Tuesday, June 14, 2011

Ritual Dewa Kematian (FINAL VERSION)

UPDATE: Opsi kedua untuk Fantasy Fiesta 2011, yang pada akhirnya tidak kukirim.
Ini adalah versi final dari cerpen ini, selamat menikmati. :)


---------------------------------------------



Ritual Dewa Kematian







Sebuah cadar putih gading, sebuah replika memori.

Untaian perasaan yang hanya sebatas kekejaman tak tertandingi.

Jika semua permainan yang sudah lalu tidak berarti,

lalu mengapa Tehad Sang Penguasa masih merenungi?







Rasanya begitu lama sejak Hedera terakhir merasakan damai dan bahagia. Padahal ia selalu bahagia ketika Salix masih ada — apapun yang terjadi di sekitar mereka, walaupun seluruh dunia menentang mereka bersama.

Ia bertemu Salix di akhir masa remajanya, dan umur Salix hampir dua kali miliknya. Seluruh desa merasa Hedera adalah gadis yang dibodohi, dan Salix harus diusir karena menginginkan perempuan yang jauh lebih muda darinya untuk dijadikan istri. Tapi kenyataannya, sejak awal Salix menyatakan cinta padanya, Hedera tahu ikatan di antara mereka terus ada.

Tidak ada yang pernah mencintai Hedera seperti Salix mencintainya. Tidak ada yang akan bisa. Maka mereka meninggalkan semuanya yang menentang mereka di desa: yang menyayangi mereka, yang membenci mereka, semua harta benda, semua status pekerjaan... lalu memulai hidup baru, di tengah hutan.

Karena tentangan tetua, mereka tidak pernah benar-benar menikah. Tapi suatu pagi sepulang dari kota, Salix membangunkan Hedera, memintanya membasuh mukanya, kemudian membawanya ke tepi sebuah jurang.




Jurang yang begitu tinggi, hingga tampak seperti tidak berdasar. Jarak dari tepi mereka berdiri ke tepi di seberang menganga lebar, bahkan jembatan terpanjang di desa mereka pun akan kesulitan menghubungkannya. Hedera bisa melihat pohon-pohon tinggi seluas mata memandang, langit biru yang terbentang di atas mereka. Kekontrasan biru-hijau yang membuat orang menahan napas.

Dan di sana, di tepi Retakan Tanpa Dasar lah, Salix tiba-tiba melapisi rambut gelombang Hedera yang indah dengan cadar putih tipis.

“Kudapat ini sedari menukarkan rusa yang kudapat di pasar malam,” ucap Salix lembut, membelai wajah mungil Hedera. “Kuharap ini cukup untuk meyakinkanmu bahwa kau adalah pengantin wanita tercantik yang pernah ada di seluruh daratan dan lautan.”

Di balik cadar itu Hedera menatap Salix, air mata hampir tumpah dari setiap sisi matanya. Tangan mereka saling menggenggam, cinta yang mengikat mereka di jari manis. Mereka saling bertukar sumpah, alam yang menakjubkan jadi saksi. Lalu mereka resmi suami istri.

Tapi seperti keindahan yang datang bagai mimpi, semudah itu juga kesedihan datang dan menghancurkan semuanya, bagai seorang pencuri di tengah kegelapan malam. Hedera tidak tahu kenapa suatu malam Salix memeluknya erat, menangis tanpa suara. Ia tidak membiarkan Hedera menatap wajahnya hingga malam itu berakhir.

Ketika Hedera bangun keesokan harinya Salix tidak di sana. Hedera khawatir, ketakutan, satu hari penuh ia mencari seluruh hutan hingga ke kota. Ia mungkin harus mencari ke kota-kota lain, atau ke desa dari mana mereka datang. Hedera memutuskan untuk kembali ke pondok ketika matahari mulai terbenam — menyiapkan perbekalan untuk perjalanan yang lebih panjang.  Dalam hati ia berharap-harap cemas Salix mungkin sudah pulang ke pondok duluan.

Salix tidak pernah kembali ke sana, bahkan hingga puluhan tahun setelahnya. Ke mana pun Hedera mencari, Hedera tidak pernah menemukan kembali suaminya itu.

