Friday, September 14, 2012

Manga Spotlight: Wataru Yoshizumi works (1)

Sejak kecil, saya sudah suka menggambar. Sebelum saya mulai menulis novel, saya pernah berangan-angan untuk menjadi penulis komik ala Jepang, seorang mangaka. Cita-cita itu lalu kandas ketika saya sadar menggambar karakter secara konsisten dari satu panel ke panel lainnya adalah tugas yang... hampir tidak mungkin untuk saya. *teplok jidat

Sepanjang sekolah menengah saya sering sekali beli manga di Mas-Mas emperan yang suka jualan di depan sekolah, sampai pada akhirnya saya kayak temenan sama dia. Hingga suatu hari saya menemukan yang namanya manga scan di internet lalu mulai mengkhianati dia (maafkan saya, Mas). Yang dijual di emperan pada tahun-tahun SMA terakhir saya banyaknya bukan terbitan Elex Media atau penerbit besar lainnya. Kebanyakan tampak diterbitkan oleh penerbit yang berskala jauh lebih kecil, dengan kualitas terjemahan dan grafis yang sangat mengecewakan. Bahkan hasil jilid-an bukunya pun nggak rata. Itu juga jadi salah satu alasan saya mengkhianati si Mas (maafkan saya, Mas). 

Yah, well, sebagai pembelaan, walaupun saya sekarang membaca manga scan atau raw manga yang Mandarin, saya masih beli manga terbitan penerbit resmi, kok. Terutama yang ceritanya saya suka, dan yang sudah saya koleksi. Rasanya kalau ceritanya bagus, saya sangat rela untuk menyumbangkan bentuk apresiasi saya untuk sang penulis lewat royalti, hehe. And they look really well when stacked up on my bookshelf, too. :3

Nah, jadi mangaka yang ingin saya bahas kali ini adalah... Wataru Yoshizumi. Karyanya yang pernah diterbitkan m&c di Indonesia dan saya koleksi bentuk jilidnya adalah Mint na Bokura (We are Twins) dan Ultra Maniac. 



We are Twins menceritakan tentang... kembar (*ya eyalahh*), sedangkan Ultra Maniac tentang penyihir. Dua-duanya bikin saya ketawa-ketawa, dan target pembacanya tergolong muda, untuk anak-anak SMP-SMA. Ringan, enak dibaca, tapi nggak se-fluffy manga cewek kebanyakan. Memang, ada sih, adegan-adegan klise, tapi nggak ter...abuse seperti di kebanyakan manga lainnya.

Dua seri lainnya yang diterbitkan oleh penerbit yang sama, tapi saya hanya pinjam dari teman, adalah Random Walk dan Marmalade Boy.


Sama-sama tertuju untuk remaja. Random Walk lebih seperti perjalanan cinta seorang cewek yang berganti-ganti cowok (hence the 'bitchy' comments from some readers, though I quite enjoyed it LOL). 

Sedangkan Marmalade Boy adalah kisah di mana orang tua si cowok dan cewek menikah ulang dan membuat mereka menjadi saudara tiri. Nah loh, kayak pernah denger di mana gitu ya plotnya? Rasanya kalau dari manga sendiri ada beberapa yang pakai ide ini. Yang terpikir sekarang oleh saya adalah manga Akuma de Sourou yang dijadikan drama Taiwan Devil Beside You. Marmalade Boy sendiri juga dibuat jadi drama Taiwan. Kebetulan? Yah, masih banyak sih yang pakai ide plot mirip, jadi saya nggak terlalu mempermasalahkan asal ceritanya menghibur. Atau mungkin saya aja kebanyakan baca manga cewek sampai hapal pola-pola permasalahannya. xD

Yang baru-baru ini saya baca atau baca ulang adalah Spicy Pink, Kimi Shika Iranai (I Don't Need Anyone But You << tulisan terjemahan, tapi rasanya saya pernah baca terbitan m&c dengan judul berbeda? Nggak inget tapi apa judulnya), dan Cherish & Happiness.



Yang ini menarik menurutku. Ceritanya nggak se-fluffy judul-judul yang kusebut sebelumnya, serinya juga jauh lebih pendek, cuma dua volume. Tapi ada sesuatu yang membuatku tertarik ke dalamnya. Mungkin karena Yoshizumi memperlihatkan kehidupan menjadi mangaka yang sebenarnya?

Jadi, mangaka adalah pekerjaan utama karakter cewek Spicy Pink ini. Karakter cowoknya berprofesi sebagai plastic surgeon, tapi dari sana nggak disebut-sebut lebih banyak lagi. Sayang sih, soalnya kalau diceritain lebih lanjut pasti tambah seru, hehehe. Ide cerita dengan mangaka sebagai pusat nggak bisa dibilang unik, dengan gampang saya bisa mengatakan beberapa judul yang menggunakan premis sama: Fall in Love Like a Comic! nya Yagami Chitose, Watashi ni xx Shinasai nya Ema Tooyama. 

Tapi ada satu adegan yang membuat saya dipaksa untuk percaya, kehidupan mangaka yang digambarkan Yoshizumi di dalam Spicy Pink ini realistis, nggak kayak pendekatan yang digunakan banyak manga lainnya. Di satu kesempatan ada satu karakter yang berkata, editor yang menunggu di rumah seorang mangaka hanya untuk menunggu naskahnya rampung itu tidak mungkin. Terlebih lagi kalau datangnya tanpa janji sebelumnya. Banyak halnya tidak realistis, ditambahkan bumbu kecap untuk menggambarkan profesi stereotip mangaka di mata umum.

Hum... saya jadi ngebayangin kalau saya jadi mangaka beneran. Sebagai penulis newbie, saya berusaha untuk rajin mengumpulkan data dengan menulis di agenda saya atau mengetik ke dalam HP. Ternyata untuk mangaka, visual tampaknya lebih penting, karena mereka digambarkan lebih banyak mengambil foto. Plot diteruskan sesuai permintaan pembaca, jadi bisa aja sewaktu-waktu cerita yang sudah final tamat ditambahkan sekuel, walau di plot awal tidak ada rencana seperti itu. Kalau soal plot ini sih, saya sudah menebak dari dulu, karena banyak cerita favorit saya yang dipanjang-panjangkan atau malah jadi ngalor-ngidul tanpa akhir karena meledak populer.

Bagaimana pun dipikir-pikir, saya masih lebih senang menjadi penulis novel. 
So long, my childhood dream (?) !



.... to be continued.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...