Sunday, September 23, 2012

Simfoni Dewata

Author's Note: Cerita ini ditulis untuk latihan, eksperimen, sekaligus mengikuti ajang lomba bulanan di Kastil Fantasi Goodreads. :)
Entri untuk Bulan September pada ajang yang sama bisa dibaca di Blanche Adnet.

Jadi gaya penulisan cerita ini adalah yang pertama kali untuk saya. Sedikit banyak terdampak oleh bacaan terakhir saya, The Name of This Book is Secret oleh P. Bosch, dan A Series of Unfortunate Events-nya Lemony Snicket.

Enjoy. :)

-----------------------------------------------------------



Simfoni Dewata


Di antara kehampaan, banyak titik warna-warni muncul menghiasi. Kalau ibumu adalah seorang kolektor lukisan, mungkin kau akan menebak cerita ini adalah tentang karya George Seurat (tidak, jangan membuka mesin pencarimu di internet. Baca saja cerita ini, oke?). Sebaliknya, kalau keluargamu memiliki toko elektronik, mungkin kau akan terpikir bagaimana televisi mengeluarkan titik warna-warni ketika programnya rusak. Semuanya salah, karena yang menunggumu untuk alinea-alinea ke depan adalah sebuah pertunjukkan orkestra. Atau lebih tepatnya, sebuah kontes kecantikan. Tunggu — atau mungkin keduanya: orkestra kontes kecantikan. 

Masuk akal? 

Tidak. 

Tapi tidak apa-apa. Cerita tidak perlu masuk akal untuk menjadi menarik. 

Orang tuamu mungkin akan senang mendapatimu membaca cerita ini, karena di dalamnya ada pengetahuan tentang bagaimana segalanya bermula. Itu, 'kan, yang selalu dipertanyakan orang-orang dewasa? Kalau kau sepertiku, melewati jam-jam membosankan dalam kelas IPA, kau akan mengenal seseorang bernama Darwin — yang mencetuskan ide gila bahwa semua orang berasal dari primata. Itu, adalah salah satu usaha terpayah dalam mencari kebenaran tentang awal mula. Jika benar manusia berasal dari monyet, maka tidak perlu ada salon yang menyediakan wax. Tidak akan ada yang peduli jika kau berbulu. Darwin benar-benar harus membaca cerita ini.

Jadi di kehampaan sana, ada titik-titik warna-warni. Jika dilihat dari dekat, kamu akan mendapati sebenarnya hanya ada lima titik. Lima dewa-dewi, biarkan aku meralat. Mereka terlihat seperti titik karena dilihat dari jauh, tapi kini kita telah mendekat. Untuk mendengar menguping apa yang sedang mereka bicarakan.



Dan ternyata, mereka sedang bertengkar. Seperti yang dilakukan semua orang lain yang santai dan tidak ada pekerjaan. Akui saja, itu yang kaulakukan dengan adikmu ketika kalian bosan, bukan?

“Tapi, akulah yang tercantik,” kata Dewi Biola seraya melenggokkan pinggulnya. Bukan pinggul biola, tapi pinggul seperti manusia sebenarnya. Kau tidak bisa menyalahkannya untuk melakukannya, karena lekuk tubuhnya memang sempurna. Lebih sempurna daripada Barbie, jika boneka itu realistis. Biola yang tinggi aduhai mulai berjalan mengelilingi dewa-dewi lainnya, lalu berhenti di tengah lingkaran dewa-dewi lainnya, kedua tangannya bertolak pinggang.

“Tapi! Tapi! Aku paling lucu di sini! Imut! Bikin orang tidak tahan! Ya kan, ya kan?” Dewi Harpa tidak setuju. Dengan tubuhnya yang lebih pendek, dia maju dan mendorong Biola dari tengah-tengah lingkaran. 

