Friday, October 19, 2012

Novel Review: Remember When by Winna Efendi


Judul: Remember When
Judul Orisinil: Kenangan Abu-Abu
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagasmedia
Tanggal Terbit: 2011
ISBN: 979-780-487-9

Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya. 

Bagi kita, senja selalu sempurna; bukankah sia-sia jika menggenapkan warnanya? Seperti kisahmu, kau dan dia, juga kisahku, aku dan lelakiku. Tak ada bagian yang perlu kita ubah. Tak ada sela yang harus kita isi. Bukankah takdir kita sudah jelas? 

Lalu, saat kau berkata, "Aku mencintaimu", aku merasa senja tak lagi membawa cerita bahagia. Mungkinkah kata-katamu itu ambigu? Atau, aku saja yang menganggapnya terlalu saru? 

"Aku mencintaimu," katamu. Mengertikah kau apa artinya? Mengertikah kau kalau kita tak pernah bisa berada dalam cerita yang sama, dengan senja yang sewarna? 

Takdir kita sudah jelas. Kau, aku, tahu itu.


-------------------------------------------------------------------

Jadi, menurut Fenny...

Remember When adalah kisah tentang empat sahabat, dua pasangan. Gia si bunga sekolah yang berpacaran dengan Adrian ketua tim basket. Moses si ketua OSIS yang berpacaran dengan Freya yang juara umum. Lalu perasaan berubah, waktu berlalu, dan konflik terjadi. Menguji apakah cinta memang lebih penting daripada persahabatan.

Kisahnya sangat SMU. Walaupun mungkin dari alinea di atas karakter-karakternya terdengar kelewat sempurna, tapi dijabarkannya tidak seperti itu. Di masing-masing karakter punya kelebihan-kekurangan mereka sendiri. Dan Winna menjalinnya dengan baik, membuat mereka menjadi believeable, walau karakter favorit saya sendiri adalah Erik, teman baik Freya. Nyeleneh dan apa adanya, rasanya fresh melihat Erik, walau porsi cerita dia tidak banyak.




Sebagai budding writer, saya mengagumi cara pengambilan sudut pandang yang Winna gunakan. Dia berpindah dari sudut pandang Gia, Freya, Adrian, Moses, dan Erik. Tapi saya tidak bingung ketika dia melakukannya. Setiap dia berganti sudut pandang, gaya penulisannya pun berubah. Agak membanyol dan lucu ketika dia menjadi Adrian, gaul dengan gue-lo. Lalu tenang dan understated ketika menjadi Freya. Manja ketika menjadi Gia. Serius dan halus ketika menjadi Moses. Sejauh ini belum ada novel lokal yang berhasil menggunakan sudut pandang seperti ini tapi tidak membingungkan saya. Jadi, ini adalah poin plus.

Ada hal-hal (ralat, tepatnya banyak hal-hal) yang mengingatkan saya pada masa-masa SMU saya sendiri. Ketika rasanya cinta dan persahabatan adalah pusat di mana dunia berputar. Ketika rasanya satu hal kecil yang dilakukan si dia berarti begitu banyak, dan perasaan meluap-luap hingga butuh seseorang untuk dijadikan tempat curhat. Ada juga momen Adrian-Freya yang duduk di lapangan basket menatap langit sore. Saya sendiri ingat melakukannya, dan adegan semacam itu membuat saya kangen. Rindu. 


Juga pada bagian di mana Freya yang make-over dan ingin terlihat cantik. Dilema. Untuk seorang anak gadis yang biasanya dicap 'hanya pintar', sebuah make-over bertujuan agar orang yang ia sayang memujinya dan berkata, "Kau cantik sekali hari ini, berbeda dari biasanya." walau bukan itu yang Freya dapat. Rasanya hampir setiap gadis mengerti perasaan bagaimana kau berdandan berjam-jam untuk menyenangkan hatimu dan hati orang yang kausayangi, tapi malah mendapat ejekan, atau amarah. Amarah salah paham yang mengartikan kecantikan barumu adalah titik awal kau meninggalkan mereka. Menurut saya, kemarahan Moses terhadap perubahan Freya (yang padahal positif) adalah bentuk nyata insecurities lelaki itu.

