Saturday, November 5, 2011

Polaris


Konon bagi setiap penduduk yang menjejak tanah Selatan, mereka pasti tahu nama Arshag. Kerajaan Arshag adalah yang terbesar di sana, dipimpin oleh seorang raja muda yang bengis, Rustam Arshag, pemimpin bangsa Jin Hitam. Untuk mendapatkan kedudukan itu dia mengelabui banyak orang, membunuh saudara-saudara hingga orang tuanya sendiri.
Tapi bukan si raja picik itu yang menjadi tokoh utama cerita kita. Tokoh utama kita adalah putri Sevda Ezdemir dari kerajaan kecil di samping Kerajaan Arshag. Kita akan kembali ke Raja Rustam lagi nanti.
Jangan senang dulu, putri dari kerajaan Ezdemir ini pun sama menyebalkannya. Kerajaan Ezdemir kecil, pusat kekuatan dan perdagangannya bersumber dari Kaktus Merah yang hanya tumbuh di daerah itu. Kelopak dari bunga yang tumbuh di Kaktus Merah sangat langka — Kaktus Merah hanya akan berbunga sekali setahun, dan tidak semua Kaktus Merah berbunga. Kelopaknya bisa menyembuhkan berbagai penyakit, menawarkan berbagai racun. Sampai sana, adalah rahasia umum.



