Monday, April 16, 2012

Lexica : Entri Fantasy Fiesta 2012

Gerbang Fantasy Fiesta 2012 sudah dibuka. Seperti tahun-tahun lalu, saya ikutan lagi tahun ini. (Lihat entri saya untuk Fanfes 2010: Arrakis, dan Fanfes 2011: Lophelia) Tadinya sudah berniat nggak ikutan, karena deadline-nya jatuh berdekatan dengan tugas akhir. Kalau mepet-mepet saya belom ada ide, maunya lewat aja..... 


Tapi entah karena wangsiat apa kemarin malam saya bergadang menulis ini. Lalu saya bolos kuliah. *geplak


Enjoy.


-----------------------------




LEXICA





 Status Aister Ravedine: kesadaran kembali dalam lima... empat... tiga... dua... satu.
Kandungan energi Zoc dalam tubuh: 80%.
Suara sorak sorai dan tawa mabuk dari kedai di lantai bawah membangunkan Aister dari mimpi buruk. Ia juga merasakan kehadiran seseorang di ambang pintunya. Walau hanya dalam cahaya lilin, ia segera mengenali Faucilon. Mungkin karena gesturnya yang kasar, atau pembawaannya yang menarik perhatian. Sorot matanya yang biasa dipenuhi keberanian itu malam ini redup di tengah remang.



Aister tidak menoleh ketika ia berbisik, “Aku tidak apa-apa.”
“Aku mendengarmu berbicara sendiri lagi, tentang dunia. Tentang Zoc, tentang Perusahaan Assis. Apa masa lalumu mulai kembali padamu?” Faucilon berdiri tepat di belakang Aister, membelai rambutnya yang sebahu. “Rambutmu menjadi sedikit lebih terang lagi. Kulitmu juga sedikit lebih cerah. Kau penuh dengan Zoc, padahal kau tidak pernah mendapat infusi. Kau memang sepertiku, Aister.”
Jemari Aister menyentuh wajahnya. Cincin perak yang selalu melingkari jari telunjuknya berkilat terkena cahaya. Matanya kini terpaku pada pantulan sosok Faucilon di cermin di hadapannya. Mungkin hanya butuh beberapa minggu hingga rambut Aister menjadi sepenuhnya pirang, matanya jadi sebiru laut. Saat itu ia akan persis seperti Faucilon, seperti para bangsawan yang mendiami Sektor Satu.
“Jika bisa, aku ingin terlihat seperti gelandangan Sektor Lima lagi. Rambut hitam, mata hitam, kulit pucat... Ironis, bukan?” Aister tertawa dingin. “Terlihat seperti para cecunguk di Sektor Satu sementara kita adalah pemimpin pemberontakan.”
Faucilon membungkuk dan memeluk Aister dari belakang. “Pikirkanlah, Aister.... Kenapa hanya kita yang berbeda? Kita diberi kemampuan beremosi. Takdir ingin kita melawan dunia, melawan Assis.”
Kata-kata Faucilon melembutkan tatapan Aister. Ia bangkit dan memeluk balik kekasihnya. Lusa adalah hari penyerangan, dan mereka mungkin akan kehilangan segalanya. Dulu, itu tidak apa-apa.
Tapi kini dengan Faucilon dalam dekapannya, mengecup keningnya lembut, mana mungkin ia bisa berkata bahwa kehilangan segalanya itu tidak apa-apa?

