Wednesday, October 24, 2012

Cerpen: Neige Hiver

Ditulis untuk Lomba Cerpen Bulanan grup Kastil Fantasi di Goodreads. :) Ayo, yang suka nulis ikutan, lumayan setiap bulan kalau menang bisa dapat novel pilihan.

Untuk baca-baca cerpen buatan saya untuk lomba yang sama dibulan-bulan lalu:
September 2012 - Blanche Adnet
Oktober 2012 - Simfoni Dewata [Pemenang Cerbul Oktober]

Cerpen ini terinspirasi dari nuansa penuh salju novel-novel Prisca Primasari. My credit to you. :) 

-------------------------------------------





Setidaknya hingga sepuluh tahun yang lalu, Cuzion adalah tempat yang nyaman untuk ditinggali. 

Jenis kejunya yang beragam dan wine-nya yang lezat menjadikannya rumah ideal untuk semua kalangan. Manusia ada di antara penduduknya, namun kebanyakan adalah keturunan peri dan faun. Ada juga keluarga griffin yang pindah dari Crete kemudian menjadi petugas kota yang menjaga Cuzion. Kesejahteraan yang didapatkan griffin mengundang imigran-imigran lain. Dalam waktu yang singkat, tempat itu pun menjadi ramai.

Kenyamanan itu membuat Cuzion menjadi salah satu tempat paling terkenal di daratan Perancis. Hingga suatu hari, dikabarkan pertengkaran si empat musim bersaudara, Semi, Panas, Gugur, dan Dingin. Imbasnya adalah kematian mereka sendiri. Penerus dari Panas — yang juga bernama Panas — larut dalam kesedihan yang dalam ketika ia menjadi yatim-piatu.

“Pergilah ke Cuzion,” kata kunang-kunang, teman Panas ketika ia mengembara ke daratan Spanyol. “Mereka memiliki kir, arak putih dengan rasa yang bisa kaupilih: violet, rasberi, atau mawar. Mereka memiliki pemandangan yang luar biasa, dengan crepe-crepe lezat. Mereka bahkan memiliki banyak gadis phoenix cantik! Kau tahu bagaimana mereka menyemburkan api. Indah sekali.”

Percaya akan nasehat sahabatnya, Panas pindah ke Cuzion, membawa segala yang ia miliki. Hari-hari tidak membaik untuknya. Tapi ia tidak sadar malapetaka menghampirinya. Salju begitu berduka atas kematian kekasihnya, Dingin. Di tengah-tengah dukanya ia melelehkan air mata es, yang kemudian melahirkan anak darinya dan Dingin. Tetesan bekunya jatuh dari langit, mendarat di tengah-tengah Cuzion. Bentuknya seperti kristal yang besar dan indah. Cahaya matahari membias di permukaannya, memberikan efek pelangi yang menakjubkan.

Tapi pujian-pujian ‘c’est magnifique!’ itu tidak berlangsung lama. Kristal itu retak, dan lahirlah anak dari Dingin. 

Panas terpana ketika ia melihatnya. Panas memiliki rupa yang sama dengan ayahnya. Atau tepatnya, tidak memiliki rupa. Mereka adalah sinar yang berterbangan, namun untuk memudahkan kehidupan sehari-hari, mereka bisa merupa. Menjadi apa saja yang mereka mau. Kadang Panas menjadi phoenix tampan, atau chimera gagah ketika ia sedang merasa galak. Tapi kebanyakan, Panas memilih menjadi manusia. Muda dan tegap, dengan rambut menyala kemerahan.

Jelas sekali untuk Panas, anak dari Dingin tidak sama dengan dirinya. Atau dengan Dingin sendiri. Anaknya tidak bisa merupa menjadi apa yang diinginkan. Kalau ia bisa, mengapa ia memilih menjadi naga betina kecil yang buruk rupa?


Sekujur tubuhnya tertutup es yang kasar, bergeruntul, seperti batu-batu pegunungan. Atau lebih tepatnya, terbuat dari es. Gerakannya kaku, matanya kusam seperti penuh debu. Sayap di punggungnya kecil, menghentak-hentak ketika berusaha digunakan. Jelas bagi penduduk Cuzion yang menyaksikan kelahirannya, naga itu tidak bisa terbang. Ia bahkan tidak bisa berbicara.

Griffin tua yang adalah kepala desa iba dengan naga itu. Karena si griffin tidak sekreatif para peri, ia menamainya Neige Hiver. Neige adalah nama Perancis dari Salju, dan Hiver adalah nama Perancis dari Dingin. Bagi Panas yang mendengarnya, itu sama saja seperti tidak punya nama.

