Tuesday, October 23, 2012

Novel Review: Eclair by Prisca Primasari



Judul: Eclair: Pagi Terakhir di Rusia
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Gagasmedia
Tanggal Terbit: Maret 2011
ISBN: 979-780-472-0

Seandainya bisa, aku ingin terbang bersamamu dan burung-burung di atas sana. Aku ingin terus duduk bersamamu di bawah teduhnya pohon-berbagi eclair, ditemani matahari dan angin sepoi-sepoi. Aku ingin terus menggenggam jari-jemarimu, berbagi rasa dan hangat tubuh-selamanya. 

 Sayangnya, gravitasi menghalangiku. Putaran bumi menambah setiap detik di hari-hari kita. Seperti lilin yang terus terbakar, tanpa terasa waktu kita pun tidak tersisa banyak. Semua terasa terburu-buru. Perpisahan pun terasa semakin menakutkan. 

 Aku rebah di tanah. Memejamkan mata kuat-kuat karena air mata yang menderas. "Aku masih di sini," bisikmu, selirih angin sore. Tapi aku tak percaya. Bagaimana jika saat aku membuka mata nanti, kau benar-benar tiada?

-----------------------------------------------------

Jadi, menurut Fenny...

Setelah membaca karya Prisca dan mereview Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa, saya langsung memesan Eclair lewat toko buku online. Lihat dari sinopsis sekilas, saya langsung mengecap rasa-rasa Rusia dan Perancis. Ketika saya mulai membaca, saya kemudian tahu kisah ini tidak hanya bernaung di St. Petersburg, Moskow, atau Paris, tapi juga Surabaya hingga New York.

Ceritanya adalah tentang bagaimana kejadian dua tahun lalu memporakporandakan persahabatan di antara empat pemuda dan satu gadis. Bukan, bukan karena masalah cinta. Ada kecelakaan besar yang berujung pada kehilangan, berimbas pada keretakkan hubungan saudara dan persahabatan. Lucu sekali bagaimana sesuatu yang tadinya begitu membahagiakan bisa hancur luluh lantak dalam sekejap.

Well, maybe that reminds us on how nothing lasts forever.





Si gadis, Katya, berusaha mempertemukan lagi sahabat-sahabatnya. Rujuk kembali agar hari pernikahan yang disongsongnya dua minggu kemudian dapat diimbuhi bahagia yang tulus. Dan itu tidak bisa terjadi jika mereka terus membenci, kabur, dan mengurung diri. Ini adalah titik di mana mereka harus berkata masa lalu adalah masa lalu --- masa kini akan menyongsong mau tidak mau.



Oke, sekarang pengakuan. Walaupun sudah ada dua buku saya yang diterbitkan lewat keluarga besar Gagasmedia, saya sendiri belum pernah melakukan marathon buku-buku terbitan mereka. Baru kali ini, di tengah liburan kuliah, saya melakukannya. Saya didorong rasa keingintahuan, tentunya, bukan dari rasa bersalah. Sejauh ini, buku-buku yang telah saya baca memang kebanyakan menuai bintang tiga atau empat dari saya. Dan itu bisa diartikan bahwa saya merasa buku-bukunya sangat menghibur dan well-written.

Saya jarang memberi sebuah buku bintang lima, terlepas itu buku lokal atau internasional. Bagi saya buku bintang lima hanya diberikan untuk buku-buku yang memorable, yang unik, dan langka. Buku yang  dengan menggebu-gebu saya ceritakan pada teman-teman saya (yang bahkan tidak suka membaca). Dan buku ini tampaknya adalah buku roman lokal pertama yang menuainya dari saya.

Alasannya beragam. Penulisnya sangat tahu apa yang dia tulis. Sejauh ini saya membaca, saya menebak Prisca bukan sengaja melakukan riset untuk semua ini, tapi dirinya sendiri mungkin sudah mencintai budaya Perancis dan Rusia dari jauh sebelumnya. Begitu juga dengan seni: musik, sastra, dan lukisan. Entah kalau tentang fotografi dan patisserie, mungkin yang dua itu adalah hasil riset yang disengaja, karena tidak sedetail yang saya sebutkan sebelumnya. Tapi semuanya rapi jali. Saya dituntun masuk ke dalam dunia mereka, bersimpati bersama mereka, dan kagum pada kisah pelik yang mengikat mereka.


Jika kau berpikir yang ada di dalam Eclair adalah cinta-cintaan belaka, maka kau salah. Ada adu pucuk senjata api, ada kunjungan di penjara. Ada potongan kisah detektif-detektifan yang menghibur, walaupun bukan murni beraroma thriller. Misteri yang disuguhkan lebih sederhana, tapi tidak membosankan. Biarkan saya sok tahu lagi dan menebak kalau Prisca mungkin juga adalah penggemar Sherlock Holmes seperti saya. :)

Namun ada satu hal tentang Eclair. Kelima tokoh yang bersahabat ini semuanya digambarkan rupawan dan memiliki uang, bahkan beberapa dari mereka memiliki kuasa. Agak terlalu sempurna, tapi untungnya diimbangi dengan keterlukaan psikologis dan ketidaksempurnaan lain. Saya paling suka karakter dari Katya --- angkuh tapi anggun, sekilas menyebalkan tapi sebenarnya rapuh, terlihat lemah tapi berusaha keras untuk tetap kuat. Biasanya pembaca cewek akan suka dengan karakter utama cowok, tapi untuk kasus kali ini adalah pengecualian.

Tulisannya lebih kecil jauh daripada buku-buku Gagasmedia lain. Ada apa? Untungnya tidak terlalu kecil hingga mengganggu saya membaca. Walau sekilas Eclair terlihat tipis, tapi sebenarnya mungkin karena tulisan-tulisannya dipadatkan.

Saya sangat puas dengan tulisan Prisca ini, lebih dari Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa. Kapan novel berikutnya, Pris? Saya akan menunggu, dan berharap Prisca mengeksplor tema lain selain salju, walaupun kini saya pun jadi cinta dengan titik-titik putih yang romantis itu. C'est magnifique.

Sekarang saya mau hunting eclair dulu di bakery-bakery Bandung. Ada rekomendasi?

Rating:  

4 comments:

Rhein said...

Aaahh... reviewnya menggoda untuk segera beli juga.. Aku juga jatuh cinta sama Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa. Tambah baca ini, makin mantap beli Eclair.. Kalau udah nemu yang jual di Bandung, update ya, mba.. hehehe... :D

Fenny Wong said...

@Rhein: kemarin lihat Eclair kok di Gramedia PVJ. Coba dicari di sana. :)

dinikopi said...

Eeehh ada Rhein juga! :">

Ini ya, kita sama-sama penggemar novelnya Prisca Primasari! Sempet nulis reviewnya juga di http://dinikopi.blogspot.com/2012/10/review-eclairs-karya-prisca-primasari.html

Udah baca Gagas Duet yang Beautiful Mistake? Prisca nulis juga disitu. I'm not easy crying. Tapi pas baca novelnya nangis dooooong :')

Fenny Wong said...

@dinikopi:
Jujur, sebenarnya sebelum beli Eclair saya sempat cek review dulu di internet. Salah satunya ke blok Mbak :))

Gagas Duet ya? Saya ngerasa Gagas Duet terlalu pendek aja ceritanya, jadi nanggung. Boleh dicoba deh entar. Kebetulan saya juga suka gaya nulisnya Mbak Sefryana.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...