Monday, February 18, 2013

Sneak Preview: Atelier

What I'm writing right now, for the sake of justifying my disappearance. Please do forgive, and tell me what you think. :)

Love, Fenny.


-----------------------------

Atelier
jahitan benang masa lalu

Satu
Teh Tawar Panas

Impian banyak gadis kecil adalah memakai gaun indah dan dipinang pangeran tampan. Impian Delta adalah menjadi ibu peri mereka.
Hanya dengan sentuhan, Delta bisa membedakan antara sutra campuran dan sutra murni. Ketika memotong kain, salah satu pisau guntingnya akan menyentuh meja, menjaga kestabilan dan keseimbangan. Berkali-kali ia akan memasang karya yang ia buat ke manekin, lalu mengambil beberapa langkah mundur. Apa jatuhnya sudah sempurna? Bagian mana yang kira-kira perlu perbaikan?
Kebanyakan waktu ia akan menggeleng dan mendesah. Ketika gestur itu terlihat, para karyawan dan tukang jahitnya pun ikut lemas. Delta akan melepas gaun itu dan memulai lagi dari awal.
Tidak mudah memuaskan seorang Delta. Bekerja di Atelier Delta memerlukan dedikasi. Anehnya, tidak perlu paksaan agar orang-orang memberikan semua ketekunan itu. Semua orang yang pernah mencoba menjahit sesuatu akan mengerti. Tidak peduli berapa lama, jika ketika manik terakhir dijahit gaun itu memukau, maka segalanya akan terbayar.

***


Atelier Delta adalah satu-satunya rumah mode di Bandung yang menarik begitu banyak orang dari Nusantara. Pesaing-pesaingnya kebanyakan berada di Jakarta, dengan pengecualian Anne Avantie yang membuat karya-karyanya di Semarang. Pelanggan Delta adalah perempuan dari remaja akhir hingga dewasa. Jika mereka menyukai desain yang indah dan timeless, maka kemungkinan besar mereka akan suka dengan Atelier Delta. Sejujurnya, siapa yang tidak suka keindahan, apalagi yang tidak dikekang waktu?
Melangkah masuk ke lantai satu, pelanggan akan disambut dengan ruang yang luas dengan sofa-sofa empuk di tengah. Di bagian belakang disiapkan kamar pas dengan kaca-kaca tinggi dan lampu-lampu sorot. Di kanan-kiri berjajar gaun-gaun, dipisah berdasarkan warna, diurut berdasarkan event. Gaun untuk cocktail party di depan, untuk black tie events di tengah, white tie events di paling belakang. Semuanya tersedia dalam ukuran UK 8, 10, dan 12. Untuk ukuran yang lebih kecil atau lebih besar, disediakan formulir pemesanan.
Dari waktu ke waktu, Atelier Delta mengeluarkan koleksi terbatas yang hanya tersedia satu buah saja. Salah satu dari koleksi inilah yang pernah dipakai oleh Aurelie Belrose, model dan aktris asal Perancis.
Gaun itu muncul di banyak majalah Nusantara. Warnanya abu dengan sinar keunguan. Tertutup di bagian depan, turun hingga ke batas pinggang di bagian belakang. Kainnya agak kaku, sutra tafeta, sempurna untuk membuat ball gowns. Ornamen yang menghiasinya adalah bordiran motif barok yang menutupi bagian bawah roknya yang menggembung dramatis.
Sebagian menyebutnya elegan, yang lain menyebut Delta beruntung. Yang jelas, nama Atelier Delta sontak melambung sejak itu. Tiga tahun saja sejak Atelier Delta didirikan, orang-orang mancanegara telah tahu nama Danika Delta Agastyana. Dua puluh empat tahun, lajang, perfeksionis, dan ambisius.
Sayangnya terkadang Delta lupa akan dirinya sendiri. Apalagi ketika ia tenggelam di dalam lautan kain dan manik-manik kristalnya. Melewati waktu hari demi hari, hingga resepsi pernikahan menyadarkannya. Selalu menyadarkannya.
Ada impiannya yang sampai saat ini belum terkabulkan. Ya, dia memang sudah pernah membuat sebuah gaun pernikahan — sebagai penutup fashion show kelulusannya dari universitas di Singapura 4 tahun yang lalu. Namun gaun itu bukanlah gaun yang dapat memenuhi impian Delta. Ia ingin membuat sebuah gaun yang dibawa melenggang ke resepsi pernikahan. Mentransformasi Cinderella-nya secara sempurna, dengan menikahkannya dengan Pangeran Kuda Putih. Dan di dalam gaun buatannya lah Cinderella-nya akan berakhir bahagia selamanya.
Sudah banyak yang memesan gaun pernikahan pada Delta, tapi tidak pernah ia terima karena pekerjaan sehari-hari Atelier Delta sudah cukup banyak. Tiga tahun terakhir ia fokus agar Atelier Delta dapat berjalan layaknya perusahaan garmen ready-to-wear. Kini sistem Atelier Delta telah stabil, dan Delta pun berpikir sudah saatnya ia membuka lini Atelier Delta Wedding.
Untuk itulah lantai dua dan tiga di Atelier Delta dirombak ulang. Mesin-mesin jahit dan meja-meja panjang dipindahkan ke lantai tiga, sementara lantai dua dikosongkan untuk gaun-gaun putih yang belum ada.
Perjalanan panjang harus diawali permulaan. Delta tahu, segera setelah ia mengangkat kaki dan menjejakkan langkah pertamanya, ia takkan berhenti berlari.

