Thursday, September 27, 2012

Movie Review: Amélie



Tahun: 2001
Bahasa: Perancis (cari yang dengan subtitle ;D )
Rated: R for sexual content
Amelie, an innocent and naive girl in Paris, with her own sense of justice, decides to help those around her and along the way, discovers love.




Pertama kali saya tahu tentang film ini adalah pada suatu sore, ketika saya terjebak di dalam ruang kelas dingin di depan komputer-komputer yang menyala. Sembari menunggu murid-muridnya menyelesaikan tugas, dosen saya memutar lagu dari film ini. Hanya instrumental, tapi cukup untuk menarik perhatian saya. Lagunya  mendayu, diiringi suara piano dan campuran akordion... khas Perancis. Dan juga, entah mengapa, mengingatkan saya pada game-game Professor Layton, yang ternyata sangat jauh dari apa yang film ini kemudian tawarkan.

Penasaran, saya mendownload film ini di rumah. Berminggu-minggu saya tidak menyentuhnya, hingga tadi sore. Saya merasa ada sesuatu yang perlu membangkitkan inspirasi saya --- karena sudah lama saya tidak menggambar. Apa yang dosen saya suka tentunya ada hubungannya dengan seni (dia tipe orang seperti itu), dan seharusnya, membangkitkan keinginan saya untuk menarik palet-palet cat air saya dari dalam lemari.

Amélie bercerita tentang seorang gadis yang tumbuh kesepian. Ayahnya percaya bahwa jantungnya lemah, maka dari itu ia tidak bisa pergi ke sekolah seperti anak-anak kebanyakan. Ibunya meninggal mendadak, membuat sifat introvert Amélie semakin menjadi. Sebagai gadis yang dewasa ia kemudian meninggalkan rumah dan tinggal sendiri. Hidupnya sepi, dan ia mulai belajar bagaimana menghargai hal-hal kecil dalam hidup.




Hingga suatu hari, tepatnya 31 Agustus 1997, Amélie terkaget dengan kabar kematian Lady Diana di televisi. Benda yang saat itu digenggamnya terjatuh, menghantam sebuah panel lantai di kamar mandinya. Karena hantaman itulah panel itu terbuka, dan memperlihatkan sebuah kotak di dalamnya. Kotak seng usang, yang ditanam di sana mungkin sekitar 40 tahun yang lalu, berisi mainan-mainan anak. Harta karun seorang anak kecil yang terlupakan.

Dari sanalah hidup Amélie berubah. Dia memutuskan untuk mencari orang yang dulu tinggal di tempatnya, kemudian mengembalikan kotak itu padanya. Dia bertanya pada orang di sekelilingnya, yang selain membawanya lebih dekat pada si pemilik kotak, juga ternyata punya masalah masing-masing. Seorang kakek tua yang fisiknya lemah, dan menghabiskan tahun-tahunnya di dalam kamarnya, melukis. Ada juga seorang penjaja sayuran yang selalu dimaki dan dihina oleh atasannya. Ada seorang wanita paruh baya yang tinggal di lantai bawah, dikhianati dan ditinggal mati suaminya 40 tahun yang lalu. Amélie juga bekerja di sebuah cafe sebagai pelayan. Seperti semua orang lainnya, orang-orang lain yang bekerja di cafe itu juga memiliki masalah masing-masing.

Amélie menemukan si pemilik kotak. Reaksinya ketika melihat kotak yang ditemukan Amélie sangat luar biasa, hingga membuat Amélie mengubah hidupnya. Ia ingin menolong orang-orang di sekitarnya, dengan caranya sendiri. Dan dia melakukan semuanya diam-diam, tanpa berkata lantang, "Hei, aku loh yang membantumu!"






Di tengah semua itu, Amélie juga menemukan cinta. Tapi menemukan dan mengejar adalah hal yang sama sekali berbeda. Untuk Amélie yang introvert, mengejar cinta adalah sesuatu yang asing. Apa mungkin ada orang yang membantunya, seperti ia diam-diam membantu orang lain? 

Kesimpulannya.... Amélie bukanlah cerita fantasi seperti yang saya kira pertama kali. Mungkin saya mengira seperti itu karena mendengar lagunya yang mirip lagu dari game Professor Layton, tapi Amélie murni adalah cerita slice of life. Sarat makna, tapi disampaikan dengan tenang, khas film-film Eropa, dan banyak humor.  Kata quirky adalah satu-satunya kata yang bisa menggambarkan baik keseluruhan tokoh Amélie, maupun perasaan yang didapat ketika menonton film ini. 

Tentang apakah film ini bisa menginspirasi saya untuk mengambil palet cat air saya.... 

Mungkin belum sampai ke sana, tapi saya memang merasa terinspirasi. Adegan di mana Amélie menyebutkan the little pleasures in life benar-benar dapat saya rasakan. Sebagai seseorang yang juga tinggal dalam sepi, saya bisa mengerti apa yang Amélie katakan. Lalu, melihat adegan dia memecah bagian atas creme brulee dengan sendok kecilnya, saya merasa lapar.



Dessert, anyone? :)

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...