Tuesday, April 23, 2013

[Novel Review] Blue Romance by Sheva




Judul: Blue Romance: Setiap Kisah Punya Kopinya Sendiri
Pengarang: Sheva
Penerbit: Plotpoint
Seri: Omnibook Series
Tanggal Terbit: September 2012
ISBN: 978-602-9481-16-7

Selamat datang di Blue Romance, sebuah coffee shop yang buka setiap hari, dan mungkin kau lewati hari ini.

Blue Romance menyediakan kopi ternikmat dan sahabat saat kau dituntut untuk terus terjaga. Blue Romance juga punya banyak cerita. Ada kisah jatuh cinta dan patah hati, perpisahan dan pertemuan kembali. Kisah-kisah ini berbalut kafein dan aroma kopi, berderai tawa dan tangis, di sela desis coffee maker.

Seperti Latte, Affogato, Americano, dan Espresso, setiap kisah punya kopinya sendiri.

Kisah mana yang cocok dengan kopimu?

-----------------------------

Jadi, menurut Fenny...

Sebenarnya saya beli Blue Romance bukan karena alasan-alasan tipikal. Bukan karena kavernya yang terlihat seperti hand-drawn art yang saya suka. Bukan juga karena sinopsisnya yang 'mengundang'. Dan sejauh ini, review di lapak Goodreads-nya pun oke-oke.

Baik. Saya ngaku. Saya beli Blue Romance demi research untuk naskah saya yang baru.

Saya nggak tahu kenapa, tapi suatu hari kira-kira dua minggu yang lalu, saya merasa kayak ada petir yang nyamber, dan tiba-tiba saja saya duduk dan menulis sebanyak 6.500 kata dalam sehari. Saya tahu, sih, seharusnya saya lanjutin Atelier dulu. Tapi, saya nggak bisa nampung semua ide yang overwhelming itu dalam otak saya. 

Hubungannya sama Blue Romance? Ya, naskah kesamber petir saya ini (yang kini sudah 18.000-an kata) bertemakan kafe dan kopi.


Saya agak-agak takut, tadinya, kalau-kalau ceritanya mirip sama Blue Romance. Tapi saya tetep penasaran, sejauh apa sang penulis mengerti tentang kopi, dan bagaimana dia menalikannya dengan keseluruhan cerita. Saya kira Blue Romance itu sebuah novel utuh, tapi ternyata buku ini adalah kumpulan cerpen, yang diikat satu tali utuh --- ada satu atau seluruh adegannya berlatar di kafe Blue Romance. Saya sempat baca review yang bilang kalau Omnibook Series yang dibuat oleh Plotpoint itu memang mengangkat tema seperti itu: berbagai cerita dengan satu penghubung.

Berbeda dengan judulnya, cerita di dalamnya tidak melulu cerita cinta. Dan tidak melulu mendayu biru. Ada yang manis, ada yang mengharukan --- ada yang memang roman, ada yang slice-of-life. Favorit saya mungkin adalah Blue Moon, yang mengisahkan tentang Edi, si barista Blue Romance yang kebagian shift malam. Satu kutipan darinya yang mengena, yang bahkan pernah saya bagi di Twitter:

"Surabaya membuatku senang walau terkadang bosan, Jakarta membuatku bosan walau terkadang senang." -- Blue Romance, Sheva
Para ekspatriat dan orang yang jauh dari 'rumah' pasti mengerti kenapa saya suka kutipan ini. Ini adalah perasaan saya terhadap Bandung dan Singapura. Ceritanya simpel, tapi mengharukan. Realistis dan tidak muluk-muluk. Kalau diibaratkan... mungkin seperti a good cup of Americano?

Tapi sayang cerita simpel seperti ini tidak ada di semua cerpen. Happy Days, misalnya, menurut saya terlalu dramatis untuk kumpulan cerita ini. Sedangkan Rainy Saturday, 1997-2002, dan A Tale about One Day adalah kisah-kisah yang manis, agak seperti gula kapas --- kemanisan untuk menemani secangkir kopi. But nonetheless, I have sweet tooth, so I don't mind.

Kalau saya tidak terlalu suka Happy Days tapi suka Blue Moon, dua cerpen sisanya yang belum saya sebutkan adalah The Coffee and Cream Club dan A Farewell to A Dream. Untuk saya, yang pertama tidak meninggalkan kesan yang mendalam, hingga bahkan ketika saya menulis review ini, saya tidak terlalu ingat kisahnya tentang apa, dan harus membuka halamannya lagi. Tapi A Farewell to A Dream berbeda --- cerpen yang ini adalah cerpen roman favorit saya, jika dibandingkan dengan tiga cerpen lainnya yang saya deskripsikan mirip gula kapas. Yang ini pas, seperti butter scone yang menemani Earl Grey di sore hari. Saya suka.

Gaya menulis Sheva impresif, karena dari sana saya bisa melihat kepiawaiannya dan kecerdasannya. Ada beberapa hal yang ingin saya protes, seperti penggunaan terlalu banyak judul buku atau perbandingan dengan artis atau film, yang menurut saya agak pointless untuk orang yang tidak mengetahui buku / artis / film yang dimaksud. Tapi, penuturannya begitu dewasa, rapi, dan runut; seperti pujangga yang tidak bermaksud untuk jadi puitis, tapi tetap memikat orang dengan kata-katanya.

Kesimpulannya? Saya suka buku ini, saya tidak bisa berhenti membacanya. Mungkin saya seharusnya tidak complaint terlalu banyak, toh kehidupan itu mirip dengan 'rasa' cerpen yang disajikan dalam Blue Romance. Kadang membekas, kadang tidak berkesan. Kadang sangat manis, kadang pahit-pahit getir. Kadang ringan, penuh aroma kopi --- tapi kadang berat, basah dengan air mata.

Mungkin sekarang saya perlu berhenti membuat-buat alasan dan mulai menulis naskah saya lagi. :)

Rating:  

2 comments:

Rhein said...

Setahu saya, ada novel baru yang bertemakan kopi terbitan bentang pustaka.. The Coffee Memory atau The Coffee Romance.. agak lupa..

Mungkin bisa untuk referensi.. Selamat melanjutkan menulis, mba Fenny :)

Fenny Wong said...

@Rhein: Wah, makasih masukannya. Udah aku masukin wishlist, daftar to read berikutnya. ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...