***

Total waktumu mencoba untuk tidur: 256 menit dan 67.90 detik. Pagi akan menjelang dalam... 10 menit dan 5.64 detik.
“Aku sengaja bangun lebih awal pagi ini,” Aister mendekap lututnya. “Kalau dia mendapatiku berbicara denganmu, Lexica, ia akan khawatir lagi.”
Status Faucilon Gallux: tertidur tanpa mimpi.
Aister mengistirahatkan kepalanya pada lututnya. Matanya menerawang keluar jendela. “Apa dunia seperti ini dua ribu tahun yang lalu? Seperti apa dulu?”
Pohon-pohon hijau, dan langit biru. Masih ada lautan, dan berbagai makhluk lain.
“Apa yang terjadi?” Aister berbisik.
Biasanya kau tidak pernah ingin mendengar pendapatku.
Aister memanjat turun dari pembaringan ketika ia melihat ufuk timur memerah, mengubah warna langit menjadi abu-abu terang. Ia berganti pakaian dan meraih Zocbladenya, menyarungkannya di pinggang. Jemarinya menyingkap rambut yang menghalangi wajahnya. Ia terlihat siap tempur.
Aister menutup pintu kamar di belakangnya dan membiarkan Faucilon tertidur sedikit lebih lama. “Besok adalah hari penyerangan, dan mungkin kau masih bisa membuatku berubah pikiran, Lexica.”
Deritan kecil terdengar setiap Aister menuruni anak tangga Losmen. Gerhoul terbaring di meja, bau tuak tercium pekat. Beberapa anggota pemberontak lainnya pun sama. Kemarin malam mungkin adalah saat terakhir mereka berpesta.
Angin kering yang dingin di Grelhein menerpa wajah Aister. Tas punggungnya ringan karena hanya beberapa botol kecil di dalamnya.
Dunia berubah sejak Perusahaan Assis menemukan mesin yang mampu mengubah hormon manusia menjadi energi luar biasa. Mengalahkan nuklir yang saat itu biasa digunakan. Hormon itu sendiri diambil ketika manusia beremosi. Energi yang dihasilkan dinamakan Zoc.
 Aister berhenti di persimpangan. Seorang gadis kecil terbaring di atas aspal. Rambutnya hitam legam, kusam terkena debu. Aister mengeluarkan salah satu botol dari tasnya, meminumkan cairan kehijauan di dalamnya pada gadis itu. Segera, rambutnya kini satu tingkat lebih terang, dan kulitnya kini bersemu sehat. Gadis itu tertidur.
Aister berjalan lagi. “Biar kutebak. Kemudian Assis menguasai peredaran Zoc di dunia, menjadikan emosi sebagai sumber energi utama. Assis juga menciptakan alat-alat tempur berbasis Zoc.... dan eksploitasi emosi membuat manusia tidak mampu untuk beremosi dengan sendirinya. Tanpa Zoc, mereka akan kehilangan kemampuan beremosi, dan lebih parah lagi, mati.”
Dan itulah mengapa kau berkeliling setiap pagi, membagi-bagikan Zoc pada mereka yang sekarat. Untuk apa, Aister?
Bahkan sedari dua ribu tahun yang lalu, banyak orang yang mati di atas trotoar di pagi hari karena kemiskinan mereka. Mengubah aturan dunia hanya akan menciptakan aturan lain.
Kau berbeda, Aister. Kau tidak perlu mengikuti aturan dunia. Kau, seperti pemimpin Assis dan Faucilon, masih memiliki kemampuan beremosi.
Aister menghentikan langkahnya. Ia mengernyit, menggenggam botol berisi Zoc di tangannya begitu erat hingga hampir meremukkannya. Ia berseru geram, “Lalu apa karena tidak ada artinya, maka tidak perlu diperjuangkan?! Lalu apa karena mereka akan mati, maka harus kubiarkan?!”
Jika kau memberontak dan melawan Assis esok hari, No. 1 akan membunuh Faucilon.
Apa aku perlu memberikan data persentasenya?
Aister berteriak kesal, kemudian menangis karena amarah. Di tengah gang kecil antara reruntuhan Sektor Lima, tidak ada yang datang menenangkannya. Ia belum pernah seperti ini sebelumnya, karena Faucilon tidak sepenting itu dulu, dan hari yang ditentukan tidak sedekat sekarang....
Aister memeluk dirinya sendiri sementara air matanya masih mengalir. Ia menyekanya dengan punggung tangannya. Jika pemberontakan tidak lakukan, maka tidak ada perubahan. Ia harus kuat.
Jangan khawatir. Jika ia meninggalkanmu, masih ada aku. Tapi jika kau ingin ia hidup, ada satu cara....