Ia berdoa dan berdoa, pada Meenpyra Dewi Pencipta yang orang bilang begitu pemurah hati, bertanya ke mana perginya Salix. Untuk tiga malam berikutnya Hedera bermimpi Salix yang tersenyum pilu, melompat dari ujung Retakan Tanpa Dasar.

Yang membuat Hedera bertahan hidup untuk berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun adalah Salix. Kemarahan pada suaminya itu, akan mengapa ia meninggalkannya begitu tiba-tiba. Kesedihan untuk suaminya itu, karena ia harus terjun ke jurang tanpa Hedera tahu alasannya. Kekesalan pada diri Hedera sendiri, untuk tidak melihat kejadian itu mendekat ke arahnya.

Kemarahan, kesedihan, dan kekesalan mengubah Hedera dari gadis yang cantik jelita menjadi buruk rupa.

Pernah suatu malam ketika kerinduannya pada Salix menjadi, ia menentang kegelapan dan berjalan ke tepi Retakan Tanpa Dasar. Di tangannya cadar yang termakan waktu, yang dulu menutupi wajahnya yang jelita. Ia mencengkramnya, air mata mulai membasahi pipinya.

Sudah cukup lama aku bersedih... apa aku harus melepaskan Salix? Melupakan bahwa ia pernah ada?

Badannya berguncang hebat, berusaha menahan sengguk yang keluar tidak terkendali. Ketika Hedera berlutut dan memeluk tubuhnya, ingin menghentikan luapan emosinya, ia tergelincir, dan mulai terjatuh.

Apa ini jawabanmu... Salix?

Namun ketika Hedera berpikir pada akhirnya ia akan tahu apa yang ada di dasar jurang itu, tubuhnya terhempas ke atas tanah tidak lama kemudian. Ada rasa sakit yang merayap, ada rasa perih pada bagian tubuh yang menggesek tanah kering di bawahnya.

Hedera masih bisa membuka kelopak matanya. Gelap, namun hidungnya masih bisa mencium bau daun dan hutan. Ia tidak terjatuh jauh. Butuh beberapa saat sebelum ia bisa bangkit dan terduduk di sana. Di hadapannya ada jalan landai ke atas yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya, menyambung ke bagian tepi jurang biasa ia berdiri. Hedera menoleh ke belakang, mendapati sebuah gubuk tua di ujung jalan buntu, disembunyikan bayang-bayang dedaunan pohon.

Ada sesuatu dalam hati Hedera yang memintanya untuk masuk ke dalam gubuk itu. Betapa terkejutnya ketika ia membuka pintu gubuk itu, menemukan tumpukan buku tebal disusun hingga ke langit-langit gubuk. Buku-buku sihir. Buku-buku ramuan.

Setiap kata yang tertulis di atas semua kertas berhubungan dengan Retakan Tanpa Dasar. Setiap sore Hedera mengambil tiga jilid buku dan dibawanya pulang ke pondoknya. Hedera mencoba setiap ritualnya, meramu setiap ramuannya, memenuhi dirinya dengan setiap pengetahuan tentang jurang itu. Jika semuanya telah ia baca dan praktekkan, dan ia masih belum membuat Salix kembali, ia akan kembali dan mengambil tiga jilid lagi.

Dengan begitu gadis buruk rupa itu berubah menjadi seorang penyihir buruk rupa.

Entah berapa lama yang terlewati, tapi Hedera terus menyambung hidupnya dengan semua ilmu dan ramuan yang telah ia pelajari. Ia bersumpah sebelum ia bertemu Salix, ia takkan berhenti mencoba.

Hingga suatu hari, Hedera kembali ke gubuk tua itu, ingin mencoba tiga jilid lain. Betapa terkejutnya, gubuk itu kini telah kosong. Hedera bisa melihat ke seluruh sisi dinding dan lantai kayunya. Gubuk itu sehampa harapannya, yang semakin tipis seiring berjalannya waktu.

Hedera terduduk di ujung gubuk, rambutnya putihnya menyentuh lantai. Ia tersengguk, menangis, untuk pertama kalinya sejak ia menemukan gubuk itu. Dalam hati ia bertanya lagi:

Sudah cukup banyak aku berusaha... apa aku harus melepaskan Salix? Melupakan bahwa ia pernah ada?

