Sunday, May 5, 2013

[Novel Review] Believe by Morra Quatro


Judul: Believe (Karena Cinta Aku Percaya)
Pengarang: Morra Quatro
Penerbit: Gagasmedia
Tanggal Terbit: 2011
ISBN: 979-780-526-3

Sinopsis:
Kalau bagimu merindukanku adalah hal yang berat, harusnya kau mencoba bagaimana caraku merindukanmu. Kau adalah matahari yang menghangatkan pagiku, dan bulan yang menerangi selama tidur malamku. Tak bosan aku merapalmu dalam doa-doaku, berusaha mengetuk hati Tuhan supaya berbaik hati mengirimkanmu untukku. 

Tak perlulah kamu tahu berapa banyak air mata yang membasahi bantal saat khayalku terbawa dalam kenangan tentangmu. Dan, aku pun tak ingin kamu ikut sedih ketika tahu betapa dinginnya hari-hari tanpa senyummu.... 

Jadi, beri tahu aku, kapan kau akan kembali?Atau, haruskah aku lagi-lagi mengganggu Tuhan sampai Dia mengabulkan permintaanku?

--------------------------

Jadi, menurut Fenny....

Saya beli buku ini tanpa banyak ba-bi-bu. Setelah saya jatuh cinta dengan Forgiven (buktinya bisa dilihat dari review berapi-api saya di review Forgiven yang lalu), saya langsung ingin baca novel Morra yang kedua ini.

Believe lebih sederhana, lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Si laki-laki bernama Langit, berasal dari keluarga yang kental nilai agamanya. Si perempuan bernama Layla --- sering dipanggil Biru oleh kekasihnya, karena langit berwarna biru --- adalah anak dari profesor Statistika. Walaupun Langit bercita-cita menjadi sutradara, tapi keluarganya mengirimnya ke Kairo untuk belajar Islam. Maka, Langit dan Biru pun terpisah jarak. Mereka menilik orang-orang di sekeliling mereka, memetik inti sari kehidupan, dan belajar tentang arti cinta yang sebenarnya.


Karena itu, di novel ini, banyak tokoh lain yang dibahas. Sudut pandangnya pun berganti-ganti, hingga saya suka tidak sadar sebenarnya ini adalah kisah tentang Langit dan Biru. Di sisi lain, cerita tentang tokoh-tokoh lain ini bisa membaur menjadi satu kesatuan yang utuh. Tidak mudah untuk membentuk banyak karakter sekaligus dalam satu cerita, tapi Morra berhasil melakukannya.

Tapi, saya tidak bisa menikmatinya. Saya merasa saya seperti membaca sekumpulan cerita pendek. Di antara 'cerita pendek' itu, tentu saja ada yang menjadi favorit saya, seperti bab 'Bunda (Langit)'. Bab itu adalah bab yang dengan sangat jujur menceritakan tentang hubungan ibu-anak, dan perasaan ibu terhadap calon menantu. Tapi di kebanyakan bab lain, saya merasa saya sedang membaca sesuatu yang tidak relevan dengan ekspektasi saya... yaitu cerita utama Langit dan Biru.

Mungkin ini subjektif, tapi ada faktor yang sangat besar yang membuat saya tidak bisa larut ke dalam cerita. Saya menebak Morra mungkin ingin membuat perbedaan jika dibandingkan dengan Forgiven, hingga membuat sebuah kisah yang easier to relate to. Tapi saya malah bingung, karena banyak sekali kosa kata di Believe yang baru pertama kali saya dengar, seperti istigasah, Hadis, Masisir, muqoror.... Padahal saya merasa keasingan ini seharusnya bisa menjadi daya tarik, karena saya pun ingin belajar lebih banyak, dan tahu lebih dalam, tentang kehidupan orang-orang yang menyelami agama sebagai edukasi.

Saya merasa tidak adil untuk membandingkan Forgiven dengan Believe, karena kedua novel ini mengangkat cerita yang sama sekali berbeda. Tapi, saya merasa banyak aspek di Believe yang mirip, contoh yang paling mudah adalah tokoh Troy yang menurut saya serupa dengan William Hakim. Bahkan kalimat yang ditulis di sana pun serupa, "You know what, one day I'll really blow up the world." Sisanya tidak segamblang itu, kemungkinan besar saya mendapat kesan mirip karena tema scientific yang tercecer di sana-sini di Believe (karena toh ayah Layla profesor).

Di luar itu semua, saya merasa Morra tahu apa yang sedang ia tulis. Penggambaran keadaan di Jepara hingga Kairo benar-benar believable hingga saya bertanya-tanya apa Morra sendiri pernah ada di sana. Salah satu quote favorit saya dari buku ini adalah:

“Pada saat kamu jatuh cinta, jatuh cintalah. Karena mungkin setelah itu, kamu tidak akan jatuh cinta sedalam itu lagi.”  -- Believe by Morra Quatro


Rating:  

2 comments:

dianmayy said...

Halo mbak Fenny, saya setuju dengan review-nya. Believe memang sama sekali berbeda dengan Forgiven. But still, novel ini memorable buat saya. Ah, saya suka semua tulisan Morra Quatro. Hahaha

Oh iya, sudahkah membaca Notasi? saya jamin mbak Fenni akan menghabiskan berlembar-lembar tisu (lagi) saat membaca novel itu. :)

Fenny Wong said...

Hai dianmayy, makasih udah baca reviewnya!
Iya saya belum sempet aja nih beli Notasi. Nanti deh, kalau mood yg mellow2, saya baca itu heheheh

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...