***

Aister baru saja mendapat kecupan pagi dari Faucilon ketika Gerhoul membantu tiga orang anggota pemberontak lainnya untuk membopong mayat seorang pria masuk ke dalam kedai losmen. Beberapa orang yang baru turun dari kamar di lantai atas bergegas mendekat.
“Ia ditemukan subuh ini di Sektor Dua oleh anggota yang berpatroli. Mereka juga melihat robot-robot Assis mengisap Zoc dari tubuhnya.”
Faucilon membungkuk untuk memeriksa mayatnya. Semua yang ada di sana tahu ia sangat geram sekarang.
“Lagi-lagi kematian yang sama. Lagi-lagi penghuni Sektor Dua. Penghisapan emosi secara paksa. Ada bekas tembakan Zocblade di lengan dan kaki, membuatnya tidak bisa bergerak.”
Berthand terpaku pada salah satu mayat. Kemudian matanya bergerak pada yang lain. “Aku mengenalinya. Saat aku mencari jalan untuk masuk ke Gedung Assis di Sektor Satu, aku menginap di losmennya untuk satu malam,” Berthand mengepalkan tangannya, geram. “Tapi ia hanya pemilik dan penjaga losmen. Assis.... apa kini mereka juga akan membunuh orang-orang yang tidak bersalah?!”
“Walaupun membantumu, ia tidak tahu siapa sebenarnya kau, bukan? Ia tidak dibunuh karena itu. Roil, apa kau bisa membantuku mengembalikan mayat-mayat ini pada keluarga mereka?” Faucilon berbalik dan menoleh pada Roil. Faucilon kemudian melanjutkan, “Tapi ini aneh.... Apa desas-desus itu benar?”
“Desas-desus apa?”
“Sejak kita terang-terangan menyerang, Assis tahu tempat persembunyian kita. Tapi mereka tidak sekalipun menggempur kemari. Kenapa?” Faucilon terduduk. “Assis punya pasukan bayangan, manusia-manusia yang diinfusi sangat banyak Zoc hingga mereka sekuat pemimpin mereka, No. 1. Kau tahu Zocblade? Benda itu memakai Zoc dalam tubuh pengguna sebagai amunisi. Konon kabarnya pasukan bayangan ini bisa memakai amunisi tidak terbatas.”
“Sepertimu,” Aister berkata pada Faucilon.
“Sepertimu juga,” Faucilon berkata balik pada Aister, tersenyum. “Tapi tidak mungkin tidak terbatas, kecuali mereka berkemampuan beremosi seperti aku atau Aister. Dan orang lainnya yang kita tahu bisa hanyalah No. 1 keparat itu.”
Berthand terduduk di samping sementara para pemberontak lain membantu Roil mengangkat mayat-mayat ke tandu. Mereka tetap dengan siaga mendengar kata-kata Faucilon.
“Jadi maksudmu, Faucilon,... mengapa mereka membiarkan kita, padahal punya pasukan bayangan kuat?” Berthand berkata.
“Kita bahkan sempat mencuri dari gudang cabang penyimpanan Zoc Assis. Walau yang ada di dalamnya ternyata tidak banyak.”
“Kita bisa menemukan jalan pintas masuk ke dalam Gedung Assis, bahkan menyamar menjadi salah satu pekerjanya untuk mencari tahu lokasi dan keberadaan No. 1.”
“Awalnya aku mencari tahu kenapa gudang penyimpanan itu begitu kosong,” Faucilon berkata. “Lalu aku mendengarnya. Untuk menciptakan pasukan itu, mereka menggunakan banyak persediaan Zoc. Mereka harus menyerap dari No. 1 lagi untuk mengembalikan persediaan.”
“Lalu kenapa gudang sialan itu masih begitu kosong walau setelah penyerapan?”
“Bukankah hanya ada dua jawabannya?” Faucilon menenteng Zocbladenya di pundak. “Satu: No.1 tidak ada di Grelhein, jadi penyerapan tidak mungkin dilakukan. Atau dua: No. 1 kehilangan kemampuannya beremosi, karena terlalu banyak mengeksploitasi emosinya sendiri. Dua-duanya menjelaskan kenapa mereka repot-repot menyedot Zoc dari pria tadi.”
“Sektor Dua, karena mereka tidak bisa menyedot dari bangsawan di Sektor Satu?” Aister geram. “Mereka tidak peduli manusia selain mereka yang tinggal di Sektor Satu.”
Aister mencabut Zocblade-nya dari sarung pinggangnya. Pemberontak-pemberontak lain melakukan hal yang sama. Saling berbagi tatapan, mereka juga berbagi keyakinan. Walau membangkitkan amarah, tapi mereka diberi harapan:
Besok Assis akan hancur. Mereka akan menang. Dan dunia, akan baru sekali lagi.

