Monday, October 24, 2016

Giveaway: Galette oleh Fenny Wong



Halo teman-teman, untuk merayakan terbitnya novel saya yang kelima, Galette, saya akan mengadakan giveaway satu eksemplar bertanda tangan untuk pemenang yang beruntung. :)

Sebagai catatan samping, saya menjual eksemplar Galette bertanda tangan, juga Fleur dan Lapis Lazuli. Kalau berminat bisa kontak langsung saya ke wongfenny@gmail.com.

Giveaway dimulai Senin, 24 Oktober 2016 dan berakhir 13 November 2016.

Untuk ikut giveaway ini syaratnya sangat mudah, cukup dengan menjawab:
Coba ceritakan pengalaman serumu saat di dalam sebuah kafe! 
Selain pertanyaan tersebut, pertanyaan lain tidak ada yang bersifat wajib. Tapi jika kamu mengikuti semua persyaratannya, kesempatan kamu menang akan semakin besar.

a Rafflecopter giveaway

Ketentuan:
1. Pengiriman buku hanya ditujukan untuk yang berdomisili di Indonesia.
2. Keputusan pemenang tidak bisa diganggu gugat.
3. Pemenang akan dihubungi untuk dimintai alamat pengiriman hadiah. Ongkos pengiriman akan saya tanggung. Jika pemenang tidak mengabari balik dalam waktu 1x24 jam maka pemenang baru akan dipilih.


Semoga beruntung!


Sunday, October 9, 2016

Novel Baru: Galette oleh Fenny Wong



Halo semua, akhirnya setelah 4 tahun berlalu saya menerbitkan novel lain lagi!

Kali ini saya menjual eksemplar bertanda tangan, dengan harga normal seperti di toko buku. Kalau tertarik, silakan langsung hubungi saya lewat email di wongfenny@gmail.com, atau komen di bawah dengan email kamu. 

Untuk teman-teman yang mengikuti kisah Ketika Aku Masih Mengenalmu, Galette adalah naskah gubahan yang ujung-ujungnya berakhir sangat jauh dari naskah awal saya yang dulu itu. Jika kamu sudah pernah membaca Ketika Aku Masih Mengenalmu, mungkin kamu akan menemukan kesamaan-kesamaan kecil dalam Galette. Sebaliknya, jika kamu menikmati Galette, mungkin kamu juga akan menikmati kisah lama saya itu.

Terima kasih atas dukungannya selama ini dan terima kasih untuk selalu membaca karya saya! :)

------------------------------------------------------------------------------------

Judul: Galette
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Oktober 2016
ISBN: 9786020330976

Odile tahu bahwa keluarganya di ambang kebangkrutan dan harus menjual segala aset untuk bisa bertahan. Tapi ia menolak menyerah pada keadaan. 

Ganesh tahu hatinya selalu dipenuhi dendam dan prasangka terhadap ayah yang telah menitipkannya di tengah keluarga Odile. Dendam yang membuatnya selalu marah pada keadaan dan memutuskan pergi ke Paris untuk mencari jawaban. 

Kirana tahu bakat seni sang ayah mengalir kental dalam darahnya. Tapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Sifat penakut, pemalu dan kikuk telah menyembunyikan potensinya rapat-rapat. 

Ketiganya tumbuh bersama, menghabiskan masa kecil hingga remaja di taman kecil di belakang kafe Galette. Namun seiring waktu, masalah di kampus, problem cinta, dan pencarian jati diri membuat jarak di antara mereka semakin menganga. 

Ketika kafe Galette terancam dijual dan hanya ada satu kesempatan untuk mempertahankannya, ketiga sahabat itu akhirnya melihat di mana hati mereka berada.


Monday, December 14, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kedelapan belas - END

.memori kedelapan belas

Setelah apa yang terjadi, kau yang dulu mungkin akan berpaling dan semudah itu melanjutkan hidupmu lagi, tanpa sedikit pun rasa khawatir atau sesal pada dunia. Dahulu, pusat rotasi duniamu adalah dirimu sendiri, dan kau tidak memiliki sedikit pun peduli pada perubahan yang terjadi. Namun kau bukanlah kau yang kukenal saat masuk SMU dulu.

Itu adalah fakta yang kuyakinkan pada diriku sendiri, sementara telepon dan temu semakin berkurang di antara kita. Kita memang sibuk selama akhir SMU itu, tapi aku tahu kalau malam terakhir itu tidak pernah terjadi, aku dan kau pasti akan mencari sela dalam kesibukan itu.

Sebenarnya sedikit-banyak aku mengerti apa yang kaurasakan. Rasanya bertambah dekat ketika sebentar lagi dipaksa untuk berpisah membuat segalanya lebih menyakitkan. Seperti menyirami sebuah pohon yang akan segera ditebang.


Monday, December 7, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori ketujuh belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori ketujuh belas

Aku berbohong padamu, berkata kalau pengumuman beasiswa diundur hingga satu bulan ke depan. Kau tidak tampak curiga, kemungkinan besar karena kau sendiri pun disibukkan hal-hal lain untuk memperhatikan hal semacam itu. Kau hanya berkata kalau aku sudah memiliki tanggal keberangkatan yang pasti, kau akan membelikan tiket agar kita dapat berangkat bersama.