Bagian yang sangat menyentuh untuk saya adalah bagian yang terakhir. Ketika mereka semua bersiap untuk lulus. Di almamater saya tidak ada acara pilox-pilox-an atau spidol-spidolan baju, jadi di bagian itu saya tidak terlalu relate. Tapi ada satu perasaan ketika kelulusan... perasaan di mana tidak ada yang ingin meninggalkan penyesalan. Rasanya dulu saya bisa melakukan apa saja yang tidak pernah berani saya lakukan ketika waktu sekolah biasa berlangsung. Di dalam kepala ada cap yang jelas: jika tidak mengatakan saat itu, mungkin tidak akan pernah lagi. Untuk sebagian orang, kelulusan adalah saat terakhir mereka bertemu muka. Dan itu tidak melebih-lebihkan.




Makanya saya tidak akan kaget jika Winna memutuskan untuk menyelesaikan semua masalah di acara kelulusan ini. Betul sekali kata Moses, ketika ia berkata terlalu menyakitkan jika ia mengingat masa-masa SMU sebagai waktu yang diwarnai kebencian. Namun, Winna tidak begitu saja mengurai semua benang kusut di sana. Dia memberikannya sedikit waktu lagi, mengurainya dengan lebih banyak kesabaran lagi. Yang dihasilkan adalah ending yang menurut saya pas.

Bagi yang sudah membaca Remember When, mungkin akan sekilas berpikir ending-nya tidak realistis. Berapa banyak dari kita yang mengakhiri cinta masa SMU seperti Freya mengakhirinya? Namun sudut terpojok dalam hati saya berkata kalau saya takkan rela jika masalah diselesaikan secara realistis. Rasanya akan tidak tuntas. Rasanya akan mengganjal. Jadi saya setuju dengan Winna untuk menyelesaikan kisahnya seperti itu.

Ada satu-dua typo di dalamnya, tapi yang sempat mengganggu saya adalah penggunaan kata lepas landas. 'Pesawat yang baru lepas landas dari London', padahal pesawatnya maksudnya baru mendarat. Bukankah mendarat itu seharusnya tinggal landas, bukan lepas landas?

Lepas dari kesalahan remeh itu, Remember When adalah kisah teen literature yang mengaduk-ngaduk perasaan --- kisahnya dekat dengan kehidupan kita, memaksa kita bernostalgia jika kita sudah lulus SMU. Ditulis dengan manis, kisah ini mengalir dan nyaman untuk dibaca. Remember When mendapat 4 dari 5 bintang dari saya, karena bagian akhirnya sukses membuat saya meneteskan air mata.

Rating:  

5 comments:

Anonymous said...

hanya orang bodoh yang menangis di akhir ceritanya. bagaimana klu kamu diposisi gia? trs kamu dipermainkan cowo? sampai meniduri mu pula,dan tidak mau bertanggung jawab? mungkin kamu akan bunuh diri.apalagi klu ampe hamil.orang bilang berbahagia untuk orang yg sudah menyakiti kita bersama dgn org yg dicintainya ? apa tidak salah? bagaimana dgn kamu diposisi gia? mereka tidak mempedulikan kebahagiaan kamu.orang bodoh yg membaca cerita ini kasih bintang 4 ato 5.mgkn orang masochist yg menyukai cerita ini,dan orang porno.yg hanya memberi keuntungan untuk pria aj.

Anonymous said...

Bnr apa katamu,anonymous.diselingkuhi pacar ma sahabat kita aj,sakitnya ga keculungan.aplg berbahagia untuk mereka? Mereka berbahagia untuk kita jg engga.Orang munafik lah yang akan blg berbahagia untuk mereka tp dalam hati mereka menderita.aku suka gia mengambil keputusan itu.karena adrian tidak layak untuk mendapatkannya.trs menurut aku pengarang nya memang masochist ato bisa dibilang mengambil posisi Freya sebagai dirinya? soalnya diceritakan gia merasa sudah menyakiti mereka berdua. Apa ga kebalik tuh?yang tersakiti tuh gia kalee.ya begitulah ceritanya aja sangat tidak adil2 bgt.panteslah orang ga maju 2. Aku ga bc novelny. Cm baca ringkasan nya aj bikin naek darah.buku tak bermutu. Klu mau maju baca tu buku yang berkualitas

diananissa ifc said...

nysek sebenernya jadi gia.. gak bisa ngebayangin..

but endingnya sih bikin nge feel..


numpang promo yaa kunjungi blog gue yaa: obat pelangsing herbal
obat kista ampuh

Anonymous said...

Dh coment salah pulak, tonton lg donk filmnya. Hihi.. Critanya keren

Ahmad Syarifuddin said...

Gia gak tidur ama adrian keless....ya kalo gue stuju bgt ama endingnya...percuma gia ama adrian trus sama2 kalo hatinya adrian masih ttp buat freya...
Cinta ga pernah memaksa kebersamaan guys

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...