***

“Tidakkah kau takut?” Aister bertanya. Faucilon dalam pelukannya, selimut di atas mereka berdua. Di hadapan mereka jendela besar, tertutup rapat untuk menjauhkan angin malam yang dingin, tapi memberikan intipan bulan malam.
“Takut?”
“Takut ini hanya jebakan. Mungkin No. 1 memancing kita menyerang. Kita jatuh persis dalam jebakan mereka.”
“Dan apa itu lebih buruk daripada duduk diam di sini?”
“Tidak,” Aister memeluk Faucilon lebih erat.“Tidak, tapi tetap saja aku takut. Terlalu mudah....”
“Kita akan pakai mesin mereka untuk menciptakan Zoc dari emosi kita. Lalu kita bisa membagi-bagikan Zoc pada setiap orang, siapa saja. Lalu pelan-pelan, kita akan mengubah dunia.”
“Tidakkah kau bertambah takut?”
“Apa lagi?”
“Takut kita akan berubah persis seperti No. 1. Lalu kita akan mendirikan perusahaan, persis seperti Assis. Takut kita menjadi egois, karena dengan  kemampuan memproduksi Zoc, kita adalah dewa di dunia ini.”
Aister merasakan jemari Faucilon masuk ke sela-sela rambutnya. Belaiannya berusaha menenangkan Aister, tapi seakan menertawakan kekanak-kanakannya.
“Aku....,” Aister mendesah. “Aku takut kau mati besok.”
Faucilon meraih wajah Aister, berusaha mengecupnya, tapi Aister membuang muka. Faucilon berbisik pada telinganya, “Jika kau tidak menoleh padaku sekarang, mungkin aku memang lebih baik mati saja.”
Menyerah, Aister menciumnya. Pandangan biru mereka saling temu. Kemudian Aister memutuskan untuk berkata, “Terima satu hal dariku. Hanya satu hal saja.”
Faucilon terdiam. Senyum di suaranya, “Dirimu malam ini?”
“Cincinku. Satu-satunya ikatanku pada masa laluku yang kulupakan,” Aister melepas cincinnya, memakaikannya pada jari telunjuk Faucilon. “Suara dalam benakku.... Ia berkata ini akan melindungimu.”
Faucilon mengecup cincin yang diberikan Aister, kemudian mengecup Aister sendiri. Malam itu panjang.

