Tuesday, April 16, 2013

[Novel Review] Forgiven by Morra Quatro


Judul: Forgiven
Pengarang: Morra Quatro
Penerbit: Gagasmedia
Tanggal Terbit: November 2010
ISBN: 9797804321

DIALAH YANG PERTAMA.
 Maniak Fisika. Pengagum Albert Einstein. Setia kawan. Si iseng dan suka usil, kalau sisi kekanak-kanakannya sedang kumat. Karla bisa menyebutkan sederet lagi hal unik tentang Will. Betapa tidak, selama bertahun-tahun, laki-laki itu adalah sahabat terbaiknya. Dan bagi Will, dia adalah tempat berbagi rahasia dan mimpi-mimpi yang tak sembarang orang tahu. Namun, siapa sangka, ternyata itu tak cukup untuk membuatnya merasa mengenal laki-laki itu.

 DIALAH SATU-SATUNYA. Takada yang bisa menggantikan Will. Ke mana pun dia pergi, dengan siapa pun diaakrab, Will tetap yang paling spesial. Seperti bintang Polaris yang selalu berada di utara Bumi, demikianlah keberadaan Will di hati Karla. Selamanya.

 DIA, YANG TAK TERLUPAKAN. Kepergian Will tak ubahnya bagaikan El Nino—memporakporandakan hati Karla habis-habisan.Jarak membuat rindu Karla merajalela. Dia kehilangan bagian terbaik dalam hidupnya. Tapi perasaan kehilangan itu tak seberapa dibanding rasa kaget saat mendengar berita buruk tentang Will. Karla mendengarkan suara hatinya sekali ini—dia tak akan membiarkan Will menghadapi semua itu seorang diri....

 FORGIVEN, sebuah kisah tentang lelaki pemuja Champagne Supernova dan perempuan yang selalu menanti bintang itu.

---------------------------------------------
Jadi, menurut Fenny....

Sebenarnya saya menyelesaikan novel ini sekitar satu atau dua minggu yang lalu, tapi baru sempat menulis review lengkapnya sekarang. Beberapa bulan ini saya memang kurang aktif di blog, karena --- seperti yang bisa ditebak --- kuliah sudah mulai lagi sejak Januari lalu. Jadi saya memilih vakum untuk nulis review-review, kecuali buku seperti Forgiven ini. Ada efek pasca membaca yang cukup besar pada diri saya, yang mendorong saya untuk menceritakan kesan saya terhadap novel ini.



Fisika. Itu adalah tema utama Forgiven. Saya bukan anak sains --- saya lebih suka ilmu sosial dan bahasa. Angka membuat saya sakit kepala, dan kekuatan saya memang terletak pada hapalan. Tapi saya tidak merasa terganggu dengan tema ini, karena Morra menyajikannya tanpa kesan menggurui. Narasinya cerdas, seringkali melankolis, selalu mengalir. Saya cukup terkesan dengan prolog pembukanya yang memberi kesan BHAM! in your face. 



Alfred Hitchcock pernah berkata, sesuatu yang kautahu akan datang lebih menakutkan daripada yang kau tidak tahu. Di prolog, telah diceritakan Will itu dipenjara, dan serangkaian kejadian yang akan dipaparkan sepanjang perjalanan membaca Forgiven ini. Itulah yang memberikan saya suspens, mendorong saya untuk membuka lembar demi lembar, sembari berharap kejadian mengerikan takkan terjadi di paragraf berikutnya.

Karakternya. Oh, saya tidak bisa melewatkan itu. Karakter dalam Forgiven adalah salah satu karakter yang paling kuat dari novel-novel lokal yang pernah saya baca. William Hakim itu kompleks, tipikal anti-hero yang memiliki banyak lapisan dan dimensi. Sulit dimengerti, terkadang menyebalkan, tapi tetap loveable. Membuat saya bertanya-tanya mengapa saya menyukainya, padahal begitu banyak kekurangan yang ia punya. Tetapi justru karena semua kekurangan dan ketidaksempurnaan itulah, dia begitu menarik.

Forgiven itu sebuah kisah asmara, tentu saja, apalagi karena dituturkan dari sudut pandang Karla, si tokoh utama perempuan. Tapi di balik semua melankoli ini, cerita yang disajikan itu bukan cinta melulu. Lebih penting daripada cinta, ada makna yang dalam tentang penyesalan, pengampunan, dan pendewasaan. Ada sepenggal kata-kata dalam Forgiven yang bermakna, di mana Morra bertutur ada poin-poin dalam hidup yang mengharuskan manusia mengambil keputusan. Dan setelah mereka mengambilnya, mungkin hidup mereka akan berubah sepenuhnya. Setelah itu, tidak ada kata kembali, dan yang tersisa adalah penyesalan.

Dan yang dapat mengangkat seseorang dari penyesalan itu... hanyalah kata maaf.

Saya merekomendasi Forgiven untuk semua orang yang ingin bacaan yang beda, berbobot, dan mengaduk-aduk perasaan. Halaman-halaman terakhir Forgiven terlalu miris --- dan sukses membuat saya menghabiskan berlembar-lembar kertas tisu.

Cheers untuk Morra, saya akan mencoba Believe setelah ini.

Rating:  

2 comments:

Orinthia Lee said...

Woah nice review.. aku jadi ingin baca, Fen! :"D

Fenny Wong said...

@orin: hehe makasih orin, iya coba baca deh, aku sih suka banget ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...