***

“Atelier Delta Wedding? Akhirnya kamu bikin juga, nih?” Rafa mengulang kata-kata Delta, menatap kekasihnya dengan gembira.
Mata besar gadis itu tampak berbinar-binar. Dia memang tampak paling cantik ketika gembira. Apalagi ketika Delta tersenyum — sebuah lesung pipit besar muncul di sisi pipi kirinya, seakan pilih kasih dengan sisi lain wajahnya. Warna favoritnya adalah putih, seperti terusan tanpa lengan yang ia gunakan sekarang. Rambut lurusnya yang hanya jatuh sedagu, berkejaran dengan anting-anting royal blue dengan aksen emas.
Rafa menyukainya, menyukai segalanya. Dan itu sering membuatnya terlampau sadar diri. Apa potongan rambutnya sudah up-to-date? Apa kaus yang baru ia beli terlihat norak? Sebagai kekasih salah satu desainer ternama, Rafa merasa memiliki tanggung jawab besar.
Padahal, Delta sudah berulang kali memberi tahu Rafa ia tidak pernah ambil pusing. Rafa sudah terlihat cukup tampan dengan bingkai kacamata putihnya itu. Seperti kini, ketika Delta merasa Rafa mulai terlalu sadar diri lagi. Dia memuji penampilan Rafa sebelum mencomot sebuah pisang molen dari kotak Citra Selera di hadapannya.
Rafa tersenyum balik, menyisip segelas teh tarik. Hari itu adalah Sabtu sore, dan mereka selalu berada di Kafe Navagraha. Yang dinikmati Rafa setiap minggunya biasanya berbeda-beda, tapi Delta selalu meminum teh tawar hangat. Delta tidak pernah mau makan kue dari toko mana pun kecuali Citra Selera. Semua ini adalah kebiasaannya sejak SMA.
Mereka telah kenal lama. Empat, tujuh, sembilan tahun? Tidak perlu ditanya, awal perkenalan mereka adalah karena empat potong pisang molen yang dibekalkan untuk Rafa saat MOS kenaikan SMA.
Delta mengunyah, pelan dan terkesan agak ragu-ragu. Bukan karena ia tidak yakin pisang molen itu enak — ia sudah memakannya ratusan kali — tapi lebih karena ia ingin menikmati rasanya.
Ah, tidak aneh Citra Selera selalu penuh dengan bus-bus turis luar kota setiap harinya.
“Kamu seneng?” Delta mengangkat alis, “Bukannya kamu yang selalu ngotot bilang kalau aku terlalu sibuk? Nggak takut aku jadi tambah sibuk setelah lini ini jalan?”
“Aku nggak melebih-lebihkan, kok,” Rafa berkata. “Nanti malem mau ke mana? Nonton film yuk di bioskop. Kapan sih kita terakhir nonton bareng?”
“Ini pertanyaan untuk membuktikan kalau kamu itu nggak berlebihan?” Delta tertawa. “Rafa, kamu kan tahu aku bakal balik lagi ke Atelier.”
Rafa tertawa. Ia sama sekali tidak repot-repot mengingatkan Delta bahwa hari itu adalah malam minggu.
“Tadi Kiara salah potong kain. Sutera Shantung yang aku simpen untuk koleksi terbatas musim depan sekarang udah kepotong jadi dua. Padahal aku harus pakai Shantung itu untuk buat pesanan ukuran spesial. Aku hampir pingsan kalau tadi Daniel nggak mampir.”
Gerakan jemari Rafa pada pinggiran gelasnya pun terhenti. Ia bertanya lamat-lamat, “Daniel mampir tadi?”