***

Itu bukan pertempuran yang mudah. Mereka terengah-engah, terlalu lelah. Di tengah medan perang yang hampir hancur menjadi puing-puing, mereka pun khawatir mereka sendiri akan menjadi bagian darinya.
Walaupun Aister mempunyai amunisi yang tidak terhingga, tapi jumlah robot Assis terus bertambah dari segala arah. Ketika ia mendapat jeda, ia segera mendekati Roil yang terbaring. Aister meraih kalung di lehernya, sebelum sadar bahwa pria itu sudah tidak bernyawa. Aister hanya diberikan waktu sedikit untuk menggeram penuh amarah sebelum harus melawan balik robot lain yang menyerangnya.
Berthand telah terjatuh ketika Aister berusaha menembak robot yang mendekat pada tubuh Berthand.  Aister tidak bisa membiarkannya pergi seperti Roil.
“Aku tidak apa-apa,” Berthand berkata, menunjuk Faucilon. “Bantu Faucilon. Robot-robot ini semua mengincarnya!”
Faucilon segera menunduk ketika salah satu robot menyasar kepalanya dan menembaknya dengan Zocblade. Lasernya mengenai pundak kanan Faucilon, memberikan luka bakar yang menyakitkan. Setelah beberapa tembakan membabi buta lain, robot itu jatuh tidak bergerak. Persis seperti robot-robot lain yang telah kehabisan Zoc karena mengamunisi Zocblade mereka.
Sebuah robot lain melompat ke depan Faucilon. Faucilon yang masih meringis karena luka di pundaknya melompat mundur dengan sigap. Tapi robot lain menahannya dari belakang, menendang kaki Faucilon hingga ia terjatuh.
Faucilon berguling dan menghindari tembakan para robot. Satu robot menembaknya berulang kali, tapi Aister menembak balik robot itu. Suara decitan dan asap mengepul dari tubuhnya.
Tapi terlambat. Faucilon sudah tertembak, kali ini pada paha kanannya. Aister berlari ke arahnya, membantunya tetap berdiri.
“Tidak apa-apa, aku masih bisa,” Faucilon berkata, berdiri tanpa papahan Aister. Ia menjinjing Zocblade-nya. “Ini gawat. Walaupun banyak, tak kukira sebanyak ini. Dengan bantuan semua regu di Sektor Dua sampai Empat sekalipun, jumlah kita masih kalah. Mereka adalah robot; kita harus mencari inti prosesor mereka.”
“Aku tahu,” Aister berkata. Ia kemudian berseru, “Lexica, kau dengar itu? Apa kau bisa bantu aku dan Faucilon?”
Input diterima. Inti prosesor berada di dalam setiap tubuh robot masing-masing.
“Kau sedang bicara pada suara dalam benakmu?!” Faucilon berkata, menembaki robot yang mendekati mereka. “Dia bisa tahu hal semacam itu?!”
“Untuk alasan yang tidak kutahu, dia seperti inti komputer yang sangat informatif dan pintar. Tapi untuk sebagian hal ia menolak untuk memberitahuku,” Aister berusaha menjawab Faucilon sesingkat mungkin sementara ia berkonsentrasi pada jawaban Lexica. “Kalau begitu, cara lain untuk menghancurkan mereka bersamaan, apa ada?”
Semua inti prosesor bekerja untuk menarik sejumlah Zoc dari sebuah sumber. Hancurkan sumber.
“Beri tahu aku di mana sumbernya!”
Jalan hingga ujung lorong, belok kiri, kemudian belok kanan lagi, turun tangga hingga ujung. Kau akan menemukan sebuah pintu besi untuk masuk ke Ruang Inti.
Aister segera berlari. Faucilon mengikuti di belakangnya. Ketika mereka telah berbelok ke kiri dan kanan, sebuah pintu besi menyambut mereka. Di baliknya ada tangga terpanjang yang pernah mereka tahu, dengan pintu besi serupa di sebelah kirinya setiap beberapa meter. Ratusan robot berdiri, siap menghadang.
Faucilon berdecak, mulai menembaki robot-robot itu, menapaki anak tangga satu per satu. Aister memilih untuk naik ke pegangan tangga, Zocblade di tangannya menembakkan amunisi bertubi-tubi sementara ia meluncur, turun jauh ke bawah.