Matanya yang bulat dan besar berkaca-kaca meminta perhatian. Sebelum aku bisa mendeskripsikan lebih banyak tentang keimutannya, Dewa Piano segera menyela. 
“Tidak ada yang peduli yang mana yang lebih cantik di antara kalian. Yang jelas, aku yang paling tampan! Muahahahahahaha! Bohohohohohoho! Ihihihihihi!” Piano tertawa penuh percaya diri, membuat yang lainnya menatapnya dengan tatapan kasihan. Ia memang tampan, dan tuxedo yang ia kenakan dapat menyaingi milik Topeng Tuxedo. Tunggu. Kalian tidak membayangkan mereka telanjang, ‘kan, sedari tadi?

Dewa Perkusi, yang paling kekar, berdiri tegap dan penuh gaya seperti binaragawan. Seakan tiga dewa-dewi yang aku sebutkan sebelumnya hanya anak kecil yang mempertengkarkan sesuatu yang bodoh. Tonjolan-tonjolan ototnya-lah yang berkata untuk Perkusi, Akulah makhluk Tuhan~ Yang tercipta~ Yang paling sexy—

Nyanyian tanpa suara dari otot Perkusi dipotong suara dengkuran Dewa Konduktor. Dia terduduk di ketiadaan, dengkurannya semakin kencang. Hanya Konduktor yang terlihat seperti kakek-kakek tua dengan janggut panjang, lebih seperti Gandalf daripada Santa Klaus. Harpa terjatuh dramatis di samping Konduktor, kemudian dengan satu jari, ia menusuk-nusuk lesung pipit pada pipi Konduktor.

Seketika, Konduktor melompat terbangun. Matanya menatap nanar ke kanan dan kiri.

“Kenapa?! Ada apa?! Di mana?! Apa?! Kalian sudah menetapkan yang tercantik di antara kalian berempat?!”

Piano menyela lagi, seakan itu adalah kebiasaan buruk yang disukainya. “Tidak, justru Harpa membangunkanmu untuk memilih siapa di antara kami yang paling menarik. Atau yang paling tampan, ehem, kau pasti mengerti. Ihihihi-hohoho-aha—”

“Oh,” Konduktor terduduk lagi, kini lebih jauh dari Harpa yang masih tergeletak dramatis. Konduktor berpangku dagu, janggutnya berserabutan ke mana-mana. 
“Terakhir kalian memintaku menyelenggarakan orkestra. Memohon-mohon, hingga Harpa mencolok lesung pipitku dengan entah apa. Janji kalian, kalian akan berhenti bertengkar setelah orkestra selesai. Buktinya?”

Perkusi segera maju dan memasang gaya binaragawannya lagi di depan Konduktor. Otot dadanya berdenyut-denyut seakan ia berkata, I’m sexy and I know i—

“Justru karena orkestra, kita jadi lebih cantik dan tampan. Malah tambah susah memutuskan.”

“Dan kami bertambah bingung. Mungkin sebaiknya Konduktor yang memilih pemenang kontes kecantikan ini. Bagaimanapun, aku, Biola, tahu akulah yang pasti menang. Mana mungkin dengan gaya sok imut seperti yang dimiliki Harpa, dia bisa—!”

“HEI!”

Lalu mereka semua mulai bertengkar lagi. Konduktor terduduk lagi di kehampaan, kemudian mendesah. Ia menutup matanya, bersiap untuk tertidur lagi. Hanya sepersekian detik kemudian ia menghilang ke ketidaksadaran, tuli dari semua rengekan Harpa atau tonjolan-tonjolan otot Perkusi. Atau dari tawa mengerikan Piano. Konduktor tahu, jika saatnya sudah tiba, ia akan dibangukan lagi.

Dan Konduktor benar. Ketika ada yang menusuk-nusuk lesung pipitnya lagi, keadaan keempat temannya telah sangat berbeda. Lemak Biola telah menumpuk sangat banyak hingga dada, pinggang, dan pinggulnya terlihat seperti satu barel anggur besar. Kakinya terlihat terlalu kecil untuk menopang tubuh sebesar itu. Pipinya membengkak besar, membuat setiap kata-kata Biola terdengar seperti gumaman tidak jelas.