Delta mengangkat alis. Ia berkata seolah ia tidak menyadari perubahan nada Rafa, “Katanya ada Fashion Exchange yang mau diadakan di Bandung, dengan desainer-desainer Asia yang bakalan tampilin koleksi mereka—”
“Terus?” Rafa masih tampak terganggu.
“Terus Atelier diundang untuk show. Daniel kasih kabar soal itu, dan aku sudah setuju. Aku bakal launch lini baru aku di sana,” kata Delta, kini meraih tangan Rafa, menepuk-nepuknya. Nada suaranya melunak, “Minggu depan harusnya kain-kain yang aku pesan dari Hongkong udah datang. Sebagian sketsa udah jadi, tinggal dicocokin dengan kainnya.”
Rafa mengangguk-angguk, tampak lebih tenang. Ia menggenggam balik tangan Delta.
“Mungkin aku harus tambahin beberapa desain kebaya. Mau nggak mau aku harus sadar ini Indonesia, bukan luar negeri. Ngomong-ngomong soal kebaya, aku—....”
Delta terpotong di tengah kalimat. Dengan tergesa-gesa dia membalikkan badan untuk mengambil tas selempangnya yang tergantung rapi di sandaran kursi. Delta menyampingkan kotak kue dan tehnya. Sebagai gantinya, sebuah buku sketsa kini terbuka. Dari salah satu kantung tas Delta mengeluarkan kotak pensil kain kecil yang berisi pensil H dan 2B. Lalu ia pun mulai menggambar.
Rafa menyandar pada kursinya. Inilah konsekuensi berpacaran dengan seorang Delta. Ia harus selalu berbagi — dengan pensil, gunting, hingga mesin jahit. Tapi semua itu tidak apa-apa... selama lelaki di hidup Delta adalah Rafa seorang. Itulah yang selalu ditanamkan Rafa ke dalam pikirannya, dan yang membuat dirinya selalu sabar bertahun-tahun ini.
Hanya sekejap sketsa kebaya itu selesai. Delta sudah sibuk memasukkan bukunya kembali, ketika tatapannya tertumbuk pada majalah yang diselipkan di sampingnya. Ia kemudian membukanya dan membaliknya ke arah Rafa, memecah lamunan Rafa.
“Ini. Mukanya biasa aja, tapi lumayan ayu khas Jawa. Badannya biasa aja, mirip badanku malah. Tapi bukan itu yang penting. Dia punya style. Yah, style-nya tidak selalu konsisten. Agak-agak... glamor, tapi dark dan sangat European. Kebetulan untuk koleksi pertama liniku aku pingin usung tema yang agak gothic.
Halaman yang ditunjukkan Delta mencetak nama si fashion blogger, Kenanga Maharrani, besar-besar di tengah dengan warna kuning. Rafa hampir merasa dia mengerti semua yang Delta bicarakan, karena terlalu banyak mendengar istilah-istilah dunia fashion dari Delta. Ia bertanya, “Tema gothic? Untuk kamu yang suka banget kefemininan dan keeleganan, kok kedengerannya aneh.”
“Jangan pikirin gothic itu sama dengan kostum Halloween, Raf. Pikirin kayak semacam Givenchy. Lagian aku nggak akan buat yang terlalu ‘gelap’.”
Rafa pun menyerah. “Aku nggak ngerti kamu ngomong apa. Ya udah, terus emang kenapa si Kenanga-Kenanga ini? Kamu mau pasang iklan terus suruh dia endorse?