***

Ruangan itu putih, lebih kecil daripada ruangan mana pun di Gedung Assis. Setiap incinya tertutup kabel perak yang tertata rapi, masing-masing kabel tersambung pada satu tabung yang berdiri di tengah ruangan. Sinar kehijauan dari cairan tabung itu membuat ruangan itu ikut menghijau.
Rambut hitamnya yang panjang melambai-lambai di dalam cairan, menentang gravitasi. Matanya tertutup, tapi ia tidak sedang bermimpi. Pakaian pelindung dari metal yang dikenakannya berkilat. Tapi ia tetap bergeming. Kabel-kabel sintetis menusuki ujung lehernya, turun sepanjang tulang belakangnya. Dua set lainnya ditusuk berjajar dari bahu hingga ke pergelangan tangan.
Sebuah helm kaca keperakan seakan menyedotnya dari atas hingga membuat kakinya tetap mengambang di dalam tabung. Sebuah kabel lain yang bercahaya terhubung dengan cincin yang dikenakannya di jari telunjuk. Pada tangan lainnya, ia menggenggam sebuah Zocblade kecil.
“Diakah.... No. 1?” Faucilon berbisik tidak percaya. “Tapi dia... terlihat persis seperti-—!”
Status Aister Ravedine: pengembalian data. 01234567891011121314151617181920212223242526272829303132333435363738394041424344546474849.....
Aister berlutut mencengkram kepalanya. Ia berteriak kesakitan, membuat Faucilon menyerukan namanya khawatir.
“Hentikan, Lexica!” Aister berteriak kesakitan. “Hentikan!”
Memori yang kembali begitu banyak, memaksanya untuk mengingat satu demi satu. Tumpang tindih. Saling silang.
Selamat datang kembali di Assis, Aister.
Suara itu tidak muncul di benak Aister saja, tapi menggema di seluruh ruangan. Seakan ada orang yang membisikkannya pada telinga mereka dari berbagai penjuru. Faucilon menatap Aister tidak percaya, kemudian menatap No. 1. Aister yang masih terengah-engah berlutut di lantai, mengembalikan tatapan Faucilon tidak berdaya.
Nama kodeku, LEXICA. Enam bulan yang kaubutuhkan untuk membawa Faucilon Gallux ke hadapanku, No. 2.
Ada empat Zocblade besar tertanam pada keempat ujung ruangan. Dengan decitan kecil, dua di antaranya diarahkan pada Aister. Sebelum senjata itu sempat menembakkan amunisinya, Faucilon telah menembak balik dengan cekatan. Aister masih belum bergerak, tangannya terkepal di di lantai, badannya bergetar.
Faucilon mengarahkan Zocbladenya pada No. 1, “Omong kosong, keparat! Di sini akan kuakhiri!”
Tapi Aister melompat ke hadapannya dan merentangkan tangannya di depan tabung. “Tidak, ia benar.”
“Apa yang kaukatakan? Minggir, Aister.”
“Dia benar,” Aister mengulang. “Kau ingat pasukan bayangan yang katanya dibentuk Assis hingga Assis kehabisan persediaan Zoc? Hanya satu orang yang mereka buat: aku.”
“Apa yang kaukatakan?” Faucilon mengulang, kini tangannya lunglai. “Apa yang telah dia lakukan padamu?”
“Bukankah aku mirip dengannya?” Aister mendelik, kumpulan air mata menggenang menutupi matanya yang merah. “Aku dan Lexica. Aku adalah kloningnya.”
Jemari Faucilon kembali. Bergetar, ia mundur beberapa langkah dari Aister. Sebuah tawa getir muncul dari bibirnya. Aister mengarahkan Zocbladenya pada dirinya sendiri, tapi Zocblade lain yang digenggam Faucilon diarahkan tepat pada No. 1.
“Untuk alasan apapun itu, turunkan itu, Aister. Atau akan kutembak dia.”
“Selamat tinggal, Pemberontak.”
Detik di mana Aister menekan pelatuknya, Faucilon tidak peduli lagi. Ia melempar Zocbladenya, menerjang ke arah kekasihnya. Tapi amunisi sudah ditembakkan, dan gadis itu kini terbaring di lantai, tidak bernyawa.
Rambutnya yang semakin hari semakin kepirangan kini berubah hitam legam. Kulitnya secara cepat memucat drastis, nadinya kehijau-hijauan terlihat di baliknya. Faucilon menggenggamnya, kegeraman memuncak dalam dirinya.
Apa kau tahu kenapa dia membunuh dirinya sendiri, Pemberontak?
Cincin yang diberikan Aister menekan kulit jemarinya, memberikan sensasi yang menyakitkan untuknya. Seakan menahan amarahnya, tapi tidak bisa. Seakan menyedot semua sensasi yang seharusnya ada di dalam tubuh Faucilon. Cincin itu mengisap sesuatu.
Apa kau tahu, untuk apa aku menghapus ingatannya, mengirimnya ke losmenmu, dan membuatnya benar-benar mencintaimu enam bulan ini?
“Diam!”
Karena hanya dengan itu kau bisa tertipu dan mencintainya balik. Dan hanya dengan mencintainya, kau akan begitu sedih ketika ia mati di hadapanmu. Sedih, sedihlah! Emosi itu yang kuinginkan. Berikan lagi padaku, semua Zoc-mu.
“Diam!!” Faucilon menggeram, meraih Zocblade-nya. Ia menengadah, menatap No.1 yang sedang mengalami perubahan drastis. Cairan kebiruan mengalir dari kabel yang menyambung dengan cincinnya. Kulitnya mulai berubah warna, begitu pula dengan rambutnya.
Lalu kau akan tahu. Semua ini hanya sandiwara untuk mengambil amarahmu, ketika kau tahu semuanya hanya dirancang untukku. Bukankah impas? Aister yang membuatku lemah, jadi dialah yang harus kembali menghidupkanku.
Sayangnya yang kubutuhkan hanya bisa didapat darimu, manusia spesial. Dan sayangnya lagi, kau begitu membenci Assis. Bagus juga, bukan? Selain kesedihan, aku juga mendapatkan amarahmu sekarang.
Faucilon menembakkan amunisinya pada tabung itu. Lasernya memantul, mengenai dinding di sebelah kiri. Tapi tidak satu goresan pun terbentuk pada dinding kaca tabung. Semakin Faucilon tahu ketidakberdayaannya, semakin ia murka. Dan semakin cepat pula warna kepirangan itu mengalir dari akar hingga ke ujung rambut Lexica.
Tidak seharusnya aku menciptakan Aister. Cecunguk sialan itu, untunglah ia sudah mati.
Kabel-kabel itu satu per satu lepas dari tubuh Lexica dengan kecepatan yang mengejutkan. Cairan hijau itu surut, dan helm yang melingkari kepalanya terangkat. Pintu tabung kaca itu terbuka, mengeluarkan Lexica yang berdiri tenang.
Faucilon mengarahkannya pada Lexica, berusaha untuk menarik pelatuknya, tapi wajah yang serupa dengan Aister melambatkannya. Dan Faucilon sadar, walaupun ia berusaha, Zocblade-nya kehabisan amunisi Seluruh Zoc-nya telah terhisap ke dalam tubuh Lexica. Lexica mengangkat Zocblade kecil di tangannya, menembak Faucilon balik.
Faucilon terjatuh di samping Aister. Di dalam kesadarannya yang memudar, ia melihat Lexica berjalan melewatinya, mendekati panel komputer besar yang muncul di dinding ruangan. Map gedung dan semua yang ada di dalamnya muncul di layarnya.
Faucilon menoleh, Aister terbaring di sampingnya. Faucilon menyingkap rambut Aister untuk terakhir kalinya, membelainya seperti yang selalu ia lakukan, lalu ia melihatnya.
Sebuah tabung Zoc di leher Aister. Satu tarikan memutuskan rantainya, membuka penutupnya. Faucilon meneguknya. Kemudian dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, ia mengarahkan Zocblade-nya pada punggung Lexica.
Satu tabung saja cukup untuk satu kali tembak. Apapun yang terjadi, ia tidak boleh meleset.