Tapi kemudian ada sesuatu yang tertangkap mata Hedera yang berlinang air mata. Di tengah-tengah lantai kayu gubuk itu, ada sebuah potongan bujur sangkar — tingkap yang tidak pernah ia lihat ketika buku-buku masih menutupi lantai. Tapi kini semua buku telah diambil, dan cahaya sore lebih terik daripada hari-hari lain, hingga Hedera bisa menyadarinya.

Apa ini jawabanmu... Salix?

Maka Hedera segera berdiri, menarik tingkapnya. Sebuah tangga putar ke bawah akan menuntunnya ke dalam kegelapan, namun Hedera tidak takut. Ia menapak turun, membawa lampu minyaknya.

Dan di sana, di tengah ruang bawah tanah yang sempit itu berdiri sebuah kuali kosong. Sebuah buku yang tebal, tertebal yang pernah Hedera lihat, tergeletak terbuka di sampingnya. Di bawah sinar kekuningan lampunya, Hedera mengintip ke dalam halaman di mana buku itu terbuka.



Tentang Ritual Dewa Kematian, Ramuan Tujuh Warna, dan Bagaimana Cara Membangkitkan Yang Mati



Kertas di mana kata-kata itu dituliskan begitu tua, penuh dengan sobekan dan tambalan, seakan orang yang menulisnya berulang kali mengurungkan niatnya, sebelum kemudian memutuskan untuk mencobanya. Halaman-halaman sebelumnya tampak seperti sebuah jurnal bagi Hedera, dan pada halaman-halaman akhir ada resep yang sangat panjang.

Hedera mengalihkan perhatiannya pada kuali di sampingnya. Mungkin kuali ini yang digunakan sang penulis untuk meramu dulu.

Hedera tahu sang penulis mungkin adalah orang yang sangat amat mirip dengannya. Maka Hedera pun duduk di samping kuali dengan buku tua itu di pangkuannya, dan ia pun mulai membaca. Kali ini, dari awal:

... yang telah pergi takkan kembali, tapi bagaimana jika ada cara untuk melawan hukum alam? Sihir tertinggi dari sihir mana pun, kekuatan terdahsyat yang diinginkan semua manusia: mencurangi Dewa Kematian. Apapun untuk mendapatkan dia lagi, apapun....

...hari ini mencoba menggabungkan ramuan aneh yang kudengar dari penyihir seberang kota. Ritual Dewa Kematian sering dicoba namun gagal, tapi menggabungkannya dengan Ramuan Tujuh Warna adalah hal yang belum pernah diketahui siapapun. Kecuali olehku..., dan mungkin beberapa penyihir lain yang telah mati sebelumku....

...akhirnya menemukan letak persis Retakan Tanpa Dasar — satu-satunya tempat di bumi di mana Ritual Dewa Kematian bisa berhasil. Apakah aku berada di tempat yang benar?

...ada sesuatu yang kurang dari ramuan ini, tapi aku tidak tahu apa. Menjalankan Ritual Dewa Kematian purnama kemarin, namun tidak ada yang terjadi. Ramuan Tujuh Warna masih terasa seperti ramuan biasa. Menyakitkan, tapi tidak mematikan seperti yang seharusnya. Padahal aku sudah memastikan bahwa kemarin purnama sempurna... Apa ada yang kurang di dalam ramuanku? Mungkin ekor kelinci betina bermata rubi? Atau apel emas dari Pohon Kebahagiaan...?

Hedera terus membalik halaman demi halaman buku yang mungkin adalah kitab penyelamatnya, hingga ia pada akhirnya kembali ke halaman yang sama, dihadapkan dengan resep yang sama. Resep Ramuan Tujuh Warna, dengan bahan-bahan dan instruksi yang hampir tidak mungkin dilaksanakan. Penulis itu berhasil membuatnya, meminumnya di tengah Ritual Dewa Kematian, maka Hedera pun bisa. Ia berharap akan keajaiban, keberuntungan.

Walaupun tampaknya nasib sang penulis tidak seberuntung itu. Kalimat di akhir buku berkata:

Berhasil atau tidak, jika setelah kalimat ini tidak ada tulisan lagi, maka berarti aku telah mati — JANGAN PRAKTEKKAN RITUAL INI.







