Tuesday, October 9, 2012

Novel Review: Lukisan Keempat




Judul: Lukisan Keempat (Seri Amore)
Penulis: Rina Suryakusuma
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit: Februari 2010
ISBN: 9789792254570

Sebagai pramugari maskapai penerbangan internasional Corissa Airlines, tidak seorang pun mengira Natasya Petra Rahadian memiliki tiga fase kehidupan yang membuat gadis itu terluka karena cinta.

Dimulai dari ayahnya yang meninggalkan Natasya bersama ibu dan adiknya. Kekasih masa kuliah yang menduakannya dengan sahabat karibnya sendiri. Dan terakhir, pilot yang dekat dengan dirinya ketika menjalani pelatihan berselingkuh dengan teman sekamarnya.
Natasya bersumpah takkan jatuh cinta lagi. Sampai ia bertemu Craig Hayden, penumpang Corissa Airlines yang menyebalkan. Sementara Craig sudah tertarik pada Natasya yang begitu menawan hati saat kali pertama ia memandangnya.

Entah bagaimana Craig tahu, Nat memendam luka dalam hidupnya. Ia bertekad akan menyingkap kabut tersebut, memberi Natasya siraman kasih sayang, dan mengembalikan kepercayaannya kepada cinta.

Mampukah Craig membuktikan bahwa ia layak masuk dalam kehidupan Natasya? Bisakah Craig mewujudkan tekadnya untuk menjadi bagian dari lukisan hidup Natasya yang keempat, sekaligus yang terakhir?

-------------------------------------------------------------------

Jadi, menurut Fenny...

"Setelah kamu dewasa, Natasya, hitam tidak selalu hitam. Dan putih tidak selalu putih. Ada garis abu-abu di antara keduanya."

Ini adalah karya kedua dari Rina yang saya baca. Karena buku ini relatif tipis, bisa saya selesaikan dalam satu kali membaca.

Novel Amore ini banyak mengupas tentang pekerjaan sebagai pramugari. Walaupun pekerjaan ini terlihat bergengsi, dengan gaji tinggi dan kesempatan keliling dunia, tapi ternyata juga mengemban resiko yang besar. Ketika penumpang pesawat panik karena pesawat yang mengalami turbulensi, pramugari harus menenangkan mereka walaupun sama-sama panik. Dan pada pendaratan-pendaratan darurat, pramugari dan kru pesawat adalah orang-orang terakhir yang menyelamatkan diri, setelah yakin tidak ada penumpang yang belum diselamatkan.

Saya sempat menonton J-dorama berjudul Attention Please. Sama-sama mengupas tentang pramugari, tapi bedanya Attention Please lebih panjang, lebih terdramatisasi, dan lebih fokus pada lika-liku training pramugari. Walau tidak selengkap drama tersebut, saya merasa penjabaran yang diberikan di Lukisan Keempat telah cukup baik dan menarik. Dan memang karena novel ini novel Amore, sudah selayaknya membahas tentang cinta.

Cinta yang disajikan di sini ada dua macam: cinta pada keluarga dan cinta pada kekasih. Keduanya saling bertautan dan menyelesaikan untaian satu dengan yang lain. Sesuai judul, pembaca dituntun untuk menilik kehidupan Natasya, dan dibawa untuk mengerti mengapa Natasya tidak menginginkan komitmen. Sebagai pembaca, saya bisa relate dan mengerti mengapa Natasya ogah komitmen, mengingat kelakuan ayahnya yang tidak adil padanya. 

Ada beberapa hal dalam novel ini, however, yang mengganjal. Contohnya adalah ketika Natasya mendarat di Paris dalam tugas kerjanya. Disebutkan ia mendapatkan cuti terikat tiga hari, di mana ia bisa melakukan apa saja. Dengan syarat, selama tiga hari itu ia harus berada dalam negara terakhir ia mendarat (yaitu, I assume, Perancis) dan harus muncul pada bandara ketika ia harus berangkat lagi.


Namun beberapa halaman kemudian, Natasya dikatakan berkencan ke Inggris. Lah, kalau begitu dia keluar dari negaranya, dong? Dia melanggar kode pekerjaannya? Apakah saya yang miss di sini, atau memang ada kekeliruan?



Karakterisasi Natasya sendiri cukup baik, walau sederhana. Tapi saya tidak bisa dibilang puas dengan karakterisasi Craig Hayden. Alasannya hanya satu, adalah karena saya merasa Craig Hayden terlalu mirip dengan karakter Clay di The Calling, buku Rina lainnya. Pingin lihat cowok 'jenis' lain, dong, Rin! :)

Ada sesuatu dalam Lukisan Keempat yang membuat saya kagum, yaitu tentang pandangan ibu Natasya dalam cinta. Dia telah disakiti, tapi dia tidak meminta anaknya untuk tidak mencintai. Kata-katanya yang bagi saya sangat memorable dan mengena adalah:

“‎"Biarpun hatimu terluka karena kegagalan cintamu pada seseorang,tapi percayalah rasa itu lebih berharga daripada ketika hatimu hampa. Tanpa mencintai, kamu tidak akan tersakiti,namun kamu juga tidak pernah bahagia. Apa artinya hidup kalau begitu?” 

Ending dari Lukisan Keempat ini pun terasa tidak dipaksakan, tidak muluk-muluk. Pas, menurut saya.

Tiga setengah dari lima bintang dari saya untuk Lukisan Keempat, yang saya bulatkan keatas menjadi 4/5 bintang karena quote-quote memorable-nya. Juga karena semua riset tentang pramugarinya yang menurut saya cukup rapi dijalin. Kurang tebal!

Rating:  

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...