Monday, October 29, 2012

Novel Review: Refrain by Winna Efendi



Judul: Refrain - Saat Cinta Selalu Pulang
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagasmedia
Tanggal Terbit: Maret 2011
ISBN: 979-780-472-0

Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini, yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya. 

Ini bisa jadi sebuah kisah cinta biasa. Tentang sahabat sejak kecil, yang kemudian jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Sayangnya, di setiap cinta harus ada yang terluka. Ini barangkali hanya sebuah kisah cinta sederhana. 

Tentang tiga sahabat yang merasa saling memiliki meskipun diam-diam saling melukai. Ini kisah tentang harapan yang hampir hilang. Sebuah kisah tentang cinta yang nyaris sempurna, kecuali rasa sakit karena persahabatan itu sendiri. 

-------------------------------------------------------

Jadi, menurut Fenny...

Seusai membaca Remember When, saya menilik Refrain dari Winna Efendi. Selama ini saya menulis review, jarang saya mengungkit tentang sampul. Tapi sampul Refrain memang benar-benar berbeda dari yang lain. Rasanya saya belum pernah melihat design yang semacam ini. Di dalam amplop biru yang ditempel di bagian depan sampul, diselipkan sebuah kertas bertuliskan 'It's always been you....'

Refrain mengisahkan tentang persahabatan antara Niki (perempuan, singkatan dari Nikola) dan Nata (laki-laki, singkatan dari Nathaniel). Datang juga si murid pindahan, Annalise, anak dari model kondang internasional. Biasanya, kedatangan murid pindahan semacam ini akan berujung dengan cinta segitiga, lalu dengan Annalise yang digambarkan bitchy dan hanya bisa merebut Nata. Tapi tidak di Refrain. Kisah ini lebih subtil, lembut, romantis. Annalise digambarkan sebagai gadis kesepian yang merindukan sosok Ibu, dan baru pertama kali mengenal persahabatan. Ia sabar, dan malah mendukung hubungan antara Nata dan Niki. Dia bukan antagonis dalam cerita ini.

Cerita bergulir karena Niki yang puber dan masuk SMA mulai mengalami yang dinamakan cinta pertama. Juga Nata, yang entah sejak kapan merasa ada yang berbeda dari sosok Niki yang sudah lama dikenalnya. Mereka bilang, perempuan dan laki-laki tidak mungkin bisa bersahabat tanpa sesuatu yang lebih. Ini adalah cerita tentang itu, juga cerita tentang hidup SMA. Dari pertama di MOS hingga prom. Diwarnai segala macam tingkah anak SMA dan pahit-manisnya. 


Ketika saya membaca Refrain, saya dibawa untuk menelusuri tahun-tahun SMA saya sendiri. Remember When juga adalah kisah yang berlatarkan SMA, tapi nada cerita dalam Refrain lebih ceria. Yang saya suka dari Refrain adalah karakteristik Niki, yang walaupun girly dan suka berdandan, tapi dia menyenangkan. Walau manja, tapi menggemaskan dan tidak menyebalkan. Niki menyukai hal-hal seperti cheerleading dan make-up karena alasan yang tidak neko-neko. Dia memang menyukainya, dan hal-hal itu membuatnya bahagia. Bukan untuk alasan popularitas atau untuk menggaet laki-laki.

Yang saya suka dari Refrain adalah bagaimana cerita-cerita sampingannya mendukung keseluruhan cerita. Kisah antara Annalise dan ibunya mengharukan bagi saya. Juga ada pertanyaan tentang cita-cita yang begitu mengena. 
"Dia bilang ada tiga jenis orang di dunia ini; orang yang memiliki mimpi lalu memilih untuk mengejarnya sampai dapat, orang yang memiliki mimpi, tapi tidak melakukan apa-apa untuk menjadikannya nyata, dan orang yang sama sekali tidak mempunyai mimpi."
Rasanya seperti mengenai saya telak di muka ketika Refrain bertutur tentang bagaimana banyak orang yang memilih untuk kuliah ke tempat jauh, memilih cita-cita dibanding cinta. Salah satu permasalahan yang sudah banyak contohnya terjadi di sekitar saya.

Penyelesaian masalah dengan antagonis terbesar di buku ini, Helena, diselesaikan dengan cara yang tidak biasa. Tokoh abu-abu, kita menyebutnya. Namun saya menyukainya untuk itu.

Banyak aspek dalam Refrain yang membuat saya berpikir kalau Refrain ditulis baru-baru ini. Seperti referensinya terhadap serian Gossip Girl dan epidemi bulimia & anorexia , yang rasanya baru marak dan heboh ketika zaman saya SMA (masih dalam 5 tahun terakhir, berarti). Tapi kok ada juga yang membuat saya bertanya-tanya, kok jadul amat ya? Seperti penggunaan kaset untuk perekaman lagu-lagu yang digubah oleh Nata. Di satu adegan, Niki juga memutarnya dengan walkman. Hari gini? Kaset? Walkman? :D

All in all... saya suka Refrain. Berharap ada kisah lanjutan yang menceritakan lebih tentang asmara Annalise dengan love interest-nya. Saya memberikan bintang lebih untuk Remember When, karena dalam Remember When datang satu titik ketika segalanya benar-benar hancur berantakan. Nada ceritanya juga berbeda dengan Refrain, walaupun sama-sama bercerita tentang school life. I guess it's just a matter of preference. Refrain is also a good read.

I'm waiting for Refrain in the cinemas next February 2013. :)

Rating:  

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...