Sunday, June 30, 2013

[Novel Review] Call Me Miss J by Orizuka



Judul: Call Me Miss J.

Pengarang: Orizuka 
Penerbit: Nourabooks
Tanggal Terbit: April 2013
ISBN: 9786027816121

Tujuh alasan kenapa aku benci dipanggil Miss J: 
 7. Nama itu semacam pengingat kalau aku punya masalah penampilan. 
 6. Nama itu dikasih oleh orang yang paling kubenci sejagat raya. 
 5. Nama itu bikin aku ditertawakan seisi kantin. 
 4. Nama itu bikin aku terkenal (tidak dalam artian baik) dan jadi objek mading di sekolah. 
 3. Nama itu membuatku dihukum seminggu. 
 2. Nama itu bikin cowok yang kusukai bilang aku perlu berubah. 
 1. Praktisnya, nama itu bikin MALU. 

 Bisa bayangkan penderitaanku? Aku kan sudah kelas sebelas! Bagaimana aku bisa memulai romansa SMA-ku kalau terus menerus dipanggil Miss J?

--------------------

Rating:  

Jadi, menurut Fenny....

Siapa, sih, cewek yang nggak pernah berusaha berubah untuk cowok yang disukainya?

Well, admit it. Pasti ada bagian tubuh yang tidak kamu sukai, yang ingin kamu ubah, hanya supaya si cowok imut di klub basket yang kamu taksir melirikmu. We've all been there, done that. Tokoh utama Call Me Miss J., Lea, pun sama. Dia mati-matian melawan musuh terbesarnya dalam novel ini, jerawat, untuk mendapatkan perhatian Dimas. Dia juga benci sekali dengan kekurangannya itu karena dia dijadikan bahan tertawaan oleh mean cheerleader type of girl bernama Barbie, yang sekaligus adalah ketua OSIS diktatoris di SMA-nya.



Monday, June 24, 2013

[Novel Review] Chrestomanci #1 - Charmed Life by Diana Wynne Jones




Judul: The Worlds of Chrestomanci - Charmed Life (Eric Chant dan Korek Api Bertuah)

Pengarang: Diana Wynne Jones 
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Yohanna Yuni
Tanggal Terbit: Maret 2009 (original 1977)
ISBN: 9792244360
ISBN13: 9789792244366


Selamat Datang di Dunia-Dunia Chrestomanci, tempat sihir menjadi sesuatu yang seumum matematika - dan dua kali lebih merepotkan jika berada di tangan yang salah!


Semua orang mengatakan Gwendolen Chant adalah penyihir berbakat yang memiliki kekuatan menakjub-kan. Jadi gadis cilik itu tidak merasa heran ketika Chrestomanci mengajaknya tinggal di kastilnya untuk dididik bersama anak-anaknya sendiri. Gwendolen berangkat dengan antusias, yakin bahwa cita-citanya menjadi penyihir besar akan segera tercapai. Tapi adiknya, Eric (biasa dipanggil Cat) tidak begitu bersemangat, karena ia sama sekali tidak berbakat sihir.

Ternyata, hidup bersama Chrestomanci dan keluarganya tidak seperti yang dibayangkan Gwendolen maupun Cat. Bukannya dikembangkan bakat sihirnya, Gwendolen malah tidak diizinkan melakukan sihir sama sekali! Gwendolen berang dan sengaja unjuk kekuatan, sampai-sampai adiknya nyaris tewas gara-gara korek api bertuah!



----------------------------------------

Rating:  

Jadi, menurut Fenny....


Ini bukan pertama kalinya saya membaca buku dari Diana Wynne Jones. Sebelumnya, saya juga membaca buku dari seri yang sama, berjudul The Magicians of Caprona. Saya menyebutkan tentang buku ini dalam post saya yang lalu, dan ya, dalam buku itu, diambil setting di Italia. Tapi dalam Charmed Life, semua kejadiannya terjadi di Inggris.