Tapi jika putik dari bunga yang sama dan direndam dalam air madu selama satu bulan purnama, maka akan menghasilkan racun yang paling mematikan di dunia. Racun itu jika disentuh akan membakar jari, jika dicicip akan membunuh jiwa. Namun, pembuatan racun ini tidak selalu berhasil. Hingga pada saat zaman Sevda tumbuh, Ezdemir hanya bisa memproduksi sedikit dari racun ini. Keluarga kerajaan membawanya dalam botol kecil yang mereka kalungkan. Di kemudian hari ketika Ezdemir sudah mengetahui rahasia racun ini, mereka akan menguasai Selatan. Tapi itu, adalah cerita yang lain.
Tidak seperti kakaknya Ece yang mandiri dan pintar, Sevda tidak tertarik dengan urusan kerajaan, Kaktus Merah, apalagi perihal melindungi rakyatnya. Sevda egois dan tidak suka dibantah. Tidak butuh waktu lama untuk seluruh orang di sekitarnya untuk membalikkan badan darinya dan mengikuti Ece kakaknya.
Mereka muak berbicara dengan Sevda, menjauhinya bahkan sedari ketika ia kecil. Bahkan orang tua Sevda perlahan-lahan kesal akan perilaku Sevda, dan terus menerus memuji Ece yang baik hati dan pemurah di depan Sevda, berharap putri bungsunya itu berubah sedikit seperti kakaknya.
Orang-orang pun mulai berbisik dan berkata-kata sinis. Lihat putri bungsu itu. Cantik namun manja, kaya namun sendiri. Apa gunanya ia ada di istana? Sementara Putri Ece berkeliling dan mengembangkan ladang-ladang pengembang biakkan Kaktus Merah, Putri Sevda hanya tertegun di kamar memandangi langit ketika malam bulan mati.
Semua perilaku itu tidak membuat Sevda menjadi lebih lembut dan lebih seperti Ece. Ia perlahan-lahan tumbuh besar, menjadi remaja, menjadi gadis dewasa yang membenci kakaknya hingga ke lubuk hatinya. Ia tetap egois, dan ia senang membuat orang yang membencinya semakin kesal padanya dengan mengeluarkan perintah-perintah yang tidak masuk akal.
“Berikan aku Kaktus Merah dengan bunga terindah, tapi dengan duri dari emas,” katanya suatu hari. “Aku ingin mendapatkannya, kalau tidak, kalian semua akan kubuang ke tengah gurun dan mati kehausan di sana.”
Awalnya para ajudannya mengiyakan permintaannya. Kemudian mereka mencari dan mencari, walau hingga kapan pun mereka takkan menemukan kaktus semacam itu. Kaktus Merah yang sedang berbunga saja tidak ada, apalagi yang durinya dari emas. Mereka pulang dengan tangan kosong, siap menjemput ajal, tapi Ece memberi mereka upah lebih dan membujuk Sevda untuk mengurungkan perintahnya.
Sevda tidak peduli, ia tetap memberikan perintah-perintah. Berikan aku kalung dengan mutiara tujuh warna dari Utara. Berikan aku ketujuh ekor dari siluman rubah dari Timur. Berikan aku tanduk emas dari kuda putih bersayap di Barat. Sevda terus memerintah, Ece terus menghentikannya.
Malam-malam ketika bulan purnama bersinar terang, Sevda akan bersembunyi di balik tirai-tirai kamarnya. Ia benci melihat sinar bulan, padahal seharusnya sinar bulan-lah yang membolehkan mereka membuat racun termematikan, senjata utama mereka. Tapi Sevda merasa bulan mengingatkannya pada Ece, sedangkan dia hanya bintang-bintang yang cahayanya terkalahkan....
Sevda paling suka dengan Bintang Utara. Ia sering memerintahkan para pelayannya untuk mendongengkan kisah-kisah tentang para pelaut yang berpetualang. Selalu ada bagian di mana para pelaut itu berjuang melawan badai yang tidak kunjung berhenti, hingga suatu hari matahari bersinar terang dan segalanya menjadi tenang. Maka pada malam hari pun mereka mengikuti sinar dari Bintang Utara dan kembali berlayar ke tujuan mereka.
Hari berlalu, bulan berlalu, tahun berlalu. Sevda kehilangan keinginannya untuk mempermainkan orang lain, memerintah ajudannya atas keegoisannya yang tidak jelas. Ia akhirnya tahu ia melakukan semuanya, hanya karena ia sendiri tidak yakin apa yang ia inginkan dalam hidupnya itu. Bahkan menatap Bintang Utara setiap malam tidak membimbing hatinya berlayar menemukan apa yang ia butuhkan.
Lalu Sevda mulai menjadi pendiam. Karena terlalu banyak dibenci dan dijauhi, ia tetap menjadi pendengki, ia tidak percaya pada orang lain, dan kini ia menjadi pendiam.
Dalam malam-malamnya Sevda mulai berbicara seorang diri. Ia mendongengkan segala hal untuk Bintang Utara, semua yang ia dengar dari para ajudannya yang pernah mengembara ke segala penjuru dunia.
Ada naga-naga dengan ekor sangat panjang yang bisa menutupi panjang sebuah gurun, napasnya menghasilkan serpihan es yang bisa membekukan apa saja di Timur. Ada hutan di Barat dengan berbagai hal aneh di dalamnya, bunga-bunga yang tumbuh di tanahnya sekeras dan seindah kristal. Di Utara banyak hamparan bukit-bukit berumput, di atasnya masing-masing ada kincir angin raksasa, menggerakkan mereka seakan mereka adalah kapal-kapal yang sedang berlayar.
Tidak pernah ada cukup cerita untuk diceritakan. Setiap cerita memiliki cabangnya sendiri di dalam pikiran Sevda, dan tidak butuh waktu lama sebelum Sevda menceritakan dongeng-dongeng hasil imajinasinya sendiri.
Malam itu ketika Sevda masuk ke kamarnya, ada sosok bocah muda yang duduk di ambang jendelanya. Ia mungkin empat atau lima tahun lebih muda dari Sevda. Kulitnya seputih kapur, permukaannya memantulkan sinar aneh seperti kaca yang membias. Matanya seperti kristal, pakaiannya tipis melambai-lambai, seakan ada angin yang terus berembus dari depannya sepanjang waktu.
Bocah itu memandang lurus ke arah Sevda, tersenyum. Sevda tersenyum balik. Entah mengapa, ia tahu hari itu akan datang. Hari ketika ia bertemu dengan Polaris.
“Namamu aneh. Asing seperti orang-orang di Utara,” kata Sevda berkomentar, duduk di lantai berkarpet sementara Polaris masih duduk di ambang jendela.
Polaris tertawa. “Semua di tempatku memiliki nama semacam ini. Ini bukan nama dari Utara, tapi nama dari Langit.”
“Ceritakan padaku seperti apa Langit!” kata Sevda bersemangat. Ia menggunakan kalimat yang persis sama dengan yang selalu ia gunakan pada ajudannya. Tapi keantusiasannya kali ini tidak ia sembunyikan sama sekali. Untuk apa ia menjaga gengsi di depan seorang Bintang?
“Kau memandanginya setiap malam,” bocah itu tertawa lagi. “Kau lebih tahu Langit daripada aku!”
“Aku tidak memandangi langit,” Sevda menggeleng. “Aku memandangimu.”
Polaris terdiam mendengarnya, kemudian tertawa lepas sekali lagi. Ia mengangkat tangan Sevda, mempertemukan dinginnya miliknya dengan hangatnya milik Sevda. Ia kemudian membawa Sevda menari berkeliling ruangan, mengentak-entakkan kaki sembari bernyanyi. Ia bilang, ia bersyukur akhirnya ia bisa bertemu Sevda.
Ketika mereka sudah lelah, mereka berbaring di atas karpet berdua. Badan mereka menghadap langit, mata mereka lekat di sana. Sevda mulai mendongeng seperti malam-malam lain, menceritakan kisah yang ia tahu, dengan sentuhan-sentuhannya sendiri. Polaris mengangguk-angguk sementara Sevda terus bercerita. Dari waktu ke waktu Sevda menyenggol lengan Polaris keras, memastikan Polaris tidak tertidur. Ia lalu marah-marah setelah Polaris tertawa lepas, kemudian melanjutkan dongengnya.
Di akhir dongengnya, ketika mereka hampir tertidur di atas karpet, Polaris berbisik. “Aku suka padamu, Sevda. Jangan berhenti mendongeng untukku. Bolehkah aku datang lagi?”
“Tentu saja, apa yang sedang kauka—?!” Sevda ingin menyikut Polaris keras-keras sekali lagi dengan kesal, tapi di sampingnya tubuh Polaris telah berubah menjadi angin keperakan yang kembali ke langit. Bintang Utara yang untuk sementara hilang tadi kini muncul lagi di langit.
“Sampai ketemu besok malam, Polaris,” Sevda berbisik, tersenyum untuk pertama kalinya sejak lama sekali. Ia kemudian menambahkan dengan mengancam kesal, “Awas kalau kau tidak datang, akan kuracun dengan Kaktus Merah!”