Kau pernah mendengar tikus yang terjepit, hampir mati? Seperti itu suara Piano sekarang. Dan penampilannya jauh dari tampan. Ia meringsut, pakaiannya menjadi yang paling dekil dan compang camping di antara semua. Kepalanya membotak hanya di samping, membuat sejumput rambut hitam-putih aneh berdiri di tengah-tengah kepalanya. Ia terlalu malu dan hancur untuk menyela pembicaraan apapun. Atau tertawa seperti orang bodoh.

Di samping Piano dan Biola, hanya ada seorang wanita cantik (lebih cantik dari Biola dan Harpa dalam kondisi prima mereka), yang menggendong bayi. Bayi itulah yang menusuk-nusuk lesung pipit Konduktor.

“Ah, Perkusi! Kau lebih cantik daripada biasanya! Keadaan kalian kali ini tampaknya lebih parah daripada kapan pun juga,” Konduktor tertawa bahagia. Perkusi hanya memberikan tatapan membunuh yang tidak dipedulikan Konduktor. Harpa yang digendongnya terkejut melihat tatapan membunuh Perkusi, mengeluarkan tangisan keras, kemudian pup pada popoknya.

Konduktor berdiri bersemangat dan mulai berjalan menyeberangi kehampaan. Keempat makhluk lainnya — menyebut mereka dewa-dewi bisa menghancurkan angan-angan semua anak-anak — mengikuti di belakang. Sebuah tongkat mengkilat muncul di tangan Konduktor. 

Dengannya, Konduktor mulai mengetuk-ngetuk kehampaan seakan sekitarnya adalah jalanan di gang pinggir jalan.

Lalu setelah tidak lama, ia menemukan tempat yang tepat. Suaranya seperti air mengalir — tidak, seperti angin berdesir — atau lebih seperti daun melambai? 

“Ah! Di sini sempurna!” Konduktor bertepuk tangan, janggutnya bergoyang dari kanan ke kiri. Ia berbalik memandang keempat temannya, bertanya, “Jadi, janji kalian?”

Biola mengeluarkan gumaman tidak jelas dari balik pipinya yang tembam. Piano mulai bersuara, tapi kemudian Perkusi mengangkat tangannya. Untung saja, kalau tidak kau dan aku mungkin akan tuli selamanya. 

“Kita semua berjanji tidak akan bertengkar lagi setelah orkestra selesai,” kata Perkusi. “Kami mengerti pertengkaran membuat kami buruk rupa. Dan hanya kamu yang bisa menolong kami, Konduktor! Tolong!”

Harpa mulai menangis-nangis, berusaha membesar-besarkan matanya yang berkaca-kaca. Konduktor membuang muka dan berdeham.

“Yah, itu yang kalian janjikan setiap kali. Tapi setiap orkestra selesai, kalian selalu bertengkar lagi. Justru karena orkestra, kita jadi lebih cantik dan tampan. Malah tambah susah memutuskan!”

Perkusi sudah putus asa ketika ia berkata, “Tolong? Kami berjanji. Kembalikan ototku, tolong!”

Kecantikan perkusi membuat bahkan seorang Konduktor tidak tahan. Konduktor mengangkat tongkatnya, berdeham. Kemudian ia mulai mengayunkannya. 
Lalu hal yang paling indah terjadi. Semua warna bercampur menjadi satu, seperti bagaimana seluruh suara alat musik membaur. Biola mengeluarkan suara gesekan-gesekan indah untuk memulai orkestranya. Pertama-tama lembut, kemudian dipercepat, menjadi bertambah bertenaga. Dariandante, menjadi allegro grazioso, lalu allegro apassionato. Setiap gesekannya seakan menggesek lemak biola sedikit demi sedikit. Dan sedikit demi sedikit juga, aliran angin terbentuk.

