Saturday, August 25, 2012

Blanche Adnet

Written for Kastil Fantasi August 2012 challange, with the theme "red and white".
Enjoy. :)



Blanche Adnet

Adnet sering berkata, tidak ada yang sesempurna diriku.

Pria yang paling kusayangi itu mengatakannya setiap kali aku terbangun di atas ranjang operasinya. Saat-saat seperti itu, ia akan merengkuhku dan melompat kegirangan, karena ia berhasil menanamkan pisau di sela buku-buku jariku. Atau racun di belakang bibirku.


Ia berkata karena kesempurnaan itu, aku dipinangnya. Tidak ada yang lebih cocok daripada diriku untuk menjadi istrinya. Ia membawaku ke kapel yang ia bilang menyaingi indahnya Notre Dame, mengucap sumpahnya untukku. Lalu pada hari-hari awal pernikahan kami, ia membawaku berjalan-jalan setiap akhir pekan. Pagi hari, ketika trotoar Paris baru disinari matahari terbit. Atau siang, ketika ia terduduk di depan puing-puing Eiffel, berkata ketika Adnet muda, beratus-ratus tahun yang lalu, menara itu pernah berdiri tegap. Kemudian malam hari, ketika ia membawaku pulang, namun tidak sebelum membelikanku kue — manisan dari telur dan terigu. Adnet berkata seleraku mahal dan kuno; namun ia tidak pernah mengomel.

Namun hari-hari terakhir, Adnet lebih sering berada di ruangan putihnya di bawah tanah. Ketika aku memanggilnya, mengingatkannya atas pil keabadian yang tidak boleh lupa ia minum, ia menghardikku kasar. Ia mengusirku. Ia berkata aku mengganggu penelitiannya.

Gadis setengah telanjang terbaring di atas ranjangnya. Kabel-kabel masuk dan keluar dari tubuhnya. Dan gadis itu bukan aku.



Saat seperti itu aku terduduk di kamarku, merenung. Aku telah berjanji pada diriku sendiri, Adnet adalah yang harus kulindungi, yang harus kucintai. Entah mengapa aku berpikir seperti itu sedari awal. Bahkan, ketika aku tahu ia membawa gadis-gadis ke lantai bawah tanahnya, aku tidak pernah protes.

Gadis-gadis itu semua sama sepertiku. Kulitnya seputih salju, bibirnya semerah mawar. Tipe kesukaan Adnet tidak pernah berubah.

Cintaku pada Adnet selalu ada. Hingga pada suatu hari, ia memanggilku untuk turun ke ruang putihnya. Ia memintaku untuk mengenakan gaun terbaikku, dengan tatanan rambut terindahku. Ia berkata hari itu adalah perayaan terbesar. Ia telah berhasil menemukan seseorang yang baru, yang lebih sempurna dariku. Dan aku, istrinya, harus ikut bersuka ria bersamanya.

Kegeraman memenuhi hatiku. Ruang putih itu penuh dengan ranjang-ranjang, gadis-gadis tengah bermimpi di atasnya. Ada sepuluh, dua puluh, tiga puluh... lima puluh, aku menghitung dalam hati. Semuanya cantik, seperti diriku. Namun di tengah-tengah ruangan, keluar dari barisan, sebuah ranjang disambungkan dengan berbagai kabel ke panel komputer Adnet. Gadis terbarunya. Kulitnya seputih salju, bibirnya semerah mawar. Ia mirip dengan diriku.

Pandanganku dikaburkan air mata. Aku melihat dari pantulan kacamata Adnet. Mataku putih, kini ditutup merah. Aku penuh kalut.

Adnet tahu, lalu menggenggam bahuku. Ia bergerak dan menenangkanku, walau aku tahu semangat masih ada di dalam dirinya. Langkahnya berat, dan kini aku sadar mengapa. Kabel-kabel dari panel komputernya juga menyambung pada dirinya.

Blanche, panggilnya padaku berulang-ulang, seakan aku sedang melamun, dan ia berusaha menyadarkanku. Dengan antusias Adnet berkata padaku, percobaannya telah berhasil. Lima puluh satu yang telah ia buat, dan semuanya kini menyambung pada dirinya. Pada jiwanya. Kini Adnet bisa menjalankan mereka, menguasai Paris, Perancis, dunia tanpa ada yang bisa menghentikannya. Karena ia telah menemukan cara agar semua gadis itu patuh padanya.

Adnet berkata, jiwanya menyatu dengan milik mereka.

Ia meracau tentang bagaimana satu percobaan awalnya memberikan ide untuk itu. Tapi ia tidak menyangka ini akan berhasil. Gadis-gadis buatannya takkan memberontak lagi kini, setelah mereka merasakan cinta padanya.

Aku mengepalkan tanganku. Pisau muncul dari buku-buku jariku. Aku menarik Adnet, dagingnya terkoyak ketika ia terjatuh ke arahku. Mendekapnya erat, aku menciumnya. Racun dari bibirku. Jika Adnet mati, maka gadis-gadis itu pun akan mati. Itulah yang kuinginkan. Jika membunuh Adnet adalah satu-satunya cara untukku memilikinya seorang diri, maka itulah yang akan kulakukan.

Mata Adnet menatapku nanar. Ia terjatuh ke atas lantai linoleum di bawahnya, tangannya berusaha menggapai-gapai ke arahku. Merahnya darah, pada putih jasnya.

Aku menatapnya penuh kepuasan sementara Adnet menutup kelopak matanya. Pil keabadian yang ia telan tidak bisa menghindarkan kematian semacam ini. Keriput memenuhi Adnet, tua memakannya. Ia perlahan-lahan berubah menjadi kerontang, lalu menjadi mayat yang termakan usia.

Tapi sebelum aku bisa melihat putih tulangnya, aku pun merasakan kelopakku menutup. Ada suara ceklikan pelan sebelum seluruh tubuhku lemas. Aku terjatuh pada lututku, membuat luka pada kulitku. Alumunium di dalamnya menimbulkan suara desisan. Energiku serasa dikuras, dan aku dipaksa untuk diam.

Mungkin untuk sekarang, mungkin untuk selamanya. Sebelum segalanya berubah menjadi hitam, aku pun sadar. Sesuatu tentang diriku, sesuatu tentang Adnet-ku.

Selama ini, ternyata aku juga salah satu dari gadisnya.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...