Sunday, October 14, 2012

Novel Review: Sweet Nothings by Sefryana Khairil




Judul: Sweet Nothings
Penulis: Sefryana Khairil
Penerbit: Gagasmedia
Tanggal Terbit: 2012
ISBN: 979-780-533-6
ISBN13: 978-979-780-533-3
Website: http://sefryanakhairil.net

Aku menyukaimu. Aku membencimu. Aku tak bisa menerima setiap perubahan yang terjadi dalam diriku saat bertemu denganmu.

Tapi kau seperti air, mengalir begitu saja di dalam hidupku. Dan sebentar saja, kau sudah jadi bagian yang tak bisa kusisihkan dari hari-hariku.

Sebagian dariku tak siap tunduk begitu saja di bawah pesonamu. Dan niatmu menyaru bersama senyuman dan tenang sikapmu.
Kau membiarkan aku menebak-nebak ke mana kau akan membawa hubungan ini. Aku bertanya-tanya—dan tak bisa berhenti menyipit curiga ke arahmu.

Sampai suatu saat, kau membuka rahasia hatimu.

Kau ingin menggantikannya—dia yang sudah meninggalkanku. Kau bilang lagi, bisa mencintaiku seperti yang aku mau.
Aku mendengus, menahan diri supaya tidak tertawa. Betapa tidak, kau baru saja mengatakan hal yang tak masuk akal.

Cintalah yang melukaiku dulu. Bagaimana mungkin kau bisa meyakinkanku bahwa kali ini cinta jugalah yang akan menyelamatkanku dari kesepian ini?

-------------------------------------------------------------------

Jadi, menurut Fenny...

Sejujurnya di halaman-halaman awal, saya mengira cerita ini akan dibawa pada intrik-intrik bisnis patisserie, diselingi kisah roman. Sweet Nothings menceritakan tentang Saskia, pemilik toko Sweet Sugar, yang juga adalah janda beranak dua. Ia trauma menjalin cinta karena hubungannya yang dulu gagal. Namun segalanya berubah setelah kedatangan Harsa, chef pastry yang mulai mengisi kekosongan pekerjaan di Sweet Nothing. Harsa tertarik pada Saskia, begitu pula sebaliknya, walaupun Saskia mati-matian menolaknya.

Saya disambut dengan layout yang sangat menarik, pembuka bab yang ciamik, khas Gagasmedia. Saya selalu kagum dengan tata bukunya, juga dengan kualitas kertas dan cetakannya. Sampulnya saya tidak perlu berkomentar lagi, kali ya? Nah, kalau di Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa judul babnya dihiasi kata-kata berbahasa Perancis, di Sweet Nothings dihiasi dengan potongan-potongan lirik lagu. Sweet Nothings juga dibagi menjadi beberapa bagian, masing-masing bagian diawali dengan deskripsi tahap membuat kue. Unik!




Yang membuat saya terkejut adalah umur dari karakter-karakternya. Saya mengira banter-banter umur mereka akhir 20-an, tapi ternyata Saskia berumur 38. Malah sudah beranak dua. Ini nantinya dijadikan plot device, dan menurut saya ide ini bagus dan tidak klise. Tokoh utama nggak perlu melulu cewek-cewek muda yang cantik, kan? Tokoh Harsa menarik, walaupun seringkali ketika dia nyengir percaya diri saya pingin nonjok dia di muka saking gemasnya.

Satu hal yang saya sayangkan dari kisah ini. Seperti yang saya katakan di atas, saya mengira cerita ini akan dibawa pada intrik-intrik bisnis patisserie Sweet Sugar. Ternyata yang 'kental kue' hanya cerita di bagian awal saja. Setelah hubungan Saskia dan Harsa berkembang, rasanya cerita dibawa lebih fokus pada insecurities mereka, cinta mereka. Di satu sisi, pengembangan ini baik, tapi di sisi lain, pengembangan ini membuat saya kecewa. Mungkin hanya saya saja, tapi saya berharap bisa membaca lebih banyak tentang dunia kue dari buku ini, bukan hanya di depan saja. Bahkan, saya juga berharap konfliknya bisa seputar tentang kue. Tadinya saya mengira bakal ada rivalries di antara toko Saskia, Sweet Nothings, dan hotel berbintang milik ayah Harsa.


Tapi riset tentang dunia perkuean-nya cukup mendalam dan detil. Saya terkesan ketika Harsa mengusulkan kue macaroon yang lagi nge-trend untuk kue promosi mereka pada bulan itu. Di luar negeri macaroon memang beken. Di Singapura, rasanya tidak ada toko-toko kue yang tidak menjualnya. Mungkin bisa disamakan dengan bekennya rainbow cake dan red velvet di Indonesia. Sayangnya, kue bulat berwarna-warni yang dibuat dari telur putih dan gula itu sebenarnya disebut dengan macaron, bukan macaroon.

Ada bagian yang terasa lambat untuk saya, khususnya ketika mereka berlibur ke Lembang. Mungkin karena deskripsi Lembang yang tidak sesuai dengan imajinasi saya (hidup di Bandung seumur hidup saya, saya tidak merasa Lembang seindah itu, hahaha)? Tapi untungnya cerita menjadi cepat lagi setelahnya. Saya yang awalnya agak menggerutu, "Mau dibawa cerita ini?" malah menjadi terhanyut dan ikut menangis bersama rasa tidak percaya diri Saskia. 




Tiga dari lima bintang dari saya untuk Sweet Nothings. Sweet Nothings memberikan kisah utuh sebuah cinta, dari awal pertemuan hingga apa yang bisa kita sebut sebuah 'akhir' --- walaupun seringkali akhir adalah sebuah awal. Saya kagum pada Sefryana yang bisa menjalin ceritanya dengan sabar, membangun relationship di antara keduanya pelan-pelan. Juga poin tambahan untuk riset tentang kue-kue, dan cara membuatnya. Bukan empat atau lima bintang karena saya mengharapkan rivalries antar toko yang tidak pernah ada. Juga karena sebenarnya umur tokohnya terlalu tua untuk selera saya, tapi itu sangat subjektif. 

Ah, satu tambahan lagi. Di buku ini banyak sekali penulisan kata 'ke luar'. Bukankah kata ini seharusnya disambung menjadi keluar? Sebagai sebuah kata, lawan dari kata masuk? Karena ada juga derivasinya di kata 'pengeluaran', 'mengeluarkan', dan 'keluaran'. Jadi saya rasa berbeda daripada sekedar dalam penggunaan kata 'ke dalam' atau 'ke Bandung'. Correct me if I'm wrong, though. :)

Untuk yang menyukai cerita romansa dewasa yang manis tapi tidak kemanisan, sedih tapi bukan tragedi, saya rekomendasikan Sweet Nothings. Mengutip kata-kata Rendi Rahmat di pengantar buku, "Nothing sweeter than Sweet Nothings." :)

Rating:  

1 comment:

L3ey bgtzz... said...

suka banget novel ini..aku larut..dan aku mengalaminya kini ^.^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...