Ayunan tongkat Konduktor membawa serpihan-serpihan padat yang kemudian menyatu menjadi satu, diantar oleh angin-angin Biola. Mengikuti arahan Konduktor, kali ini Piano yang mulai membaur. Alunannya penuh dengan sentuhan-sentuhan yang melompat-lompat. Staccato! Dan pakaian compang campingnya dijahit kembali oleh warna yang menggeliat-geliat. Tuxedo wolnya sedang dibentuk kembali, diperbaiki, begitu pula dengan ketampanannya.

Gerakan Konduktor semakin bersemangat. Kini ada sesuatu yang padat untuk dipijaki, jadi Konduktor bisa melompat-lompat penuh semangat. Dentangan Piano menimbulkan gemuruh dari bawah kaki Konduktor. Bahkan tanpa membuka kelopak matanya, Konduktor tahu benih-benih tumbuhan sedang mengintip di balik padat, siap membentuk hutan hujan yang luar biasa.

Perkusi mulai berputar-putar, bertepuk tangan mengikuti hentakan. Tangannya kini bebas karena Harpa sudah mulai bisa berjalan, walau masih sering terjatuh. Bayi itu telah tumbuh tiga empat tahun kini. Ketika tubuhnya membesar — aku tidak ingin menjelaskan detil Perkusi berubah, terima kasih — Perkusi mengeluarkan xylofon, membentuk alunan yang menyatu dengan milik Piano dan Biola. Ia membuat kepadatan yang dipenuhi tumbuhan itu dihuni berbagai jenis binatang yang menyenangkan. 

Lalu mereka sadar akan sesuatu. Lagu berubah menjadi mencekam, mengeluarkan amarah. Seperti segalanya yang baik-baik, juga diperlukan kehancuran untuk membuat segalanya seimbang. Harpa yang kini telah seumur dirimu mengeluarkan harpanya, memetiknya dengan tangan-tangannya yang kini cukup panjang. 

Satu petik. Dua petik. Tiga petik. 

Banjir datang, memporakporandakan. Namun tidak untuk lama, karena warna lagu berubah menjadi tenang. Lembut. Bahkan, manis, seperti Harpa yang sebenarnya. Dolce. Lalu air pun menjadi tenang, turun sebagai air terjun, membaur menjadi sungai dan laut. 

Kini seluruh warna telah terbentuk. Tugas Konduktor adalah membuat lagunya lebih lama lagi, diakhiri dengan sebuah finale yang akan membuatmu menginginkan lagi dan lagi, bertepuk tangan terus dan terus — hingga mereka melakukan encore. Seluruh warna harus menyatu menjadi satu, membaur. Yang baik dan yang buruk, cepat dan lambat, anggun dan penuh gelora. Segalanya harus membentuk keseimbangan yang akan berputar bagai roda. 

Agar ketika Orkestra Simfoni Dewata ini berakhir, dunia yang mereka bentuk dapat berjalan dengan semestinya. Tidak akan sempurna, karena yang menciptakan mereka juga sama tidak sempurnanya. Tapi cukup untuk membuat semua yang tinggal di dalamnya tersenyum puas, seperti setiap kali Konduktor menyelesaikan orkestranya. Lesung pipitnya akan muncul, menandai pipinya dalam-dalam. 


Konduktor mengangkat tongkatnya, menggerakkan tangannya secara horizontal dengan perlahan. Dalam hati Konduktor tahu, kecantikan dan ketampanan yang keempat temannya dapat akan segera membuat mereka bertengkar lagi. Kemudian, perlahan-lahan mereka akan menjadi ‘buruk rupa’ sekali lagi, jauh dari fisik ideal mereka. 

Tapi itu tidak apa-apa. Konduktor akan terbangun ketika ia dibutuhkan. Lalu ia akan mengetuk-ngetuk tongkatnya pada kehampaan lain, untuk memulai orkestra. Membentuk lagu penciptaan lain, untuk dunia yang sama sekali baru.

Diam-diam Konduktor menikmatinya. 

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...