Monday, October 1, 2012

Novel Review: The Calling


Judul: The Calling
Penulis: Asrini Mahdia dan Rina Suryakusuma
Penerbit: FOU Media Publisher
Tanggal Terbit: 16 Maret 2010

2 wanita, 2 kehidupan
2 latar belakang yang berbeda
Sasti, mahasiiswi di manchester, Inggris
Elana, wanita cantik yang menjalani hidup dan usahanya di Bali

Kedua Wanita yang tidak pernah mengenal satu sama lain
Sampai garis kehidupan menuntun mereka pada stau persimpangan
Satu titik yang menentukan

Titik dimana mereka menyadari keberadaan satu sama lain dan mulai mencari panggilan yang akan mengubah kehidupan mereka sebelumnya.


-------------------------------------------------------------------


Saya tertarik pada The Calling ketika suatu hari saya mengunjungi blog milik Rina, dan melihat cover dari bukunya yang indah. Karya Azisa Noor, ternyata. Saya sendiri baru sadar saya sudah mengikuti sang pendesign cover di DeviantArt untuk lumayan lama. Dan karena ketertarikan awal saya itu, saya nitip untuk beli The Calling dari salah satu toko di Palasari Bandung. Tampaknya di toko buku Gramedia atau semacamnya sudah agak susah cari judul yang satu ini. Jadi kalau ada yang domisili Bandung dan berminat hunting, Palasari bisa dicoba, atau Palasari online juga bisa.

Jadi novel ini menceritakan tentang kehidupan dua wanita. Elana dan Sasti. Karena novel ini duet dari dua orang penulis, saya menebak salah satunya menulis bagian Elana, dan yang lainnya bagian Sasti. Jalan cerita mereka tidak bersentuhan satu dengan yang lain hingga bagian akhir novel. Di sanalah kejutannya diberikan. Saya mulai sadar akan benang merah yang menghubungkan keduanya, dan agak bisa menebak konklusi ceritanya. Tapi penyampaiannya yang mulus membuat saya menikmati, daripada berkata dalam hati, "Tuh kan, bener kan!" Hehehehe.

Ada berbagai elemen di dalamnya yang membuat saya berpendapat novel ini patut dipuji. Jarang, kan, cerita romance yang mengangkat tema domestic violence? Bukan hanya itu, dalam The Calling juga dicampurkan berbagai aspek, dari kriminalitas, misteri, suspens, hingga apa artinya sebuah kehidupan. Berkali-kali dalam cerita ini tokoh-tokoh utama di dalamnya mengalami kehilangan dan duka. Berkali-kali mereka jatuh, lalu bangkit kembali lagi, baik itu ditarik oleh orang lain atau berdiri sendiri. Di kaver depan buku ini dituliskan "An Unusual Novel", dan saya merasa label itu cocok. 


Yay for unique novels!


Tapi tidak bisa dipungkiri, saya sering mengernyit gemas. Dalam beberapa tempat, terjadi berbagai salah ketik / miss, yang walau remeh, terasa fatal (karena mengganggu kenyamanan membaca). Sebenarnya tahap editing yang teliti bisa mengeliminasi semua ini, but hey, what happened? Ada potongan adegan di mana Sasti bermimpi, yang isinya hanya pengulangan dialog-dialog sebelumnya. Saya langsung skip tanpa membaca ulang. Lalu dalam satu judul bab yang berjudul Empat Bulan Kemudian, ternyata jalan waktu adalah empat tahun kemudian, bukan empat bulan. Lalu ada bagian di mana salah satu bule bertanya dalam Bahasa Inggris, "Who's them?"

Pada kalimat-kalimat langsung di novel ini, tanda baca akhir kalimat menghilang. Lenyap. Kalimat-kalimat tidak ditutup titik, juga tidak ditutup koma. Entah, kalau satu-dua, mungkin adalah miss dari editor, tapi kalau sebanyak ini, apa mungkin kesalahannya dari penulis? Dalam percakapan, saya juga merasa, terlalu banyak digunakan tanda seru sebagai pengakhir kalimat.