Mereka salah besar jika naga menyedihkan itu dapat mereka abaikan begitu saja setelah diberi nama. Keberadaan Neige mengubah tanah Cuzion, bahkan tanah seluruh Eropa. Neige menyimpan kekuatan yang sangat besar, namun tidak bisa dikendalikannya. Setiap ia menghembus, alih-alih api, es-lah yang dikeluarkannya. Untuk bertahun-tahun kemudian, sepanjang tahun adalah musim dingin. Tidak ada air sungai tempat anak-anak bermain. Tidak ada pakan yang bisa dipanen. Semuanya membeku.

Keadaan seperti itu tentu saja adalah bencana. Bencana yang masih bisa ditahan untuk makhluk-makhluk dingin seperti Yeti atau Jack Frost. Tapi jelas adalah petaka besar untuk makhluk seperti phoenix atau chimera. Untuk Panas, itu bukanlah sekedar petaka besar, tapi adalah kematian.

Panas sungguh tidak ingin menyalahkan Neige untuk itu. Bukan inginnya dilahirkan ke dunia. Tapi ia tidak bisa menyangkal, hari-hari menyiksanya. Semakin lama ia semakin pucat. Bahkan untuk merupa saja, begitu sulit untuknya. Ia juga tahu Neige merasa bersalah hingga mengunjunginya setiap hari, memetikkan bunga-bunga api atau kir keras untuk Panas. Tapi Panas sendiri tidak bisa menyembunyikan kondisinya. 

Tidak, ia tidak membenci Neige. Bukan maksud Neige untuk membunuhnya pelan-pelan begini, jadi rasanya tidak adil untuk membenci.

Suatu hari Panas membuka pintu pondoknya, mengharapkan kir rasa mawar dari Neige. Berbeda dari biasanya, Neige tidak membawa apa-apa. Walaupun tidak berkata-kata, rautnya tergesa-gesa. Kepalanya menyuruk-nyuruk dagu manusia Panas, seakan berusaha untuk menarik Panas keluar dari rumah hangatnya. Sentuhan dingin Neige membuat Panas menggigil, tapi Panas tahu pasti ada alasan kuat untuk Neige melakukan itu. Maka Panas pun melangkah keluar.

Kepakan sayap menyambutnya. Tubuh Neige terangkat pelan dari tanah, kemudian mendarat lagi. Ah, Panas pun mengerti. Manusia, faun, dan peri telah memberikan sayap palsu dari kayu-kayu dan jaring es untuk Neige. Sayap buatan yang takkan tahan lama. Tapi sayap itu cukup kuat untuk membawa Neige pergi, jauh dari Cuzion, dari Eropa. Dan semoga, tidak cukup kuat untuk kembali lagi.

Air mata Panas menggenang, tapi segera menguap ketika meleleh menyentuh pipinya. Di tengah kelunglaiannya, ia menyayangkan kepergian itu. Kesendiriannya sebagai yatim piatu membuatnya kesepian, tapi tidak sejak ia sekarat karena kelahiran Neige. Sepuluh tahun ini Neige terus menerus mengunjunginya, setiap hari. Kebersamaan memupuk cinta, walaupun bagi Neige mungkin hanya sekedar belas kasihan dan rasa bersalah.

Neige menyurukkan kepalanya pada dagu Panas sekali lagi. Mengepakkan sayap lagi. 

Panas kemudian mengerti. Neige ingin ia ikut dengannya.

Panas memanjat punggung Neige, tangannya berpegangan pada tonjolan-tonjolan tidak rata pada tubuh Neige. Tidak nyaman, dan menyakitkan. Dinginnya menusuk-nusuk. Panas segera tahu hidupnya berkurang hingga setengahnya. Setiap sebelum ia tidur, Panas bertanya-tanya berapa hari lagi ia diizinkan untuk hidup. Namun kini, ia tahu waktunya hanya tersisa beberapa jam saja.

Tapi Panas tidak apa-apa. Kali itu adalah kali pertama ia memeluk Neige. Panas memuji keberaniannya sendiri.

Neige tidak terbang lama. Ia berhenti di Bonnu, desa kecil di pinggiran Cuzion. Isinya adalah manusia-manusia penyihir, yang jauh lebih kental dengan tradisi dengan yang mendiami Cuzion. Juga jauh lebih kuat dan sakti.

Neige melenguh, menurunkan Panas di tengah-tengah para penyihir yang sedang berkumpul. Lenguhannya segera mematikan api unggun yang tadinya masih membara di tengah-tengah mereka. Seketika, Bonnu dilanda hujan salju. Panas tergeletak di atas tanah, hingga seorang penyihir wanita tua mengangkat tubuhnya.

“Jadi dia yang ingin kausembuhkan?” tanya si penyihir seakan ia sudah kenal Neige begitu lama. “Kami akan mencoba, tapi kami tidak janji.”