Saya tidak akan mengomentari banyak tentang sampul dan keseluruhan jenis cetakan buku terjemahan yang saya baca. Bagi saya, untuk kisah yang bisa memikat hingga orang dewasa, segalanya dibuat jadi terlalu kekanak-kanakan. Tagline yang disediakan oleh GPU menyebutkan bawa seri Chrestomanci ini adalah seri yang menginspirasi J.K. Rowling untuk membuat Harry Potter. Kalau dalam The Magicians of Caprona saya tidak melihat koneksi yang terlalu dalam, ini jelas berbeda soal dengan Charmed Life. Saya hampir yakin penggambaran muggle yang takut menyebut nama Voldemort di Harry Potter ada kaitannya dengan Charmed Life. Di Charmed Life, sang Chrestomanci juga akan langsung datang dan merasakan kalau ada orang yang menyebut namanya.


Saturday, June 22, 2013

[Novel Review] Ulysses Moore #1: Pintu Waktu


Judul: Ulysses Moore: Pintu Waktu
Seri: Ulysses Moore #1
Pengarang: Pierdomenico Baccalario
Ilustrator: Iacopo Bruno
Penerbit: Erlangga for Kids
Tanggal Terbit: Edisi Terjemahan September 2006, original 2004
ISBN: 01-42-020-0

Jason dan Julia, sepasang anak kembar berumur 11 tahun, baru saja pindah dari London ke sebuah rumah besar yang ada di pesisir Inggris. Rumah baru mereka dipenuhi dengan terowongan-terowongan yang simpang siur dan perabotan-perabotan aneh dari segala penjuru dunia. Semuanya itu membuat mereka tidak sabar untuk segera menjelajahinya dan mengetahui semua rahasianya. 

Tak lama berada di rumah itu, Jason, Julia, dan teman mereka Rick, menemukan sebuah pintu misterius di balik sebuah lemari tua. Tapi, tidak ada satu pun kunci di rumah itu yang bisa membukanya. Ada apakah sebenarnya di balik pintu tersebut? Dan kenapa sepertinya ada orang lain yang sudah berusaha untuk membukanya tapi tak berhasil? Jason, Julia, dan Rick bertekad untuk memecahkan misteri ini, apa pun risikonya....

--------------------
Jadi, menurut Fenny....


Uh-oh, I know I’m a sucker for this kind of books.

Adventure, magic, and curious children. Makanya, seri-seri favorit saya seringkali berputar pada tema itu. A Series of Unfortunate Events dan The Mysterious Benedict Society contohnya. Yang kali ini saya ingin bahas adalah Ulysses Moore: Pintu Waktu. Sebagai orang yang dangkal, saya menikmati menggenggam hardcover yang bagus dengan ilustrasi-ilustrasi menarik yang menghiasi halaman-halamannya. Cetakan tulisannya pun tidak terlalu kecil hingga saya harus memicingkan mata membaca. Saya tidak perlu pikir panjang untuk langsung membeli (padahal, biasanya untuk buku begini saya lebih senang membaca versi terjemahan Inggris). Ada gambar kunci dan roda-roda gerigi --- nuansa steampunk --- and voila, I’m sold.


Sunday, June 9, 2013

[Cerpen] Putri Awan dan Putra Bintang



Menjulang di sisi Putri Awan, dua jarum rajut berdiri melebihi tinggi tubuh gadis itu. Ia menoleh ke arah kiri, melihat Kaisar Fajar yang belum juga muncul. Bagi Putri Awan, hari ini adalah alasan mengapa ia selalu merajut awan sepanjang hari, sepanjang tahun.

Ia tahu ia masih harus menunggu jam-jam terlewati hingga malam tiba, jadi Putri Awan terduduk lagi di sisi daratan awan. Dengan jarum rajutnya, dia mengambil awan yang terombang-ambing angin, lalu menyambungnya dengan daratan yang ia pijak. Ia takkan berhenti hingga mencapai Kerajaan Rembulan.

Putri Awan mendongak, melihat kerlip cahaya di tengah gelap dini hari. Terang, mati. Terang, mati. Banyak sekali. Seperti dirinya, Putra Bintang juga sedang bekerja, menjaring bintang-bintang. Cahayanya akan ia simpan di dalam botol-botol kaca, yang kemudian digunakan Kerajaan Rembulan untuk bersinar setiap malam.


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...