“Yang lebih seru, lebih nggak pasaran, tapi lebih menekan biaya dibanding masang-masang iklan,” mata Delta berkilat.Ia kemudian membalikkan halaman majalah.
Foto-foto Kenanga yang kemudian dipasang di halaman yang baru terlihat berbeda. Kebanyakan adalah foto candid, seakan-akan ada paparazzi yang mengikuti dia. Tentunya berusaha menguak kehidupan personal. Tidak ada satu pun dalam foto-foto itu yang menunjukkan wajah pasangannya.
“Dia kemarin aku hubungin, dan setuju mau bikin web video series di Youtube tentang persiapan pernikahan dia. Dan aku bakal jadi yang ngesponsorin gaun dia, untuk resepsi dan foto pre-wedding,” kata Delta menyerocos bersemangat tanpa mempedulikan Rafa yang bengong. “Tapi beneran deh, yang perlu dia lakuin cuma diliput ketika fitting, nge-post foto-foto dengan label bajuku ke Instagram, dan ngepromosiin terselubung. Nggak aneh kalau dia mau.”
“Kamu udah ngelakuin itu semua?”
Delta mengangguk. “Aku udah cek Youtube dia — rata-rata sekitar 100ribu view setiap video, lumayan, kan? Dia juga pernah disponsori Coach untuk promosi. Sekarang, aku tinggal sibuk siapin ajuan ide gaun. Dia bakal datang... mungkin minggu depan. Kamis? Kuharap nggak bentrok sama appointment lain, deh.”
“Kamu baru bilang ke aku kamu mau bikin lini baru itu hari ini. Bukan cuma udah pilih dan pesen kain dari Hongkong dan ngatur fashion show, tapi kamu juga udah booking cewek ini untuk endorsement?”
“Rafa, cewek ini udah ditawarin entah berapa banyak sinetron. Untungnya dia nggak cukup picisan untuk ngegarap yang begituan. Aku nggak bakal mau pilih dia, kalau taruhannya itu imej Atelierku, kan?”
“Bukan itu maksudku,” Rafa menggeleng. “Kamu itu nggak pernah ragu-ragu, ya? Nggak pernah berhenti untuk melihat sekeliling? Kamu terlalu cepet, Delta. Aku jadi takut nggak bisa ngejar kamu.”
Delta mengedikkan bahu sambil tersenyum bangga, tampaknya tidak menyerap kekhawatiran yang dipancarkan Rafa. Jemarinya membuka kotak Citra Selera lagi, kali ini mengeluarkan nagasari dan mengunyahnya.
“Kamu udah diwarisin toko dengan kue seenak ini. Seterkenal ini. Bus-bus pariwisata baris di depan gerbangmu tanpa harus susah-susah cari endorser atau pasang iklan. Aku? Aku mulai dari bawah. Jelas aku yang harus ngejar kamu,” kata Delta. “Lagipula, tentang lini ini, aku udah mikirin lama banget. Kamu tahu soal itu, kan?”
Rafa pun terdiam, melihat Delta memakan bika ambon pandan bakar. Tingkah Delta seperti anak kecil di toko permen — dan mungkin hanya Rafa yang bisa membuatnya begitu. Hati Rafa agak tenang menyadari hal itu.
Dia melihat foto Kenanga di majalah. Sebuah senyum kecut muncul di wajah Rafa. Hatinya bertanya-tanya, pernahkah Delta menimbang kemungkinan di mana Delta sendiri yang mengenakan gaun pernikahan itu?
Bukan hanya untuk promosi lini terbarunya, tapi juga untuk Rafa?

