Sunday, July 31, 2011

New Project: Selucia - Menjemput Kirana

Hi peeps :d
Jadi akhir-akhir ini aku ngilang. Sebagian alasan karena kuliah yang tugasnya bejibun, alasan lain karena sibuk berkeliaran di GRI dan Kastil Fantasi, berpesta di Fantasy Fiesta 2011.
Tapi baru-baru ini aku nulis cerita baru, dan bakal post prolog nya ini di sini. Kira-kira cerita macam apa yang bisa kamu tebak dari prolog ini? Apa bikin penasaran dan bikin kamu baca sisa ceritanya? I want to know. :D
Judulnya sendiri masih tentatif.
Enjoy.

----------------------------------------


Selucia
Menjemput Kirana



Jari Adella menyusuri wajah familiar di permukaan majalah dalam genggamannya. Ia ragu-ragu untuk membukanya, was-was untuk membaca artikelnya. Tulisan seperti apa yang akan Adella baca? Apa ia akan merengut kesal dengan perlakuan para paparazzi yang semena-mena pada sahabatnya itu? Atau apakah ia akan meratap sedih, bahwa sebenarnya gadis dalam majalah itu hanya sahabatnya— tapi dulu?

Adella memilih urung untuk membukanya, menaruhnya kembali ke rak majalah di kafe itu: membiarkan majalah itu bertemu dengan majalah lain yang berkaver serupa. Ia takut seseorang muncul di belakangnya dan tiba-tiba bertanya, “Bukankah dia yang selalu bersamamu dulu, hingga ia tiba-tiba menandatangani kontrak dengan agensi model Eropa dan meninggalkanmu selamanya?”

Maka Adella tidak bisa tiba-tiba menjawab, “Bukan dia yang meninggalkanku, tapi aku yang meninggalkannya.”

 Atau lebih parah lagi, Adella takut mendapati dirinya sendiri menjawab, “Bukan dia yang meninggalkanku, tapi kalau itu benar, aku ingin ia kembali.”






Ganesha melepaskan kacamata hitamnya segera setelah ia melihat sosok yang dicarinya. Tidak sulit untuk menemukan gadis itu dalam kafe sepi itu — tinggi tubuhnya, pilihan pakaiannya, putih kulitnya, dan terangnya warna rambutnya. Begitu Barat, begitu trendi, melebur dalam latar belakang Yunani kuno yang mendominasi kafe yang mereka pilih.

Hentakan pelan boots Ganesha membuat Adella berjengit, membuatnya terlihat seperti seorang penjahat yang tertangkap basah. Ia melepaskan majalah di tangannya, setengah melemparnya kembali ke dalam rak di hadapannya, sebelum berpaling ke arah Ganesha. Ia meninggalkan sebuah salam, kecupan ringan di pipi kiri Ganesha, sebelum duduk kembali, segelas air putih dingin di tangan.

Tapi Ganesha tahu apa yang Adella sembunyikan. Ia berdiri, menatap kaver majalah yang sebelumnya dipegang Adella.

“Gane,” ketidaksabaran dalam suara Adella, tangannya menarik Ganesha supaya ia cepat duduk. “Nggak lihat juga kamu udah tahu, kan?”

Ada jeda beberapa detik sebelum Ganesha mengangkat tatapannya dari kaver itu. Kemudian ia menaruh majalah itu kembali ke rak. Adella mengerti dirinya. Tentu saja Ganesha sudah tahu, sudah berapa kali ia mengulang membaca isi artikel yang sama, tentang seorang supermodel yang sama? Padahal artikel itu penuh dengan tulisan yang dilebih-lebihkan dan kebenaran yang dipertanyakan.

“Della.... Kalau bukan untuk ngomongin tentang itu, mana mungkin kamu minta kita ngumpul di Selucia ini. Kamu pikir aku nggak ngerti kamu?” Ganesha mengangkat tangannya, memanggil pelayan datang. Sosok pria 30an yang menyambut dengan buku notes dan pena adalah wajah yang mereka kenal. Adella membuang muka, tapi Ganesha menyebutkan pesanannya dengan ramah.