Pada malam-malam ketika Hedera tidur, raganya dijaga dengan Ramuan Penyambung Umur,  Hedera memimpikan berbagai hal. Kadang ia bermimpi akan Salix, dan ketika ia bangun, ia akan merasa begitu letih walaupun telah merapal Mantera Pembangkit Energi. Kadang-kadang ada air mata yang meleleh di atas pipinya, namun ia hanya akan menyekanya dengan punggung tangannya, kemudian berpikir bagaimana cara mendapatkan bahan lain untuk Ramuan Tujuh Warna.

Kadang ia bermimpi akan Ritual Dewa Kematian. Dirinya masih muda, mengenakan cadar nikah, meminum ketujuh mangkuk berisi cairan berwarna warni— Ramuan Tujuh Warna. Kemudian tiba-tiba saja dunia berubah gelap, Hedera pingsan. Kemudian ia akan terbangun di surga, bersama Salix. Hanya saja ketika ia menyentuhnya, surga itu hancur, menjadi kenyataan di mana semua itu ternyata hanya mimpi.

Tapi malam ini ia berdiri, ini bukan mimpi.... Dan segalanya terasa lebih siap dari kapanpun juga. Pada akhirnya ia bisa mendapatkan setiap bahan di dalamnya. Ia masih mengenakan kerudungnya, tujuh mangkuk tergeletak berjajar di samping kakinya. Ia harus meminum semuanya ketika purnama mulai tenggelam, sebelum matahari terbit seutuhnya. Waktu yang cukup lama, yang membuat Hedera bertanya-tanya mengapa diperlukan waktu selama itu hanya untuk meminum tujuh mangkuk ramuan.

Kemudian Hedera melihatnya, purnama yang mulai menghilang di balik garis cakrawala. Di timur, sinar matahari mulai muncul menyinari mega mendung di atasnya.

Tangan Hedera mencengkram cadarnya, sebelum kemudian membentangkan dan memakainya, seakan sebuah cadar bisa menyelamatkan hidupnya. Ia berlutut di tepi Retakan Tanpa Dasar, tangannya meraih mangkuk berisi cairan berwarna merah. Lalu ia merapal mantera.



Jaad imae naan ukae i

Pada alam kuserahkan semua diri

Untuk membangkitkan yang pergi



Aan daim e uakij eaan

Bulan membawa semua persembahan

Matahari menukarnya dengan kekuatan



 Idaau kaej ne iama an

Berikan aku kekuasaan

Melebihi Dewa Kematian



Jantung Hedera berdegup kencang. Angin di sekitarnya bertiup melingkar, dan pohon-pohon membuat gemerisik kencang. Ada sihir yang terasa kental di sekitarnya, dan dengan itu Hedera tahu ritualnya telah berjalan. Dengan tangan yang gemetar Hedera meneguk isi mangkuk di tangannya. Cairan merah yang panas membakar seluruh organ tubuh dalamnya, membuat Hedera terkapar di tanah, tangannya bahkan tidak bisa mencapai untuk mangkuk kedua.

Kepalanya ikut panas, panas seperti meleleh... kemudian ia teingat akan Salix. Tersenyum padanya, membawanya pergi dari desa mereka. Muncul menunjukkan hasil buruan yang akan menjadi makanan mewah mereka. Membelah kayu di depan pondok mereka di pagi hari yang dingin, meminta Hedera untuk tidur kembali. Mencoba untuk memasak sup jamur enak untuk makan siang mereka pada hari ulang tahun Hedera.

Ia mengelus pipi Hedera hari itu, berbisik pelan, “Untuk tahun-tahun selanjutnya juga, kita akan bersama.”

Air mata yang kemudian membasahi tanah di bawah Hedera adalah karena Salix, bukan karena rasa sakit luar biasa yang tidak mau pergi. Walau begitu Hedera tetap bangkit dan meraih mangkuk kedua. Ia mengulang manteranya, suaranya serak, tapi ia tidak akan berhenti.

“...Jaad imae naan ukae i....”

Ia ingin berbaring di sana selamanya setelah berhasil menyelesaikan mantera di tengah siksaan bara api tak tampak. Tapi ia melihat matahari yang semakin terang, dan tahu waktunya tidak banyak. Ia tidak bisa merintih kesakitan selamanya, setidaknya bukan sekarang.

