Saturday, October 15, 2011

Review: Ther Melian #1 Revelation


"Hm... Ther Melian. Sebenarnya saya sudah berencana lama untuk beli buku ini, tapi baru kesampaian waktu bulan September akhir lalu. Saya cari buku ini di Gramedia BSM Bandung, dan setelah hampir menyerah karena nggak ada karyawan yang tahu tempat taruhnya. Waktu saya sudah menyerah menunggu dan mendekati si mas-mas penjaga toko, eh, mata saya nancep di kaver Ther Melian ini. Ketemu! 

Mungkin saya tidak perhatiin buku itu karena bukunya berbeda total dengan yang saya bayangkan. Dalam otak saya ketika saya lihat kavernya di Goodreads atau di tempat lain, saya nggak nyangka ternyata kavernya di print dalam kualitas yang kehologram-holograman seperti ini. Nggak, sama sekali nggak jelek kok. Menambah kesan misterius dan magical, which is good.

Lalu saya sampai di rumah dan membuka bungkusan plastiknya. Saya mulai merasa bayangan saya tentang dalamnya pun akan meleset, dan saya benar. Saya kira Ther Melian itu graphic novel yang punya banyak gambar hampir di setiap halamannya. Mengejutkan, saya disuguhkan dengan novel utuh dengan tulisan penuh, gambar hanya di setiap pembukaan bab. Saya mendesah puas. Toh saya lebih suka yang begini. Lagi-lagi kejutan yang menyenangkan.

Yak, lanjut ke gaya penulisan. Sebenernya gaya penulisannya Shienny, saya udah pernah baca sebelumnya di cerpennya untuk Fanfes 2011. Tapi nggak tahu kenapa saya masih agak shock. Kali ini saya nggak tahu shock saya ini shock yang baik atau bukan. 



Cara Shienny memperkenalkan karakternya sangat lugas. Begitu pula cara dia memperkenalkan tempat baru, atau istilah-istilah baru pada pembacanya. Kalau bahasa menulisnya, sangat 'tell'. Banyak kata adalah, penjelasan diberikan segera setelah istilah dan karakter dimunculkan. Ini adalah ini. Tempat ini adalah tempat yang begini. Di satu sisi hal ini memangkas banyak kesempatan untuk membuat narasi menjadi puitis, di sisi lain Shienny membuat segalanya menjadi sangat mudah untuk dimengerti dan dicerna.

Semakin ke belakang, karakter yang muncul semakin banyak, begitu pula dengan istilah yang muncul. Saya mulai berpikir cara tulis yang lugas itu bermanfaat. Tapi saya juga harus bilang, selugas dan sejelas apapun dijelaskan, saya tetap bingung ketika disodorkan istilah 'Eldynn' sekali lagi. Aelwen adalah Eldynn. Hm, Eldynn itu apa ya? Intinya, otak saya tidak bisa menampung semua informasi dengan maksimal, tapi sebenarnya tidak terlalu mengganggu, karena yang seperti ini tidak terlalu sering muncul. Baru terakhir saya sadar ternyata di belakangnya ada glosarium.

Karakter-karakter Ther Melian menarik, terutama Vrey. Sebagai karakter utama, saya merasa dia sangat loveable, padahal biasanya saya paling suka tipe-tipe cewek kayak Aelwen (kalau yang sering baca tulisan saya pasti mengerti soal ini, hahaha.) Dengan membuat karakter sebanyak itu, menurut saya tidak mudah untuk menjaga semuanya agar tetap in-character, tapi Shienny berhasil melakukannya. Walau begitu, ada selip di sana sini, terutama pada Aelwen. Awalnya ketika Aelwen mengikuti Vrey berburu nymph, benar-benar terasa bagaimana dia manja dan tidak terbiasa berpetualang. Dia digambarkan takut untuk menyeberangi sungai yang deras. Bagaimana perempuan yang sama bisa berubah begitu banyak ketika dia mendaki Gunung Ash yang berbatu, tanpa ada protes sekalipun? Menyeberangi sungai deras memang mengerikan, tapi menurut saya mendaki lereng curam hanya berpegangan pada semak-semak dan bebatuan juga sama mengerikannya.


