Saturday, October 13, 2012

Novel Review: Botchan by Natsume Soseki



Judul: Botchan
Penulis: Natsume Soseki
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit: Februari 2009 (Versi Jepang pertama terbit tahun 1906)
ISBN: 9792244174 
ISBN139789792244175

Seperti cerita The Adventures of Huckleberry Finn, Botchan mengisahkan pemberontakan seorang guru muda terhadap "sistem" di sebuah sekolah desa. Sifat Botchan yang selalu terus terang dan tidak mau berpura-pura sering kali membuat ia mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. 

Cerita yang dituturkan secara humoris ini sangat populer di kalangan tua dan muda di Jepang, dan barangkali merupakan novel klasik yang paling banyak dibaca di Jepang modern.

-------------------------------------------------------------------

Jadi, menurut Fenny...

Dalam mindset saya, ada sebuah generalisasi tentang novel-novel Jepang. Mungkin karena literatur Jepang yang pertama kali saya baca adalah Norwegian Wood oleh Haruki Murakami, lalu yang kedua adalah Snakes and Earrings-nya Hitomi Kanehara.... Saya jadi agak parno dan merasa setiap novel Jepang itu sinonim dengan 'depressing' atau malah... 'disturbing' (saking pusingnya saya tidak sanggup beresin Snakes and Earrings).

 Nah, karena itulah, ketika saya melihat sampul belakang Botchan dan mendapati ternyata cerita ini 'humoris', saya langsung tertarik. Membaca halaman-halaman awalnya, cerita dimulai lambat. Pembangunan setting dan karakternya sangat baik. Rasanya pertama kali membaca tokoh utama seperti Botchan ini. Dia tidak sabaran, ceroboh, dan tergesa-gesa. Dia sering terlibat masalah karena kenakalannya, dan tidak disayangi oleh kedua orang tuanya karenanya. Sebagai gantinya, pelayan wanita tua yang menjaganya sangat menyayanginya. Dari sanalah judul novel ini diambil --- Botchan berarti 'tuan muda' dalam Bahasa Jepang. Sepanjang kisah ini diceritakan, tidak pernah disebutkan nama asli sang tokoh utama.




Settingnya sendiri baru pertama kali saya dapatkan. Desa kecil di pedalaman, yang penduduknya mengenal satu sama lain. Apapun yang berusaha kausimpan untuk dirimu sendiri tidak akan bisa tertutup di tempat sekecil itu. Di sana, Botchan bekerja sebagai guru matematika: pekerjaan yang juga diterimanya secara tergesa-gesa, dan akhirnya akan disesalinya. Masalah demi masalah datang, padahal jam mengajar Botchan masih sangat sedikit. 

Ia pun menyadari bagaimana bobroknya moral anak-anak yang diajarnya. Ia merasa sangat kesal dengan kepengecutan anak-anak nakal yang tidak berani mengakui kesalahan mereka. Sebuah kutipan yang mengena:

"Penampilan dan tingkah lakuku mungkin memang tidak terpoles dan cara bicaraku tidak elegan, tapi aku yakin dalam hati, aku manusia yang lebih baik daripada mereka."

Kutipan ini membuat saya terenyuh. Terkadang kita sering menghakimi seseorang dari tingkah laku dan penampilan, padahal nilai moral yang terkandung dalam setiap individu tidak dapat diukur dari hanya sekedar itu. Bahkan edukasi tinggi dan uang yang banyak pun tidak bisa menjamin moral yang tinggi. Menurut saya ini adalah salah satu yang paling ingin ditekankan Soseki dari Botchan. 


Salah satu. Yang lainnya adalah tentang bagaimana terkadang, keadaan sosial memang begitu adanya dan tidak bisa dirubah. Permasalahan yang disajikan dalam Botchan menurut saya tidak terselesaikan, dan memang realistisnya begitu. Kalau kamu mencari kisah ala Gokusen dalam buku ini, maka saya tidak menyarankan untuk membacanya. Walau begitu, Botchan tidak pergi sebelum berperang. Ia memperjuangkan haknya, membantu orang yang ia anggap benar, walau dari waktu ke waktu ia disesatkan oleh omongan orang. 

"Hanya karena seseorang pandai berargumen, tidak berarti orang itu orang baik. Sama halnya seseorang yang dikalahkan dalam argumen adalah orang jahat."

Yang jelas, kekuatan buku ini jelas bukan pada dialog. Banyak paragraf-paragraf narasi panjang. Benar-benar kebalikan dengan gaya menulis Doyle yang terbiasa saya baca. Tapi paragrafnya sendiri kebanyakan penuturan cerita, bukan deskripsi, sehingga tidak membosankan untuk dibaca. Tentang selera humornya sendiri, pada pengantar buku oleh Alan Turney, disebutkan ketinggalan zaman. Saya bisa mengerti, tapi saya toh tetap tertawa di beberapa tempat. Terutama ketika pada suatu adegan, sang Botchan yang tidak sabaran dan ceroboh mulai melempari seseorang dengan telur. Haha!


Other edition covers


Pada pengantar buku yang sama, Turney juga menyebutkan Botchan populer pada kalangan masyarakat Jepang karena satu alasan. Tokoh Botchan yang bebas, lugas, dan tidak tunduk pada norma apapun. Untuk sebuah masyarakat yang sangat terkukung tata krama dan norma, masyarakat Jepang merasa Botchan sangat menarik. Alasan lainnya buku ini pantas menjadi buku klasik, tentu saja, adalah karena nilai-nilai moral yang ditanamkan di dalamnya. Banyak kata-katanya yang membuat saya manggut-manggut setuju.

"Kalau kau bisa membeli kekaguman seseorang dengan uang, kekuasaan, atau logika, maka lintah darat, polisi, dan profesor universitas akan memiliki lebih banyak pengagum daripada siapa pun. Manusia bergerak dari perasaan suka atau tidak suka, bukan melulu logika."

"Ketika manusia bebas memutuskan untuk menghormatimu, hadiah yang kaumiliki lebih mahal nilainya daripada apapun." 

Bagi saya, Botchan adalah bacaan klasik yang patut dibaca. Tapi, plotnya yang datar dan klimaksnya yang tidak menegangkan dapat membuat kebanyakan orang bosan. Gaya penulisannya yang kaya narasi dan minim dialog pun dapat terkesan menjemukan untuk pembaca remaja. Di balik semua itu, Botchan menawarkan sebuah karakterisasi yang brilian, moralitas tinggi, dan satire yang tidak terkekang masa.

Ah. Saya juga menyarankan bagi yang telah membaca Botchan dan menyukainya, untuk menonton film Grave of the Fireflies. Entah mengapa, Botchan mengingatkan saya pada film dari Studio Ghibli tersebut. :)

Rating:  

2 comments:

Nana said...

"Manusia bergerak dari perasaan suka atau tidak suka, bukan melulu logika."

Quote ini aku suka bangett!!

Btw, aku juga mau baca buku ini. Udah beli di tokbuk online tapi blom sampe.

Fenny Wong said...

@nana: banyak quote-quote yang bagus di dalam buku ini, Na! Cuman ya itu, gaya penulisannya ala literasi Jepang kuno, kaya narasi minim dialog. Hehehe.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...