Ia meneguk cairan jingga. Kemudian ia merasa sesak, seperti lehernya dicekik jutaan tangan, dan ia tidak bisa bernapas.

Hedera tidak peduli, di tengah perjuangannya untuk bernapas, ia merapal ulang mantera. Ia akan menyelesaikan ritual ini walau ini adalah hal terakhir di hidupnya. Di tangannya ada mangkuk berisi cairan kuning, dan ia siap untuk meminumnya, sebelum kemudian ia melihat Salix.

Di hadapannya.

Tubuhnya yang melayang tertembus cahaya matahari pagi. Wajahnya menunjukkan raut tersedih yang pernah Hedera lihat. Sebaliknya, wajah Hedera tidak pernah tampak sedamai dan segembira itu, walau di tengah bara api dan cekikan kasat mata.

“T... tunggu aku,... Salix....”

Hedera meneguk cairan kuning di tangannya. Sebuah cahaya yang membutakan, menyakitkan, menyeruak keluar dari sela-sela kulitnya, membuat tubuhnya bercahaya. Pada setiap lubang di mana cahaya itu menyorot keluar, kulit Hedera serasa disayat-sayat, begitu pula setiap otot dan tulang yang berada di tubuhnya. Cahaya itu memotong-motong kulitnya, tubuhnya, dari dalam.

“Hentikan ini, Hedera,” Salix memohon, mendekat. “Hentikan.... Semuanya sudah cukup.”

Hedera merangkak dan menarik mangkuk cairan hijau ke tangannya. Getaran tangannya hampir membuat segalanya tumpah, namun ia tetap bersikukuh. Ia merapal mantera dalam gumaman tidak jelas hingga tuntas, kemudian ia mulai meneguknya.

Kali ini jantungnya yang serasa ditekan dan diremas, darah-darah mengalir keluar dari lubang yang dibuat cahaya-cahaya kuning. Hedera terisak, tangannya berusaha meraih-raih Salix, tapi jemarinya menembusnya, bukan menggenggamnya.

“Ikut bersamaku, kau tidak perlu melakukan ini,” Salix berkata, air mata menetes dari pipinya. “Aku tidak perlu hidup kembali.... Melompatlah ke dalam Retakan Tanpa Dasar, Hedera, kita akan pergi bersama.”

Hedera menatap Salix. Pandangannya masih sama seperti pandangannya dulu, ketika ia masih gadis. Salix mengulurkan tangan untuk mengelus pipi Hedera dengan punggung tangannya. Sentuhan itu tidak mengenai Hedera, tapi menembusnya. Walau begitu, seketika itu Hedera melihat kulitnya berubah menjadi putih salju kembali, rambutnya menjadi panjang cokelat bergelombang seperti dulu. Cadar yang ia kenakan menjadi putih gading seperti pertama kali ia melihatnya.

“...Apa kau akan membawaku pergi?” Hedera bertanya, “Apa kita akan bahagia selamanya? Atau apakah kau hanya ilusi yang didapat dari ramuan ini?”

“Lihat betapa dirimu cantik kembali,” Salix menjawab, “Apa kau pikir aku adalah ilusi? Melompatlah ke bawah, Hedera. Tinggalkan semua mangkuk-mangkuk itu, dan kita akan bersama lagi. Waktumu sudah datang, dan akulah yang menjemputmu.”

Hedera tidak dapat berdiri, maka ia merangkak hingga ujung tebing. Tiga mangkuk yang tersisa yang menunggu untuk diminumnya kini tumpah berantakan. Tangan Hedera menggapai-gapai Salix, matahari pagi bersinar terang di belakangnya. Waktunya untuk ritual telah habis, dan ritual telah gagal.

Hedera pun kemudian jatuh, jauh ke dalam Retakan Tanpa Dasar, dan tidak ada yang bisa mendengar suara ia mendarat.







Sebenarnya apa yang ada di ujung Retakan Tanpa Dasar?

Bertentangan dengan namanya, sebenarnya jurang itu memiliki dasar. Tidak banyak yang tahu sebenarnya di dasarnya mengalir sebuah sungai yang panjang. Pada cabang-cabangnya yang lain sungai itu bertugas mengalirkan abu-abu orang desa yang meninggal.

