Sunday, December 16, 2012

Novel Review: Memori by Windry Ramadhina




Judul: Memori: Tentang Cinta yang Tak Lagi Sama
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagasmedia
Tanggal Terbit: 2012
ISBN (10): 979-780-562-X
ISBN (13): 978-979-780-562-3

Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi.

Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.

Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia—cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman.

Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.

----------------------------------------------------

Jadi, menurut Fenny....

Kalau ditanya Memori ini kisah tentang apa, mungkin yang paling tepat menggambarkannya adalah kisah tentang sebuah pengampunan. Bagi saya, di tengah semua drama keluarga dan pencarian jati diri yang dilakuan sang tokoh utama, Mahoni, kisah ini berujung pada sebuah pengampunan. Menyambung daripada itu, ini juga kisah tentang bagaimana sebuah pengampunan dapat mendatangkan kelegaan dan ketenangan batin. Sayangnya, tidak semua orang menyadarinya --- atau tidak ingin mengakuinya walaupun sadar.

Mahoni adalah seorang arsitek yang bekerja di Virginia, Amerika Serikat. Desainnya idealis dan dia tidak mau berkompromi. Sedikit banyak sifat kekeraskepalaannya kentara. Seleranya yang bagus membawanya pada jenjang karir yang tinggi, membolehkannya hidup dengan layak. Hingga suatu hari sebuah panggilan telepon menghancurkan apa yang ia telah bangun selama ini. Ayahnya meninggal di Indonesia, dan mau tidak mau ia harus kembali.



Keberadaan Mahoni di Indonesia ternyata bukan hanya satu-dua hari. Masalah menahannya di sana, memaksanya untuk menghadapi masa lalu yang sempat ia hindari. Jika pergi ke Virginia bukanlah kabur dari masalah, lalu apalagi? Kini ia harus mengurai benang kusut yang ditinggalkannya. Karirnya di Virginia terancam. Sebagai gantinya, ia diberikan tanggung jawab atas adik tirinya, Sigi. Di Jakarta, ia pun dipertemukan dengan lelaki yang sudah lama tidak ia jumpai, Simon.

Cara Windry Ramadhina merangkai kata-kata membuat saya tidak merasa bahwa kisah ini adalah sebuah chicklit. Saya tidak akan mengelompokkan Memori ke dalam kategori itu, walaupun awalnya saya berpikir begitu. Penuturannya juga tidak bisa saya kelompokkan ke dalam kategori roman. Mungkin.... slice of life paling cocok.

Jelas sekali sang pengarang tahu apa yang dia tulis. Saya menebak mungkin dia juga seorang arsitek, dan saya tidak terkejut ketika melihat dugaan saya itu benar pada lembaran cover belakang. Saya belajar banyak (lagi-lagi) dari buku ini. Frank Gehry dengan Guggenheim-nya, juga Rem Koolhaas. Saya buta sama sekali dengan gaya-gaya interior seperti mediteranian, posmo, hingga folkloric, dan menjadi tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut. Yang menyukai keindahan sebuah rumah, atau simply tertarik dengan semua hal kearsitekturan, akan menyukai buku ini.

Ada satu hal yang membuat Memori unggul dibandingkan buku-buku lain. Mengesampingkan kenyataan bahwa karakter-karakter di dalamnya riil dan kuat, buku ini mengandung pesan moral. Sebuah fiksi tidak perlu memerlukan itu untuk menjadi hebat, tapi tentu saja yang hebat dan memilikinya akan menjadi luar biasa. :)

Rating: Rating:  

1 comment:

erma riestiana bona kartika said...

hai blog kamu aku masukin sebagai penerima Liebster Award..
klik link dibawah ini ya :
http://memomo-bona.blogspot.com/2013/01/liebster-award-for-my-blog-hurray.html#links

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...