Thursday, December 16, 2010

Singapura - sebuah catatan pengembaraan #1

Banyak hal yang membuat aku terkadang terkagum-kagum akan betapa hubungan antara manusia begitu beragam.

Waktu aku naik transpotasi umum dan pundak kami saling mendorong pelan karena padatnya bus, aku menoleh ke belakang, melihat kurang dari sepersekian detik. 'Excuse me,' kataku, tapi selebihnya aku lebih peduli pada blackberry yang kugenggam atau mp3 yang lagi kudengar. Aku tidak peduli.

Waktu aku jalan di koridor sekolah, seorang anak yang kukenal sekali atau dua kali di hari orientasi menyunggingkan senyum sopan, hanya untuk ramah tamah. Kubalas, dengan senyum tipis yang sama. Selebihnya, aku lebih memikirkan bagaimana cara untuk naik ke loker di lantai tiga dengan secepat mungkin supaya aku tidak telat menghadiri kelas.

Waktu aku masuk ke kelas, ada teman-teman sekelas yang baru kukenal selama tiga bulan ini menyapa, mengucapkan selamat pagi. Di antara sebagian dari kami ada ikatan pertemanan -- hijau, tapi sedang bertumbuh -- di antara yang lainnya hanya keharusan karena kita semua terperangkap dalam satu kelas untuk tiga tahun lamanya. Kita sama-sama memedulikan hal yang sama: tentang bagaimana agar bisa bertahan di dalam kelas design yang sangat sibuk dan penuh tekanan ini, dengan sebisa mungkin membuat hari-hari menyenangkan dengan berteman.

Waktu aku mengucapkan 'See you in tomorrow's class!' pada lingkaran teman yang sedang menjalin ikatan agar lebih dekat lagi seiring waktu belajar ini, dan berjalan pulang, aku kembali masuk ke dalam bus -- yang jauh lebih kosong di waktu pulang. Aku mengeluarkan blackberry dari handbag, memulai percakapan dengan teman-teman di kampung halaman. Menanyakan kabar pada yang mulai merenggang. Menanyakan perkembangan cerita pada yang tetap erat. Bertukar ucapan rindu, basa basi pada yang renggang, tapi dengan setulus hati pada yang dekat. Kami memedulikan hal yang sama, apakah di masa depan kita akan tetap terpisahkan jarak, dan apakah persahabatan ini tidak akan terkikis jarak.

Pulang ke rumah, aku menemukan teman serumahku sedang menikmati makan malam di depan televisi. Tersenyum menyambutku pulang, aku mendesah lega karena di tengah kesibukan dan kepadatan kuliah, aku masih punya seseorang yang menyapa ketika aku pulang, dan yang menemani ketika aku makan. Aku memikirkan bagaimana hidup ketika aku telah dewasa dan harus berpisah tempat tinggal dengan orang tua, apakah rumah itu akan menjadi dingin dan sepi tanpa orang untuk diajak bicara ketika makan malam.

Di antara orang yang tidak kenal
ada juga yang hanya setengah kenal
atau yang kenal tapi pura-pura tidak kenal
atau yang pernah kenal, tapi kini tidak kenal lagi
ingin kenal semua, tapi tidak bisa
ingin kenal semua
tapi dunia terlalu luas.


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...