***

Kenyataannya, Polaris turun dan menemui Sevda bukanlah kegiatan yang bisa ia lakukan setiap hari. Esok harinya, lusanya, tiga, empat, lima hari setelahnya... Polaris tidak pernah muncul. Tapi Sevda pun tidak berhenti untuk mendongeng di malam hari, agar Polaris mendengarnya. Pelayan-pelayan yang lewat di depan kamarnya di malam hari merasa kalau Sevda sudah gila.
Dari Polaris, Sevda mulai belajar apa yang ia sebut sebagai kesabaran. Ia tidak pandai dalam mempelajarinya. Ia selalu ingin berteriak pada ajudannya yang tidak mengerti siapa itu Polaris. Ia selalu ingin membantah kesal setiap ayahnya berkata ia harus berhenti berkhayal dan bersiap-siap menikah. Bahkan ketika ia berangsur-angsur berhenti berbicara tentang Polaris, orang-orang di kerajaan tetap memandangnya aneh.
Hanya Ece yang memperlakukannya berbeda. Umur mereka tidak jauh, jadi apa yang dipaksakan pada Sevda saat itu juga pastinya menjadi beban Ece juga. Ece lebih tua daripada Sevda, dan ia juga ditekan untuk segera menikah. Ece selalu mendekatinya di sore hari di kamar Sevda. Dalam keheningan ia menepuk pundak Sevda, berusaha menenangkan adiknya. Tapi Sevda selalu membalasnya dengan tepisan dan teriakan mengusir. Siapa Ece hingga ia bisa berlagak seperti ia mengerti semuanya?
Suatu malam Sevda menatap keluar jendela kamarnya di istana, dan mendapati bagian luar benteng kota seperti terselimuti badai pasir. Malam itu sudah larut, dan Sevda menyadari hal itu karena ia tidak bisa melihat Polaris.
Kamar Sevda terletak di tempat yang terdekat dengan langit dibanding tempat mana pun di Ibukota. Sevda menginginkan untuk lebih dekat dengan Polaris, tapi ia malah diberikan pengetahuan seperti ini. Dan pengetahuan itu mengerikan, karena ketika Sevda memperhatikan lagi lebih jelas, itu bukan badai pasir. Itu debu dari deru kaki kuda, lebih berbahaya dari badai pasir: Rustam Arshag dan Pasukan Hitam.
Sevda terdiam di tempat. Untuk apa ia peduli dengan nasib kerajaannya, sekarang? Kerajaan yang telah mengkhianatinya. Rakyatnya mencemoohnya, hanya membungkuk seadanya ketika ia berjalan di kota — mereka akan bersujud mencium tanah jika Ece lewat. Orang tuanya tidak peduli padanya, setuju ketika Sevda meminta kamar tertinggi di istana — mereka takkan pernah membiarkan Ece jauh seperti itu dari mereka. Ece adalah seorang munafik, tersenyum di hadapannya tapi menghinanya di belakang — pasti itulah alasan mengapa para pangeran dari negeri-negeri seberang hanya meminang Ece, bukan Sevda.
Mereka telah bersalah padaku, Sevda berpikir, lalu apa harus memberi tahu mereka tentang Arshag? Kemudian dalam benak Sevda muncul pikiran keji. Ia akan berlari sendiri ke lorong bawah tanah dan bersembunyi di bilik rahasianya. Seluruh Ezdemir dibantai pun ia takkan peduli. Ketika segalanya telah selesai, mungkin ia bisa keluar, dan akhirnya menjadi seseorang yang baru.
Sevda memandang keluar jendela. Badai pasir semakin dekat, berarti Rustam semakin dekat. Ia kemudian mendongak. Polaris tidak di sana.
Sevda segera berputar mencari sosok Polaris. Dan seperti yang ia pikir, Polaris memang hanya akan turun dari langit untuknya. Polaris tidak pernah mengkhianatinya.
Polaris memandang Sevda balik dengan mata kristalnya, tanpa senyum. Ia memandang Sevda, menilik ke dalam hatinya. Caranya memperhatikan membuat Sevda merasa ditelanjangi, dan Polaris memang tahu segalanya yang Sevda pikirkan.
Putri itu tidak punya waktu untuk mengomel mengapa Polaris begitu jarang mengunjunginya. Ia harus menjawab pertanyaan sunyi yang Polaris ungkapkan dalam waktu sepersekian detik itu.
“Tapi mereka sudah mengkhianatiku,” ujar Sevda, tangannya terkepal di samping badannya. “Kenapa?”
Polaris tetap diam dan menatap. Tidak ada senyum yang tersungging di bibirnya.
“Tapi mereka tidak mencintaiku seperti dirimu mencintaiku,” ujar Sevda, mendekat dan meraih tangan dingin Polaris. “Tidak seperti dirimu yang selalu ada untukku. Jika punya kamu, aku tidak butuh yang lain.”
Polaris menarik tangannya, tapi Sevda menahan. Pandangan Polaris berubah tidak terbaca. “Jika kau membawa kerajaan ini turun, maka biarkan juga aku turun bersamanya.”
Sevda menatap mata Polaris, menemukan kesungguhan di dalamnya. Ia menyentak tangan Polaris kasar, kemudian ia berlari menuruni tangga dari kamarnya yang tinggi. Ia telah dipaksa untuk mengambil jalan pilihan Polaris, pertama kalinya ia harus mengikuti keinginan orang lain. Sevda berteriak keras agar seluruh pasukan bersiap siaga. Obor-obor dinyalakan dan panji-panji tanda bahaya dilambaikan, hanya butuh waktu singkat hingga seluruh Ibukota siaga akan serangan mendadak Rustam.
Ece mengenakan jubah perangnya, mengecup orang tuanya dan bersiap segera memimpin pasukan di baris depan. Polaris muncul kembali di samping Sevda, membisikkan jumlah pasukan musuh yang ada di setiap sudut kota, dan rencana perang yang mereka sudah atur. Sevda menyampaikannya kembali pada Ece, yang terdiam terpana mendengar informasi yang diberikan Sevda.
“Aku takkan bertanya bagaimana kau bisa mengetahui semua itu,” kata Ece memeluk adiknya. “Aku hanya ingin berkata, aku tahu kau akan berbakti pada Ezdemir dengan caramu sendiri suatu hari, Sevda.”
Sevda mendorong tubuh Ece keras, “Aku akan ke lorong bawah tanah, bersembunyi di bilik rahasia dan melarikan diri. Silakan maju ke depan dan bunuh dirimu sendiri di tangan Rustam Arshag.”
“Dan kemudian kau akan menjadi Ratu yang menawan,” Ece berkata menggenggam wajah adiknya. “Aku tahu kau pasti bisa.”
Sevda membeku di tempat, tapi tidak lama. Ece pergi dan seluruh istana gegap gempita, seperti seluruh kota lainnya. Sevda diberikan kesempatan emas yang selalu ia inginkan untuk meninggalkan seluruh kehidupannya di sana, tapi ia tidak bisa bergerak. Polaris yang membuatnya bergerak, menariknya kembali ke kamar Ece di menara tertinggi.
Polaris tidak berhenti ketika ia telah mencapai ambang jendela, ujung kamar Sevda. Ia mendaki ke bagian atas jendela Sevda, memanjat di bagian luar menara. Kakinya menapak di kusen jendela yang melengkung, kemudian tangan lainnya menarik Sevda untuk naik ke atas.
“Jika kau ingin membawaku mati bersamamu, kau harus menjadikanku Bintang sepertimu. Terang, bahkan jin-jin dalam Pasukan Hitam Arshag pun akan takut padaku,” kata Sevda wajahnya berjarak hanya  sejengkal dari milik Polaris. “Kalau kau mau membuatku mati, kau harus membawaku serta, bukan mengkhianatiku.”
Jauh di bawah mereka pasukan Arshag telah mendobrak memasuki batas-batas kota. Riuh di seluruh penjuru, teriakan-teriakan membahana. Pedang-pedang bertemu, darah-darah mengalir. Sevda mengalihkan pandangannya dan tangannya yang mulai gemetar pada Polaris. Ia mencari ketenangan dari sosok ajaib di hadapannya.
“Jika kau tahu apa yang bisa membuat para Jin Hitam takut, maka kau pun tahu hanya aku yang bisa menyelamatkan kerajaanmu kini,” ucap Polaris lembut, “dan hanya kau yang bisa membantuku.”
“Kenapa...?” Bola mata Sevda tidak berhenti mencari jawaban dari milik Polaris, “Kenapa menyelamatkan Ezdemir... ketika kau tahu aku begitu membencinya?”
“Kau akan berterima kasih padaku suatu hari...,” Polaris mendekatkan wajahnya. “Seperti bagaimana aku berterima kasih padamu, yang selalu memandangiku.”
Wajah Polaris mendekat, badannya bersinar terang ketika bibir mereka bertemu, seakan Bintang Utara baru saja jatuh ke tengah-tengah Ibukota Ezdemir.