“Segelas caffè americano tambahan, oke,” pelayannya mencatat, kemudian tersenyum ke arah Ganesha. “Lama nggak ketemu, Ganesha. Tambahan segelas cappuccino dengan kue vanila untuk si ganteng calon dokter yang belum datang, kayak biasa?”

Ganesha mengerjap. Erlangga, dia....?

“Gue tunggu sampai dia datang dulu,” Ganesha berkata, mengabaikan pikiran-pikiran yang lewat. “Makasih, Stanley.”

Adella memeluk tas kulit burung unta berwarna pink terangnya di pangkuan segera setelah Stanley pergi. Tangannya menekan-nekan tombol ponselnya.

“Nggak usah dipanggil lah, dia udah di jalan kok,” Ganesha berkata setelah memesan kopi, dan seketika tangan Adella berhenti. “Angga abis ke bengkel bentar, biasa. Terus bakalan ke sini. Udah kusuruh ngebut.”

Adella tetap memeluk tasnya. Ia memejamkan matanya, kerutan-kerutan muncul di keningnya.

“Kata kamu, apa dia akan pulang ke Bandung?” Adella tampak tidak bisa menghentikan dirinya dari bertanya. “Abis semua yang terjadi, kalau majalah itu emang bener?”

Ganesha memainkan kacamata hitam di tangannya, bersandar ke sofa empuk yang didudukinya, berusaha terlihat serileks mungkin. Wajah Adella yang memandangnya penuh tanya menginginkan jawaban dan penenangan, dan ia tidak tahu apa ia bisa memberikannya. Sejak awal Ganesha tidak pernah menawarkan untuk hal semacam itu.

“Nggak tahu,” ia menjawab jujur.

“Lalu kalau Kiran pulang ke sini, apa yang bakal terjadi?”

“Nggak tahu....”

“Gane!” Adella merengut kesal. “Tenangin aku dong! Aku kan takut.”

“Takut? Takut kenapa?” Ganesha balik bertanya, mendesah lelah. “Bukannya empat tahun lalu kamu yang ngomong, nggak boleh ada kata-kata lagi tentang dia yang keluar dari mulutku? Sekarang kamu yang minta aku ngomong soal dia lagi. Aku harus gimana? Aku bisa apa... aku tahu apa?”

“Iya, tapi aku tetep aja pusing kalau mikir dia mau pulang, apalagi karena hal kayak gitu — kalau majalah itu benar,” suara Adella kini melemah. “Rasanya sekarang kalau dipikir lagi, aku nggak tahu empat tahun lalu itu kita masalahin apa sampai bisa bertengkar begitu.”

Ganesha menyeruput minumannya yang baru saja datang. Ia mencari-cari dalam memorinya, membenarkan perkataan Adella. Empat tahun lalu, ketika mereka baru kelas dua SMA itu, sebenarnya apa yang mereka pertengkarkan dengan sebegitu besarnya?






Erlangga tidak sedang mengebut seperti yang ia akui pada Ganesha. Ia jarang berbohong pada temannya itu, tapi jika iya, ia pasti memiliki alasan yang sangat kuat. Erlangga sudah sampai di Kafe Selucia, duduk dalam mobilnya di lapangan tempat parkir.

Ia memandang kafe eksklusif itu dari balik jendela, kemudian memandang lagi layar pada laptop di pangkuannya. Ia menunggu balasan email yang sudah ia kirim dari beberapa saat yang lalu. Email yang membuat ia memutuskan untuk turun dan masuk ke Selucia, atau menekan gas nya saat itu juga.

Belum ada email juga. Erlangga meraih majalah di sampingnya, membukanya selewat, kemudian menyelipkannya ke tumpukan buku-buku kedokteran di jok belakangnya. Warna mencolok dari majalah gosip itu tidak bisa menyatu dengan kaver-kaver pucat dari buku-bukunya yang lain.

