Monday, October 8, 2012

Novel Review: Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa



Judul: Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa
Penulis: Pricsa Primasari
Penerbit: Gagasmedia
Tanggal Terbit: 31st July 2012
ISBN: 9797805891 (ISBN13: 9789797805890)

Vinter

Seperti udara di musim dingin, kau begitu gelap, muram, dan sedih. Namun, pada saat bersamaan, penuh cinta berwarna putih. Bagaikan salju di Honfleur yang berdansa diembus angin…. 

Florence

Layaknya cuaca pada musim semi, kau begitu terang, cerah, dan bahagia. Namun, pada waktu bersamaan, penuh air mata tak terhingga. Bagaikan bebungaan di Paris yang terlambat berseri….

-------------------------------------------------------------------

Jadi, menurut Fenny....

Buku ini mendapatkan banyak review positif di Goodreads. Sejujurnya, itulah yang membuat saya tertarik untuk mengambilnya dari rak toko buku. Pasalnya, tidak ada buku yang terbuka dari plastik saat itu, dan saya tahu blurb belakang sampul tidak bisa saya jadikan acuan.

Tapi saya tidak menyesal mengambilnya. Saya membacanya di Hari Minggu, ketika Bandung diguyur hujan dan dilapisi mendung sepanjang hari. Sembari mendengar lagu-lagu dari film Amelie, saya mulai menyusuri halaman-halamannya. Saya kira pada awalnya, cerita ini akan dibawakan dalam setting Rusia, karena matryoshka yang muncul pada kaver depannya. Saya salah, karena dua kota di mana cerita ini terjadi adalah Honfleur dan Paris, keduanya di Perancis.

Seorang gadis bernama Florence melarikan diri ke Honfleur, karena rencana kencan buta yang diadakan oleh orang tuanya di Paris. Pada perjalanannya di kereta ia bertemu dengan seorang lelaki bernama Vinter. Florence yang tasnya rusak dihadiahi sebuah tas oleh Vinter saat itu, dan sebagai gantinya Florence menawarkan diri untuk tampil sebagai seniman. Ia akan datang ke rumah teman Vinter, seorang konduktor sakit-sakitan bernama Zima, untuk memberikan pertunjukkan drama, melukis, dan bermain musik. Lalu dari sana, hubungan Vinter dan Florence pun bertambah dalam.


Ceritanya sebenarnya sangat simpel, malah cenderung klise. Tapi Prisca menjalinnya dengan sangat baik hingga saya tidak bisa protes sama sekali. Yang perlu diberikan standing applause di sini adalah karakterisasi tiap tokoh. Saya sangat menyukai tokoh Vinter, karena semua alasan yang jarang sekali saya ungkapkan. Florence sendiri menyenangkan untuk saya, walaupun tempat nomor satu tetap dimiliki karakter Vinter. Sedangkan tempat nomor dua, dimiliki oleh Zima. Dia eksentrik, menarik, setengah-gila: sangat cocok sebagai seniman jenius. Agak mengingatkan saya pada Beethoven yang temparemental. Juga mengingatkan saya pada Beast, deskripsi yang disediakan Prisca pada pengenalan tokoh ini. 

Lihat? Bahkan karakter-karakter sampingannya pun menurut saya mengagumkan.

Vinter emo. Angst. Semua yang tidak saya suka dari seorang karakter. Tapi saya jatuh cinta pada dia. Mungkin karena sepenggal cerita yang dituturkan dari sudut pandang Vinter di bagian akhir novel. Vinter rapuh karena semua alasan yang masuk akal, bukan tipikal tokoh utama oh-aku-super-menderita-lihat-jambangku-kepanjangan seperti banyak yang lain. Ia tersakiti, menyakiti diri sendiri, dan saya menerimanya. Semua yang ia lakukan masuk akal, dan depresi yang ia rasakan mengenyuh pada hati saya. Bagi saya, bagian Vinter di belakang itulah yang membuat saya jatuh cinta ekstra pada buku ini. Juga membuat saya bertanya-tanya, apakah mungkin cerita ini bisa menjadi lebih menyentuh lagi jika sedari awal diceritakan dalam sudut pandang Vinter?

Ada sesuatu pada Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa yang membuat saya merasa seperti mengenal kenalan lama. Setelah saya menutup halaman-halaman terakhirnya, saya sadar mengapa. Buku ini sarat akan segala hal tentang seni, dan berkali-kali ketika saya membacanya, saya manggut-manggut dan berkata dalam hati, "Oh, saya juga suka Caruso." atau "Ah, jadi pingin lihat Water Lilies, karena Monet disebut-sebut." atau "Rachmaninoff, kapan ya terakhir saya dengar? Saya terlalu terobsesi dengan Chopin."




Perasaan saya seperti bertemu seseorang yang bisa diajak bercakap-cakap tentang semua yang saya sebutkan di atas. Saya bukan seorang ahli seni, hanya seorang penikmat. Ada beberapa yang masih asing untuk saya, tapi itu malah membuat saya lebih gembira lagi. Dari buku ini saya bisa belajar banyak tentang hal-hal yang saya suka. Tadinya di aliran impressionist saya hanya suka Monet, Degas, Pissaro, dan Rochegrosse, tapi sekarang saya jadi sering googling Renoir. Tadinya hanya senang mendengar Chopin dan Debussy, sekarang jadi mencoba Vivaldi.

Ini adalah buku dari Prisca Primasari yang saya baca. 4/5 bintang dari saya, karena saya sebenarnya mengharapkan buku ini ditulis dari sudut pandang Vinter, seperti yang sudah saya katakan di atas. Juga karena saya ingin membaca karya-karya lain Prisca. Anggap saja ini seperti harapan saya yang saya simpan sementara. 

Rating:  

Tilik book trailernya di sini:


No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...