***

Rustam Arshag bukan raja yang bodoh. Ada kalkulasi tepat, keberanian tidak tertandingi, dan ambisi yang meluap-luap di dalam satu sosok itu. Jin-jinnya memberi tahu bukan keajaiban yang membuat serbuan ke Ibukota Ezdemir gagal hari itu. Alasannya hanyalah karena Sevda Ezdemir.
Rustam meraung marah. Ia tahu semuanya. Ia melihat siluet putri itu di menara tertinggi istana. Ialah sumber cahaya yang sangat terang yang membuat jin-jinnya melarikan diri, membuat ia dan pasukan berkudanya kewalahan melawan jenderal-jenderal Ezdemir. Padahal selangkah lagi mereka menaklukan Ezdemir, dan belajar tentang rahasia Kaktus Merah.
Rustam pernah mendengar tentang dua putri di Ezdemir. Mereka bilang di antara jenderal-jenderal perang Ezdemir selalu ada Ece Ezdemir, kekuatannya tidak setara dengan otot-otot prajurit yang dibimbingnya, tapi kepintarannya membuatnya selalu terdepan dalam barisan. Sevda Ezdemir selalu dibilang aneh, dan selalu memburu benda-benda langka dari seluruh penjuru dunia.
Semua itu salah. Ece bukan hanya terdepan dalam barisan — putri yang menyamar menjadi salah satu jenderal itu lah yang menggerakkan seluruh pasukan. Rustam sempat melihatnya, tapi wajahnya tertutup turban dan helmet, sesaat sebelum sinar menyilaukan bersinar di puncak istana. Sedangkan untuk Sevda, ia bukan pengoleksi barang antik. Putri itu penyihir, atau begitulah yang Rustam percayai.
Jika Sevda memiliki kekuatan untuk melawan Jin Hitam, maka ia benar-benar putri yang istimewa. Ia bisa menguasai seluruh pasukan Arshag. Ia bisa menguasai dunia. Rustam tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Tidak butuh waktu lama hingga Rustam mengirimkan panji-panji perdamaian berjalan di jalanan Ibukota Ezdemir. Di punggung-punggung kudanya ia membawa permadani-permadani terbaik. Anggur-anggur terlezat. Perhiasan-perhiasan termahal. Mahkota-mahkota terlangka. Rustam akan meminang Sevda Ezdemir, putri yang umurnya setengah miliknya.
Ketika para pesuruh Rustam sampai, mereka melihat para pangeran dari negeri lain berjajar di depan Istana Ezdemir. Mereka datang karena terpukau mendengar tentang bagaimana Sevda Ezdemir menyelamatkan kerajaannya. Cerita-cerita yang beredar di kota begitu ajaib, dan berbeda satu sama lain, tapi ada satu bagian yang tetap sama: Sevda telah menyelamatkan Ezdemir, mengalahkan Prajurit Hitam. Penduduk Ezdemir bersorak sorai, memuji bagaimana putri itu cantik dan menawan. Mereka tidak menyebut Sevda sebagai penyihir, tapi sebagai dewi.
Tapi tentang bagaimana para pangeran itu melihat Sevda sebagai dewi adalah urusan lain. Sevda menolak mereka, sebagian tanpa pertimbangan sama sekali. Ia yakin para pengeran itu hanya meminangnya karena ingin perlindungan untuk kerajaan mereka dari Pasukan Hitam. Tidak ada di antara mereka yang memandang Sevda seperti Polaris.
Kemudian panji-panji Arshag lewat. Para pangeran yang tadinya ingin mempersembahkan lebih banyak lagi hadiah untuk Sevda kini menyingkir dan mundur. Mereka tidak ingin mencari masalah dengan apapun Arshag. Sevda menatap jenderal dari Kerajaan Arshag yang berlutut di hadapannya dan menyampaikan pinangan dari Rustam padanya. Sevda bukan dilamar — ia diperintah, ia diancam. Jika ia menolak, maka Ezdemir taruhannya.
Tapi Sevda tetap menolak. Ia mengalihkan pandangannya, bangkit, kemudian naik ke menara menuju kamarnya. Ia telah menyelamatkan Ezdemir sekali, itu sudah cukup. Sisanya ia akan kembali menjadi dirinya sendiri, Sevda yang egois. Mungkin dengan begitu para pangeran itu bisa meninggalkan ia sendiri. Ia akan kembali pada Polaris.
Para penasehat kerajaan Ezdemir merasa Sevda memang gila. Sore harinya seluruh anggota keluarga kerajaan telah berkumpul membicarakan tentang lamaran itu.
Para tetua dan penasehat kerajaan berdiri di sekeliling, jubah-jubah mereka memantulkan cahaya indah yang membelenggu keluarga kerajaan di tengah. Raja dan Ratu Ezdemir memandangi Sevda, Ece di samping mereka.
Sevda dua puluh dua tahun itu. Ia memandang keluarganya tidak percaya — walaupun Sevda tahu mereka tidak peduli padanya, ia tidak menyangka mereka akan memaksanya menikahi Rustam Arshag. Ia masih begitu muda! Ia punya Polaris!
“Hanya ini yang bisa kita lakukan,” Raja bergumam penuh amarah. “Jika Pasukan Hitam menyerang lagi, apa yang harus kita lakukan! Tidak ada yang bisa meyakinkanku bahwa yang Sevda lakukan malam itu bukan kebetulan.”
Ratu menangis tersedu, mulai memeluk Sevda erat-erat. Sevda berdiri lunglai, tangannya menolak untuk memeluk balik. Matanya tertanam pada Ece di samping, yang tertunduk sepanjang waktunya.
“Lakukanlah, anakku, jika itu takdirmu,” sedu Ratu. “Untuk Ezdemir!”
Sevda mendorong ibunya dan melangkah ke belakang. Ia melihat ke sekeliling ruangan, pada ayahnya, pada ibunya, pada Ece. Ia menggeleng, pelan awalnya, hingga tegas dan jelas di akhir. Ia mengepalkan tangan ketika ia berseru, “Tidak! Aku punya Polaris, dan aku takkan mengkhianatinya!”
Ratu terduduk di takhtanya, menangis tersedu-sedu. Para dayang segera mendekati dan menenangkan, sementara Raja tetap berdiri di tempatnya, tangannya sama terkepal seperti milik Sevda. Walaupun ia berkata tegas, tapi matanya berair, “Aku tak adil padamu, Sevda, tapi tolong bantu Ezdemir. Bintang Utara mana pun yang kaucintai, kau tinggal di Bumi, bukan Langit.”
Sevda menatap semuanya tidak percaya. “Aku menyelamatkan Ezdemir, mereka menyebutku dewi, tapi kalian tetap ingin mengusirku ke Arshag. Katakan padaku, Ece, apa semua ini idemu? Kau iri karena aku mencuri semua perhatian, dan ingin membuangku?!”
“SEVDA!”  bentakan Raja membahana. “Semua ini tidak ada hubungannya dengan Ece!”
Ece yang sedari tadi tertunduk segera maju, berseru balik, “Jika aku bisa menggantikan tempatmu, aku akan menggantikanmu! Aku akan membuatnya mencicipi racun Kaktus Merah di malam hari dan membunuhnya. Tapi yang ia inginkan adalah dirimu! Walaupun kau berkata Polaris lah yang bersinar malam itu, tapi ia tidak di sini, ia tidak ada.... Lupakan Polarismu, Sevda. Kumohon padamu selamatkan Ezdemir... apapun taruhannya,” Ece berlutut di depan Sevda.
“Ia tidak ada?” Sevda mengulang tidak percaya. “Ia akan kembali ke sisiku dan bersamaku, dan selamanya kalian tidak perlu mengusirku karena takut pada Arshag. Kalian akan melihatnya! Dalam tiga hari jika ia tidak turun atas permintaanku, maka—!”
Sevda tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tiba-tiba sadar apa yang sedang ia katakan. Terakhir kali Polaris menghilang, ia tidak turun untuk berbulan-bulan.
Suara Sevda rendah dan hampir tenang ketika ia mendesis, “Maka aku lah yang akan menyicip racun Kaktus Merah. Persetan dengan Ezdemir, mati lebih baik daripada berkhianat pada ia yang kucintai.”