Sungai itu dihidupi seorang dewa sungai bernama Veirr, yang bertugas mengantarkan jiwa-jiwa pada Tehad Sang Penguasa, Sang Dewa Kematian. Kali ini ia menyerahkan bola jiwa yang berpendar lemah pada Tehad, membiarkan Tehad meresapnya ke dalam tubuhnya. Veirr menatap Tehad, berdiri diam di sana sementara Tehad terduduk merenung di singgasananya.

“Apa pada akhirnya aku bisa tahu alasanmu turun ke bumi, memperistri seorang manusia?” Veirr bertanya. “Apa ini ada hubungannya dengan kata-kata Meenpyra Sang Pencipta, tentang bagaimana manusia mungkin bisa mengalahkanmu dengan Ritual Dewa Kematian? Beri tahu aku bahwa itu tidak benar.”

“Kau mendengar tentang kata-kata Meenpyra itu?” Tehad mendongak, figurnya tidak berbeda dengan milik manusia kecuali dua tanduk hitam di kepalanya.

“Semua dewa-dewi membicarakannya sejak penyihir terakhir berhasil meneguk tiga mangkuk. Walau sebenarnya menurutku, ketika manusia berhasil menemukan cara untuk menyelesaikan ketujuh mangkuknya, kau sudah menjadi jauh lebih kuat dengan semua bola jiwa yang kuberikan padamu.”

 “Mereka ingin melihatku terganti oleh seorang manusia,” Tehad menjawab. “Terutama Meenpyra. Maka kubuktikan — turun ke sana menjadi manusia, mencari kekuatan keinginan terbesar yang tersembunyi. Bisa kaubayangkan bagaimana perasaanku ketika melihatnya di dalam diri seorang gadis? Begitu polos, begitu muda, tapi satu kata ‘cinta’ bisa merubahnya sepenuhnya. Namun tidak, bahkan manusia terkuat, gadis itu, tidak bisa mengalahkanku.”

“Dan jika semua sulutanmu berakhir dengan dia berhasil meminum ketujuh mangkuk itu?” Veirr bertanya, “Apa yang akan kaulakukan? Alam Baka akan kacau jika seorang manusia memerintahnya... Mereka akan mencari sanak saudara mereka kemudian mengembalikan mereka ke dunia seenak perut mereka.”

“Tapi itu tidak terjadi, dan aku tetap di sini, menyerap bola jiwa yang kauberikan padaku. Semua ini sudah berakhir, Veirr, aku telah menang,” Tehad menengadahkan telapak tangannya, menciptakan sebuah cadar putih gading. Suaranya menjadi lemah, “Semuanya sudah berakhir.”

“Berakhir dengan kemenanganmu, karena kau bermain curang. Muncul di tengah-tengah ritual dan menghentikan wanita itu. Kau jelas khawatir dengan kegigihan wanita itu,” ucap Veirr, sebelum terhenti sejenak memperhatikan Tehad. “...Atau... murni karena kau tidak tahan melihatnya tersiksa?”

Tehad hanya menyunggingkan senyum yang pahit, meremas cadar di tangannya.

“Mungkin juga.”


------------------------------------------

Trivia:

Tiga kalimat mantera ini:


Jaad imae naan ukae i

Aan daim e uakij eaan

 Idaau kaej ne iama an

Sebenarnya adalah anagram dari "Jadikan aku Dewa Kematian." ... karena menuntaskan ritual berarti melebihi dewa, dan menjadi dewa itu sendiri.

Nama Veirr, Meenpyra, dan Tehad juga adalah anagram. (hint: bahasa Inggris)
Sedangkan nama Salix dan Hedera dicomot dari nama latin sejenis pohon dan tumbuhan.
Bisakah kalian menebaknya? :)

12 comments:

Anggra T said...

Huah, Feny!.
Aku ngga sangka kamu bisa segarang... >_<
Sad ending, tetapi mengejutkan! So like this! >.<

Ada kritik dikit aja:

....Tapi kenyataannya, sejak awal Salix menyatakan cinta padanya, Hedera tahu ikatan di antara mereka terus ada.