***

Sebenarnya bahasa Indonesia dari Atelier adalah lokakarya, tapi Delta benci menyebutnya seperti itu. Kurang glamor, kurang fashionable. Lagipula, bahkan di lantai tiga tempat gaun-gaun dibuat dan kain-kain disimpan, tempat itu masih rapi, teratur, dan bersih. Masih pantas untuk menyandang kata Perancis itu.
Kain-kain disampingkan berdasarkan koleksi per musim. Setiap rak diberikan kode alfabet dan angka, yang kemudian didata secara detail. Berapa jenis kain yang ada di sana? Apa subtansi setiap kainnya? Berapa meter yang tersisa di setiap gulungannya? Ketika koleksi telah terlewat empat musim, kain-kain yang tersisa akan dijual, supaya kain baru memiliki tempat. Sebagian yang dipilih Delta akan disimpan di rak khusus.
Ada enam mesin jahit, satu mesin lubang kancing, dan satu mesin obras. Tidak banyak, tapi cukup untuk menuntaskan segalanya. Jika pesanan mendesak, Delta punya nomor tukang-tukang jahit yang bekerja untuk rumah mode lain, menerima pesanan lepasan. Ia bisa berjalan seperti ini sekarang, tapi tidak setelah lini barunya muncul. Ia harus mencari rumah mode lebih kecil yang menerima maklun kualitas tinggi — yang tahan dengan semua permintaan mendetil Delta. Mereka kemudian akan menangani produksi sementara Delta dan timnya akan sibuk membuat sampel dan koleksi terbatas.
Ada sebuah lemari dengan empat pintu yang berdiri di pinggir. Dikunci oleh Delta, hanya perempuan itu yang mengetahui jelas apa isinya. Rak-raknya diberi kode seperti rak kain. Tapi alih-alih kain, raknya menyimpan manik-manik dan kristal, ditempatkan di dalam kotak-kotak bekal berlabel.
Di sisi lemari yang lain, ada palang yang penuh dengan gantungan kayu. Penjepit-penjepitnya menahan agar karton-karton pola tidak berjatuhan. Yang disimpan di sana adalah pola-pola dasar yang berharga — modal Delta untuk mendapatkan potongan yang sempurna. Sampai mati pun takkan ia berikan pada rumah mode saingan ateliernya.
Delta sedang menata gulungan-gulungan benang berdasarkan warnanya ketika sadar ia sudah keterlaluan. Ia berhenti, mendesah, teringat untuk menghentikan kebiasaannya yang super-teratur itu.
Sebagai gantinya ia mengeluarkan ponselnya, membuka Google dan melihat sekali lagi trend gaun pernikahan. Delta pun mulai membayangkan gaun seperti apa yang akan cocok pada tubuh Kenanga. Bagaimana kalau dengan lace, seperti gaun yang dikenakan Grace Kelly ketika dia menjadi Putri Monaco dulu? Tapi mungkin potongannya terlalu kuno, jadi....
Jari Delta berhenti menge-scroll ponselnya. Ia bersandar, tangannya menyentuh permukaan sutra Shantungnya yang dingin terkena terpaan AC. Lagi-lagi, gambar gaun-gaun pernikahan yang baru Delta lihat di internet membangkitkan masa lalu. Untuk entah keberapa kalinya sejak ia mulai menggarap lini barunya ini. Setiap kali ia harus berhenti sejenak, meminum segelas teh tawar hangat, sebelum bisa bekerja lagi.
Mungkinkah sebenarnya selama ini bukan dia yang terlalu sibuk, tapi Delta yang menghindar menerima pesanan gaun pernikahan? Karena Delta tahu pemandangan lace Chantilly putih atau kain taffeta gading akan mengingatkannya pada seseorang?
Setelah selama ini, mengapa masa lalu semacam itu menghalanginya untuk menggapai mimpi terbesarnya?
Delta berdecak. Ah, ia memang tidak berguna.

***

6 comments:

zsa_rakmavika said...

Hi, Ci Fenny... ini karizza yang Secret Admirer...
please selesaikan...
ahaha....
please terbitkan...

Menurut aku ini, Ci fenny banget...
bandung, fashion, dan romance...

super duper can't wait...
kyaaaa....

Amanda Martadinata said...

Ci, aku emang belum pernah baca buku cici. Waktu itu mau coba baca lewat giveaway, eh ga menang hehe.. Tapi, ci.. Ini bagus banget. Suka deh. Rapi dan ngalir banget... Cepet terbitin yah, ci ;)

Fenny Wong said...

@zsa: thank you for the kind comment~ *hugs*

@amanda: makasih amanda, aku jadi tambah semangat nulisnya ^^

Monik said...

Kak Fenny ^^ ini Monik..
bener banget kata kak Zsa, cerita ini kak Fenny banget :D
ayo lanjutkan dan terbitkan ! Hahahaha... semangat ^^p

Fenny Wong said...

@monik: hehe makasih yaa moniiik, amin deh cepet beres, hehehe ^^

Anonymous said...

Uda 3 taun males baca novel. Beigtu liat ini... BAMMM! Beneran pengen bacaaaa!!! Please seleseinnnnnnnn :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...