***

Sevda duduk di hadapan jendelanya. Di tangannya ia menggenggam kalungnya, sebuah botol kecil tergantung di sana. Malam sudah hampir berakhir. Sevda tahu karena udara menjadi sangat dingin menjelang datangnya pagi. Bintang Utara masih terang di langit, tidak peduli berapa kali Sevda memanggilnya dalam tiga hari terakhir ini.
Sevda menitikkan air mata, tanda kekalahan. Ia membuka penyumbat botol kecil itu. Cairan keemasan berputar-putar di dalamnya. Ia menatap langit sekali lagi. Ia mempertaruhkan nyawanya untuk kesetiaan Polaris, tapi Polaris tidak menggubrisnya. Ia lebih baik mati daripada diantar ke Arshag besok pagi.
Pipi Sevda basah, tangannya diangkat dan ia bersiap untuk meneguk isi botolnya. Sesuatu memeluknya dari belakang, merebut botol yang hampir ia teguk. Isinya terciprat ke punggung tangan Sevda, ke lengan dingin Polaris. Mengabaikan rasa terbakar yang menyengat begitu menyakitkan, Sevda berbalik dan memeluk Polaris, tersedu-sedu.
Tangan Polaris membiarkan botol yang kini tertutup tergeletak di meja di samping mereka. Cairan keemasannya tergenang tenang, kontras dengan tubuh Sevda yang gemetar hebat dalam pelukan Polaris.
“Sevda yang kutahu tidak menangis,” Polaris membelai Sevda. “Ia memerintah dengan bengis dan mengancam semua yang melawannya. Ia keras kepala dan tidak suka dibantah.... Walau sebenarnya ia hanya seorang gadis biasa, terombang-ambing dongeng manusia, hidup dalam cerita di mana dirinya bukanlah dirinya.”
“Bimbing aku pergi, Polaris,” Sevda memohon. “Bimbing aku agar aku bisa menjadi tokoh lain itu, seutuhnya! Tidak ada lagi Sevda Ezdemir, tidak ada lagi putri egois itu. Aku ingin menjadi seseorang yang baru, memulai segalanya dari awal sekali lagi. Kau membimbing pelaut ke daratan yang mereka tuju, pengembara ke desa yang mereka inginkan. Kenapa kau tidak bisa membimbingku pergi dari tempat ini? Bahkan jika ke tempatmu, ke Langit sekalipun, aku rela!”
Polaris membungkuk dan menjajarkan pandangannya dengan milik Sevda. Bibirnya yang dingin menyentuh punggung tangan Sevda, membuat sengatan menyakitkan pada luka bakar Sevda.
“Kau tidak perlu mengganti namamu atau pergi ke tempat yang baru untuk menjadi seorang putri yang baru.”
Sevda menggenggam wajah Polaris, berkata penuh emosi, “Kau takkan membuangku seperti mereka membuangku, Polaris! Tidak, tidak dirimu.  Kau akan turun bersamaku ke bawah sana, kita akan memukul genderang dan membangunkan seisi istana, hingga mereka bisa melihat mata kristalmu! Mereka akan percaya kamu memang ada, kamu memang mencintai—!”
“Sevda,” Polaris masih berkata tenang. “Dengarkan aku. Namaku Polaris, dan aku adalah Bintang Utara. Rumahku adalah Langit, dan tempatku bukanlah di sini. Setiap aku menghilang dari Langit, entah berapa banyak pengembara yang tersesat di malam hari. Entah berapa banyak pelaut yang bergulat dalam kegelapan, berlayar ke arah maut.... Kau, dibanding orang-orang lain, tahu betapa banyak penderitaan manusia Bumi karena makhluk-makhluk Langit. Para siluman, naga-naga, duyung-duyung, monster-monster malam, semuanya berawal dari hal yang sama, seperti yang kita lalui. Tidak ada yang berakhir baik.”
Sevda terdiam. Matanya yang kini berkaca-kaca hampir seterang milik Polaris.
“Aku tidak peduli pada orang lain seumur hidupku, kenapa kali ini aku harus peduli, dan menyerahkanmu pada pelaut dan pengembara yang tidak kutahu namanya?”
“Karena aku peduli, maka kau juga harus ikut peduli. Bukankah kau mencintaiku?” Polaris berkata. “Sevda, hanya tiga kali aku bisa turun ke Bumi dalam hidupku. Semuanya kugunakan untukmu, itulah mengapa hanya dirimu yang bisa melihat keberadaanku. Setelah malam ini, lupakanlah aku. Jadilah putri yang baru, kesempatan ada di hadapanmu.”
Polaris mengangkat kalung Sevda. Ia membuka sumbatan botolnya, kemudian meneteskan setetes darah dari luka bakarnya ke dalamnya. Tetesan keperakan bercampur di tengah genangan emas.
“Bawa ini pada lehermu, dan mereka takkan bisa mengganggumu, para Jin Hitam itu. Kau memiliki sebagian dari diriku. Bunuh mereka, dan bebaskan kerajaan-kerajaan dari pengaruh Arshag. Buat aku bangga.”
“Ketahuilah,” Sevda menggenggam kalung itu erat. “Aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Maka janganlah kau mengkhianatiku.”
Polaris tersenyum, suaranya berbisik lembut, “Aku selalu bersinar untukmu, ke arahmu.”
“Apa kau memandangi tanah Selatan ketika kau bersinar?” Sevda menggenggam Polaris begitu erat.
Hanya sepersekian detik sebelum Polaris berubah menjadi angin keperakan, suaranya menderu seperti angin yang berbisik,   “Aku memandangimu.”



