Thursday, March 17, 2011

Menulis romans untuk Children Fiction, bedakah?

Seperti yang sudah aku bahas di post yang memuat quote dari The Tale of Despereaux, sebelumnya aku terbius oleh seri The Series of Unfortunate Events. Sebelumnya aku sempat membaca To Kill a Mockingbird, yang juga ditulis dari sudut pandang anak kecil walau bukan buku anak-anak, dan mulai tertarik dengan semua ini: children fiction.

Apa yang membuat menulis untuk anak-anak begitu berbeda dengan menulis untuk target pembaca lain?



Target pembacaku biasanya berkisar antara late teenagers hingga young adults, karena di hampir semua tulisanku, aku mengangkat tema romans. Lalu apakah aku yang biasa menulis romans ini tidak cocok untuk menulis fiksi anak-anak? Hm.

Aku perhatikan, dalam fiksi anak-anak yang kubaca, banyak yang juga mengimplementasikan romans di dalamnya. Percaya atau tidak, malah banyak cerita anak-anak, menurutku, juga adalah cerita romans. Putri yang diselamatkan Ksatria, Putri yang menikah dengan Pangeran yang diubah menjadi kodok.... Dasar setiap 'once upon a time' adalah 'happily ever after', yang adalah pernikahan --- yang berarti romans.

Namun perbedaan terbesar di antara keduanya adalah mungkin bagaimana penulis menyajikan romans itu untuk anak-anak. Romans untuk anak-anak tidak boleh meliputi adegan yang terlalu eksplisit, namun setiap gestur di antara karakter di dalamnya harus menunjukkan 'cinta'.... Dari kecupan yang membangunkan Sang Putri Tidur, atau ride romantis antara Aladdin dan Jasmine di atas karpet terbang. Romantis, tapi tidak vulgar.

Dalam mata anak-anak, segalanya di dunia ini terasa lebih simpel dan menyenangkan, dan untuk mereka, segala cerita memang seharusnya berakhir bahagia, karena itulah yang mereka percaya. Anak-anak belum melihat banyak dalam hidup, dan karena itu mereka tidak menjadi sesinis dan sekritis orang dewasa. Apakah aku dewasa, ataukah aku masih anak-anak? Aku harus bilang mungkin aku sedikit lebih dari anak-anak, sedikit kurang dari dewasa.

Kalau begitu, kisah romans anak-anak membosankan dong, akhirnya pasti happy ending? Tidak juga. Yang baru kubaca dari The Tale of Desperaux membuktikan hal itu..... Akhir yang happy, tapi di satu sisi juga realistis --- realita bisa disamakan dengan sedikit bitter untukku. The Series of Unfortunate Events, yang bukan romans walaupun memiliki percikan romans di dalamnya, juga berakhir seperti itu, happy but not cheesy.

Anyway. Apakah menulis fiksi untuk anak-anak itu gampang karena simpel? Menurutku tidak. Justru letak kesimpelan itu yang membuat fiksi anak-anak begitu sulit untuk ditulis. Penulis harus menyajikan sesuatu yang simpel tapi tetap kaya akan moral, menarik dalam penceritaan, dan masuk akal dalam alur cerita. Di atas semua itu, cerita itu harus bisa membuat anak-anak merasa ingin untuk membaca lembar demi lembarnya. Ketika orang dewasa bisa berpikir, "Aku akan baca sampai habis walau tidak terlalu seru, toh sudah beli. Nanti uangnya sia-sia," rasanya anak-anak lebih tidak punya rasa toleransi dalam hal ini. Jika mereka bosan, mereka tutup.

Semua ini hanya ocehanku yang pikirannya masih terpenuhi kabut-kabut fiksi anak-anak yang lembut seperti permen kapas. Aku ingin mencoba menulis satu, jadi mengapa kamu juga tidak mencoba juga? ;)

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...