Lalu di London, Sasti sang mahasiswa Manchester pergi ke Central Park dan bertemu seorang pengamen Jepang. Namanya adalah Yoshikawa, dan dia diminta untuk dipanggil sebagai 'Yo'. Sasti yang memperhatikan tata krama menanyakan nama belakang Yo, yang dijawab oleh pengamen itu, "Tak perlu. Apalah arti sebuah nama."
Padahal... umumnya Yoshikawa bukanlah nama depan untuk seorang Jepang, melainkan nama keluarga

Masih ada kaitannya dengan budaya Jepang, di rumah si pengamen dia menyebut dirinya adalah seorang 'pembuat pedang samurai'. Konteks ini saya tangkap sebagai pedangnya bernama samurai, karena ada deskripsi 'membuka sarung samurai' di kalimat-kalimat sebelumnya. Sebagai pecinta budaya Jepang... saya agak kesal dengan kesalahan umum ini, karena pedang yang dipakai para samurai seharusnya bernama katana

Hal lain yang mau tidak mau saya harus sebutkan adalah hasil cetakannya. Kertas dari buku sendiri ini lumayan baik, semacam HVS yang putih bersih dan lumayan tebal. Nyaman untuk dipegang dan dibalik. Cover-nya pun terbuat dari paperback standar yang lumayan oke. Tapi tinta tulisannya tebal-tipis tidak merata, dan yang paling parah, beberapa kata bisa tercetak di satu tempat, hingga tidak terbaca. Hurufnya tertimpa satu sama lain pada kalimat-kalimat tertentu. Saya tidak tahu apakah ini kesalahan dari percetakan atau kesalahan formatting? Yang jelas saya merasa sedih.

Ya... sedih dan cerewet. Karena saya benar-benar sangat amat menyukai ceritanya. Ceritanya sendiri saya bisa kasih bintang 4.5/5, karena saya merasa idenya sangat unik. Eksekusinya lumayan baik, riset tentang Manchester dan London-nya pun terasa menyeluruh. Gaya menulisnya pun enak untuk dibaca. Saya kagum dengan untaian semua penyelesaian masalahnya yang mengejutkan. Twist-twistnya yang tidak tertebak. Setiap adegan adu pistol saya langsung deg-degan. Betapa sayangnya semua kenikmatan itu dikurangi hanya karena titik koma yang tidak ada, atau cetakan yang tidak sempurna. Rating akhir untuk buku ini 3/5 dari saya, karena yang remeh-remeh saya sebutkan terakhir mengena sekali dampaknya untuk kenyamanan membaca.

Sebagai penutup, saya sangat menganjurkan buku ini untuk dibaca oleh semua pecinta novel-novel yang unik dan menarik. Saya menyukainya, menikmatinya, dan mungkin kalian semua akan lebih toleran tentang hal-hal remeh daripada saya, hehe. Kudos untuk kedua penulisnya, saya akan mengambil karya-karya lainnya dari rak toko buku lain kali saya berkunjung. ^^

Rating:  

2 comments:

Nana said...

Wah harus diedit dan diterbitkan ulang tuhh.. Aku paling ga tahan baca buku yang banyak typo errornya. Mending kalo cuma huruf. Tapi kalo udah ceritanya skip gara2 salah kalimat atau paragraf.. Hmmm... Sayang banget karena ceritanya sbenernya kelihatan menarik..

Fenny Wong said...

@nana: yang paling banyak sebenernya kayak cetakannya gitu na. jadi yang harusnya satu kalimat, bertumpuk jadi satu kata yang tidak terbaca. atau satu kata, tertumpuk menjadi satu huruf yang tidak terbaca.

atau ini hanya pada edisi yang saya beli saja, ya? Nggak yakin juga.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...