3 comments:

princexeno said...

Wew! Seperti biasa, tulisan Fenny gak lepas dari unsur romansa. Kalimat-kalimatnya tampak cantik dengan emosi yang cukup kerasa.

Tapi! Aku agak bingung ama munculnya kata ganti "aku" dan "kau" dalam narasi. Padahal sepertinya cerpen ini ditulis dengan POV orang ke-3. Namun kemudian aku mengira, apakah paragraf-paragraf dengan kata ganti orang pertama dan kedua itu kominikasi pikiran langsung dari Lexica? Dan apakah kau lupa menuliskannya dengan huruf italic atau memberikan keterangan?

Dan dua hal lagi, aku nyaris tidak bisa membedakan gender para tokoh. Lalu, siapa itu Berthand?

Selain beberapa hal itu, setelah fase editing, sepertinya cerpen ini layak masuk kumcer. Keren, Fen. b^^d

Fenny Wong said...

Yang mana yang mana ada aku dan kau? Kayaknya selip. Harusnya semuanya POV tiga. Kecuali kalau komunikasi pikiran dari Lexica, dan ya, harusnya pake italic.

Soal Berthand dan gender para tokoh, thanks atas note nya, akan kuperbaiki.

Thanks xenoo~

princexeno said...

Hahaha... Ya, kata ganti "kau" dan "aku" itu ada di komunikasi pikiran Lexica. Tadinya belum di-italic sih. :P

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...