***

Pada hari pernikahan mereka Rustam Arshag segera tahu apa yang membuat Sevda berbeda. Ia memandangi kalung di leher Sevda. Sebagai pemimpin klan Jin Hitam, ia bisa merasakannya. Dingin.
Tapi ada hal lain di sana. Cairan lain, keemasan. Sama mematikannya, jika Rustam tilik. Kemudian ia bersorak gembira dalam hati. Dalam satu kalung ia menemukan dua hal yang ia cari. Hanya esok hari maka Sevda takkan diperlukan lagi.
Sementara Rustam memikirkan berbagai rencana untuk merebut kalung itu dari leher Sevda, yang sepertinya tidak mudah mengingat ia tidak akan tahan menggenggam kalung itu, seisi ruangan pesta lain memperhatikan hal yang sama sekali lain. Di depan mereka ada salah satu putri tercantik di daratan Selatan, dalam pakaian pernikahan. Sayang ia bukan istri pertama, jika tidak, ia pasti akan menjadi Ratu yang cantik untuk Arshag.
Mereka berdiri berhadap-hadapan, di antara mereka semangkuk besar madu. Di samping mereka seorang tetua agama, dibungkus jubah keemasan untuk pemberkatan. Di belakang Sevda adalah dayang-dayang yang dibawanya dari Ezdemir untuk mendampinginya.
“Apa Putri Sevda Ezdemir menerima Yang Mulia Rustam Arshag sebagai suami?” tanya sang tetua.
Sementara Sevda terdiam, sesuai tradisi, para dayang-dayang di belakang Sevda menjawab, “Putri Sevda Ezdemir sedang pergi untuk memetik bunga-bunga di ladang.”
Tetua memberi jeda sebelum bertanya lagi. “Apa Putri Sevda Ezdemir menerima Yang Mulia Rustam Arshag sebagai suami?”
Para dayang menjawab menggantikan Sevda yang membisu, “Putri Sevda Ezdemir sedang pergi untuk mengambil air suci.”
Dan untuk ketiga kalinya sang tetua bertanya, “Apa Putri Sevda Ezdemir menerima Yang Mulia Rustam Arshag sebagai suami?”
Kali ini para dayang terdiam. Seharusnya dalam tata upacara yang benar, Sevda-lah yang kali ini menjawab. Tapi Sevda masih membisu. Setengah wajahnya tersembunyi di balik cadar. Seorang dayang dengan cadar kebiruan mendekati Sevda dan membisikkan sesuatu. Setiap pasang mata mengikuti gerakan bibir mereka, berusaha menangkap apa yang sedang mereka bicarakan. Tetapi cadar keduanya menutupi siapapun dari melihat. Rustam Arshag menyipitkan matanya, was-was.
Kemudian Sevda kembali. “Ya, aku menerima.”
“Maka dinyatakan Putri Sevda Ezdemir menjadi istri dari Yang Mulia Rustam Arshag.”
Rustam Arshag menatap Sevda Ezdemir yang kini telah mendongak. Putri ini memang cantik. Dan kini putri itu miliknya. Sayang sekali nyawa putri ini akan berakhir malam ini. Ketika tidur nanti Rustam akan merebut kalungnya. Tanpa pikir panjang ia mencelupkan jari kelingkingnya ke dalam madu, seperti yang Sevda lakukan. Ia mengangkat jemarinya, mengarahkannya pada bibir Sevda. Ia hampir menerima jari Sevda jika ia tidak melihat kilatan keemasan pada cairan madu pada jari Sevda.
Jenderal-jenderal Rustam segera maju. Upacara pernikahan telah berakhir. Sang dayang dengan cadar biru melepaskan samarannya, Ece menarik pedang yang sedari tadi tersembunyi di bawah jubahnya. Sevda mengutuk dirinya, hanya selangkah lagi tadi maka Rustam akan mati. Bagaimana ia bisa tahu kalau Sevda melumuri jari kelingkingnya dalam racun Kaktus Merah? Ia bahkan telah membuat sarung tangan tipis dari kelopak bunga Kaktus Merah untuk mencegah racun itu dari merusak jarinya. Tapi Rustam tetap tahu!
Rustam menggenggam pedangnya, memburu ke arah Sevda. Sevda telah meninggalkan segala atribut pernikahannya, siap untuk perang. Tatapan Rustam tidak pernah meninggalkan kalung di leher Sevda. Ia menebas leher itu, maka segalanya akan berakhir. Setidaknya itu yang ia pikirkan, hingga Ece melompat ke hadapannya, menjadi tameng untuk Sevda. Ia bertarung dan bertarung, hingga Rustam sadar ada kalung yang mirip tergantung di leher Ece.
Dalam adu pedangnya, Ece tumbang. Dengan pedangnya Rustam merobek bagian leher jubah Ece. Kalung itu memang mirip, tapi berbeda. Yang ini tidak memiliki kilau perak, hanya keemasan. Rustam bisa menggenggamnya, menariknya secara paksa dari leher itu. Ia kemudian meninggalkan Ece dan berlari mengejar Sevda.