Ikatan yang bernama cinta.

Tidak ada yang pernah mencintai Hedera seperti Salix mencintainya.....

--> bagian ikatan yang bernama cinta itu bagusnya dihilangkan. terasa lebay.. hehe...

Semangat, Feny! :D

Fenny Wong said...

@anggra: hahahaha! garang, ya? emang yang ini pingin nyerempet-nyerempet gothic dikit, tapi kok jadinya malah agak gore, bingung juga. Makasih buat masukannya!

princexeno said...

Ah, padahal kemaren aku bilang ama Anggra mo komen tulisan ini setelah tanggal 22. Tapi aku pensaran, jadi aku baca2 aja. :D

Seperti yang udah aku duga, nuansa roman di tulisan Fenny emang kerasa. Pernikahan seorang dewa dengan gadis manusia. Walau, endingnya berkesan kejam, di mana Sang Dewa mempermainkan nyawa manusia yang 'katanya' ia cintai itu. Hiks... :( Kenapa tidak ia biakan saja wanita itu hidup? Bukan menjadi pengganti dewa kematian, melainkan manusia setengah dewa berumur panjang layaknya Io dalam mitos Yunani. Lantas menjelaskan semua alasan kepergian padanya. Kasihan Hedera. TT^TT

Ah, sudahalah. Yang penting cerpen ini keren. Yang inikah yang bakal kamu kirim? Ato yang satunya? Anw, tetap semangat, Fen. :)

alfare said...

Aku tadinya pengen bilang kalo aku lebih suka Lophelia. Tapi makin baca ke bawah, ceritanya yang makin gelap makin jadi susah kutebak.

Entah ya. Temanya bukan jenis tema yang kusukai sih, tapi benar-benar enggak ada kekurangan yang bisa kutemuin dari yang satu ini.

Met berjuang!

Fenny Wong said...

@xeno: hehe, ada bagian dalam percakapan Veirr-Tehad di akhir yang ingin aku ubah, untuk klarifikasi aja perasaan Salix/Tehad yang sebenarnya pada Hedera. Aku akan post di edisi revisi nanti, makasih masukannya!

@alfare: 'gelap', ya... ;) Baru pertama kali orang bilang begitu tentang tulisanku. Apa itu berarti aku sukses membangun suasana gothic dalam cerpen ini?
Thanks for reading!

Raissa said...

fenn ini rame pisan siahh...ending nya bagus pisan...hahaha...awalnya mah gw kira bakal lbh seneng lophelia,tp tmbah blkng tmbah seneng yg ini lohh...hahaha...keren fennn!!!

shienny said...

akhirnya baca juga :D hmm gw lbh suka ini dibanding Lophelia,just because rahasia Salix benar-benar dikupas nggak spt Lophelia yg bikin gw bengong ttg identitasnya sampai akhir XD

cuma bagian setelah Hedera jatuh tiba2 muncul 2 tokoh Veirr dan Tehad rasanya kurang foreshadowing jadi serasa tiba2 pindah novel lain, mungkin bisa ditambah foreshadowing ttg para dewa di bagian awal dan pertengahan cerpen supaya kesannya gak tiba-tiba banting setir. Apalagi ternyata para dewa ini kayaknya punya pengaruh besar dalam kehidupan manusia di dunia kamu, seperti gods and goddesses of Olympus jadi rasanya aneh aja melihat ke absenan mereka pada bagian awal -pertengahan cerita dan tiba-tiba di akhir peran mereka begitu besar :)

kayaknya gitu aja sih komentar gw, overall good story :)

Fenny Wong said...

@raissa: Hehe, dah dibales di bbm ya
@shienny: oke, noted. thanks masukannya, and thanks for reading!

Sabrina Zheng said...

Lebih suka yang ini dibanding Lophelia :)
Nggak ada kritik dan komentar dariku... Terlalu bagus, terutama bagian akhir, nggak nyangka deh...
Mantap, Fen :D

Fenny Wong said...

@ci nana: hahaha, thanks ci. voting RDK makin lama makin gede drpada Lophelia. xD

Mellisa Nursalim said...

rame feeenn...suka akhir ceritanya hahahaha

Fenny Wong said...

Meta! Thank you!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...