melompat-lompat di atas lautan burung gagak, berlari secepat yang ia bisa. Putra Bintang ada di ujung jalan itu, di pundaknya disampirkan jaring penuh bintang-bintang bercahaya. Ia membentangkan tangan lebar-lebar, senyumnya juga penuh kegembiraan.

Mereka pun bertukar peluk. Dan tiba-tiba saja, langit menjadi cerah kembali.

Begitulah hari ketujuh dari ketujuh terlewat untuk Putri Awan kali ini.

Tahun depan, mungkin ceritanya akan berbeda lagi.



-------


Catatan: Ditulis untuk Lomba Cerbul Kastil Fantasi Mei 2013.
Baca juga cerpen-cerpen Fenny yang lain untuk lomba yang sama:
2012 Agustus: Blanche Adnet
2012 September: Simfoni Dewata [winner]
2012 October: Neige Hiver

2 comments:

xeno said...

Awh, so sweet. :)

Oh, apa yang terjadi sama Raja Embun di akhir cerita sewaktu burung-burung kertasnya pergi, ya? ^^a

Fenny said...

@xeno:
Thanks for reading!
Kalo soal itu, perlu one different story altogether kayaknya, hahaha

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...