Sevda tersudut. Ia harus melewati Rustam untuk mencapai pintu keluar. Ia menarik pedang dari mayat prajurit di sampingnya, tapi ia tidak tahu sama sekali untuk menggunakan pedang. Ia terhuyung-huyung karena berat pedang itu, dan kini merasa kalungnya adalah satu-satunya harapannya. Ia menarik kalungnya, membuka sumbatan botolnya, bersiap untuk menumpahkan isinya pada raja bengis di hadapannya. Tapi Rustam lebih gesit. Ia melakukan hal yang sama, dan menumpahkannya lebih dulu.
Cairan keemasan melompat di udara. Jika semua itu mengenai tubuh Sevda, bukan hanya kulitnya yang terbakar, tapi tubuhnya akan hancur. Sevda memejamkan matanya erat-erat. Tapi cairan itu tidak pernah mengenainya.
Di hadapannya Ece membentangkan jubah pernikahan Sevda. Jubah yang disulam dengan kelopak bunga Kaktus Merah itu bisa menahan Ece dan Sevda dari kematian, tapi tetap ada tetesan yang melewati jubah itu. Leher dan pundak Ece yang tidak tertutup baju terciprat dan membentuk luka bakar yang menyakitkan. Ece siap tumbang, tapi tidak sebelum ia menarik pedangnya dan beradu dengan Rustam. Ia berteriak keras pada Sevda, “LARI!”
Sevda berlari meninggalkan Ece yang kini beradu pedang dengan Rustam, jelas menjemput kekalahan. Leher dan pundaknya terluka parah dan tidak bisa digerakkan, mungkin untuk selamanya. Sebelum Sevda melangkah keluar istana ia melihat ke belakang sekali lagi. Ia meneteskan air mata sebelum meninggalkan Ece.
Ia berlari di luar, ke arah gunung batu belakang istana. Di balik gunung seekor kuda sudah menunggunya untuk melewati gurun, tapi perjalanannya ke sana tidak akan mudah. Pasukan Hitam yang terkenal mengejar di belakangnya, menggenggam pedang panjang di masing-masing tangan mereka. Tubuh mereka tertutup turban hitam, gerakan mereka cepat seperti asap, dan kaki mereka tidak terlihat karena bergerak begitu cepat. Orang bilang mereka bukan manusia. Mereka adalah jin.
Sevda tidak peduli jika mereka adalah manusia atau jin. Sama saja, ia akan terbunuh. Sevda berlari secepat mungkin, berharap kalung yang ia genggam bisa membantunya. Ia memanjat dan terus memanjat, tangannya telah berdarah karena batu-batuan tajam yang tidak bisa ia lihat di malam hari.
Bulan dan Bintang Utara bersinar terang malam itu, hanya untuk memberikan pemandangan mengerikan pada Sevda. Ketika Sevda melihat ke atas ke tempat ia akan mendaki, siluet seekor serigala tepat berada di atasnya. Dua ekor, tiga ekor, ada hampir selusin. Sevda terjerembab ke belakang karena kaget, kalung di tangannya menggelinding jatuh. Pasukan Hitam hanya beberapa langkah di belakangnya.
Serigala-serigala hitam itu pun tidak memiliki kaki. Mereka menggeram dan melompat ke antara Sevda dan kalungnya. Sevda tidak bisa meraihnya, juga tidak bisa mundur untuk melarikan diri. Ia terperangkap. Ada begitu banyak Pasukan Hitam yang ikut berdatangan, hingga ke mana pun Sevda melihat, ia hanya bisa melihat turban-turban hitam di mana-mana.
Yang Sevda harapkan terjadi. Di depannya, bersinar begitu terang, Polaris mengeluarkan pancaran energi keperakan yang membuat serigala-serigala di dekatnya mundur. Pasukan Hitam mengangkat pedangnya, menebas ke arah Polaris, hanya untuk mendapat pedang mereka remuk ketika menyentuh tubuh Polaris.
Sevda tersenyum senang melihat hal itu, tapi tidak untuk lama. Cahaya Polaris semakin lama semakin meredup, dan sayatan yang para Pasukan Hitam buat menyebabkan tetesan-tetesan merah untuk merembes ke pasir di bawah mereka. Polaris berseru tanpa menoleh, “LARI, SEVDA, LARI!”
“Aku takkan meninggalkanmu!”
“Lari, atau segalanya sia-sia, LARI!”
Ketika Sevda Ezdemir menoleh ke bawah dari puncak gunung, ia melihat Polaris yang ditebas Pasukan Hitam. Cahayanya telah hilang sepenuhnya. Ia terjatuh ke tanah, berdarah, seperti layaknya manusia biasa.