Karakter yang paling saya suka adalah Vrey, kemudian Karth, lalu Rion. Sampai buku pertama ini tamat, yang terlihat jelas perkembangannya baru Eizen. Saya merasa perubahan watak Eizen karena diselamatkan oleh Valadin cukup meyakinkan, tidak seperti karakter pemberontak di cerita lain yang biasanya tiba-tiba berubah baik dan penurut. Saya tidak merasakan perkembangan karakter Ellanese sama sekali, atau kemenarikan dari wataknya yang berulang kali digambarkan sebagai 'dingin'. Juga, saya harus protes karena harapan saya melihat sisi lain Valadin tidak terpuaskan. Jika Valadin seterhormat, selurus, dan seidealis yang digambarkan, saya tidak merasa jatuh cinta pada dia. Malah, awal ketika Karth berkata pada Laruen dia harus waspada akan Valadin, saya merasa jauh lebih tertarik. Jika ada kecacatan di kepribadian yang terlihat sempurna itu, baik itu kelicikan atau keegoisan tersembunyi, maka saya pasti akan jatuh cinta pada Valadin. Mungkin hal ini akan terpuaskan di buku-buku berikutnya dari Ther Melian, saya tidak tahu. 

Untuk ceritanya sendiri, saya pernah membaca di review seseorang yang berkata bahwa Ther Melian ini terasa seperti remake habis-habisan Le Ciel dalam bentuk novel. Saya setuju, tapi saya harus tambahkan kalau Ther Melian jauh lebih matang dan seru! Saya samar-samar mengingat tentang Jubah Nymph dan Relik Elemental di Le Ciel, tapi saya merasa bagaimana cerita di Ther Melian terjalin lebih rapi dan sistematis, lebih membuat penasaran. Saya harus bilang, ide tentang pengembaraan mengumpulkan Relik Elemental bukan yang pertama kali muncul (saya berulang kali teringat pengembaraan Yuna dan Tidus ke kuil-kuil Aeon di FFX). Tapi tujuan akhir Valadin untuk mengumpulkannyalah yang menurut saya menarik. Pertentangan ideal Valadin dengan para tetua Elvar menggambarkan bagaimana dalam dua pendapat belum tentu ada yang benar dan yang salah: dalam kasus ini, menurut saya keduanya tidak salah, juga tidak benar. Hal yang membuat segalanya terasa lebih realistis dan tidak klise.

Tentang twist di akhir yang berkata bahwa sebenarnya Valadin dan Vrey saling mengenal, bahkan tersirat bahwa sempat menjalin kasih, tidak mengejutkan saya. Banyak tanda-tanda yang diberikan di sepanjang buku, yang menurut saya jika dikurangi intensitasnya, bisa membuat revelation kenyataan itu lebih bombastis. Sayang kan, kalau hal ini sudah tertebak, padahal kesannya seperti inilah yang membuat buku pertama Ther Melian ini menjadi seru. Bahkan ketika mereka menyebut-nyebut tentang Burung Api dan Gunung Ash, saya sudah bisa membayangkan bagaimana mereka akan bertemu. Prolog di awal menjadi senjata dua arah. 

Tentang Aelwen sendiri, saya merasa bisa menebak bahwa dulu ia tinggal di dalam Istana Granville, mungkin adalah semacam seorang putri, tapi itu hanya perkiraan. Di luar itu, saya tidak bisa menebak apa-apa. Tidak tentang bagaimana Rion mendapatkan lukanya, atau kenapa Valadin merekrut Laruen ('peliharaan baru' seperti yang dibilang Vrey). Cukup banyak hal yang membuat saya penasaran dan memastikan saya untuk membeli Ther Melian selanjutnya. Di samping itu, semua adegan pertarungan dan pengembaraan mengalahkan penjaga-penjaga Templia itu pun patut diacungi jempol. Kok ga abis-abis ide ya, tulis adegan battle keren. *nyengir dan melirik iri

Sudah cukup saya ngoceh kayaknya. Sekarang saya simpan dulu buku pertama ini, lalu tunggu pulang kampung lagi untuk beli buku kedua dan ketiganya. Good job~

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...