Neige melenguh-lenguh, menghembuskan napasnya frustasi. Hujan salju berubah menjadi badai salju. Penyihir-penyihir yang berkumpul seketika bertambah panik. Mereka meletakkan tubuh Panas di tengah-tengah lingkaran, kemudian bernyanyi-nyanyi dan mengelilinginya. Si penyihir wanita tua yang tadi berkata pada Neige, tergesa-gesa, “Hentikan lenguhanmu, atau langit akan hancur menjadi es berkeping-keping!”

Maka Neige pun menurut. Ia mengisap banyak udara, banyak salju, banyak es. Badai pun berhenti, walaupun musim dingin tetap membekukan. Neige terduduk, menatap Panas yang tidak sadar diri dengan penuh harap. 

Penyihir-penyihir itu mendesah putus asa, namun tidak berencana untuk mengecewakan Neige. Menyembuhkan Panas, atau bahkan membuat Panas menjadi dewasa, mungkin akan menyelesaikan masalah musim dingin yang berkepanjangan ini. Mereka mulai menari-nari. Bibir mereka mendesis-desis. Tangan mereka melambai-lambai. Mereka memanggil awan. Meminta awan mengikuti alunan yang para penyihir ciptakan. Dan awan, entah tersihir atau hanya murni terpikat, mengikutinya dengan patuh.

Kanan, kiri. Mendesir-desir. Membisik-bisik. Ada sesuatu yang merubah awan-awan itu. Kasih yang dikumpulkan dari tanah Eropa dilancarkan ke langit, agar awan menerimanya. Agar hati awan melembut karena kasih. Agar awan berhenti memuntahkan es dan salju.

Pertama-tama Neige mengira ritual itu berhasil. Kemungkinan besar, karena keberadaan Panas di sana, walaupun pemuda itu kini sekarat. Neige mulai merasa gerah, batu-batu es tubuhnya terlihat meleleh perlahan di bawah cahaya. Awan mendung terlihat, dan ada tetesan yang turun. Bukan es, hanya air. Neige begitu gembira, karena air tidak perlu membeku kali itu. Tapi kemudian sehelai kelopak dandelion menyusup ke lubang hidungnya.

Neige bersin.

Seketika tetesan air berubah menjadi hujan es. Berbongkah-bongkah, seperti batu bata. Para penyihir yang tadinya berkumpul segera berlarian panik, mencari tempat berteduh. Panas, yang masih terbaring tidak berdaya, terjatuhi dan terkubur es dalam sekejap. 

Neige menarik napas panjang. Mengisap es-es itu pada tubuhnya. Diangkatnya semua es dari tubuh Panas. Kemudian Neige merasakan desir kesedihan memenuhi tubuhnya.

Panas meninggal. Tidak ada rupa, hanya secercah cahaya. Perlahan-lahan menghilang ke angkasa.

Baru di sanalah Neige menyadari betapa ia mengasihi Panas, yang sudah dibunuhnya. Kasih itu tumbuh begitu besar di dalam dadanya, berdenyut-denyut menyakitkan. Neige meneteskan air mata, yang kemudian berubah menjadi setetes es yang menertawakan kesedihannya. 

Dipupuk duka, kasih itu bertambah berkali-kali lipat. Ditumbuhkan rasa kehilangan, debaran di hatinya semakin besar. Penyihir-penyihir terpana ketika melihat tubuh Neige bersinar. Neige sendiri melihat pantulan tubuhnya dari danau yang membeku di sampingnya. Ada sesuatu di dadanya yang berdenyut-denyut, memancarkan kemerahan yang panas.

Hatinya sendiri. Berisi api, seperti layaknya naga umumnya. Namun kebencian telah memadamkannya selama ini, hingga cinta atau kasih tidak bisa tumbuh. Kini Neige merasakannya, karena Panas. Denyut itu mengalirkan panas ke seluruh nadinya, membuat napasnya mengembuskan api. Tubuh Neige pun perlahan-lahan meleleh.

Neige memberikan senyum sebelum ia berubah sepenuhnya menjadi air. Cahaya panas di dadanya kemudian keluar dari cairan Neige yang kini tidak bernyawa, melayang-layang di angkasa. Kasih dari Neige dan Panas itu terbang ke sana ke mari, memberikan warna-warna pelangi di atas kematian kedua orang tuanya.

Kemudian, cahaya itu melahirkan Cuaca. Keempat musim disatukan, keseimbangan antara panas dan dingin. Dipastikan tidak ada lagi wabah kelaparan atau musim yang tidak pada tempatnya. Semuanya bersuka cita, menyanjung-nyanjung pelangi yang melambangkan Cuaca. Mereka telah melupakan Neige dan Panas begitu saja.

Lalu Cuzion pun, seperti desa-desa lain di Eropa, kembali tenang seperti semula.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...