***

Apa yang harus Sevda katakan jika ia pulang ke Ezdemir?
Selamat siang Ibu, Ayah, Ece melindungiku sementara aku melarikan diri. Bintang Utara tidak lagi bersinar karena menemuiku di Bumi empat kali dan terbunuh sebagai manusia?
Ia tidak bisa mengatakan hal seperti itu. Sevda bersembunyi di desa kecil di perbatasan Arshag, berharap ia masih memiliki kalungnya. Hanya setetes saja maka ia akan segera mati. Tidak akan menyakitkan.
Bulan berganti bulan. Suatu hari Sevda merasa bahkan cara mati yang paling menyakitkan pun tidak akan semenyakitkan hidup. Sevda mendaki gunung untuk mencapai tebing tinggi. Ia ingin melompat dan mati. Tapi di tengah jalan dua orang pengembara berjalan melewati Sevda, percakapan mereka membuat Sevda mengurungkan niatnya.
“Ratu Arshag itu! Kau lihat dia?” kata satu di antara mereka. “Mereka bilang awalnya ia musuh. Raja Rustam menikahi adiknya, tapi adiknya melarikan diri.”
“Lalu ke mana adiknya?”
“Mereka bilang ia sudah mati.”
“Aku tidak tahu soal itu, tapi yang kudengar Ratu Ece memberikan rahasia kerajaan untuk melindungi Ezdemir,” kata yang lain. “Rustam memaafkannya untuk itu, dan ia mendapatkan yang ia inginkan. Tapi yang ajaib adalah bagaimana Rustam tidak membunuhnya setelahnya, malah jatuh cinta padanya, menjadikannya Ratu! Padahal kau tahu kan kalau Rustam—!”
“Ssssh, jangan keras-keras ketika berkata tentang Raja Rustam,” si pengembara melirik tajam ke arah Sevda. “Dinding pun bertelinga.”
 Sevda terhenyak. Ia terduduk di depan kedai anggur tempat dua pengembara itu masuk untuk beristirahat. Ia menatap langit biru. Ece selalu membereskan segalanya yang ia kacaukan. Segalanya telah menjadi benar lagi kini, bahkan permintaan Polaris telah terkabulkan: Kerajaan Arshag bukanlah kerajaan bengis lagi, dengan Ece di samping Rustam. Lalu ke mana Sevda harus melangkah sekarang?
Hari berganti malam. Ia menatap ke arah langit, tidak bisa menemukan yang seharusnya ia pandangi. Urusan manusia telah terselesaikan, tapi urusannya dengan Polaris takkan pernah bisa diputar ulang.
Angin keperakan berembus, menyapu rambut Sevda. Dinginnya membuat Sevda agak mengigil. Kemudian ia memperhatikan angin itu berembus, dan pergi. Melayang hilang ke arah Utara.
Sevda tertegun melihatnya. Ia kemudian berangkat, menuju ke mana angin berembus. Polaris tidak ada di Langit, tapi mungkin Sevda bisa menemukannya di Bumi, sekali lagi.

***

2 comments:

Sabrina Zheng said...

Aduh, fen... seneng banget ngarang yang tragis2, hahaha
Tapi bagus, kok. :D

Fenny Wong said...

@ci nana:
hahahaha niatnya bikin endingnya Sevda ketemu Polaris lagi, terus ada twist lanjutan, tapi gajadi deh...
bikin buat iseng aja ;d
glad you like itt~

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...