Kau tidak terlalu banyak menyinggungnya lagi setelahnya. Secara umum suasana hatimu tampak lebih riang daripada biasanya setelah pesta itu, dan aku tahu kenapa. Kau merasa kalau ibumu menyukaiku, dan alasannya pasti karena insiden pembalut itu.

Kelas tiga mendekati akhir, dan kau terlalu terdistraksi untuk memikirkan tentang hal itu lebih lanjut. Semua murid senior dipaksa untuk terdistraksi, karena rentetan simulasi UAN dan UAS memenuhi hampir setiap hari. Alih-alih belajar di kelas, kami lebih sering dipindah ke aula, dipaksa untuk duduk di atas kursi keras selama berjam-jam, disodori soal-soal yang difotokopi di atas kertas buram.

Ada sekolah lain dengan reputasi serupa yang selama ini menjadi rival sekolah kami. Tahun lalu ada murid dari sana yang membeli bocoran kunci jawaban UAN. Dia mencatatnya pada batang sebuah pensil, dalam bentuk titik-titik warna-warni. Kode yang hanya dia yang mengerti: merah untuk A, kuning untuk B, hijau untuk C, dan biru untuk D.

Monday, November 30, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori keenam belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori keenam belas

“Denger,” katamu di telepon sore itu di hari Minggu. “Gue nggak tahu apa yang terjadi, tapi lo nggak bisa ngehindarin gue terus-terusan. Apa sih yang Leon bilang sampe lo jadi begini? Sampe lo nggak mau ngeluangin sedikit waktu aja buat gue?”

Aku menelan ludah. “Gue sebenernya udah mau ngomong ke elo kok....”

“Kapan? Lo selalu kabur dari gue setiap kali gue tanya kenapa, kan?” katamu.

Aku terdiam. Apa yang Ben katakan tempo hari membuat sebuah dilema di dalam diriku. Walaupun harapan seperti itu bukan tidak mungkin, tapi memintanya darimu terasa egois. Ditambah lagi, mengatakan kalau aku tidak mendapatkan beasiswa itu akan mengundang ekspresi menyakitkan darimu yang tidak ingin kulihat.

Ben belum memberitahumu, dan aku tahu Ben berpikir aku-lah yang seharusnya memberi kabar itu. Kau takkan senang jika sadar aku pergi dan mengadu pada Ben terlebih dahulu, dibanding mendiskusikannya denganmu.

Aku berbisik, “Sorry.”

Monday, November 23, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori kelima belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!



.memori kelima belas

Saat aku kelas 3 SMU, ada puluhan anak pindahan yang datang. Secara teknis mereka bukan anak sekolah lain — cabang tempat Rein bersekolah sedang direnovasi. Ada sekitar 50 murid pengungsi yang kemudian berbagi ruang kelas denganku, dan Rein adalah salah satunya. Tidak ada satu pun dari teman main Rein yang ikut pindah, membuatku berpikir mungkin Rein bersedia diungsikan karena keberadaan Aksa.

Hubungan mereka begitu tenang dan nyaman, rasanya tidak pernah ada pertengkaran yang kudengar. Ketika Rein dan Ditya penuh dengan gejolak, hubungan Rein dan Aksa terasa datar. Aku sempat mempertanyakan apakah itu berarti buruk, hingga aku sadar Rein dan Aksa sering tersenyum kecil pada satu sama lain ketika mereka pikir tidak ada orang lain yang melihat.

Mereka begitu lama menyimpan perasaan itu di dalam diri mereka sendiri, hingga mereka begitu berhati-hati. Menjaga hubungan itu seperti porselen yang mudah retak.

Monday, November 16, 2015

Ketika Aku Masih Mengenalmu - memori keempat belas

Baca Ketika Aku Masih Mengenalmu dengan lengkap.
Update setiap Senin!


.memori keempat belas

Tahun itu sekolahku memutuskan untuk Valentine’s Day, dibandingkan membuat acara-acara yang melibatkan kartu pengakuan cinta dan bunga mawar, kami dibawa secara setengah paksa untuk bakti sosial di Sekolah Luar Biasa terdekat. Aku tentu saja tidak keberatan, satu-satunya hal yang dapat membuat orang merasa berterima kasih pada keadaannya sekarang adalah dengan berbagi. 

Aksa pulang dari rumah sakit hari itu, dan kau absen untuk menemani Aksa. Alasan semacam itu tidak dipercaya oleh siapapun, karena semua orang juga tahu kau selalu melewatkan acara semacam ini: MOS, Pangandaran.... Aku merasa murid lain tidak terlalu menyukai eksklusifitasmu, namun mereka tampak berhati-hati untuk tidak membicarakan ini ketika ada aku. 

Kalau kau adalah orang yang eksklusif, Ditya adalah kebalikanmu 180 derajat. Bakti sosial SLB itu juga terbuka untuk para alumni, dan satu-satunya orang yang tidak berkumpul untuk merayakan kepulangan Aksa dari rumah sakit adalah kakaknya sendiri. Ditya datang berkunjung dengan mobil sport-nya yang berwarna merah, menimbulkan histeria tertahan dari murid-murid perempuan.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...