Thursday, November 1, 2012

Novel Review: Canting Cantiq (Kos-kosan Soda #1)




Judul: Canting Cantiq (Kos-kosan Soda #1)
Penulis: Dyan Nuranindya
Tanggal Terbit: Maret 2011
ISBN: 979-780-472-0

“Buat gue kebaya itu kuno. Kayak mbok-mbok tukang jamu yang ada di komplek rumah gue. Apalagi batik. Gak meriah. Kesannya kumel tapi norak. Pokoknya gitu deh! Gue nggak perduli kalau orang bilang gue nggak cinta produk Indonesia. Kerenan juga baju-baju dari luar negeri. Kenapa Paris Hilton bisa kelihatan keren? Kenapa Victoria Beckham bisa jadi icon fashion dunia? Jawabannya cuma satu, MEREKA NGGAK PAKAI KEBAYA ATAU BATIK!” 

 Melanie Adiwijoyo adalah putri tunggal pengusaha terkenal Aryo Adiwijoyo. Punya panggilan miss perfect karena cantik, kaya, otak encer dan punya fashion taste yang keren banget. Mel, paggilan akrab Melanie, punya mata elang untuk mendeteksi gaya berpakaian seseorang. Cita-citanya tak pernah berubah. Jadi Model International yang menyaingi Victoria Beckham di red carpet. 

 Namun tiba-tiba musibah itu terjadi. Perusahaan ayahnya bangkrut dan Mel terpaksa dititipkan ke rumah Eyang Santoso di Jogja. Ya, Yogyakarta. Hal itu membuat Mel shock berat. Apalagi pas tahu kalau ternyata rumah Eyang Santoso telah berubah menjadi kos-kosan yang berisi orang-orang dengan kelakuan dan gaya berpakaian yang superduper aneh. Sangat norak dan kampungan menurutnya. Ada Saka, cowok Jawa yang selalu berpakaian kemeja lurik mirip kayak Pak kusir. Ada Jhonny yang selalu bergaya jadul yang demen banget pakai warna ngejreng dan norak. Belum lagi Aiko, cewek berwajah oriental yang sering mengenakan cardigan kebesaran, Dara yang bergaya sangat rocker, Dido yang mirip tokoh kartun Fido Dido berkacamata dan Ipank, cowok pecinta alam yang sangat kurang ajar. Namun di antara orang-orang aneh itu, ada cowok bernama Bima yang terlihat paling normal. Sayangnya, Bima sangat pendiam dan susah ditebak. Tipikal cowok yang nurut-nurut aja. Tapi setidaknya Bima bisa membuat Mel sedikit melupakan Marco, cowoknya yang brengsek itu. 

 Sanggupkah Melanie hidup di lingkungan barunya? Apalagi ia bertemu dengan desainer kebaya bernama Aryati Sastra yang keukeuh banget mangajari dia menjahit. Menjahit? No way! Calon model internasional kan nggak perlu susah payah belajar menjahit! Apakah Melanie berhasil mencapai cita-citanya untuk jadi model internasional? Temukan semuanya hanya di Canting Cantiq.

----------------------------

Jadi, menurut Fenny....

Bertahun-tahun setelah saya membaca Dealova, saya kembali menikmati karya Dyan Nuranindya. Dealova adalah teenlit pertama yang saya baca: bahasanya nyeleneh, khas anak muda, ngalir dan cheeky. Gaya ini tetap melekat pada Canting Cantiq. Setelah membaca novel-novel roman keluaran Gagasmedia (yang sejauh ini saya baca rata-rata mellow, kecuali Pillow Talk), ini jadi angin segar juga.

Saya agak-agak shock juga sih, dengan dialog satu paragraf yang semuanya memakai capslock, atau dengan tanda seru yang lumayan banyak. Yah, tapi saya bisa mengerti, karena keseluruhan mood cerita lumayan upbeat. Banyak referensi terhadap hal-hal yang terkenal di sini, membuat novel ini sangat nge-pop. Novel ini juga mengusung tema batik, kebaya, dan fashion nusantara. Untuk yang tahu saya berkuliah di bidang fashion, pasti mengerti sekarang kenapa saya jadi tertarik ekstra untuk membacanya....

Canting Cantiq sendiri sebenarnya menceritakan tentang kehidupan Melanie Adiwijoyo selepas ayahnya bangkrut. Ia di-ship ke Yogyakarta (yang disebut 'Jogja' di sepanjang cerita. Yang baku itu Yogya, kan? Correct me if I'm wrong, tapi saya kira Jogja itu adalah kota Yogya disebut pakai nada kental Jawa). Di sana dia harus berubah total dari Mel yang manja menjadi Mel yang mandiri. Mel yang mendapatkan semuanya for granted, menjadi Mel yang harus berjuang untuk yang ia inginkan.