Erlangga mengusap matanya. Ia tidak tidur sejak kemarin malam. Ia segera tahu keberadaan Kirana: semua majalah memberi tahu tentang keberadaannya di kaver-kaver mereka. Landasan udara, itu berarti Kirana akan pergi ke suatu tempat. Soekarno-Hatta, mereka bilang. Erlangga tidak percaya.

Maka ia pun membuka internet dan mengetik email pada Kirana Kartikasotya. Menanyakan kebenaran rumor. Melanggar janjinya dengan Ganesha dan Adella untuk yang keentah berapa kalinya. Dua temannya itu tidak pernah tahu selama ini ia dan Kirana selalu menghubungi satu sama lain. Tidak ada yang perlu tahu.

Sebuah bunyi bip membuat Erlangga berpaling pada layarnya lagi.






Aaa, nggak dapet pesawat yang sampe malem-malem. Jam 6 sore Ngga, transit dari Frankfurt, terus Singapur, baru Jakarta. Sekarang lagi jalan-jalan dalem Changi Airport sekalian nunggu pesawat. Moga-moga aja media Indo nggak seribut paparazzi Amrik. Miss you, calon dokter yang ganteng.



Bangunan kafe Selucia di luar tersinar cahaya kuning matahari sore. Erlangga melirik jam di mobilnya. Perhitungannya benar. Ia meraih ponselnya, mengetik dengan cepat sebelum memilih kontak Ganesha dan Adella, kemudian mengirim pesannya.

Erlangga memutar kunci mobilnya, membuat deru mesin menyala kembali. Ia menekan kopling dan memasukkan gigi mobil, kemudian menekan pedal gasnya. Mobil perak itu kemudian meluncur, tujuannya adalah Cengkareng, Jakarta.

Ponsel di sampingnya tergeletak, layarnya masih menunjukkan pesan yang ia kirim untuk kedua sahabatnya yang masih menunggu di Selucia.

Nggak bisa ke sana, sorry. Ada kerjaan dari bokap, nggak bisa nolak.... Soal Kiran, kita omongin lagi nanti, ok?






Apa masalah yang empat tahun lalu itu muncul pantas membuat mereka berhenti berkomunikasi dengan Kirana? Tentu saja tidak. Tidak ada yang sepadan dengan hubungan yang mereka berempat miliki dulu. Ganesha hanya bisa menyesal sekarang, tapi seperti Adella maupun Erlangga, tidak ada yang bersedia menyesal. Penyesalan adalah kata yang mengerikan, yang cocok hanya untuk seseorang yang putus asa.

Ganesha membuka majalah di hadapannya. Supermodel itu difoto dengan scarf sutera membungkus kepalanya, kacamata hitam besar menutupi mukanya. Ia bersembunyi, kesilauan akan jepretan blitz para paparazzi, akan ketenarannya sendiri. Sebuah tas monogram di tangannya, ia tampak sedang berjalan cepat di atas hak setinggi dua belas senti di lantai landasan udara John F. Kennedy New York.

Ah, betapa ia berubah. Empat tahun bisa menjentikkan jari dan memutasi sesosok gadis manis berkulit sawo matang dalam ingatan Ganesha. Ke mana rambutnya yang sependek telinga? Ke mana terusan hijau muda  dengan kerah putih yang selalu dipakainya? Gadis yang dulu setiap hari langganan es campur dan ronde jahe di roda abang-abang yang sering keliling kompleks sekarang terpampang di iklan-iklan adi busana, tubuhnya bagaikan tusuk gigi.

Kemudian Ganesha menangkap judul beritanya, tercetak dalam huruf-huruf kapital yang tinggi kurus. Di samping judulnya, ada sebuah foto wajah sang supermodel yang diperbesar. Di antara ujung scarf dan bingkai kacamata hitamnya, terlihat sebuah lebam kebiruan.



VIOLENCE ON KIRANA KARTIKASOTYA: Benarkah rumor kekerasan oleh sang kekasih, Edward Davenport, membuat supermodel ini kembali ke Indonesia?

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...