Mel bertemu Aryati Sastra, desainer kebaya yang 'nge-scout' dirinya di sebuah fashion show. Bukan untuk menjadi model, tapi untuk menjadi muridnya, seorang fashion designer. Awalnya saya bingung, lah, gimana caranya bisa melihat seseorang berbakat menjadi seorang desainer hanya dari pakaian yang ia pakai? Iya, style itu tidak bisa dibeli, tidak bisa diajari. Jadi style Mel yang bagus itu adalah modal. Tapi believe me, jadi seorang desainer itu butuh LEBIH dari sekedar style! 



Saya mengernyitkan dahi di bagian ini. Saya merasa, kok, si Mel kayak ketiban duren jatuh banget. Bisa-bisanya dia seberuntung itu, walaupun yah, Mel sendiri tidak menyadarinya. Tapi kemudian dijelaskan, ternyata Aryati Sastra memiliki hubungan dengan keluarga Mel. Mungkin itulah yang mendorong dia untuk membantu Mel menjadi seorang desainer. Tapi saya masih tidak mengerti juga, Mel kan cantik sekali, malah sering diminta menjadi model, bercita-cita menjadi model internasional. Kalau Aryati mau membalas budi keluarga Mel, bisa saja dia mengabulkan cita-cita Mel menjadi model. Saya mendapat kesan, kalau menjadi model itu lebih mudah daripada menjadi seorang desainer. Makanya Mel didorong untuk menjadi desainer, yang 'kreatif', bukan hanya jadi boneka pajang. Padahal menurut saya di balik setiap pekerjaan, diperlukan dedikasi dan ketekunan. Jadi model juga tidak mudah, lho. :)

Di balik semua itu, saya menyukai karakter-karakter yang dibuat Dyan di Canting Cantiq ini. Karakternya unik-unik banget! Semuanya dikasih kepribadian nyentrik dan masa lalu masing-masing. Ketika saya cek lapak Goodreads, saya kemudian tahu ada buku-buku lain di seri Kos-kosan Soda ini. Di Canting Cantiq, saya paling suka karakternya Ipank dan Bima. Si Ipank benar-benar lucu, dan tegas. Berani membentak Mel yang awalnya sombong dan seenaknya. Kalau di drama-drama, biasanya dia deh yang jadi pemeran utama yang tsundere. Hihihi. Kalau Bima, saya suka dengan malu-malunya. Ngegemesin banget dehhh! *cubit pipi Bima*

Referensi-referensi terhadap fashion yang digunakan di Canting Cantiq ada yang ngena, ada yang meleset. Seperti gaya tahun lima puluh dan enam puluh yang digambarkan. Tahun 50-an identik dengan New Look, tahun 60-an identik dengan hippies, tapi tidak disebutkan. Kalau tahun 70-an, yang dimodeli dengan Saturday Night Fever-nya John Travolta, dan 90-an, dimodeli gaya Kurt Cobain, menurut saya mengena. Tahun 90-an memang all about heroin chic and boys. Dan simplicity, sih, tapi yah Canting Cantiq got the point. :) Canting Cantiq juga memasukkan banyak nama-nama butik Indonesia yang saya sendiri tidak familiar --- Bago-Bagoes, Eka Hamid, Arsyifa Yasen.... Saya mulai grogi. Segitu kupernya kah saya, seorang murid fashion design tapi tidak tahu nama-nama desainer nusantara?! Saya pun googling dan kemudian sadar itu adalah nama-nama buatan Dyan sendiri. Nama-namanya unik dan bagus, membuat saya percaya label-label semacam itu memang benar-benar ada.

All in all, saya menikmati baca Canting Cantiq. Beres dalam waktu beberapa jam saja, dan menurut saya ketipisan. Awalnya saya tidak terbiasa dengan gaya berceritanya yang seru, tapi sehabis beres nagih juga. Kalau diceritakan lebih banyak bagaimana Mel pelan-pelan menyesuaikan diri dengan jadwal bersih-bersih, belajar memasak dan sebagainya, kayaknya bisa tambah menarik. Saya ingat bagaimana saya hampir membakar tempat kos-kosan saya karena saya lupa ketika memasak air (pancinya sampai kosong dan gosong), atau ketika saya mengiris jari saya ketika mengupas apel (sampai darahnya mengucur-ngucur). Ketahuan, deh, saya juga pernah jadi kayak Mel yang manja. :) Tapi ya intinya,perubahan diri Mel lebih bertahap dan nggak tiba-tiba kalau ada adegan-adegan semacam itu.

Rating:  




Buku ini membuat saya cukup tertarik untuk membeli buku-buku lainnya, yaitu Cinderella Rambut Pink dan Rock n Roll Onthel. :D

3 comments:

Lutfia Khoirunisa said...

Info tentang nama Jogja bisa dibaca di sini http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-article/jogja-or-yogya/

semoga bermanfaat :)

Fenny Wong said...

@lutfia: ya ampun, aku baru liat. Makasih infonya, jadi ikutan belajar.

laily elhieda said...

itu novel e book nya da g ea? hhhhe

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...